Kata Kunci: Asmawi, SD Percontohan, SDN Telaga Biru 1 Banjarmasin, SPd
Oleh: Zuraida Hamid /Pena-Banjarmasin
Menumbuhkan kompetensi belajar siswa sehingga dapat bersaing di tingkat lokal maupun internasional. Penguasaan bahasa Inggris guru dan siswa masih jadi kendala.
Sekolah itu memiliki 18 ruang kelas. Tiap kelas rata-rata diisi 30 murid. Para murid menaruh sepatunya di atas rak sepatu di depan kelas. Sebagian bangunan sekolah ada yang terbuat dari kayu, ada pula permanen. Halaman sekolah masih berupa tanah lapang. Pembangunan fisik masih tampak di sana-sini.
Dari bangunannya, sulit menyangka bahwa sekolah dasar yang terletak di kawasan Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, itu adalah satu-satunya SD percontohan bertaraf internasional. Padahal, di tengah bangunan SD itu baru saja dibangun Taman Kanak-kanak (TK) Percontohan Idhata Kartini.
Sekolah yang berdiri sejak tahun 1980 itu kini memiliki 645 siswa. Jumlah itu terbilang tumbuh pesat akibat bergabungnya tiga buah SD, yaitu SDN Telaga Biru 1, 2, dan 3, pada 1 Agustus 2004.
Hubungan antara orangtua siswa dengan guru tercipta cukup baik hingga dibentuk paguyuban orangtua murid (komite sekolah). Mereka seringkali memberikan bantuan untuk pembangunan sekolah secara swadaya. Tak sedikit fasilitas SDN Telaga Biru I yang diberikan dari swadaya orangtua murid.
“Dari awal, kami berusaha membangun hubungan dan menumbuhkan manajemen partisipatif dengan melibatkan seluruh komponen sekolah dan orangtua siswa,” kata Asmawi, SPd, Kepala SDN Telaga Biru I Banjarmasin.
Sekolah juga terus menumbuhkan kompetensi belajar siswa sehingga dapat bersaing, baik di tingkat lokal maupun internasional. Selain itu, kata Asmawi, sekolah juga terus meningkatkan dan menumbuhkan pembelajaran dan bimbingan serta pembinaan ekstrakurikuler secara efektif. Dengan demikian, murid dapat berkembang secara optimal sesuai potensi yang dimiliki mereka masing-masing.
Dalam hal prestasi, sekolah ini seringkali mendapat penghargaan dan juara lomba cerdas-cermat dan olahraga tingkat Banjarmasin. Sejumlah piala dan penghargaan menghiasi ruang kantor guru dan kepala sekolah.
Sejak Juni 2007, SDN Telaga biru I dimasukkan dalam penilaian SD bertaraf internasional, bersaing dengan 10 SD Percontohan lainnya di kota Banjarmasin. Dilihat dari penilaian Direktorat TK-SD Depdiknas, SDN Percontohan Telaga Biru I dianggap memenuhi standar pelayanan minimal (SPM) pendidikan.
Selain itu, memenuhi delapan standar pelayanan pendidikan, yang meliputi, standar isi, proses, kompetensi lulusan, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, standar pengelolaan, pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Sekolah yang tahun lalu meraih Juara I pengelolaan sampah menjadi kompos se Kota Banjarmasin itu kemudian resmi mendapat subsidi sekolah rintisan bertaraf internasional.
KENDALA BAHASA ASING
Jabatan kepala sekolah baru disandang Asmawi, S.Pd, 21 Januari lalu. Ia mengaku tidak punya rumus khusus untuk memajukan SD Telaga Biru 1. Bersama empat wakil yang membidangi kurikulum, kesiswaan dan humas, sarana dan prasarana, serta pemberdayaan dan kependidikan, terus berusaha agar sekolah menjadi lebih baik dan murid-murid lebih maju. Ia menanamkan prinsip keterbukaan dan kekeluargaan.
Bagi laki-laki kelahiran Kandangan, 17 Nopember 1963 itu, jika ada hal yang ingin dicapai semua pihak harus aktif. Ia dan 30 tenaga pengajar berusaha meningkatkan mutu murid dengan cara aktif memberikan les tambahan di luar jam sekolah. Murid-murid juga dituntut aktif dan kreatif, baik dalam intrakurikuler maupun ekstrakurikuler, seperti pramuka, silat, seni dan olahraga.
Para guru juga dituntut tidak kalah dengan murid-muridnya. Apalagi, SDN Telaga Biru I baru memiliki lima guru yang sudah memiliki sertifikasi, termasuk Asmawi. Karena itu, semua guru diberi kebebasan untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Bagi guru yang belum sarjana diberi kesempatan untuk kuliah lagi. Mereka juga wajib aktif mengikuti berbagai pelatihan yang diikuti sedara bergiliran baik di daerah maupun luar pulau. Demikian pula halnya dengan seminar.
