Kata Kunci: mesum, pelajar, porno, rekaman, seks, situs
Pemerintah memblokir situs porno. Namun rekaman mesum sejumlah pelajar tak jua hilang dari peredaran. Ada yang main di bilik-bilik di warnet, “syuting” di vila, hingga bugil di depan webcam. Butuh kepedulian terhadap para pelajar yang kecanduan beradegan tak senonoh. Siapa bertanggung jawab?
Sebut saja Fulan, 16 tahun, pelajar kelas satu SMA di timur Jakarta ini kaget ketika situs favoritnya, yang biasa menayangkan gambar-gambar porno, tak lagi memajang satu pun foto-foto syur kesukaannya. “Gila, semua foto sudah tidak ada,” katanya berteriak. Fulan mengakses situs favoritnya itu pada 27 Maret lalu, sebelum tenggat resmi yang diberikan pemerintah untuk memblokir situs porno, 1 April.
Fulan baru tersenyum setelah ia menemukan sejumlah situs lainnya, yang bisa bikin pusing-pusingnya hilang, katanya, masih aman-aman saja ia nikmati. “Senang juga masih ada yang bisa dibuka. Meski kecewa berat karena situs favorit saya yang buanyak sekali gambar asyik sudah tidak ada,” katanya.
Fulan tentu saja hanya segelintir remaja, dan masyarakat lainnya yang gemar mengakses foto-foto syur, sampai foto dan video yang merekam adegan hubungan suami-istri. Menurut perkiraan Roy Suryo, pemerhati telematika, lebih dari satu juta situs porno dikelola orang Indonesia, dari sekitar 24,5 juta situs karya masyarakat Indonesia.
Pemerintah memang tidak main-main dengan kebijakan baru untuk memblokir situs porno, mulai 1 April ini. UU Informasi dan Transaksi Elektronik yang disahkan DPR pada 25 Maret lalu, di antaranya memang mengatur penyebaran pornografi melalui internet. Bukan cuma soal pornografi, melainkan juga segala jenis kejahatan berbasis teknologi informasi, seperti kejahatan pembobolan sistem jaringan komputer, pencurian data kartu kredit, mendapat ancaman hukuman berat. Tak tanggung-tanggung: dendanya antara Rp 600 juta hingga Rp 12 miliar, dan hukuman penjara antara 6-12 tahun.
Bugil di Ponsel
Upaya pemerintah menangkal “situs jorok” itu, di antaranya, bermula dari keresahan Menteri Komunikasi dan Informatika Mohammad Nuh, setelah mendengar keluhan sejumlah ulama di sebuah masjid di Surabaya, Jawa Timur, beberapa waktu lalu. Para ulama itu gundah karena fasilitas komputer yang terhubung internet di tempat-tempat ibadah di Jawa Timur banyak yang disalahgunakan untuk membuka website porno.
Jika warga masyarakat yang biasa berada di tempat ibadah saja demen mengakses situs berbau porno, bagaimana dengan masyarakat biasa? Sesungguhnya kekhawatiran akan rusaknya moral bangsa ini karena pornografi masih menggelayuti negeri ini. Pena Pendidikan pernah menulis tema pornografi, khususnya peredaran video mesum yang dilakukan kalangan pelajar (Lihat: Pena Pendidikan Edisi 11).
Tahun lalu, sempat marak razia ponsel alias telepon seluler di sekolah-sekolah. Penyebabnya, ponsel para pelajar, khususnya yang berfasilitas kamera dan pemutar video format 3gp, disalahgunakan untuk merekam adegan tak senonoh, dari pose bugil hingga adegan persetubuhan dua remaja berlainan jenis. Di Temanggung, misalnya, razia digelar begitu ditemukan rekaman adegan mesum seorang remaja perempuan yang memakai seragam sebuah SMP di Temanggung dengan seorang remaja pria usia siswa SMU. Adegan berdurasi 38 detik itu awalnya beredar di sekelompok pelajar saja. Namun kemudian menyebar ke banyak kalangan.
Selain di Temanggung, kasus rekaman mesum pelajar juga melanda Madiun, Jawa Timur. Di kota bersejarah itu beredar rekaman porno yang diduga dilakukan pelajar salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) negeri di Madiun. Dalam rekaman berdurasi 50 detik itu terlihat seorang pelajar siswi dengan seragam sekolahnya melakukan adegan tak senonoh dengan seorang remaja pria. Di Banjarmasin, marak juga peredaran video porno yang diberi judul Asmara Banjarbaru. Kota-kota lain sama saja. Di Jakarta, Semarang, Kediri, Bandung, hingga Medan, juga ditemui rekaman video porno made in pelajar.
