PELAJARAN Sastra Melayu di sekolah dianggap kurang bergengsi dibanding mata pelajaran lain, seperti Matematika dan Sains. Ditambah lagi dengan guru terjebak pada pengajaran sastra yang menekankan aspek kognitif, semisal apakah tema, bentuk, nada, dan
”Mestinya guru lebih kreatif dalam mengajar sehingga sastra menjadi pelajaran yang menarik bagi siswa,” kata Dayang Faridah binti Abdu Hamid, pengajar di Brunei Darussalam, dalam seminar ASEAN Pengajaran Sastra
Dendy Sugono, Kepala Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, mengatakan, siswa sekarang ini merasa asing dengan karya sastra di luar genre sastra remaja. Namun, hal ini sekaligus peluang untuk menumbuhkan kegairahan bersastra dengan sesuatu yang khas.
”Ini awal yang bagus dan bisa ditingkatkan untuk kelak menjadi sastrawan yang bukan sekadar mengungkap fenomena kehidupan, tetapi juga melahirkan kata- kata yang punya pengertian yang dalam, berkarakter, dan khas,” kata Dendy Sugono.
Setya Yuwana Sudikan, dosen Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya, mengatakan, pembelajaran sebaik apa pun tanpa memasukkan nilai kemanusiaan, dengan sendirinya akan mengalami degradasi makna yang luar biasa. Belajar sastra menjadi jembatan untuk memahami manusia dan kemanusiaan. (ELN)
Sumber: Harian Umum Kompas
29 July 2008 06:56 WIB
Tuesday, 16 March 2010
POLLING PEMBACA |