INTERNASIONAL

Singapura-Amerika: Berlomba Menggapai Nomor Satu

Oleh Iwan Qodar Himawan/Pena

 

Amerika Serikat risau karena nilai matematika dan sains muridnya tidak masuk peringkat atas, jauh dibawah sejumlah negara di Asia. Singapura menjadi rujukan.

 

BEKAS presiden Indonesia, BJ Habibie, secara berseloroh pernah mengatakan bahwa Singapura hanyalah sebuah noktah merah di peta. Namun tak bisa dipungkiri, meski ia hanyalah sebuah titik, Singapura punya kedigdayaan mengagumkan. Di bidang keuangan, ia dikenal sebagai salah satu pusat pasar uang di Asia, selain Tokyo, Hong Kong, dan Dubai. Di bidang pendidikan, Singapura dikenal memiliki prestasi membanggakan.

Nun jauh di Chicago, Amerika Serikat, sebuah negara bagian di Amerika yang ribuan kilometer jauhnya dari Singapura, pengakuan itu mencuat. Adalah Doug O’Roark, 41 tahun, yang mengungkapkannya. Ia lulusan sekolah ternama, Massachusetts Institute of Technology, dengan ijazah di bidang teknik elektro dan kesusastraan.

Ia kini menjadi Ketua Departemen Sains dan Matematika di Payton College, sebuah sekolah swasta dengan prestasi cukup membanggakan. Sewaktu mengiklankan penerimaan murid baru, Agustus ini, O’Roark mengatakan: sekolahnya memiliki prestasi tingkat dunia. Ini antara lain karena di bidang matematika dan sains, sudah menerapkan metode Singapura.

Kalimat O’Roark ini pantas dicatat, mengingat ia bukan sembarang guru. Pada 2002 ia mendapat penghargaan sebaga guru matematika dan sains berprestasi, dalam kegiatan Radio Shack National Teacher Award. Tahun lalu, ia mendapat anugerah lainnya. Ia menjadi satu dari 12 penerima penghargaan guru matematika terkemuka dari Asosiasi Matematika se Amerika.

O’Roark bisa mendapat anugerah itu berkat kesungguhannya memberikan yang terbaik bagi muridnya. Panitia menyebutkan bahwa O’Roark tak segan untuk “mengintip metode pengajaran matematika di seluruh dunia, untuk mendapatkan yang terbaik”. Yang ia pelototi dengan amat serius adalah bagaimana pemerintah Singapura menerapkan pelajaran matematika di sekolah.

Cara “mengintip” itu ia lakukan melalui berbagai bacaan tentang metode pengajaran matematika di negara yang mendapat ranking atas dalam matematika. O’Roark sangat akrab dengan kurikulum matematika di Singapura, negara yang mendapat peringkat atas dalam matematika dan sains. Ia menyerapnya.

Metode dari Singapura itu ia padukan dengan pendekatan “menekuni materi”, cara yang ia serap dari Jepang. Dalam cara ini, murid diajak belajar sebuah topik secara berulang-ulang, sampai ia puas terhadap hasilnya. Sebagai contoh, misalkan murid belajar kalkulus atau trigonometri, dia diajak belajar secara sukarela setelah jam pelajaran usai, sampai murid merasa puas terhadap hasilnya. Tak hanya teori murni yang diajarkan. Murid diajak menghubungkan antara ilmu yang ia dapat dengan terapannya dalam kehidupan sehari-hari.

O’Roark juga mencoba mencari tahu bagaimana matematika diajarkan di Hungaria. Menurut standar ujian internasional, nilai matematika murid sekolah menengah Hungaria ada di nomor 9, jauh di atas Amerika Serikat yang di nomor 19. Adapun Singapura ada di nomor 1, sedang Jepang di nomor 5. Indonesia, apa boleh buat, masih di nomor 34. O’Roark mengajak murid-muridnya ke Salgotarjan, sebuah kota di Hungaria dengan penduduk 40.000 orang.

Bersama para muridnya, ia belajar di Bolyai Janos Gimnazium. Bolyai Janos adalah salah satu tokoh yang melahirkan geometri non-Euclidean, ilmu ukur ruang yang banyak mempelajari soal hiperbola dan elip. Para murid dari Amerika Serikat ini berbaur dengan tuan rumahnya, demi sebuah tujuan: agar mereka bisa mendongkrak prestasi matematikanya ke kelas dunia.

PERINGKAT 15

Sudah 50 tahun ini Amerika Serikat dirisaukan reotnya kualitas matematika para muridnya. Setengah abad lalu, tiba-tiba saja mereka dikejutkan oleh meluncurnya Sputnik, pesawat luar angkasa Uni Soviet. Amerika kaget. Namun mereka mengambil hikmah: Amerika harus segera memperbaiki pelajaran matematika dan sains-nya. Hasilnya kelihatan. Amerika tak hanya mengirimkan awaknya ke luar angkasa, melainkan mendaratkannya di bulan.

Namun, studi di 26 negara bagian yang baru tahun lalu dilakukan menunjukkan hasil yang merisaukan. Satu dari lima pelajar di Amerika Serikat ternyata harus ikut ujian ulangan matematika. Menurut National Science Foundation, nilai rata-rata matematika pelajar Amerika kelas 8 terletak di peringkat 15. Di bawah Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan Rusia. Ini musibah bagi Amerika, mengingat lapangan kerja bagi lulusan matematika, sains, dan teknik, tumbuh lima kali ketimbang bidang lain.

