MENENGAH

SMAN 6 Yogyakarta: Sekolah Hijau Berbudaya Riset

Kata Kunci: ,

Pelajar SMAN 6 YogyakartaSukses mendorong siswa menyukai penelitian. Kelompok Ilmiah Remaja menjadi kegiatan ekstra kurikuler yang paling diminati. Penelitian pemanfaatan limbah kedelai menjadikan yang terbaik dalam ajang Toyota Eco Yout 2006-2007

“Limbah dan Sampah Bukan Masalah Justru Membawa Berkah.” Itu bukan slogan basa-basi yang dipampang di jalan-jalan. Namun prinsip yang dianut siswa-siswa SMAN 6 Yogyakarta. SMA yang baru meraih penghargaan Toyota Eco Youth 2006-2007, itu kini dikenal sebagai “sekolah berwawasan lingkungan ini.”

Toyota Eco Youth merupakan program kerjasama antara PT Toyota Indonesia dengan Yayasan Kirei. Penghargaan tahunan ini buat SMA dan SMK yang berhasil memperbaiki lingkungan sekolah mereka. Tahun lalu, seleksinya hanay pada 15 sekolah dari 7 provinsi di Jawa Bali, yang terpilih. Persisnya lomba lingkungan ini hanya diikuti tim peserta dari 9 SMK dan 6 SMA.

Toyota Eco Youth baru kali kedua ini digelar. Sebelumnya hanya untuk sekolah-sekolah di kawasan Jabodetabek. Pada Toyota Eco Youth 2006-2007 temanya proyek perbaikan lingkungan sekolah. SMAN 6 yang terpilih mewakili provinsi DIYogyakarta berdasarkan penunjukkan langsung dari Dinas Pendidikan Provinsi DIY. Alasannya, selama ini SMAN 6 dianggap maju dalam penelitian tentang lingkungan. Sekolah ini juga memiliki program berwawasan lingkungan yang diajarkan di sekolah.

“SMAN 6 dianggap mampu dengan mengacu pada hasil yang pernah dicapai sekolah ini,” tandas Drs Sukirman, Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMA 6, yang juga pembina Tim lomba kali ini. Tim SMA 6 memilih tema pengolahan limbah. Mereka membuat karya tulis bertajuk “Manajemen Limbah Kedelai.”

Lomba yang disponsori Toyota itu dimulai sejak Desember 2006. Penyelenggara mensyaratkan masing-masing sekolah membentuk tim terdiri dari 6 orang siswa dan seorang guru sebagai Pembina. Tim SMA 6 terdiri dari Deo Fani Nur Wijaya (Ketua), Fatkhur Rahman, Nurul Istiqomah, Dewi Prasetyan Drajati, Umy Nur Fadilah, dan Michael Yuli Arianto.

Semua tim dari 15 sekolah diundang mengikuti pelatihan selama 3 hari di Bogor. Semua peserta mendapat pengarahan wawasan lingkungan. Tema-tema apa saja yang diangkat dibahas di sana. Proyek yang peserta rancang, diberi waktu pelaksanaan hingga Maret lalu.

SMA 6 melaksanaan proyek perbaikan limbah kedelai di dua desa binaan, yang semuanya terletak di bilangan Gedong Kiwo, Yogyakarta. Sebelum ada lomba, sebenarnya tim SMAN 6 telah melaksanakan program pemanfaatan limbah pengolahan tahu dan kedelai di dua desa binaan. Di dua lokasi desa binaan itu mereka melihat limbah tahu dibuang percuma. Paling-paling hanya dimanfaatkan sebagai makanan ternak.

Tim SMAN 6 lantas mengadakan penelitian terhadap limbah pengolahan tahu. Hasilnya, limbah tahu bisa diubah menjadi berbagai macam makanan. “Kami melakukan percobaan pengolahan limbah kedelai menjadi kue dan keripik,” kata Deo Nur Fani, Ketua Tim.

Sebenarnya, ada tema lain yang ingin diangkat SMAN 6. Yaitu pembuatan briket dari arang. Namun tema itu sudah diambil peserta lain dan dinilai panitia SMAN 6 belum siap. Justru usulan mengenai pengolahan limbah kedelai diajukan, panitia menilai baik.

Selain melaksanakan kegiatan di desa binaan, tim juga melakukan program lingkungan di sekolah. Di antaranya program pemisahan sampah organik dan nonorganik dan pembuatan tempat sampah inovatif. Anda bisa menyambangi SMA 6 jika ingin membuktikan betapa bersihnya lingkungan sekolah ini. Tempat sampah dua warna tersedia di sudut-sudut sekolah. Persisnya di 13 titik. “Kami juga melakukan sosialisasi hidup bersih melalui poster-poster,” kata Fatkurahman.