Kasus paling menghebohkan bahkan terjadi jauh sebelum razia ponsel di kalangan pelajar banyak dilakukan. Pada akhir 2005, di “kota santri” Cianjur, Jawa Barat beredar rekaman porno sepasang pelajar, yang belakangan diketahui sebagai siswa-siswi SMAN 2 Cianjur. Adegan mesum itu diambil di dalam ruangan kelas. Ketika para siswa lainnya sedang beristirahat di luar ruangan, tiga orang pelajar malah asyik di dalam kelas. Salah satu dari mereka kemudian merekam adegan mesum itu dengan kamera ponselnya.
Dewan Guru SMAN 2 Cianjur pun langsung mengambil tindakan, yang berbuntut pada pemecatan sebelas siswa. Mereka bukan cuma sepasang pelajar yang terbukti terlibat dalam pembuatan video porno dan perekamnya itu, tapi juga para pelajar lain yang diduga telah melakukan tindakan menyimpang dan sangat tidak pantas dilakukan pelajar. (Lihat: Rekaman Itu Mencoreng Cianjur)
Kasus lain yang bikin heboh di akhir 2005 adalah foto bugil “Yuk Kota Mojokerto”, Endang Christy Handayani. Foto-foto bugil siswi sebuah SMU di Mojokerto, Jawa Timur, itu bahkan terpampang di internet. Dalam sebuah website, ditampilkan 110 foto Christy, mulai dari foto ketika ia berekreasi bersama adiknya, foto bersama pacarnya, hingga foto-foto bugilnya di atas ranjang.
Website itu menyambut pengunjungnya dengan tulisan “Hot News!, Finalis Yuk Kota Mojokerto 2005, She was study on SMA 1 Puri Mojokerto.” Di dalamnya terdapat lima buah foto seorang gadis yang diduga sebagai Christy, di atas ranjang dalam keadaan telanjang.
Christy yang kala itu duduk di kelas III IPS SMA Negeri 1 Puri Mojokerto, mengatakan bahwa foto-foto seronok itu bukan foto dirinya. Namun, kasus itu telanjur membuat statusnya sebagai Puteri Mojokerto dicopot. Christy akhirnya diungsikan keluarganya ke Medan. Rekaman porno itu diduga kuat dibuat dengan kamera ponsel, dan awalnya sempat beredar di antara pemilik ponsel, sebelum masuk internet.
Kasus Cianjur dan Mojokerto hanya contoh yang terungkap ke publik, dan kemudian pelakunya diketahui. Rekaman-rekaman porno lain yang melibatkan pelajar sebenarnya banyak. Namun, karena pelakunya tak diketahui, kasus-kasus itu pun tak terungkapkan. Padahal, perbuatan para pelajar dalam rekaman-rekaman itu sungguh sebuah kenakalan yang kelewatan.
Sejumlah rekaman porno dengan pelaku pelajar, pernah mampir ke redaksi Majalah PENA PENDIDIKAN. Dalam rekaman-rekaman itu tergambar adegan-adegan yang memang tak selayaknya dilakukan pelajar. Yang menyedihkan, mereka melakukannya dengan pakaian seragam sekolah yang masih menempel di badan.
Ada rekaman adegan mesum sepasang remaja di tempat yang diperkirakan sebagai sebuah kios penyedia jasa internet alias warnet (warung internet). Tempat itu tampaknya sengaja didisain pengelolanya untuk memancing kenakalan pasangan remaja yang berpacaran. Tiap ruang komputer di warnet itu dibatasi dengan bilik penyekat dengan pintu masuk ditutup kain.
Usai jam sekolah, memang banyak pelajar yang suka mampir ke warnet untuk menjelajahi dunia maya, mencari bahan pelajaran, atau malah untuk chatting, mencari teman ngobrol. Tak jarang mereka datang ke warnet bersama pasangannya.
Pada rekaman yang lain, yang sama menjijikkan, seorang pelajar putri dibujuk temannya untuk melakukan adegan mesum bersama pasangannya. “Sekarang kita sedang berada di vila Malang,” kata si teman yang memegang alat perekam, seakan memberi reportase. Tak jelas, di mana lokasi vila itu, atau bisa saja ia hanya mengarang-ngarang seolah sedang berada di vila tersebut.
