Kata Kunci: SMPN 1 Tuban, terbaik, Ujian Nasional
Nomor satu dari ribuan sekolah standar nasional. Nilai rata-rata ujian nasional terbaik di Indonesia. Sebanyak 199 siswa dari total 232 anak berhasil meraih nilai 10. Pola kekeluargaan mampu menjauhkan siswa dan guru dari masalah.
BANGUNAN bercat putih, berjendela besar dan bertiang tinggi itu tampak megah. Spanduk di sebuah bangunan berbentuk joglo bertuliskan “SMP Negeri 1 Tuban Siap Mewujudkan Pendidikan Nasional yang Bermutu, Berprestasi, Menyenangkan dan Kompetitif,” terpampang gagah.
Spanduk itu tak sekadar omong kosong. SMPN 1 Tuban ini adalah peringkat pertama penilaian kinerja Sekolah Standar Nasional (SSN) se-Indonesia. “Ini prestasi membanggakan bagi kami,” kata Drs Bedjo Muljono P MM, Kepala SMPN 1 Tuban, Jawa Timur.
Bedjo Muljono memang patut bangga. Sekolah yang terletak di Jalan Gubernur Suryo No 1 Tuban punya sederetan prestasi membanggakan. Pada Ujian Nasional 2005 lalu, nilai rata-rata hasil Ujian Nasional adalah 28,10, angka tertinggi nasional. Nilai Bahasa Indonesia rata-ratanya 9,11. Bahasa Inggris nilai rata-rata siswanya 9,07. Sedangkan nilai rata-rata Matematika yang dicapai siswa sebesar 9,92.
Hebatnya lagi, dari 232 siswa yang mengikuti Ujian Nasional, sebanyak 199 di antaranya memperoleh nilai absolut alias 10. Artinya hanya 33 siswa atau 14,22 persen yang nilainya di bawah sepuluh. SMPN 1 Tuban pun didaulat sebagai yang terbaik dari sekitar 25.000 SMP/MTs di Tanah Air.
Sekolah yang berdiri pada 1952 ini jadi sekolah favorit masyarakat “Kota Tuak.” Tahun ini hanya 200 siswa diterima dari 334 pendaftar. Orangtua di 19 kecamatan di Tuban sangat berharap-harap bisa menyekolahkan anak mereka di sana. Ainul Fitri, salah satu yang bangga anaknya, Asiah Izzati, sukses masuk SMP Negeri 1 Tuban. “Di Tuban, SMP Negeri 1 ini sudah menjadi ikon. Sekolah ini memang bagus,” kata Asiah.
Bedjo menilai sekolah yang dipimpinnya menjadi favorit lantaran didukung kualitas murid dan para guru. Kualifikasi guru-gurunya sangat memadai. Dari 44 guru, 35 orang di antaranya berpredikat sarjana, 2 orang magister, 2 orang Diploma-3 dan 5 orang Diploma-1. “Daya akademik siswa sangat tinggi,” kata Muhammad Althof menambahkan.
Drs Sugianto rekan Althof, juga bangga dengan murid-muridnya. Sebagai sekolah percontohan di Tuban, SMPN 1 memang unggul kualitas lantaran kemampuan siswa yang bagus dan ditunjang sistem pembelajaran yang bagus pula.
SELINGKUH TERLIBAT NARKOBA
Peran Komite Sekolah juga berjalan dengan baik. Pertemuan rutin dilakukan antara Komite Sekolah dan para guru. Hasil pembicaraannya diinformasikan kepada para orangtua. Pertemuan dengan orangtua dan siswa digelar empat kali setahun. “Agar diskusi berjalan baik antara orangtua dan siswa,” ujar Bedjo.
Hubungan baik antarguru yang berjalan baik punya andil terhadap kinerja guru dalam mengajar. Selama ini tak ada batas antara guru senior dan junior. Ketika ada guru yang didera masalah, guru-guru lain berupaya memberi masukan dalam sebuah pertemuan. “Umumnya persoalan keluarga. Selama ini tidak ada guru yang kedapatan selingkuh atau terlibat narkoba,” kata Bedjo.
Persoalan murid juga mendapat perhatian khusus. Siswa yang tengah bermasalah diupayakan mau berbagi dengan sang guru. Tiap siswa bebas mengutarakan uneg-unegnya kepada guru yang disukai. Caranya, bisa dengan berbicara langsung tapi juga boleh juga melalui pesan singkat (SMS) telepon seluler. Nomor ponsel para guru sengaja dipampang di lobi utama sekolah agara siswa mudah menghubungi para guru. “Hampir tak ada jarak antara guru dengan siswa. Siswa tak sungkan dengan guru. Akrab,” kata Althof.
