Kata Kunci: Mutu, Sertifikasi
Mengupas perlunya sertifikasi untuk menjaga kualitas pendidik dan guru. KTSP mesti diimbangi guru-guru yang punya skill dan kualitas baik. Cara menambah keterampilan guru dengan menerapkan konsep belajar tuntas.
“Sertifikasi pendidik” tampaknya menjadi kata paling populer di kalangan guru dan pendidik sepanjang tahun lalu hingga kini. Coba dengar obrolan guru dan pendidik di sekolah: sertifikasi menjadi sesuatu yang dinanti. Sayangnya, hingga setahun lebih sejak UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang menghendaki sertifikasi bagi para pendidik diundangkan pada akhir 2005, proses sertifikasi belum juga bergulir.
Buku kecil Martanis Yamin ini hadir di saat yang tepat. Delapan bab isi tak hanya mengupas sertifikasi, juga persoalan kompetensi guru dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Menurut Yamin, rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia bukan akibat rendahnya input pendidikan tapi tapi akibat proses pendidikan yang tidak maksimal. Juga rendahnya kualitas guru. Yamin unjuk bukti dengan hasil Ujian Nasional yang tak semuanya bagus. Masih banyak peserta didik tidak lulus Ujian Nasional karena nilainya di bawah standar 4,26.
Di mata lulusan IAIN Sulthan Thaha Syaifuid Jambi, proses pendidikan yang tidak baik menghasilkan lulusan yang tidak baik juga. Bagaimana pun proses pendidikan di sekolah terletak di tangan guru. Sulit berharap banyak pada guru berkualitas rendaha dalam penguasaan materi, komunikasi, motivasi dan mengelola pembelajaran. Sertifikasi guru, menurut Yamin perlu untuk meningkatan kualitas guru.
Selain menjelaskan tentang perlunya proses sertifikasi, Yamin juga mengupas penyelenggaraan sertifikasi dan beban materi sertifikasi. Beban materi sertifikasi menghendaki guru harus memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.
Salah satu kelebihan buku ini adalah penyampaiannya yang ringan dan tajam berkaitan dengan profesi guru. Pada Bab III, misalnya. Tema Kriteria Profesionalitas Guru diulas secara mendalam. Beberapa tokoh pendidikan seperti Glenn Langford, Moore, dan Greenwod menjadi rujukan Yamin dalam menjelaskan tentang kriteria guru ideal.
Mengenai KTSP, menurut Yamin, mesti diimbangi guru-guru yang memiliki skill dan kualitas baik. Mustahil kurikulum ini terlaksana dengan mutu guru yang rendah dan tidak mau menambah keterampilan keguruan.
Salah satu cara menambah keterampilan guru adalah dengan menerapkan konsep belajar tuntas. Belajar tuntas merupakan proses pembelajaran yang dilakuan secara sistematis dan terstruktur. Tujuannya mengadaptasikan pembelajaran pada siswa kelompok besar, membantu mengatasi perbedaan perbedaan yang terdapat pada siswa dan untuk menciptakan kecepatan belajar. “Belajar tuntas diharapkan mampu mengatasi kelemahan-kelemahan yang melekat pada pembelajaran klasikal,” kata Yamin.
Syaratnya, guru memiliki metode pembelajaran bagus dan sesuai dengan kemampuan anak didik. Banyak metode pembelajaran dapat digunakan dalam menyajikan pembelajaran. Di antaranya, dengan diskusi, tanya jawab, eksperimen, penampilan, metode studi mandiri, pembelajaran terprogram, latihan sesama teman, simulasi, karyawisata, studi kasus, induksi, deduksi, seminar, dan bermain peran.
Meskipun tergolong tipis, paparanya cukup banyak. Sayangnya, banyak sekali kesalahan ketik. Misalnya, sertifikasi ditulis sartifikasi. Selain itu, Yamin juga banyak mengutip informasi dari beberapa surat kabar nasional tanpa dianalisis secara mendalam.
Terlepas dari kelemahan itu, buku ini wajib hukumnya menjadi bacaan pendidik dan guru yang tengah mempersiapkan diri untuk menggapai sertifikasi. Juga jadi referensi yang bagus bagi dosen pengajar, pemerhati pendidikan, LSM dan institusi pendidikan pusat dan daerah.
eva rohilah
3 February 2008 15:07 WIB
Tuesday, 16 March 2010
POLLING PEMBACA |
June 10th, 2009 at 8:29 am
Untuk meningkatkan kualitas guru dalam pembelajaran berdasarkan pada KTSP, perlu juga diperhatikan sistem pembelajaran yang diterapkan saat ini yaitu masih menerapkan sistem pembelajaran klasikal. Dalam satu robongan belajar ada40 siswa atau lebih yang heterogen. Disamping menerapkan pembelajaran tuntas, kami mengusulkan agar adanya sistem rombongan belajar yang homogen, dan tetap menjaga netralitas, tidak ada diskriminasi. Akan terjadi kompetisi sehat dalam meningkatkan kemampuan di antara siswa.