FIGUR

Ratna Megawangi, PhD: Wanginya Sembilan Pilar Karakter

Kata Kunci: , , , ,

dr-ratna-megawangi.jpg

Oleh: Alvian/Dok Penapendidikan

Bermul dari ilmu gizi, berkecimpung di dunia pendidikan anak. Mengedepankan pengajaran spiritual, emosi, sosial, kreativitas, dan motorik. Nuansa sufi dalam kehidupan diri dan keluarga.

“Asalnya dari mana?”

“Sukunya apa?”

“Tadi ke sini naik apa?”

“Naik angkot yang kencang apa yang lambat?”

“Ongkosnya berapa?”

SILIH berganti pertanyaan-pertanyaan terlontar dari mulut-mulut mungil itu. Semuanya detil dan penuh hawa antuasiasme. PENA Pendidikan yang semula diminta berdiri menyebut nama dan pekerjaan, tak mereka izinkan kembali duduk. Sebanyak 13 anak yang hari itu sedang belajar tetap meluncurkan sejumlah pertanyaan. Wajah mereka ceria. Tatapan mereka penuh tanya. Jari-jari mereka mengacung ke udara menegaskan pertanyaan akan kembali disampaikan.

Murid-murid kelas 1 SD Karakter di Jalan Raya Jakarta-Bogor KM 31 Nomor 46 Cimanggis, Depok itu masih terus mengacungkan tangan sampai akhirnya Wahyu Farrah Dina memberi batasan setiap anak hanya boleh bertanya satu kali.

Cara berkomunikasi yang lancar, antusiasme, ingin tahu, berani bertanya dan menyampaikan pendapat, bersikap kritis, rupanya menjadi salah satu yang diajarkan kepada anak-anak itu. Tidak ada ekspresi takut atau pun malu-malu saat mereka berkomunikasi dengan guru. “Anak-anak memang diajak bisa berkomunikasi,” kata Kepala SD Karakter Wahyu Farrah Dina.

SD yang dipimpin Wahyu Farrah Diana ini berada dalam satu kompleks dengan TK Karakter. TK di sekolah ini memiliki kelas play group (1 kelas), TK A (1 kelas) TK B (2 kelas) dan SD (kelas 1-4). Untuk play group-TK B setiap kelas diisi sekira 30 murid. Sedangkan untuk SD jumlahnya bervariasi antara empat sampai 13 siswa per kelas.

TK dan SD Karakter yang didirikan oleh Indonesia Heritage Foundation (Yayasan Warisan Nilai Luhur Indonesia) ini menerapkan model pendidikan holistik berbasis karakter (PHBK). Pendidikan karakter masuk dalam daftar pelajaran mereka.

Nampak sekali perbedaannya dibanding sekolah kebanyakan. Saat PENA Pendidikan berkunjung ke sana, beberapa waktu lalu, murid kelas 1 sedang mendapat pelajaran tentang kerapihan. Andriansyah, guru kelas, mengecek pekerjaan rumah yang diberikan kepada siswa untuk merapikan mainan mereka di rumah. “Aku sudah rapikan, tapi diberantakin lagi sama adik aku,” jawab Bing-bing salah satu siswa saat ditanya Andriansyah tentang tugas yang harus dikerjakannya di rumah.

Menurut Farah, selain berwujud dalam mata pelajaran formal, pendidikan karakter juga selalu dimunculkan guru-guru saat membahas pelajaran apa saja. “Misalnya saat membahas tentang tanaman, anak kita ajak mencintai Tuhan dan alam.”

SEMBILAN KARAKTER TANPA RANKING

Tokoh di balik munculnya konsep PHBK yang dikembangkan di Sekolah Karakter ini adalah Ratna Megawangi PhD. Bersama suaminya Sofyan A Djalil PhD –kini Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Kabinet Indonesia Bersatu– Ratna mendirikan Indonesia Heritage Foundation pada tahun 2000. Yayasan ini bergerak dalam pengembangan dan aplikasi model PHBK.