Karena itu, dewasa ini digenjot program besar untuk menajamkan kepiawaian para guru dalam bidang matematika dan sains. Di New Jersey, pemerintah negara bagian bekerjasama dengan pihak swasta mengadakan workshop untuk para guru. “Keterampilan matematika dan sains bukan saja jadi kebanggaan nasional. Dua bidang ini jadi landasan bangsa dalam berinovasi,” kata Beth McGrath, direktur Stevens Tech, lembaga yang diajak bekerjasama mengadakan workshop.

Lagi-lagi, metode pengajaran matematika ala Singapura jadi bahan diskusi.

SINGAPURA PERINGKAT 1

Singapura memang pantas berbangga. Adalah hasil studi yang digelar Third International Mathematics and Science Study (TIMMS) pada 1999 dan 2003 yang menunjukkan kehebatannya. Riset ini diikuti 180.000 murid dari 38 negara. Singapura mengikutkan 5.000 muridnya.

Pada 1999, dari 38 negara yang menjadi obyek survei terhadap murid kelas 8, Singapura menduduki peringkat nomor 1. Ini mengulangi hasil yang dicapai Singapura pada 1995. Survei terakhir dilangsungkan pada 2007, namun hasilnya baru diumumkan Desember mendatang.

Dari nilai maksimal 1.000, murid Singapura mendapatkan rata-rata 604, jauh di atas capaian Amerika Serikat. Indonesia menduduki peringkat 34, di bawah Thailand maupun Malaysia. Survei yang dilakukan terhadap murid kelas 4 di 38 negara menunjukkan hasil serupa. Singapura nomor satu.

Bila dirinci lebih detail lagi, terdapat perbedaan cukup mencolok antara kinerja murid keturunan China dengan keturunan Melayu. Di bidang matematika, sebanyak 96% murid keturunan China termasuk kelas atas dunia. Sementara untuk keturunan Melayu, angkanya 86%. Untuk bidang sains, sebanyak 86% murid keturunan China ada di peringkat separuh ke atas. Untuk keturunan Melayu, angkanya hanya 61%.

Yang membuat Singapura bangga, menurut hasil riset itu, murid-muridnya memang menyukai matematika dan sains. Nilai tinggi ini didapat karena kedua pelajaran itu memang disukai para murid.

INTELLIGENT NATION 2015

 

SINGAPURA tak henti-hentinya menjaga keunggulan siswa di bidang teknologi dan matematika. Proyek besarnya dirancang oleh Departemen Informasi dan Komunikasi, dengan menggulirkan program “Intelligent Nation 2015”, biasa disingkat iN2015. Melalui proyek ini, Singapura ingin mengutamakan penggunaan teknologi informasi di berbagai bidang: ekonomi, pendidikan, dan pembelajaran. Untuk mendukung kegiatan itu, sekolah mengadakan program “FutureSchool@Singapore”.

Akhir Juli lalu, pemerintah Singapura mengumumkan empat konsorsium yang menang tender perangkat lunak bagi 15 sekolah perintis. Setelah hasilnya bagus, perangkat lunak itu disebarkan ke sekolah lainnya. Di antara pemenangnya adalah Civica, perusahaan penyedia program khusus pendidikan, yang sudah lama buka kantor di Singapura. Anggotanya SingTel, ST Electronics, dan HewlettPackard. Nilai proyeknya cukup besar, Sin $80 juta, lebih dari Rp 400 milyar, dilaksanakan selamat empat tahun hingga 2012.

Masing-masing anggota konsorsium memiliki tugas sendiri. Civica, misalnya, mendapat perintah untuk membuat program komputer pelajaran interaktif 3D di bidang lingkungan di SMP Jurong. Dengan proyek ini, pemerintah Singapura berharap, keunggulan negaranya di bidang matematika dan sains terus bertahan.

Tanpa terus melakukan inovasi, keunggulan Singapura memang akan gampang disamai. Saat ini berbagai negara seperti berlomba-lomba mengopi cara pengajaran matematika ala negeri singa. Salah satu analisis terhadap kurikulum matematika ala Singapura itu bisa dijumpai di http://www.welltrainedmind.com/J01singapore.html. Analisis dilakukan konsultan pendidikan Sonlight Curriculum Ltd, Amerika Serikat.

Menurut Sonlight, buku matematika pegangan untuk murid Singapura, di tiap tingkatan memiliki desain yang sama. Tiap semester, siswa mendapat satu buku pegangan ditambah dua buku kerja. Kesinambungan materi dari tiap jilid buku terlihat jelas.

Terlihat jelas bahwa murid diajak berpikir. Sebagai contoh, pada awal pengenalan terhadap matematika di buku 1A, murid diajak berhitung dari 1-10. Setelah itu, mereka diajak menghitung mundur, dari 10 ke 1. Mereka kemudian dikenalkan dengan gambar kincir angin yang punya enam sirip. Pada tiap sirip tergantung kursi. Siswa kemudian diminta mengisi kotak kosong pada tiap deretan di kursi: __, 8, 9; 3, __, 1; ___, 6, 5; 2, 1, ___; 5, ___, 3; 10, 9, ___.

Sonlight menyarankan, bila ingin menerapkan matematika ala Singapura, kita hendaknya melakukannya secara teratur, dengan penuh kesabaran.

IWAN QODAR HIMAWAN

 

6 August 2008 12:07 WIB

Artikel ini menarik?
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
Loading ... Loading ...

Pena Pendidikan

Saturday, 22 November 2008

REDAKSI


Iwan Qodar Himawan

Saiful Anam

Dipo Handoko

Eva Rohilah

Fathoni Arief

Kenny

Arien TW

RUBRIK

ANGGOTA

POLLING PEMBACA

EMAIL SUBSCRIBE

Enter your email address:

STATISTIK

KATA KUNCI