Si pelajar putri tampak malu-malu. Tapi ia tak menolak, dan tidak juga menyembunyikan wajahnya ketika pakaiannya dipreteli. Sungguh keterlaluan dan sama sekali bukan jenis kenakalan yang bisa dianggap wajar. Sayang, meski wajahnya menghadap kamera, tapi karena kualitas rekamannya jelek, raut oknum pelajar bejat itu tak tampak jelas.
Pada rekaman lainnya bahkan terlihat dua orang pelajar puteri, yang masih mengenakan seragam sekolah beradegan mesum seperti yang biasa dilakukan kaum lesbian. “Ketahuan nih!” ujar suara perempuan yang merekam adegan itu.
Tak dimungkiri, sebagai ekses perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi, perilaku masyarakat telah mengalami pergeseran, termasuk perilaku seksual sebagian pelajar. Sebagian dari para remaja akhirnya terseret mengikuti gaya hidup bebas dan cenderung permisif dalam memandang nilai-nilai susila di masyarakat.
Hasil sejumlah penelitian yang dilakukan terhadap para remaja menunjukkan kecenderungan itu. Misalnya, hasil survei Synovate Research tentang perilaku seksual remaja di 4 kota, yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya dan Medan, September 2004. Survei ini mengambil 450 responden dari 4 kota itu dengan kisaran usia antara 15 sampai 24 tahun.
Hasilnya, 44% responden mengaku mereka sudah pernah punya pengalaman seks di usia 16 sampai 18 tahun. Sementara 16% lainnya mengaku pengalaman seks itu sudah mereka dapat antara usia 13 sampai 15 tahun. Selain itu, rumah menjadi tempat paling favorit (40%) untuk melakukan hubungan seks. Sisanya, mereka memilih hubungan seks di kos (26%) dan hotel (26%). (Lihat: Pengalaman Seks Belasan Tahun)
Hasil survei Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada Mei 2002 juga menunjukkan hasil yang mencengangkan. BKKBN menyurvei 2.880 responden usia 15-24 tahun di enam kota di Jawa Barat. Hasilnya, 39,65 persen responden pernah melakukan hubungan seksual pranikah. Di Malang, Jawa Timur, penelitian yang dilakukan pada 2002 menunjukkan, hampir 15% dari remaja yang dijadikan responden di sana telah melakukan hubungan seksual pranikah.
Penelitian mutakhir dilakukan Dr Rita Damayanti saat meraih program doktoralnya di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Ia meneliti 8.941 pelajar dari 119 SMA atau yang sederajat di Jakarta, tahun lalu. Hasilnya, sekitar 5% pelajar telah melakukan perilaku seks pranikah, karena pengaruh teman sebaya yang negatif. Lingkungan yang negatif ternyata berpengaruh buruk pada perilaku remaja, karena mereka belum punya proteksi terhadap perilaku orang-orang di sekelilingnya.
“Remaja yang merasa bebas dan tidak terkontrol keluarganya mula-mula akan jatuh pada perilaku antara, yaitu merokok dan mengonsumsi alkohol,” kata Rita. Nah, Ujung-ujungnya mereka mulai beranio menggunakan narkoba dan melakukan seks pranikah.
Hasil penelitian di Jogjakarta menunjukkan hasil yang lebih gila lagi. Sebanyak 88,9% responden di kota pelajar itu mengaku pernah berhubungan seksual, 75% di antaranya bahkan telah melakukannya lebih dari sekali.
Sebelumnya, Jogjakarta pernah menjadi sorotan nasional, ketika pada Agustus 2002, Iip Wijayanto dari Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan merilis hasil penelitiannya mengenai keperawanan mahasiswi di sana. Menurut hasil survei Iip, ada 97,05% mahasiswi Jogjakarta yang telah kehilangan keperawanannya sewaktu belajar di kota itu. Hasil penelitian Iip itu banyak menuai protes kalangan perempuan, dan dianggap tidak sahih. (Lihat: PENA PENDIDIKAN Edisi Nomor 6/Oktober 2006)
Dr Rita Damayanti mengatakan bahwa perilaku permisif remaja dalam masalah seks berawal dari proses pacaran. Menurut Rita, berpacaran adalah bagian dari proses perkembangan kepribadian seorang remaja, karena ketertarikan antarlawan jenis. “Namun, perkembangan budaya justru cenderung membuat perilaku remaja kian permisif terhadap gaya berpacaran remaja,” kata Damayanti.