Menurut Ratna, untuk membangun karakter yang baik tidak bisa hanya meningkatkan aspek kognitif semata. “Harus seluruh dimensi. Spiritual, emosi, sosial, kreativitas, motorik, harus dikembangkan secara terfokus dan terstruktur,” kata Ratna menjelaskan.

Dalam konsep pendidikan holistik terdapat sembilan pilar karakter yang ingin dibangun. Yakni karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya, kemandirian dan tanggungjawab, kejujuran/amanah, diplomatis, hormat dan santun, dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama, percaya diri dan pekerja keras, kepemimpinan dan keadilan, baik dan rendah hati, dan karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan.

Kesembilan pilar karakter diajarkan secara sistematis dalam model pendidikan holistik dengan menggunakan metode knowing the good, feeling the good, dan acting the good. Melalui metode ini, anak-anak diajak berpikir dan berdiskusi tentang mengapa seseorang harus berbuat baik. “Anak-anak akan terbiasa dengan self talk, sehingga terbentuk internal control bukan eksternal control,” ujar Ratna.

Tiga metode tersebut dikemas dalam kurikulum dan modul yang menjadi acuan kegiatan belajar setiap hari. “Semua diberikan dengan cara menyenangkan.” Agar menyenangkan dan pendidikan tidak menjadi beban, sekolah yang didirikan Ratna Megawangi ini tak memberi informasi nilai yang diperoleh para murid seperti di sekolah-sekolah lain pada umumnya. Nilai seorang murid hanya boleh diketahui oleh guru dan orangtua. Menurut Ratna, sistem penilaian apalagi sistem ranking bagi anak-anak justru menciptakan kompetisi yang tidak sehat.

Dengan metode yang ia kembangkan di Sekolah Karakter, Ratna yakin para murid yang belajar di sana akan mampu berkembang dengan baik. “Orang akan mencapai tahap yang paling optimal apabila dia melakukan segala sesuatu dengan antusias dan menyenangkan tanpa harus memikirkan kompetisi. Kecintaan akan pengetahuan dan belajar harus ditanamkan oleh sekolah di jiwa si anak tanpa perlu menyebutkan bahwa dia lebih baik dari teman-temannya,” kata Ratna.

Di Sekolah Karakter, kata Ratna Megawangi, para murid belajar tanpa beban. “Evaluasi terhadap perkembangan karakter anak tidak dengan memberikan nilai berwujud angka. Tapi kami mendiskusikan perkembangan karakter anak dengan kedua orangtuanya.

MENCABUT HIJAB PENDIDIKAN

Keterlibatannya di pendidikan anak itu melambungkan Ratna sebagai sosok yang kian populer. Wajahnya kerap muncul di sejumlah media. Ia juga sering diundang sejumlah institusi yang peduli pendidikan. Misalnya, Ratna pernah berdiskusi panjang lebar mengenai pendidikan anak dengan jajaran Yayasan Pendidikan Medco (YPM), beberapa waktu lalu. “Ia pribadi yang menyenangkan. Saya kagum dengan apa yang ia lakukan,” kata Yani Panigoro, ketua Yayasan Pendidikan Medco.

Apa yang dilakukan Ratna sesungguhnya sangat berbeda dari disiplin ilmu yang dipelajarinya. Latar pendidikan Ratna tak bersentuhan langsung dengan bidang pendidikan anak. Sejak meraih sarjana di Institut Pertanian Bogor (IPB) hingga doktor di Tufts University School of Nutrition, Medford, Massachussets, Amerika Serikat, Ratna belajar soal gizi.

Perkenalannya dengan dunia pendidikan anak bermula saat ia usai merampungkan program doktor. Namun ia harus tetap tinggal di Amerika, menemani sang suami yang tengah menyelesaikan studi doktornya. Dalam masa mendampingi suami itulah Ratna mendapat tawaran dari seorang profesor di Tufts University untuk mengikuti post doctoral program bidang keluarga, pengasuhan anak, dan orangtua.

