Kata Kunci: , Barang Bekas, Heru Tjandra Awan
Guru Tjandra Heru Awan berhasil menciptakan berbagai alat peraga Fisika dan Ilmu Pengetahuan Alam dengan biaya murah. Banyak sekolah beralih dari alat buatan pabrik.
Oleh: Mukti Ali
DIAM-diam, pertengahan tahun lalu Tjandra Heru Awan mengajukan surat permohonan pensiun. Namun, permintaan guru Fisika berumur 56 tahun itu ditolak mentah- mentah oleh atasannya, Dra Niken Asih S, Kepala Sekolah SMAN 10 Malang, Jawa Timur.
Meski usianya sudah layak pensiun, tapi Tjandra masih dibutuhkan. Bapak empat anak itu tergolong guru yang berprestasi. Dialah, guru Fisika yang berhasil menciptakan berbagai alat praktek atau alat peraga yang sangat menunjang pelajaran Fisika. Uniknya, Tjandra sebenarnya tak berlatar belakang pendidikan Fisika. Lelaki asal Nganjuk, Jawa Timur, itu lulusan program D3 Matematika dari IKIP Malang.
Toh, hasil kreasinya dianggap luar biasa. Peralatan yang diciptakannya tak hanya digunakan di sekolah tempatnya mengajar, tapi juga sudah dijual ke berbagai sekolah lain. Bahkan Tjandra kerap diundang sebagai guru tamu, atau pembicara di forum-forum guru Fisika untuk menjelaskan hasil karyanya.
Kepada PENA PENDIDIKAN, Tjandra bertutur tentang awal ia berkreasi. Sekitar awal 2005, katanya, ketika Tjandra mengajar Fisika di SMP 3 Malang, ia sempat minggat ke Jakarta selama sebulan. “Saya merasa kurang cocok dengan sekolah tempat saya mengajar itu,” tutur Tjandra, tanpa menyebut alasannya. Ia pergi ke Jakarta untuk mencari pekerjaan lain. Anehnya, pihak SMP 3 Malang pun tidak mencarinya.
Yang mencari malah Niken Asih, Kepala Sekolah SMAN 10 Malang. Tjandra memang nyambi mengajar di sekolah ini. Begitu Tjandra pulang dari Jakarta, Niken langsung merekrutnya sebagai guru tetap.
Tjandra memulai karirnya sebagai guru pada 1975 di Nganjuk. Pada 1979 ia menetap di Malang dan mengajar di SMA Widyadarma Turen, dan kemudian di SMPN 17 Malang. Di antara kesibukan mengajar, Tjandra mulai berkreasi membuat alat-alat peraga pelajaran Fisika, dari barang-barang bekas.
Setelah melalui beberapa eksperimen, Tjandra mampu menciptakan sebuah motor listrik. Pada 2005, ia menyertakan karyanya yang diberi judul “Molina (Motor Listrik Sederhana) dari Bahan Daur Ulang sebagai Media Pembelajaran Konstrukstivisme Motor Listrik bagi siswa Kelas 3 SMP”, dalam lomba karya ilmiah guru yang digelar LIPI di Jakarta. Ternyata, ia meraih juara pertama. Pada 2003, Tjandra kembali menyabet juara pertama dalam ajang Teacher Contest yang diselenggarakan IMSTEP- JICA Bandung. Ketika itu Tjandra membawa karyanya, Papan Romatik (Papan Feromagnetik Matematik).
Hingga kini, Tjandra telah berhasil membuat sekitar 25 jenis alat peraga. Karya-karyanya itu antara lain Model Avometer, Magnet Apung, Motor Listrik Matematika, Lamp Holder, Kompas Sederhana, Elektroskop Sederhana, Prisma Bunga Bayangan, Cermin Bersudut, Lensa Air, Cakram Newton, Prisma Air, Tabung Boyle, Pipa Organa Terbuka, Cermin Three in One, Elektromagnetik Sederhana, Mesin Uap Sangat Sederhana, dan Tabung Resonansi Sederhana.
Kreasi Tjandra didengar banyak kalangan. Sampoerna Foundation, sebuah lembaga yang peduli pada pendidikan, akhirnya menjadikan Tjandra sebagai guru pakar fisika di lembaga itu. Tahun lalu, Tjandra “dipinang” Yayasan MEDCO lembaga yang juga peduli pendidikan. MEDCO meminta Tjandra mentransfer ilmunya kepada para guru Fisika di beberapa sekolah binaan perusahaan minyak itu.
Berbagai kreasi Tjandra dianggap mampu menggantikan alat-alat praktek buatan pabrik yang harganya jauh lebih mahal. Alat buatan pabrik untuk praktek Gaya Lorentz, Hukum Ohm, dan Percobaan Oerstead, misalnya, berharga Rp 3 juta sampai Rp 4 juta. Tjandra mampu membuat “tiruan”-nya dengan modal Rp 20.000, dari kardus bekas, styrofoam, lem, selotip dobel, aluminium foil, baterai besar, dan papan triplek. Alat praktek itu ia namai Paranglina (Papan Listrik Sederhana). Tak ayal lagi, banyak sekolah kini lebih memilih membeli karya Tjandra ketimbang membeli buatan pabrik.
Motivasi awal Tjandra membuat alat-alat praktek Fisika itu sama sekali bukan uang. “Saya hanya ingin pelajaran Fisika gampang dipahami, dan menyenangkan, tidak bikin siswa bingung,” kata Tjandra.
MUKTI ALI (Malang)
*) Tulisan ini pernah dimuat pada Majalah Pena Pendidikan Edisi 12/Tahun 2007
3 February 2008 14:44 WIB
Friday, 21 November 2008
POLLING PEMBACA |
June 16th, 2008 at 12:21 am
Sebaiknya Pak Tjandra bikin asosiasi guru-guru kreatif sendiri saja, supaya bisa berjuang untuk idealisme pendidikan yang murni. Bukan bermaksud menafikan motif ekonomi, namun jika hanya satu sponsor yang nantinya mengklaim sebagai yang paling peduli terhadap dunia pendidikan akibatnya bisa runyam. Malah pada gilirannya nanti Pak Tjandra terjebak dalam lingkaran politik balas budi.
October 15th, 2008 at 1:23 pm
saya sangat terkesan dengan ide kreatifnya, mudah-mudahan saya bisa tertular..
November 11th, 2008 at 3:42 pm
kreatifitas pak Tjandra semoga bisa dimiliki oleh seluruh guru yang ada di negeri ini.