KESEHATAN

Rokok

Kata Kunci: , , ,

Oleh: dr. Sigit Widyatmoko, Mkes, Sp PD

“Pokoknya Pak Dokter…., yang penting bapak saya bisa sembuh, “ pinta Tanto, si tukang ojek dengan memelas. Saya tertegun.

Tanto, yang tiap hari mangkal di sebuah perempatan di Boyolali, sore itu memeriksakan Pak Kadir, bapaknya, ke tempat praktek saya. Bapaknya sakit kanker paru stadium IV. Secara teoritis harapan hidupnya 5 tahun lagi hanya sekitar 10%. Sekarang dia sedang terkena cancer pain, yaitu perasaan nyeri yang ditimbulkan oleh kanker.

Nyeri karena kanker jauh lebih perih dibandingkan karena rematik, sakit gigi, atau bahkan luka bakar. Pasien pada stadium IV biasanya hanya diberi pengobatan paliatif, untuk mengurangi penderitaan saja. Meski demikian biayanya tetap masih besar untuk ukuran Tanto.

Keluarganya memang tidak punya apa-apa. Sakit berat, miskin lagi, bagaimana mau sembuh, pikir saya. “Ya sudah, Pak Kadir dirawat saja di rumah sakit. Punya kartu BLT (Bantuan Langsung Tunai) kan? Itu bisa dipakai untuk pembebasan biaya opnamenya,” kata saya.

Pak Kadir batuk sudah dua bulan ini. Tiga hari lalu bahkan keluar darah segar, sekitar setengah gelas. Mulai sehari kemarin timbul sesak dan nyeri punggung, yang membuatnya periksa ke tempat saya. Diberi antalgin, nyeri tetap tidak menipis. Nafsu makan dan minum juga berkurang, karena mulai timbul mual-mual.

Saya lakukan anamnesis yang rinci, ternyata Pak Kadir adalah seorang perokok berat. Mulai umur 7 tahun dia sudah mencuri-curi tembakau yang dibeli ayahnya dari Boyolali. Tembakau Boyolali memang terkenal gurih. Tembakau itu dilinting dan diraciknya sendiri kemudian dihisap di samping rumah.

Kebiasaan merokok ini berlanjut terus sampai besar, tambah lama tambah meningkat. Apalagi kemudian dia menjadi tukang ojek di pasar, suatu pekerjaan yang membuatnya punya banyak waktu luang. Sehari Pak Kadir mampu menghabiskan 1,5 – 2 bungkus. Padahal pendapatannya sehari Rp 25 ribu – Rp 30 ribu. Berarti separoh pendapatannya habis untuk merokok. Karena itu tidak heran jika kesejahteraan keluarganya tidak kunjung meningkat.

Dari foto torak tampak bahwa terdapat massa pada paru kiri hampir separoh ukuran paru. Rasa nyeri yang sangat pada punggung kiri kemungkinan karena sel-sel kankernya sudah menyebar ke pleura (selaput paru). Akhirnya penderita ini saya rawat untuk mengurangi rasa nyerinya. Tujuh hari dirawat keluhannya membaik. Lima hari kemudian kontrol dengan keluhan nyeri timbul lagi dan kondisi umum yang semakin melemah.

****

Pengaruh buruk dari merokok sudah banyak diungkapkan. Pada bungkus rokok juga sudah tertera “Merokok dapat menyebabkan kanker paru, impotensi, gangguan kehamilan dan janin”. Seolah peringatan ini hanya hiasan. Pertumbuhan perokok dan industri rokok terus meningkat. Kepentingan ekonomi lebih diutamakan dibandingkan kesehatan.

Di Amerika Serikat setiap tahun terjadi 171.900 kasus kanker paru baru. Sekitar separuhnya diduga kuat disebabkan karena merokok. Penyebabnya adalah zat karsinogenik (yaitu tar) dan zat pemicu tumor yang masuk ke dalam tubuh melalui hisapan rokok. Risiko relatif untuk terjadinya kanker paru meningkat 13 kali pada perokok dan 1,5 kali pada perokok pasif yang terkena paparan dalam jangka lama.

Penelitian longitudinal menunjukkan bahwa merokok menurunkan secara bermakna volume ekspirasi paksa paru detik pertama (Force Expiratory Volume 1). FEV1 berhubungan dengan dosis yang diistilahkan dengan pack- years (rata-rata jumlah rokok per hari dikalikan dengan jumlah tahun merokok). Semakin tinggi nilainya akan semakin jelek FEV1-nya. Walaupun hal ini juga tergantung dengan intensitas merokok, umur pertama kali merokok, dan fungsi dasar paru.

Merokok dua bungkus sehari selama 20 tahun akan meningkatkan risiko kematian karena kanker paru 60-70 kali dibandingkan dengan yang tidak merokok. Sebaliknya penghentian merokok akan menurunkan risiko terjadinya kanker paru, meskipun tetap tidak akan sama dengan yang bukan perokok.