Dari situlah Ratna mendalami dinamika pendidikan anak dan menyadari pentingnya pendidikan anak usia dini. “Kalau awalnya nggak bagus, kesananya juga nggak bagus,” ujar Ratna.

Selama menempuh pendidikan di Amerika Serikat, Ratna berinteraksi dengan kelompok sufi. Bersama kelompok ini, dalam pandangannya, ia menemukan filosofi pendidikan yang sebenarnya. “Setiap manusia sebenarnya memiliki Nur Allah di dalam dirinya. Hanya saja kesalahan dalam sistem pendidikan, budaya, lingkungan, dan lain-lain, menciptakan hijab-hijab yang menutupi cahaya ketuhanan tersebut. Pendidikan harusnya berperan mencabut hijab-hijab yang mengotori hati tersebut,” kata Ratna.

Intinya, menurut ibu tiga anak kelahiran Jakarta, 24 Agustus 1958 itu, manusia mau jadi apa pun harus dari awal dulu. “Karakternya harus bagus. Mau menuju Tuhan harus dengan hati yang bersih. Tuhan tidak bisa dicapai dengan hati yang kotor.”

MUNTAH DAN SHOCK

Apa yang diyakini Ratna dan persinggungannya dengan kelompok sufi itu seakan menemukan muara saat pulang ke Indonesia, 1993 silam. Pasangan Ratna-Sofyan mengalami kesulitan menemukan sekolah yang sesuai dengan prinsip mereka.

Muhammad Rumi, putra pertama Ratna, sempat mengenyam pendidikan awal di Amerika hingga kelas 3 SD. Akhirnya ia menyekolahkan Rumi ke SD Islam swasta terkenal di Jakarta Timur. Tak berapa lama, Ratna dibuat terkejut menyaksikan putranya yang biasa ceria dan senang sekolah tiba-tiba selalu muntah tiap akan berangkat ke sekolah. “Dia betul-betul shock berat, baru dua minggu dia langsung sakit psikosomatik,” kata Ratna.

Usut punya usut, penyebab muntah saban pagi lantaran beban yang terlalu berat kepada Rumi, juga siswa lain. Setiap hari Rumi baru pulang dari sekolah pukul 4-5 sore. Beban siswa bertambah dengan adanya PR setiap harinya. “Karena sekolah unggulan, mereka ingin mempertahankan keunggulannya, tapi telah merusak jiwa anak-anak,” kata Ratna.

Tekanan luar biasa juga dirasakan Rumi dari teman-temannya di sekolah. Tak sedikit yang bersikap kasar dan meledek habis-habisan lantaran Rumi masih sulit berbahasa Indonesia. “Rupanya anak-anak tidak diajarkan karakter di sana,” kata Ratna mengingat apa yang pernah dialami putranya.

Khawatir jiwa anaknya rusak, Ratna mengeluarkan anaknya dari sekolah unggulan tersebut dan memasukkannya ke SD di pinggiran Depok. Sekolah itu atapnya bocor-bocor. Tapi ternyata Rumi senang dan bahagia bersekolah di situ. “Anak saya bahagia bisa bermain dengan teman-temannya.”

Bagi Ratna dan suaminya yang penting sang anak bahagia bersekolah dan menikmati kegiatan belajar sebagai sesuatu yang menyenangkan. Mereka berdua tidak pernah memaksa Rumi memperoleh nilai dan ranking yang bagus.

Ratna yakin dengan kemampuan anaknya. Terbukti IQ Rumi mencapai 130. Minat baca Rumi juga sangat tinggi. Buku-buku serius sudah biasa disantapnya sejak di bangku SMP. Saat ini putra pertama Ratna-Sofyan Djalil tersebut sudah duduk di semester delapan Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

 

Apa yang dialami putra pertamanya itu menjadi pendorong bagi Ratna untuk mendirikan sebuah sekolah yang menekankan pembentukan karakter yang baik. Tekad yang membaja itu pun terwujud pada tahun 2000 melalui IHF yang kini membawahi Sekolah Karakter.

