Kata Kunci: , al ya"lu, malang
YANG CERDAS, BERAKHLAK, DAN NASIONALIS
Oleh: MUkti Ali/Pena
Disain berstandar internasional. Sarana prasarana pendukung komplit. Setiap kelas diajar dua guru yang hampir semuanya sarjana. Bisa di kursi, lesehan, atau belajar di luar kelas. Guru-gurunya harus punya tiga metode pembelajaran berbeda.
ULVA tak sengaja melintas di Jalan Teluk Mandar, Malang, Jawa Timur. Kedua matanya terantuk pada bangunan bernomor 55 –persis di depan Pusat Pengembangan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) Otomotif dan Elektronika. Bangunan tegak berhias taman indah nan luas di halaman depan. Komplit dengan sejumlah arena bermain bagi anak-anak. “Benar ini sekolah? Kok seperti tempat wisata,” kata mahasiswi Universitas Negeri Malang itu terheran-heran.
Keheranan Ulva itu bisa jadi dialami banyak orang yang melintas di taman indah itu. Di area lapang seluas 4677 m2 itu berdiri bangunan megah yang dikelilingi taman plus sejumlah sarana bermain. Mulai kereta luncur, papan luncur, papan panjat tebing, wahana bersepatu roda, ayunan, dan permainan lainnya. Bahkan ada lapangan futsal, kolam renang, dan lapangan bola basket. Di lokasi itu yang mirip tempat wisata itu berdirilah sekolah berlabel Pusat Pendidikan Unggulan Al Ya’lu.
Al Ya’lu membuka pendidikan dari jenjang TK, playgroup dan sekolah dasar. “Kami akan segera membangun SMP dan tengah merencanakan jenjang SMA dan SMK. Mudah-mudahan nantinya bisa membuat pula perguruan tinggi,” kata Drs Bambang Triono, MM, Ketua Yayasan Pendidikan Al Ya’lu, pendiri dan pengelola Sekolah Unggulan Al Ya’lu.
Al ya’lu dirintis Bambang pada 2003. Kala itu baru dibangun jenjang TK dan Kelompok Bermain. Pada 2005, yayasan membuka kelas untuk SD. Bambang merintis Al Ya’lu karena kecintaannya pada pendidikan. ”Saya kesengsem dengan dengan sekolah-sekolah maju di luar negeri. Sebut saja di Jerman, Arab Saudi, Swiss, Cina, Jepang, dan Korea Selatan,” kata pria asal Ponorogo itu kepada PENA PENDIDIKAN.
Konsep pendidikan di Al Ya’lu juga terinspirasi sekolah-sekolah di luar negeri yang pernah dikunjungi Bambang. Ia memang beberapa kali bertandang ke luar negeri ketika bertugas di P4TK Otomotif dan Elektronika, Malang. Paling sering ia terbang ke Jerman dan Arab Saudi. Ia selalu menyempatkan diri mempelajari sistem dan kultur pendidikan di negara-negara maju itu.
Al Ya’lu akhirnya terwujud dengan konsep pendidikan yang mampu melahirkan lulusan berkompeten, dengan rasa percaya diri tinggi dan mampu bersaing di dunia internasional. Hal penting lainnya, kata Bambang, siswa harus memiliki akhlakul karimah (budi pekerti yang baik) dan penguatan karakter keindonesiaan. ”Percuma mencetak anak pintar jika keindonesiaannya lemah atau bahkan berperilaku buruk,” Bambang menegaskan.
SEKOLAH UNGGULAN
Al Ya’lu pun dibangun dengan standar internasional. Sarana dan prasarananya lengkap: mulai laboratorium komputer, perpustakaan, musola, peralatan olahraga, musik, memasak, hingga kerajinan tangan. Setiap kelas didukung ketersediaan beragam alat permainan edukatif, loker sepatu dan tas. Loker sepatu disediakan karena setiap masuk ruang kelas, anak dan guru melepas sepatu.
Aturan lepas sepatu itu bukan saja berdampak lantai kelas selalu bersih. Melainkan sengaja diciptakan agar siswa tidak selalu duduk di kursi selama belajar. Acapkali guru mengemas pelajarannya dengan gaya lesehan. Kursi di TK dan playgroup sengaja dipakai yang bisa berputar. ”Agar anak-anak tetap bisa riang dan rileks dalam belajar,” kata Endang Supadminingsih, SPd, MPd, Kepala TK dan Playgroup Al Ya’lu.
Sedangkan kursi buat siswa SD dibikin seperti layaknya anak kuliahan: kursi berdisain menyatu dengan lembaran papan yang difungsikan sebagai meja kecil. “Hal ini untuk memudahkan penciptaan model tatap muka antara siswa dengan guru saat mengajar,” kata Isnada Waris Tasrim SPd, MPd, Kepala SD Unggulan Al Ya’lu.
Posisi duduknya kadang melingkari sang guru. Lain waktu formasi duduk di kelas berbentuk huruf U. Bisa juga tatap muka dengan gaya lesehan. Pembelajarannya juga tidak melulu di ruang kelas. Kadang guru mengajar di tempat-tempat umum, seperti bank, perkebunan, hutan, atawa sawah.
