Teknologi pendidikan perlu terus menerus dikembangkan untuk menjawab persoalan-persoalan pendidikan. Pendekatan pembelajaran yang sebelumnya tidak mungkin jika dilakukan secara konservatif maka dengan teknologi pendidikan akan menjadi mungkin. Teknologi pendidikan dapat meningkatkan efisien dan efektivitas.
“Saya mengajak untuk terus menerus mengembangkan teknologi pendidikan untuk menjawab persoalan ketersediaan, keterjangkauan, dan kualitas. Dengan teknologi pendidikan maka persoalan ketersediaan bisa dikurangi sebagian, demikian juga (persoalan) keterjangkauan,“ kata Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh pada Seminar dan Workshop Nasional Peran Teknologi Pendidikan dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan Nasional di Depdiknas, Jakarta, Rabu (18/11/2009) .
Mendiknas menyebutkan, teknologi pendidikan memiliki tiga peran penting. Pertama, kata Mendiknas, teknologi pendidikan berperan sebagai pendukung proses pendidikan. Kedua, lanjut Mendiknas, teknologi pendidikan berperan sebagai penggerak. Dia mencontohkan, penggunaan teknologi informasi sebagai media atau bagian dari teknologi pembelajaran. “Dengan IT bisa menggerakkan bukan saja bab pelajaran yang diajarkan, taruhlah Matematika menggunakan IT, tapi sekaligus mendrive guru, murid, atau orangtuanya untuk belajar IT,“ katanya.
Peran ketiga, kata Mendiknas, teknologi pendidikan dijadikan sebagai pengungkit. “Kita harapkan teknologi pendidikan bisa berperan sebagai pengungkit atau enabler. Segala macam yang tidak mungkin jadi mungkin,“ katanya.
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Fasli Jalal mengatakan, dengan teknologi pendidikan, peluang untuk mendapatkan akses yang lebih luas bagi semua anak bangsa dan pemangku pendidikan makin meningkat. Dia mengatakan, teknologi ini memerlukan budaya baru, sehingga belum tersedia bagi banyak pemakai. “Jadi diperlukan kesabaran terus menerus untuk mensosialisasikan, mendampingi, dan memudahkan mereka di dalam mengakses teknologi ini termasuk kemampuan kita untuk mengembangkan konten,“ katanya.
Fasli menyampaikan, dari sisi kebijakan, pemerintah berkomitmen penuh untuk memanfaatkan, meninternalisasikan , dan membudayakan pemakaian teknologi pendidikan di berbagai jenis dan jalur pendidikan yang sesuai. “Kita berharap, semua sekolah terhubung dengan internet. Anak-anak bisa belajar dengan menyenangkan,“ katanya.
Gubernur Papua Barnabas Suebu mengatakan, Pemerintah Daerah Provinsi Papua telah melakukan berbagai langkah untuk mengatasi kurangnya fasilitas dan sumber pembelajaran. Dia mengatakan, saat ini Pemerintah Papua akan melengkapi infrastruktur telekomunikasi bagi 3.000 sekolah dan 3.000 desa. “Yang sekarang kita mulai adalah melengkapi semua kampung dan sekolah dengan perangkat keras parabola, televisi, radio menggunakan (tenaga) energi matahari,“ katanya.
Barnabas menyebutkan, Pemerintah Papua telah menganggarkan Rp300 milyar pada 2009 untuk menyediakan berbagai perangkat tersebut. “Kalau bisa tiga tahun sudah bisa pasang semua,“ katanya.
Fasli menambahkan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi menggandeng Institut Teknologi Bandung dan Universitas Cendrawasih untuk mendukung dari sisi teknologi dan Universitas Pendidikan Indonesia untuk mengembangkan kontennya. TV Papua, kata dia, juga telah menyediakan waktu selama dua jam setiap hari untuk menayangkan konten pendidikan.
Sementara, lanjut Fasli, untuk memenuhi kebutuhan sumber daya manusia telah disiapkan sebanyak 1.000 sarjana masing-masing 300 dari bidang teknologi dan 700 dari berbagai bidang seperti pertanian, kesehatan, peternakan, dan sosial budaya. “Nah kombinasi ini yang membuat program itulebih mungkin nanti untuk berjalan berkelanjutan,“ katanya.
Sumber: MediaCentreDiknas
19 November 2009 10:59 WIB
Sunday, 14 March 2010
POLLING PEMBACA |
November 21st, 2009 at 1:15 pm
membaca artikel mengenai “Teknologi Pendidikan Menjawab Persoalan Pendidikan” membawa semangat bagi alumni teknologi pendidikan. Moga Pak Mentri memasukkan lulusan teknologi pendidikan sebagai salah satu yang akan diterima sebagai CPNS di DIKNAS. Kalau hanya menambahkan IT di sekolah2, tanpa ada orang yang kompeten mengelolanya, maka alat IT itu hanya sebagai pajangan atau dipakai tp tidak sesuai dengan aturan mainnya.Lulusan Teknologi pendidikanlah orang yang kompeten untuk memanfaatkan hasil IT di lembaga pendidikan.
December 13th, 2009 at 11:17 pm
Teknologi Pendidikan, wah suatu hal yang hebat dan canggih tentunya, tapi situasi yang dibicarakan disini berbanding terbalik dengan keadaan guru honor. Boro2 memikirkan teknologi pendidikan, apa yang bisa dimakan anak istrinya besok aja dia belum tahu. Untuk itu sekedar menggugah hati sanubari kita, kami memohon pada instansi terkait terutama Mendiknas agar segera mengambil langkah2 yang positif, sehingga ketertinggalan ekonomi para guru honor ini, tidak berbanding terbalik dengan teknologi pendidikan. Solusi utk ini tidak hanya mengangkat menjadi PNS tapi ada cara darurat seperti meningkatkan penerimaan mereka.
Pada pengelola blog ini kami mengundang untuk menjadi anggota Komunitas Pembela Nasib Guru Honor di Facebook, mudah2an apa yang kami lakukan ini dapat membantu mendorong instansi terkait memikirkan nasib mereka yang selalu berada digaris belakang dalam hal kesejahteraan.