Adapun dana pembinaan dan penyelenggaraan pendidikan diperoleh dari APBD dan anggaran sekolah. Sedangkan dana BOS khusus diperuntukkan bagi murid-murid yang kurang mampu.
Meski SDN Telaga Biru I dinilai layak menjadi SDN Bertaraf internasional, lulusan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia STIKIP Banjarmasin, itu menganggap kendala utama yang mereka hadapi adalah penguasaan bahasa asing. Soalnya, sekolahnya hanya memiliki dua guru bahasa Inggris yang pasif. Karena itu ia berencana menambah guru bahasa Inggris.
SERIUS TAPI SANTAI
Dwi Ariyanti, S.Pd sudah belasan tahun mengajar di SD Telaga Biru I. Selain guru, perempuan kelahiran Yogya, 27 Februari 1966, itu juga dipercaya sebagai wakil kepala sekolah bidang pemberdayaan dan pendidikan. Cara mengajarnya serius tapi santai. Sebelum memberikan materi pelajaran, ia terbiasa menanyakan sesuatu lebih dulu pada muridnya.
Cara tersebut, kata Dwi, sangat bagus untuk memancing minat murid-muridnya. Selain itu, cara tersebur juga akan mengajak murid untuk berpikir kreatif. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pun sederhana, seputar keadaan yang dilihat atau dialami muridnya pada pagi hari. Lalu, ia menghubungkan pada pelajaran yang akan ia berikan, seperti Ilmu Pengetahuan Alam.
Teknik itu, kata Dwi, diperoleh karena mengikuti pelatihan rutin tiap bulan (SKG) khusus kurikulum. Ia juga rajin membaca teknik-teknik mengajar dari buku, maupun menonton acara-acara di televisi. Bagi Dwi, hal tersebut sangat penting untuk menambah wawasannya. Dengan demikian, teknih mengajarnya bisa berkembang, tidak begitu-begitu saja. Terbukti, para murid menjadikan Dwi sebagai salah satu guru favorit.
Selain Dwi, sejumlah guru lain juga menggunakan teknik yang serupa dengannya. “Sesama guru, kami di sini berusaha bersaing secara sportif,” ujarnya. Mereka bersaing untuk meningkatkan cara mengajar. Sebab, mereka sepakat dengan pendapat: jika gurunya bagus, anak didiknya juga bagus.
Sebelum menjadi SBI, para guru SDN Telaga Biru 1 sudah aktif memberi pelajaran tambahan pada para murid. Jika pelajarannya terasa kurang, maka akan ditambah pada sore hari. Untunglah, murid-murid di sekolah itu juga terbilang aktif.
Pelajaran tambahan diberikan sekali seminggu. Namun, pada saat mendekati ujian/ulangan, pelajaran tambahan diberikan setiap hari.
Sebagai sekolah SBI, Dwi melihat, perubahan yang kentara adalah dari segi fasilitas. Jika dulunya tidak ada komputer, sekarang mendapat bantuan komputer. Para siswa Kelas V juga sudah mendapat pelajaran komputer.
Namun, dalam hal gaji, menurut Dwi, sebelum atau sesudah menjadi SBI tak berubah. Tidak terpengaruh oleh SBI. Sebab, para guru tersebut adalah pegawai negeri sipil yang digaji berdasarkan patokan golongan. Gaji golongan IV lebih dari Rp 2 juta. Sedangkan gaji golongan III, seperti Dwi, hanya Rp 1,7 juta.
Berhubungan masih baru menjadi sekolah rintisan bertaraf internasional, Dwi dan guru-guru lain mengaku belum begitu mahir berbahasa inggris. Di sisi lain, ia dan para guru lain juga belum punya kesempatan waktu untuk kursus Bahasa Inggris sendiri. Karena itu, ia berharap bisa mendapat pelajaran bahasa Inggris dengan pengajar dari luar negeri (native speaker).
MENYENANGKAN DAN MENGASYIKKAN
Bagi Willy Wiranata, menjadi murid SDN Telaga Biru I sangat menyenangkan dan mengasyikkan. Ia memilih sekolah di sana karena fasilitasnya paling lengkap dibanding sekolah lain di sekitar rumahnya. Di samping itu, guru-gurunya pun terkenal baik, kalau menerangkan enak.
Willy juga tidak merasa terbebani dengan sistem belajar-mengajar di sana. IPA adalah pelajaran yang sangat ia sukai dari semua mata pelajaran. Setiap hari guru-guru selalu memberi mereka PR agar mereka bisa belajar lagi di rumah.
Willy sudah belajar bahasa Inggris sejak kelas II. Namun, ia belum punya kewajiban untuk menggunakan bahasa Inggris selama proses belajar. Ia berharap, pada saat menduduki kelas VI atau lulus sekolah, bahasa Inggrisnya sudah bisa dipergunakan dengan lancar.
ZURAIDA HAMID (Banjarmasin)
13 June 2008 08:37 WIB
Wednesday, 20 August 2008
POLLING PEMBACA |