 

IHF kini melebarkan sayapnya melalui program Semai Benih Bangsa yang memberikan pembinaan terhadap TK dan SD di seluruh Indonesia. Sampai tahun 2003 sudah ada 205 lokasi TK alternatif yang berdiri dari program ini dan sudah ada 10 SD ditambah 1 Madrasah Ibtidayah binaan. Yayasan yang dipimpin Ratna memfasilitasi pembukaan sekolah-sekolah tersebut, membantu rumusan kurikulum, dan pelatihan guru. “Tujuan kami menyebarluaskan model pendidikan holistik berbasis karakter,” kata Ratna.

CIKAL BAKAL KORUPSI

Ratna punya banyak catatan kaki bagi pengelolaan pendidikan Indonesia. Ia mengritik sistem pendidikan instan yang hanya mempersiapkan anak-anak untuk mengejar target ujian semata. Anak-anak, menurutnya, dijejali pelajaran yang nantinya akan mereka lupakan kembali. “Sistem instan untuk kejar target ini saya duga menjadi penyebab anak-anak sekolah gemar menyontek. Cikal bakal korupsi kan awalnya dari situ,” ujar Ratna.

Begitu banyak hal, menurut Ratna, harus dibenahi dari sistem pendidikan Indonesia saat ini. Dalam pandangannya, sistem pendidikan nasional “memaksa” semua anak masuk universitas. Sedari kelas satu SD, beban pelajaran diberikan sedemikian sulit, yang sebenarnya, hanya bisa diikuti kelompok anak berintelijensia tinggi. Padahal anak dengan kecerdasan intelektual tinggi, jumlahnya tak lebih dari 15%. Akibatnya, “Anak-anak dibunuh self esteem-nya, sehingga anak-anak apatis, mereka enggak bangga dengan apa pun yang mereka kerjakan.”

Kebijakan pemerintah mengenai sekolah gratis yang digembar-gemborkan, juga tak baik menurut penilaian Ratna. Menurutnya, hal itu malah makin membuat masyarakat tak peduli dengan pendidikan. Tingginya angka drop out, menurut Ratna, bukan disebabkan faktor ekonomi. “Alasan ekonomi itu hanya pembenaran, sistem pendidikan yang jauh dari menyenangkan, yang membuat anak-anak malas bersekolah,” ujar Ratna.

Ratna tergelitik membuat survei kecil-kecilan. Ia mencatat orangtua dari kalangan bawah pun terbiasa memberi uang jajan pada anak-anak mereka. Setidaknya berkisar Rp 3.000 per hari saat anak-anak beranjak ke sekolah. “Jadi ironis kalau untuk uang sekolah Rp 20.000 per bulan mereka keberatan. Bukan enggak mampu, tapi terbiasa dikasih, membuat mereka tak peduli dengan anak,” kata Ratna panjang lebar.

Menurut Ratna, pembenahan pendidikan bukanlah sekadar fisik sekolah tetapi software pendidikan. “Mental birokrasi, kualitas guru, kurikulum, dan sistemnya harus dibenahi. Guru harus banyak dilibatkan dalam pelatihan. Seandainya anggaran pendidikan 20% menjadi kenyataan, pelatihan guru harus diperbanyak. Selama ini kalau Diknas mengadakan pelatihan, guru jarang dilibatkan, sehingga mereka tidak punya perlengkapan mengajar,” kata Ratna yang hobi membaca ini.