Para juri setiap bulan menyambangi sekolah untuk menilai perkembangan proyek. Penilaian memang didasarkan pada verifikasi, pelaksanaan dan hasil akhir. Tenggat pelaksanaan proyek lingkungan usai, para erserta dikumpulkan kembali di Jakarta. Bertempat di Cilandak Town Square, peserta diberi kesempatan menyampaikan presentasi dan memamerkan hasil kerja mereka.

Penilaian tak hanya pada hasil proyek yang dikerjakan. Justru penilain tertinggi pada partisipasi semua warga sekolah. Nilai plus lainnya adalah kami mempunyai desa binaan,” kata Deo.

KENTAL BUDAYA PENELITIAN

Soal penelitian SMAN 6 boleh dibilang jawaranya, setidaknya di wilayah Yogyakarta. “Di sini kental banget budaya penelitiannya. Banyak prestasi yang diraih dari berbagai ajang penelitian,” kata Fatkurrahman, menambahkan.

Misalnya, Arco, yang kini mahasiswa Farmasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, pernah menjadi jawara penelitian. Arco mengusung riset berlabel “Pemanfaatan bonggol pisang.”

Budaya penelitian mendorong anak-anak menyukai Kelompok Ilmiah Remaja (KIR). Jangan heran bila KIR adalah kegiatan ekstra kurikuler yang paling banyak diminati siswa. Kegiatan KIR yang diadakan tiap hari Jumat ini dipisah untuk kelas IPA dan kelas IPS.

Selain KIR, ada komunitas lingkungan yang belum lama didirikan siswa. Yakni Muda Wijaya Green School Community (MWGSC). Organisasi anyar itu kini bernaung di bawah kepengurusan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Sebenarnya, keberadaan MWGSC tak lepas dari ajang Toyota Eco Youth 2006-2007. “Peserta lomba harus dari sebuah wadah yang menaunginya. Maka dibentuklah MWGSC,” kata Drs Sukirman.

Namun MWGSC bukan sekadar hidup saat ada lomba. Anggotanya saja kini mencapai 124 siswa. Kegiatannya terus menggelinding. Di antaranya melakukan Gerakan Cinta Lingkungan. Sekilas MWGSC mirip dengan KIR. Anggota MWGSC juga semuanya anggota KIR juga. “Bedanya, KIR lebih pada penelitian sedangkan MWGSC ke penerapannya,” kata Fatkhurrahman.

MWGSC kini tengah mengerjakan proyek pengolahan sampah menjadi kompos. Kemudian penghijauan lewat penanaman tanaman buah, tanaman obat dan tanaman hias. Selain itu juga mengerjakan pembuatan kertas daur ulang.

BERMULA DARI SMA BAGIAN C

SMAN 6 Yogyakarta awalnya merupakan SMA bagian C yang berdiri pada 17 September 1949. Saat itu juga berdiri SMA Bagian A dan SMA Bagian B. SMA bagian A merupakan jurusan sastra, sedangkan SMA bagian B jurusan eksakta. SMA Bagian C diarahkan untuk murid dengan pilihan bidang studi ilmu ekonomi.

Di awal pendirian SMA Bagian C, timbul permasalahan berkaitan dengan latar belakang siswa. Perkaranya soal siswa yang merupakan bekas Tentara Pelajar dan yang bukan Tentara Pelajar. Perbedaan sikap dan tingkah laku sehari-hari itu semakin meruncing. Sehingga sekolah memutuskan untuk memisahkan siswa dari kalangan Tentara Pelajar dan yang bukan. Siswa eks TP yang masuk siang hari memilih pindah gedung milik yayasan BOPKRI.

Pemisahan sekolah pagi dan siang itu persisnya pada 1952. SMA CI masuk pagi, sedangkan dan SMA C2 masuk kelas siang. SMAN C1 menempati gedung baru di Jalan Cornel Simanjuntak sejak 1957, bekas gedung SMA A. SMA A, yang kelak bersalin nama menjadi SMA 1 pindah gedung ke Jalan HOS Cokroaminoto. SMAN C1 akhirnya bernama SMAN 6 Yogyakarta, yang tetap menempati gedung di Jalan C SImanjuntak sampai sekarang.

3 February 2008 15:02 WIB

Artikel ini menarik?
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
Loading ... Loading ...

Pena Pendidikan

Saturday, 22 November 2008

REDAKSI


Iwan Qodar Himawan

Saiful Anam

Dipo Handoko

Eva Rohilah

Fathoni Arief

Kenny

Arien TW

RUBRIK

ANGGOTA

POLLING PEMBACA

EMAIL SUBSCRIBE

Enter your email address:

STATISTIK

KATA KUNCI