Kata Kunci: pengajaran, sastra
Kamis, 16 Oktober 2008 | 00:35 WIB
GURU berperan besar dalam pembelajaran sastra di sekolah. Penerjemahan kurikulum terkait Bahasa Indonesia dan Sastra sangat tergantung pada minat dan kemampuan guru di bidang tersebut. Oleh karena itu, untuk dapat mengajar dengan baik, guru harus bisa menikmati dan mengapresiasi sastra.
Hal itu dikemukakan Kepala Pusat Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional Diah Harianti, Rabu (15/10). Dia mengatakan, guru harus kreatif dalam mencari pola pengajaran sastra. ”Kalau tidak, akan kembali jatuh ke pendekatan kognitif, seperti menghafalkan judul, nama pengarang, dan tahun pembuatan karya,” ujarnya.
Kata Kunci: bacaan, olimpiade, sastra
Selasa, 14 Oktober 2008 | 00:57 WIB
Ketersediaan bahan bacaan sastra saat ini sangat terbatas, termasuk di sekolah-sekolah. Di sisi lain, kurikulum pengajaran lebih menekankan pada kebahasaan atau tata bahasa. Faktor-faktor inilah yang antara lain menyebabkan siswa kurang berminat terhadap sastra.
Guru Bahasa Indonesia dan Sastra di SMPN 90 Jakarta Timur, Nefita, Senin (13/10), mengatakan, rendahnya minat terhadap sastra terjadi terutama di sekolah minim fasilitas dan bahan bacaan sastra. ”Di sekolah unggulan, minat siswa terhadap sastra cukup tinggi. Bahkan, ada yang sangat menonjol. Sekolah-sekolah demikian tentu siap mengikuti kompetisi di bidang sastra, seperti olimpiade sastra,” ujarnya.
Kata Kunci: pendidikan, sastra
Senin, 13 Oktober 2008 | 00:56 WIB
SASTRA masih terpinggirkan di dalam dunia pendidikan yang cenderung mengedepankan ilmu eksakta. Padahal, pendidikan sastra sangat penting untuk pembentukan karakter. Olimpiade sastra dipandang dapat menjadi salah satu upaya mengedepankan sastra.
Pengamat sastra dari Universitas Indonesia, Maman S Mahayana, mengatakan, Sabtu (11/10), tersisihkannya sastra, juga bidang ilmu humaniora lainnya, tak lepas dari penekanan kebijakan pembangunan yang bersifat fisik dan adanya kebutuhan konkret terhadap ilmu eksakta. Terutama pada awal pembangunan, tahun 1950-an. Namun, dalam perkembangannya, ilmu eksakta jauh lebih dihargai daripada ilmu humaniora dan sosial.
Monday, 15 March 2010
POLLING PEMBACA |