Peningkatan jumlah kanker paru pada perempuan juga berhubungan dengan rokok. Kebiasaan merokok pada perempuan lebih berbahaya, karena pada setiap paparan rokok perempuan mempunyai risiko relatif terjadinya kanker paru yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki yaitu sekitar 1,5 kali lipat.

Tidak hanya kanker paru, rokok bertanggung jawab terhadap 90% dari seluruh kejadian PPOK (Penyakit Paru Obstruksi Kronik). Merokok akan menyebabkan hiperplasi sel goblet, pembesaran kelenjar mukosa, berkurangnya surfaktan yang berfungsi melenturkan paru, dan hipertrofi otot halus pada saluran napas. Hal ini akan menyebabkan keluhan batuk lama, berdahak, dan sesak. Gejala ini mirip dengan asma, tetapi pada PPOK berlangsung terus menerus. Artinya setiap saat penderita PPOK selalu memerlukan bantuan obat-obatan.

*****

Suatu siang di rumah sakit saya kedatangan seorang pasien laki-laki dengan keluhan sesak napas dan nyeri dada. Usianya masih muda sekitar 35 tahun. Wajahnya pucat sekali. Di rumah dia sudah sempat pingsan. “Sudah seperti mau mati, Pak Dokter …,” kata yang mengantar.

Setelah dilakukan pemeriksaan komplit (sesuai sarana yang ada di RS saya) ternyata dia menderita AMI (acute miocard infarct) anterior. Otot-otot jantung bagian depannya mengalami kerusakan, karena terjadi terjadi sumbatan pada arteri koroner. Karena itu terus “menjerit”, karena kekurangan oksigen.

Pasien tadi hanyalah seorang pekerja pabrik di Surabaya yang kebetulan saja sakitnya pas pulang kampung. Dia sebetulnya ingin minta pembebasan biaya tetapi tidak bisa karena namanya tidak tercantum dalam daftar penerima BLT.

Selain itu low molecular weight heparin, obat yang disuntikkan untuk menghancurkan trombus yang ada di arteri koronernya, juga tidak termasuk dalam paket. Alhamdulillah pasien ini bisa diselamatkan meskipun kemudian dia selanjutnya menderita lemah jantung seumur hidup.

Pasien ini ternyata seorang perokok tulen sejak SMP. Berarti sudah lebih 20 tahun dia merokok. Sehari bisa sampai dua bungkus sehari. Gajinya yang pas-pasan, sedikit di atas UMR, tidak menghalanginya untuk merokok. “Kalau perlu tidak makan, yang penting merokok.,..,” katanya.

*****

Kematian prematur karena merokok angkanya cukup tinggi. Di AS lebih dari 400.000 individu mati prematur setiap tahun karena merokok, yaitu kira-kira satu di antara lima kematian. Sekitar 40% perokok akan meninggal prematur jika dia tidak menghentikan kebiasaannya itu.

Penyebab kematian prematur terbanyak adalah penyakit jantung koroner. Hal ini dapat dimengerti karena merokok memicu terjadinya aterosklerosis koroner pada semua tingkatan usia. Merokok berkontribusi terhadap terjadinya lesi aterosklerotik, peningkatan kadar fibrinogen, dan ketidakstabilan plak (sumbatan).

Plak yang tidak stabil merupakan awal mula terjadinya serangan jantung koroner. Merokok juga akan meningkatkan kebutuhan oksigen otot jantung dan mengurangi suplai oksigen ke otot jantung.

Jika berbicara tentang kemiskinan sering kita melupakan akar permasalahan. Yang ada dalam pikiran hanyalah bagaimana memberi bantuan uang kepada rakyat miskin. Rokok sering dilupakan.

Merokok tidak hanya menghabiskan uang, ternyata juga menurunkan kualitas hidup. Bukankah kematian prematur, sakit jantung koroner, stroke, infeksi usus besar, PPOK, kanker paru, bayi berat lahir rendah, osteoporosis, kanker pankreas, menambah miskin orang miskin?

Dua pasien di atas menjadi bukti. Umur yang sebenarnya masih produktif terbuang sia-sia karena penyakit. Usia senja yang mestinya untuk memperbanyak ibadah di masjid habis di ranjang rumah sakit. Karena itu mari kita serukan bersama,” Biar miskin …, yang penting tidak merokok !”

*) dokter spesialis penyakit dalam, bertugas di Surakarta dan Boyolali, bisa dihubungi lewat email: sigitwid2007@yahoo.co.id

1 June 2008 18:20 WIB

Artikel ini menarik?
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
Loading ... Loading ...

Pena Pendidikan

Monday, 15 March 2010

REDAKSI


Iwan Qodar Himawan

Saiful Anam

Dipo Handoko

Eva Rohilah

Fathoni Arief

Kenny

Arien TW

RUBRIK

ANGGOTA

POLLING PEMBACA

EMAIL SUBSCRIBE

Enter your email address:

STATISTIK

KATA KUNCI