DASAR

Sekolah Tertua Pemimpin Negeri

Kata Kunci: ,

sdn-pacitan-1.jpg

AB. Rodhial falah/Pena (Pacitan)

SDN Baleharjo I Pacitan

Pamornya tidak melambung meski menyandang label “sekolahnya SBY.” Sebagian besar siswanya dari keluarga golongan ekonomi menengah ke bawah. Gratis, berkat bantuan operasional sekolah (BOS). Menanti bantuan rehabilitasi ruang kelas.

SELALU muncul kebanggaan di hati siswa dan para guru di SDN Baleharjo 1, Pacitan, Jawa Timur. Mereka bangga sekolah mereka punya andil melahirkan pemimpin negeri ini, yakni Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sejak SBY terpilih sebagai presiden pada 2004 lalu, orang banyak menyebut SD Baleharjo 1 sebagai “sekolahnya SBY.”

Letaknya tepat di seberang alun-alun kota Pacitan. Namun jangan salah masuk. Ada dua SD yang sama-sama bernama Baleharjo, yakni SD Baleharjo 1 dan SD Baleharjo 2. SDN Baleharjo 2 justru terlihat lebih megah: bangunan bertingkat. Sedangkan SD Baleharjo 1 tampilannya sederhana, baik kelas-kelas maupun perpustakaan atau ruang UKS, yang malah bisa dilang sudah usang.

SD Baleharjo 1 juga nampak sempit. Sekolah ini berdiri di atas lahan hanya seluas 546 m2. Terasa mungil jika dilihat sekolah disampingnya, SMP Negeri 1 Pacitan. SMPN 1 juga mendapat julukan “sekolahnya SBY.” Presiden SBY memang pernah bersekolah di sana setamat SD.

“Presiden SBY dulu memang pernah bersekolah di sini, tapi hanya dari kelas empat hingga lulus SD,” kata Sutikno, SPd (47), Kepala SDN Baleharjo 1 ketika ditemui Majalah Forum Tenaga Kependidikan, pertengahan April lalu.

Menurut Sutikno, yang baru setahun bertugas di SDN Baleharjo 1, SBY kecil sebelumnya bersekolah di SDN Purwoasri, Kebonagung, Pacitan. Inilah sekolah pertama di Pacitan. Berdiri pada tahun 1888, awalnya bernama SD Gajahmada.

Meski menyandang sebagai “sekolahnya SBY”, tidak membuat pamor SD Baleharjo melambung. Siswa sekolah ini justru didominasi siswa dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. “Siswa sama sekali tidak dipungut biaya, berkat dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk penyelenggaraan pendidikan,” ujar Sutikno.

Pendidikan murah memang menjadi keinginan Sutikno saat dipercaya memimpin SD Baleharjo 1. Dana BOS, kata Sutikno, diperuntukkan untuk pengadaan buku dan seragam siswa tidak mampu, membeli alat peraga, dan portofolio kelas. “Siswa yang tidak mampu juga kami beri uang transport sebesar Rp 15 ribu per bulannya,” kata Sutikno.

PERPUSTAKAAN KUNO

Jika melihat bangunannya, tak ada yang istimewa dari SD Baleharjo 1, kecuali sebuah bangunan tua yang sekali pandang langsung menarik perhatian. Bangunan tua berukuran 8 x 5 meter persegi itu nampak lapuk dimakan usia. Di dalam, semakin tampak betapa tuanya bangunan yang diperuntukkan sebagai perpustakaan sekolah ini.

Ada buku-buku terbitan lawas, yang terkesan sudah sangat usang. Namun terjajar rapi di rak-rak buku. Beberapa lukisan dan pajangan dinding menghiasi ruang. “Inilah perpustakaan kami, bukunya sudah kuno-kuno,” ujar Sutikno malu-malu. Di sana juga terdapat beberapa alat peraga seperti bola dunia, peta Indonesia dan sebuah alat musik angklung.

Masih dalam satu bangunan, terdapat ruangan UKS yang tak kalah tuanya. Di dalamnya ada sebuah tempat tidur dan sebuah kotak obat dengan tanda palang merah. Kotak obat itu kosong, namun setidaknya masih menginformasikan bahwa itu adalah ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS). “Anak-anak masih menggunakan ruangan ini, biasanya kalau ada yang kurang sehat, pasti dibawa ke sini,” ujar Sutikno.

Ruang perpustakaan SDN Baleharjo I tampak lebih bersih dari ruang UKS. Selembar sajadah tampak menggantung di kursi, bukti bahwa bangunan yang cukup tua tersebut selain dikenal sebagai perpustakaan, juga difungsikan sebagai tempat beribadah oleh sebagian penghuninya.

sdn-pacitan-2.jpg

Sutikno ingin sekolahnya memiliki fasilitas yang cukup demi kenyamanan kegiatan belajar mengajar. “Saat ini terus terang kami membutuhkan adanya mushola, jam belajar sekolah kami hingga 12.30. Setidaknya kami bisa beribadah dulu sebelum pulang ke rumah,” ujar Sutikno. Kepala sekolah asli Pacitan ini juga berharap mushola itu kelak dapat dimanfaatkan oleh anak didiknya saat mengikuti kegiatan ekstra sore hari.

Sutikno pernah mengajukan permohonan secara langsung pada SBY sewaktu berkunjung ke Pacitan dalam bentuk proposal. Sutikno tak iri bila menyaksikan “sekolahnya SBY” yang lain pernah menerima bantuan dari Presiden SBY. Ia tidak bermaksud membangingkan dengan SD Purwoasri, SMPN 1 Pacitan dan SMAN 1 Pacitan yang pernah menerima bantuan dari Pak Presiden. “Kalau pada waktunya mendapat bantuan…ya pasti dapat,“ ujarnya sambil tersenyum.

 

Selain kebutuhan mushola, Sutikno bermaksud merehabilitasi ruang-ruang kelas. Program rehabilitasi ruang kelas itu juga sudah diajukan kepada Presiden SBY. Dana operasional memang masih menjadi kendala SDN Baleharjo 1. Dana BOS yang diterima sekolah ini total sebanyak Rp 49.022.000. Memang baru cukup untuk menggratiskan biaya sekolah siswa-siswanya.

 

Melalui BOS pula, sekolah ini mampu membeki satu unit komputer dan satu komputer jinjing (laptop). “Selain bahasa Inggris dan bahasa daerah, anak-anak juga diajarkan seni tari dan pramuka, belum ada pelajaran mengenai komputernya, kata Sutikno menambahkan.

Pada kunjungan terakhir Presiden SBY ke Pacitan tahun 2007 lalu, Sutikno dan beberapa siswa SDN Baleharjo I sempat mendapat kehormatan bertatap muka dengan Presiden SBY. Namun sayangnya mereka tidak mendapatkan kesempatan bercakap dengan alumni kebanggaan sekolah mereka tersebut. “Anak-anak mendapatkan bingkisan berupa tas dan buku dari Beliau,” Sutino mengenang.

 

24 April 2008 10:55 WIB

Artikel ini menarik?
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
Loading ... Loading ...

Pena Pendidikan

Wednesday, 20 August 2008

REDAKSI


Iwan Qodar Himawan

Saiful Anam

Dipo Handoko

Eva Rohilah

Fathoni Arief

Kenny

Arien TW

RUBRIK

ANGGOTA

POLLING PEMBACA

EMAIL SUBSCRIBE

Enter your email address:

STATISTIK

KATA KUNCI