Pola keterbukaan dan hubungan akrab yang terjalin antara guru dan siswa itu tampaknya cukup ampuh mengurangi angka kenakalan siswa. “Kenakalan anak-anak paling sebatas bolos pada jam pelajaran. Tak pernah ada yang terlibat narkoba, apalagi melakukan seks bebas,” kata Althof.
Siswa-siswa yang kedapatan bolos dikenai sanksi. Bentuknya bisa terguran hingga diskors tidak boleh mengikuti jam pelajaran. Jika masih saja membandel, terpaksa sekolah mengembalikan ke orangtua alias dikeluarkan. “Tapi sanksi ini tidak pernah kami lakukan karena memang belum ada pelanggaran berat,” Althof menjelaskan.
PEMETAAN WARNA MERAH
Perilaku siswa juga rutin dipantau. Setiap siswa punya indikator penilaian perilaku. Ada indikator yang dibedakan warnanya pada setiap siswa. Warna hijau untuk siswa yang tak pernah menimbulkan masalah. Kuning bagi yang membutuhkan konseling. Mereka yang bandel dapat warna merah. Pemetaan ini dilakukan untuk memudahkan melihat siswa mana yang bermasalah.
Siswa yang mendapat label merah diberi bimbingan konseling secara intensif. Orangtua turut dilibatkan dalam konseling itu. Orangtua dan siswa bermasalah masing-masing diberi kesempatan mengutarakan permasalahan yang mendera mereka. Model penanganan macam itu terbukti berhasil menyelamatkan siswa dari perilaku buruk. “Hasilnya menggembirakan. Para guru lebih sayang muridnya daripada anak sendiri. Kami anggap mereka seperti anak sendiri,” kata Bedjo.
Dalam rencana pengembangan sekolah, tonggak pencapaian yang bakal dicapai SMP 1 Tuban adalah meraih label standar internasional. Berbagai langkah diterapkan. Yakni dengan meningkatkan sarana internet, melakukan optimalisasi program kelas unggulan, dan menyelenggarakan program pengembangan diri. Program pengembangan diri itu dijadwalkan setiap Sabtu. Akhir pekan itu dijadwal sebagai hari pengembangan kompetensi non akademik. Program ini mengajak siswa berpikir bebas.
Program lainnya adalah memberi pelatihan guru dan siswa meraih TOEFL tinggi dan membentuk Science Center. Pusat Sains ini merupakan kelanjutan program Road to Science Olimpiade. Mereka menggandeng sejumlah perguruan tinggi, seperti Institut Teknologi Surabaya, Universitas Airlangga, Universitas Diponegoro dan IKIP PGRI Tuban.
Selain itu, siswa disiapkan menghadapi Ujian Nasional sejak kelas awal. Program intensif siap Ujian Nasional itu dengan pola Targeting, Positioning dan Segmenting. Program selama tiga tahun ini terbukti ampuh: sukses meraih predikat terbaik nasional nilai rata-rata Ujian Nasional 2006.
JAWARANYA SAINS DAN MATEMATIKA
SMP Negeri 1 Tuban melahirkan siswa-siswa berprestasi. Di antaranya Iza Fauzira (15 tahun) dan Vembricha Nindya Manusita (15 tahun). Sederet penghargaan pernah diraih Iza. Ia adalah jawaranya lomba Bahasa Inggris tingkat kabupaten (2005).
Iza juga menyabet juara 2 Penelitian Ilmiah Remaja Kabupaten Tuban, dan yang terbaik dalam Lomba Siswa Berprestasi Kabupaten Tuban. Anak pasangan Kasriatin-Sutikno ini juga meraih Juara 1 Lomba Matematika tingkat kabupaten dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional plus ranking teratas dalam Olimpiade Sains Nasional tingkat kabupaten, khusus bidang matematika.
Iza senang bisa menjadi siswa SMP Negeri 1 Tuban. Apalagi dia sendiri telah mengidamkan menjadi siswa di sana sejak SD kelas 6, bukan lantaran desakan orangtua. “SMP ini memang yang terbaik di Jawa Timur,” kata lulusan SDN Kuterejo 1 Tuban ini.
Nindya, panggilan akrab Vembricha Nindya Manusita, tak kalah mengilap prestasinya. Ia adalah peringkat 1 lomba Biologi tingkat kabupaten pada peringatan Hari Pendidikan Nasional lalu. Nindya juga jawaranya Olimpiade Sains Nasional bidang Biologi tingkat kabupaten.
Nindya dan Iza merasa apa yang mereka raih tak lepas dari kerja keras para guru dan perhatian sekolah yang maksimal. “Saya enjoy dengan apa yang diberikan sekolah. Guru-guru sangat perhatian, yang makin intensif saat kami mengikuti lomba,” kata Iza.
9 April 2008 01:16 WIB
Wednesday, 20 August 2008
POLLING PEMBACA |