Kata Kunci: paru-paru, sudirman, tuberkolosis
Oleh: Sigit Widyatmoko, MKes, SpPD *)
Tanggal 10 Juli 1949, rakyat Jogja berjejal di sepanjang jalan sekitar alun-alun utara.
Ternyata jenderal besar betul-betul pahlawan. Dengan paru-paru yang tinggal ¼ –paru satu sudah rusak, satunya lagi tinggak separuh– dia memilih bergerilya, daripada ditangkap Belanda. Semuanya terkejut dan terharu ketika melihat Jenderal Sudirman keluar dari tandunya. Tidak seperti gambaran sosok tentara yang gagah dan perkasa, justru wajahnya kuyu dan pucat, tampak lebih tua dibanding usia sebenarnya yang masih 34 tahun. Badan kurus. Amat wajar, karena penyakit tuberkulosis telah menggerogoti parunya. Selain itu istirahat yang kurang, makan yang tidak teratur karena sering di hutan, dan obat-obatan yang sangat terbatas membuat kondisinya tambah buruk.
Tidak ada dalam catatan kapan Jenderal Sudirman mulai terserang tuberculosis. Yang jelas pada waktu dilancarkan agresi militer II tgl 19 Desember 1948, dia sudah sakit. Bung Karno membujuknya untuk tetap tinggal di kota agar dirawat di rumah sakit. Jawabannya, yang kemudian menjadi ungkapan terkenal, “Tempat saya yang terbaik adalah di tengah-tengah anak buah. Saya akan meneruskan perjuangan. Met of zonder pemerintah TNI akan berjuang terus.”
Sepulang dari gerilya dia sempat dirawat di RS Panti Rapih Yogyakarta. Segala perundingan yang memerlukan kehadirannya dilakukan di rumah sakit. Akhirnya Jenderal Sudirman memilih beristirahat di Magelang, dan wafat pada tanggal 29 Januari 1950.
Tuberkulosis, penyakit yang menyerang Pak Dirman, memang dikenal ganas. Sejarah tuberkulosis hampir sama usianya dengan sejarah manusia. Penemuan fosil manusia purba dari zaman neolitic (7000-6000 SM) di Jerman, serta mummi di Mesir dan Yordania menunjukkan adanya kasus spondilitis TB dan abses paru. Selain itu tokoh lain yaitu Pen Tsao, seorang dokter terkenal Cina, menulis lung fever atau lung cough. Al Razi dan Ibnu Sina, dua orang ilmuwan Arab, pada sekitar abad 10 M menulis adanya kavitas paru yang berhubungan dengan lesi di kulit.
Tokoh yang meninggal karena tuberkulosis tidak hanya Jenderal Sudirman. Voltaire, Sir Walter-Scott, Edgar Allan Poe, Frederick Chopin, dan bahkan Laenec, seorang perintis stetoskop juga meninggal karena penyakit yang sama. Karena itu usaha-usaha pemberantasannya dilakukan dengan gigih sejak dulu. Tahun 1840 George Bodington dari Inggris mengemukakan konsep sanatorium untuk pengobatan tuberkulosis. Tetapi tidak ada tanggapan. Setelah Brehmen dari Jerman pada tahun 1859 berhasil menyembuhkan tuberkulosis dengan konsep sanatorium ini, orang kemudian berlomba-lomba mendirikannya.
Perbaikan terapi tuberkulosis sangat mencolok sejak ditemukannya streptomisin pada tahun 1944, dan disusul obat lain seperti PAS, INH, dan etambutol. Penemuan rifampisin pada tahun 1968 disebut sebagai sebuah revolusi terapi dalam pengobatan tuberkulosis. Sejak itu, TB sempat mereda dan tidak lagi terlalu dimasalahkan oleh kalangan kedokteran. Insidensi tuberkulosis sempat menurun dengan drastis di negara maju sampai dengan awal dekade 1990-an.
Tetapi perhatikan kenyataan berikut. Di seluruh dunia saat ini ada sekitar dua miliar orang terinfeksi tuberkulosis. Ini adalah sepertiga jumlah penduduk dunia! Indonesia adalah penyumbang terbesar ketiga setelah India dan Cina. Di Indonesia setiap dua menit ada satu penderita tuberkulosis baru, dan ada satu orang meninggal setiap empat menitnya.
Tuberkulosis juga merupakan penyebab kematian pertama untuk kelompok penyakit menular. Jumlah penderita baru sekitar 500.000 orang/tahun dan kematian sekitar 175.000 orang/tahun, khususnya di daerah pedesaan miskin dan kumuh.