Dengan fasilitas pendukung dan pembelajaran yang komplit itu, Al Ya’lu tak ragu menyelenggarakan sistem pendidikan sehari penuh (full day school). TK dan playgroup sehari penuh? Begitulah. Bambang tak gentar dengan ketakutan masyarakat bahwa pendidikan yang berlebihan pada anak usia dini bisa membahayakan perkembangan otak si anak. “Yang penting tidak keluar dari konsep bermain sambil belajar,” katanya.
Bambang mencontohkan keberadaan alat permaian seperti kereta luncur. Kereta luncur, selain membuat anak senang, juga untuk menumbuhkan keberanian. Selain metode, iklim dan lingkungan sekolah mesti mendukung, yang bisa menjadikan sekolah sebagai rumah kedua sang anak. Misalnya, saat istirahat, ia mendisain waktu yang cukup dan ruang khusus untuk tidur siang. Kebutuhan energi juga dicukupi dengan penyediaan makan siang yang bergizi dan higienes.
Al Ya’lu memiliki 105 murid TK, 30 murid playgroup dan 96 siswa SD, sebatas kelas I dan II, plus 7 murid kelas III dan 9 siswa kelas IV. Resminya, SD Al Ya’lu baru memiliki dua angkatan, kelas I dan II. Siswa kelas III dan IV hanyalah siswa pindahan dari sekolah lain. Tiap kelas dibatasi tak lebih dari 24 murid.
Pengajarnya, setiap kelas dan setiap mata pelajaran dilakukan dua guru untuk jenjang SD. Sedangkan setiap kelas TK diajar tiga guru. Bahkan tiap kelas playgroup diajar 5 guru. Para guru di sana hampir semua S-1. Hanya tujuh guru dari 24 guru TK dan playgroup yang berijasah D-2 Pendidikan Guru TK. Selebihnya berijasah S1 dan S2. Bahkan 21 guru SD mereka seluruhnya berijasah S1. Beberapa orang di antaranya berijasah S-2. Al Ya’lu juga didukung tenaga kependidikan, kebersihan, sopir, hingga satpam.
Setiap guru di sana juga wajib hukumnya memiliki minimal dua keterampilan khusus. “Mereka juga harus bisa berbahasa Inggris aktif. Setiap guru juga harus memiliki kemampuan pengasuhan terhadap anak,” kata Endang Supadmaningsih.
Selama proses belajar mengajar setiap guru juga diharuskan selalu siap dengan minimal tiga metode mengajar. “Sehingga uru bisa mengatasi keadaan siswa yang seringkali berubah-ubah,” kata Isnada Isnada Waris Tasrim SPd, MPd, Kepala SD Unggulan Al Ya’lu, menambahkan.
Sarana dan pembelajaran yang terjamin itu memang diimbangin dengan biaya sekolah yang tergolong mahal. Siswa TK dan playgroup dibebani Sumbangan Pengembangan Pendidikan (SPP) Rp 520.000/bulan plus ”uang gedung” sebesar Rp 4 juta. Sedangkan murid-murid SD membayar SPP sebesar Rp 500.000/bulan dan uang gedung Rp 6 juta rupiah.
Sarana prasarana oke, biaya pendidikan tercukupi, hasilnya? Setidaknya sejumlah pretasi diraih siswa-siswi Al Ya’lu. Di antaranya Qonita Deifaky Tsauria yang menyabet Juara Nasional English Conversation yang diselenggarakan Badan Kesejahteraan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) pada 2005. Qonita juga Juara I Lomba Akting Calon Bintang on Contest oleh Matahari Departement Store pada 2006.
Selain itu, Abyan Nagata Javier yang Juara I Vocabulary pada 2004. Ada lagi M.Fawwaz Musyafa’ (Juara II English Contest Kindergarten 2004), Dara Zulfa Maulida (Juara III Mewarnai Integrated Campaign).
MUKTI ALI (Malang)
31 March 2008 12:08 WIB
Monday, 15 March 2010
POLLING PEMBACA |
January 3rd, 2009 at 4:59 am
alamat email al ya’lu? ada foto sekolahnya?
August 9th, 2009 at 8:38 am
Semoga AL YA’lu terus mempertahankan prestasinya
August 27th, 2009 at 3:19 pm
Alamat AL-YA’LU silakan klik ke situs resminya di: www.al-yaklu.com
Disitu juga ada profil, artikel dan beritanya
November 15th, 2009 at 7:20 pm
untuk sekolah al yalu kr2 ada sarana antar jemput nya ngga?????
January 31st, 2010 at 11:10 pm
@sarich, transportnya ada bus sekolah, minibus dan beberapa kendaraan lainnya. ada yang tiap hari lewat depan rmh saya. mgkin tempatnya ibu aja yg perlu disampaikn ke sekolah. ada gambarnya disini http://www.al-yaklu.com/?page_id=92