Berdasarkan penelitiannya, perilaku remaja laki-laki menjadi jauh lebih agresif dibandingkan dengan remaja perempuan. Mereka tak hanya terbiasa dengan ciuman bibir, tapi sudah berani melakukan hal-hal yang lebih jauh, mulai dari meraba dada, hingga akhirnya melakukan seks pranikah.
Perilaku yang lebih berani itu memang dipengaruhi banyak hal. Pengaruh terbesar datang dari pesatnya perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang memungkinkan mengglobalnya berbagai budaya dan gaya hidup.
Sarana hiburan sudah tersaji langsung ke rumah-rumah dalam bentuk tayangan televisi, dan susah sekali menyensornya. Celakanya, industri penyiaran cenderung lebih mementingkan faktor bisnisnya ketimbang misi edukasi. Buktinya, banyak acara-acara remaja, termasuk sinetron yang tidak mendidik ditayangkan hanya karena menyedot banyak pengiklan, dan ratting-nya tinggi. Padahal tayangan itu justru memberi pengaruh buruk pada psikologi remaja.
”Saya bingung, kok sinetron remaja ceritanya cuma mengenai pacaran saja,” kata Nyonya Wiji Sarjono, warga Kampung Makasar, Jakarta Timur. “Masak anak SMP saja diceritakan sudah berebut pacar. Kapan belajarnya, bagaimana bisa berprestasi?” Ibu dua remaja yang masing-masing duduk di kelas tiga dan kelas satu SMA itu khawatir anak-anaknya akan terpengaruhi secara negatif.
Dengan melihat tayangan itu, kata Wiji, para pelajar lain bisa saja menganggap berpacaran sebagai sebuah keharusan dan tuntutan pergaulan. “Mereka mungkin menganggap berpacaran sebagai standar gaul. Pelajar yang tidak punya pacar, dianggap tidak gaul dan karena itu cenderung rendah diri.”
Kekhawatiran Wiji masuk akal. Sebab, banyak remaja putri yang akhirnya terjerumus ke dalam perilaku bebas setelah punya pengalaman negatif semasa berpacaran. Simak saja penuturuan seorang gadis yang baru lulus dari sebuah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) swasta di kawasan Cawang, Jakarta Timur.
Gadis itu, sebut saja namanya Pipie, kini telah bersastus sebagai, maaf, gadis panggilan. Pipie mengaku punya geng. Ia dan teman-temannya sama-sama biasa melayani panggilan pria hidung belang dengan tarif Rp 300.000 hingga Rp 600.000. Jangan kaget, mereka bahkan telah menjalani profesi itu sejak kelas tiga SMK.
Semasa bersekolah, mereka biasa kongko usai jam sekolah ke mal-mal atau pusat perbelanjaan. Dengan masih mengenakan seragam sekolah, mereka kerap mejeng di pinggir jalan dan iseng melambaikan tangannya seolah mencegat mobil-mobil pribadi yang berseliweran. Pipie dan teman-temannya tak sungkan-sungkan bertransaksi seksual semasih bersekolah. “Gue udah enggak virgin lagi sejak kelas satu,” tutur Pipie, tak malu-malu.
Tersesat ke Zaman baru
Kawanan Pipie tak sendirian. Di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, pada malam akhir pekan, kerap ditemui para remaja putri mejeng. Sebuah stasiun televisi pernah menayangkan mereka, yang disebutnya sebagai “pekcum” alias perek cuma-cuma. Sebagian besar dari para remaja putri itu mengaku masih duduk di bangku SMA. Mereka rela mengumbar berahi demi kesenangan. Keterlaluan!
Para remaja kini seolah-olah telah tersesat ke zaman baru. Mereka makin terlena menyalahgunakan berbagai piranti teknologi yang kian canggih. Ekses teknologi itu pun kian terasa. Teknologi internet yang membumi akhir 1990-an, telah memberi akses ke dunia porno yang tak tersensor. (Lihat: Menangkal Gerbang Menuju Kesesatan)
Revolusi seks yang membuncah di Barat pada akhir 1960-an seolah sudah merambah ke sini, melalui peranti teknologi informasi, dan sarana hiburan yang makin canggih. Orang-orang berperilaku aneh, seolah-olah mengikuti peradaban modern. Padahal, ketika peradaban semakin maju, dan ilmu pengetahuan kian berkembang, manusia mestinya lebih beradab.
2 April 2008 16:44 WIB
Monday, 15 March 2010
POLLING PEMBACA |
May 16th, 2009 at 1:31 pm
keren…………..cukup lengkap