Permasalahan tuberkulosis di negara maju disebabkan adanya HIV. Pada penderita HIV akan terjadi penurunan daya tahan tubuh. Menurunnya daya tahan tubuh yang drastis mengakibatkan seseorang rentan terhadap penyakit infeksi seperti tuberkulosis. Terjangkitnya tuberkulosis pada penderita HIV akan semakin memperburuk ketahanan tubuhnya serta mempercepat replikasi virus dalam tubuhnya. Dengan kata lain akan semakin mempercepat perjalanan penyakit menjadi AIDS.
Setelah menjadi AIDS tuberkulosis menjadi amat sulit dibasmi dan acap kali berakibat fatal. Sekitar sepertiga kematian pada penderita AIDS disebabkan oleh tuberkulosis, dan sekitar 40% kematian pada penderita AIDS di Afrika dan Asia disebabkan oleh tuberkulosis. Menurut perkiraan WHO, akhir abad ini virus HIV akan menyebabkan sedikitnya 1,4 juta kasus tuberkulosis aktif.
Kasus tuberkulosis paru makin diperparah dengan resistensi obat ganda (multi drugs resistent-MDR-TB) dan resisten obat ekstensif (extensively drug resistent-XDR-TB). MDR-TB adalah keadaan resistensi tuberkulosis terhadap isoniazid (H) dan rifampisin (R) dengan atau tanpa obat antituberkulosis (OAT) lainya.
Jika sampai terjadi MDR-TB baik yang primer maupun sekunder akan sulit diobati dan keberhasilannya kurang lebih 50% serta dengan biaya 100 kali lebih mahal Saya punya seorang pasien tuberkulosis yang sudah 3 tahun berobat tidak sembuh-sembuh. Mondok di rumah sakit sudah biasa.
Pada paru kirinya terdapat efusi (cairan). Sudah lebih dari 3 kali dipungsi (disedot). Biasanya membaik sebentar, kemudian muncul lagi. Kalau dihitung sudah berapa juta uang yang dikeluarkan untuk mengobati penyakitnya ini. Sampai sekarang juga belum sembuh. Bahkan menular kepada kedua anaknya dan saudaranya.
Resistensi ganda tuberkulosis terutama terjadi karena terapi terputus atau pengobatan tidak lengkap (erratic drug intake) atau karena pengobatan hanya dengan satu jenis obat anti-TB saja. Pada pasien saya ini hal itu tidak terjadi. Obat diminum rutin dan lengkap. Karena itu cukup sulit untuk menjelaskan. Mungkin pada lingkungan tempat dia tinggal kuman tuberkulosisnya sudah resisten, yang diakibatkan kecerobohan pengobatan pasien-pasien sebelumnya.
Hingga saat ini belum ada paduan pengobatan yang distandarisasi untuk pasien MDR-TB. Pemberian pengobatan pada dasarnya adalah “taylor-made”, yaitu bergantung dari hasil uji resistensi dan dengan menggunakan 4 obat anti tuberkulosis (OAT) yang masih sensitif.
Paduan yang dianjurkan adalah 2-3 OAT lini 1 yang masih sensitif ditambah dengan OAT lini 2, yaitu siprofloksasin 1000-1500 mg atau ofloksasin 600-800 mg. Waktu yang diperlukan lama, minimal 18 bulan. Tetapi hasil pengobatan kurang menggembirakan. Apalagi setelah terjadi XDR-TB, yaitu resistensi kuman tuberkulosis terhadap obat-obat lini kedua termasuk siprofloksasin dan oflokasin.
Konversi (perubahan hasil tes BTA sputum + menjadi -) hanya didapat pada sekitar 50 % kasus, sedangkan response rate didapat pada sekitar 65% kasus dan nkesembuhan pada 56% kasus. Pada kasus yang kronik artinya tidak mempan dengan obat apapun dapat diberikan INH seumur hidup
Karena itu yang terpenting adalah bagaimana supaya penderita tuberkulosis tidak jatuh ke dalam MDR-TB. Pemberian obat antituberkulosis yang benar dan baik merupakan salah satu kunci penting mencegah MDR-TB. Strategi Directly Observed Treatment Short Course (DOTS) adalah upaya penting menjamin keteraturan berobat.
Strategi ini terdiri atas lima komponen utama yakni adanya komitmen politik, tersedianya pelayanan pemeriksaan mikroskopik, terjaminnya penyediaan obat yang merata dan tepat waktu, adanya sistem monitoring yang baik, dan adanya program pengawasan keteraturan minum obat disertai jaminan agar setiap pasien pasti minum obat sampai tuntas.
*)dokter penyakit dalam dan dosen di Surakarta, bisa dihubungi melalui sigitwid2007@yahoo.co.id
13 November 2008 11:37 WIB
Wednesday, 7 January 2009
POLLING PEMBACA |