Partisipasi masyarakat menjadi kata kunci. Seraya mengutip ayat Al Quran tentang perubahan nasib satu kaum, Ratna mengingatkan bahwa di masa silam sebenarnya masyarakat terbiasa bergotong royong membangun sekolah. Sayangnya, program Orde Baru seperti Instruksi Presiden (Inpres) tentang Sekolah Dasar justru mematikan partisipasi masyarakat. “Masyarakat jadi apatis,” ujar Ratna.

Di almamaternya Institut Pertanian Bogor, Ratna mengajar Ilmu Keluarga dan Konsumen di Fakultas Ekologi Manusia. Selain mengajar, Ratna menjabat Ketua Bagian Tumbuh Kembang Anak. Dilandasi kecintaannya kepada Rabb dan ciptaan-Nya, Ratna kini senantiasa menebarkan wanginya konsep pendidikan berkarakter.

ALFIAN/Dok Penapendidikan

Nama : Ratna Megawangi, PhD

Tempat, tanggal lahir: Jakarta, 24 Agustus 1958

Pekerjaan:

  1. Direktur Eksekutif Indonesia Heritage Foundation
  2. Dosen Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.
  3. Ketua Bagian Tumbuh Kembang Anak, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.
  4. Pengasuh program Smart Parenting di Smart FM 95,9
  5. Penulis di Tabloid MQ dan surat kabar Suara Pembaruan.

Pendidikan:

  1. Post Doctoral Fellow, Tufts University School of Nutrition, Medford, Massachussets, AS bidang Keluarga, Pengasuhan Anak, Orangtua, 1991-1993
  2. S-3, Tufts University School of Nutrition, Medford, Massachussets, AS, bidang Kebijakan Internasional Makanan dan Gizi, 1998-1991.
  3. S-2, Tufts University, bidang Ilmu Sosial dan Gizi, 1986-1988.
  4. S-1, Institut Pertanian Bogor (IPB) Bogor, Fakultas Pertanian, Jurusan Makanan, Gizi, dan Sumberdaya Keluarga, 1978-1982.
  5. SMUN 8 Jakarta (1975-1978).

Prestasi:

  1. Mahasiswa Lulusan Terbaik Fakultas Pertanian IPB Bogor, Mei 1982
  2. Ford Foundation Fellowship Award, 1986-1987
  3. Inter-University Center Fellowshipn Award, 1987-1988
  4. Tufts University Graduate Fellowship Award, 1988-1989
  5. Ford Foundation Fellowship Award, 1989-1991
  6. Penghargaan “80 Tokoh Wanita Muslim Indonesia Terbaik”, Januari 2002.

Karya tulisan dan buku, di antaranya:

  1. Pendidikan Karakter Untuk Membangun Masyarakat Madani, 2004
  2. Modul Pendidikan 9 Pilar Karakter, 2004
  3. Membiarkan Berbeda: Sudut Pandang Baru Tentang Relasi Gender (Let There Be Different? A New Perspective in Gender Relation, Mizan, Bandung, 1999)
  4. Gender Perspectives in Early Childhood Care and Development in Indonesia. The Consultative Group of Early Childhood Care and Development,Washington, DC.: World Bank, 1997.
  5. Puluhan tulisan di jurnal ilmiah dan media massa.

Keluarga:

Suami : Sofyan A. Djalil, PhD

Anak :

  1. Muhammad Rumi, 23 tahun
  2. Safitri Mutia, 18 tahun
  3. Muhammad Lutfi, 10 tahun

9 April 2008 00:57 WIB

Artikel ini menarik?
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
Loading ... Loading ...

Pena Pendidikan

ARTIKEL TERKAIT

  • None Found

ARTIKEL SEBELUMNYA (ARSIP)

Saturday, 22 November 2008

REDAKSI


Iwan Qodar Himawan

Saiful Anam

Dipo Handoko

Eva Rohilah

Fathoni Arief

Kenny

Arien TW

RUBRIK

ANGGOTA

POLLING PEMBACA

EMAIL SUBSCRIBE

Enter your email address:

STATISTIK

KATA KUNCI