Kata Kunci: Deetje, pola belajar, Universitas Negeri Malang
Oleh: Mukti Ali
Kemampuan berpikir siswa meningkat dengan pendekatan pembelajaran praktik, analitik dan sintetik. Pembelajaran mengingat dan menghafal dinilai tidak relevan untuk merangsang kreativitas.
SABAN pergantian kurikulum, panorama kesibukan jagat pendidikan bukan cuma dirasakan siswa dan guru di sekolah. Orangtua siswa, toko buku, penerbit, lembaga pendidikan dan bimbingan pun kecipratan sibuk. Selalu muncul pertanyaan materi dan metode pembelajaran apalagi yang ditetapkan pemerintah?
Sayangnya, seringnya pergantian kurikulum itu ternyata belum mampu menempatkan kualitas pendidikan nasional menjadi yang terbaik di Asia Tenggara sekali pun. Metode belajar yang berubah: dari klasikal menjadi CBSA (cara belajar siswa aktif), hingga model KBK (kurikulum berbasis kompetensi) belum memuaskan juga. Adalah Deetje Josephine Solang, dosen Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Makasar yang menelorkan metode pembelajaran ”tandingan.”
Dalam disertasinya dengan nilai A di Universitas Negeri Malang, Jawa Timur, Deetje menyatakan pembelajaran dengan praktik, analitik, dan sintetik sangat tepat untuk meningkatkan kemampuan berpikir siswa. Deetje menilai kegagalan proses belajar mengajar di sekolah, meski berganti-ganti metode, disebabkan guru masih mengandalkan kemampuan memori siswa.
”Metode pembelajaran yang hanya mengandalkan kemampuan siswa dalam mengingat dan menghafal cenderung hanya mengajak siswa berimajinasi dalam memahami materi pelajaran,” kata Deetje kepada PENA PENDIDIKAN.
Pola belajar mengingat dan menghafal, kata Deetje, akan membuat siswa tak siap ketika berhadapan dengan materi ujian yang tidak diajarkan di kelas. ”Siswa merasa kecele. Secara psikologis berpengaruh pada rasa putus asa dan pesimistis setiap menghadapi ujian,” kata wanita asal Makassar, Sulawesi Selatan berusia 44 tahun ini.
Dalam disertasinya berjudul Efek Latihan Ketrampilan Intelektual Triarchic (Analitik, Sintetik, Practical) dalam Meningkatkan Kemampuan Berfikir Kreatif Siswa SMP Negeri 4 Malang Deetje mengemukakan perlunya penerapan pembelajaran model triarchic. Metode ini didasarkan pada pendekatan kognitif terdiri atas kemampuan berfikir praktik, analitik dan sintetik.
Deetje menguji metode ini dengan menerapkannya pada 120 siswa kelas VII SMP Negeri 4 Malang, angkatan 2005/2006. Subjek penelitian Deetje itu diambil secara acak dari total 214 siswa kelas VII. Ia kemudian membaginya ke dalam empat kelompok: A, B, C, dan D, masing-masing 30 siswa. Kelompok A, B, C diberi metode pembelajaran triarchic, dengan tiga varian berbeda. Yakni pembelajaran dengan penekanan urutan berbeda: kelompok A (praktik, analitik, sintetik/PAS), kelompok B (analitik, sintetik, praktik/ASP) dan kelompok C (sintetik, analitik, praktik/SAP). Sedangkan kelompok D tidak memakai metode triarchic itu.
Deetje memilih materi pembelajaran Bahasa Indonesia dalam penelitiannya. Hasilnya, kinerja kemampuan berfikir siswa yang diintervensi pola pembelajaran dengan urutan praktikal-analitik-sintetik (PAS) lebih tinggi dibanding urutan ASP dan SAP, apalagi dibanding kelompok yang tidak menggunakan metode ini.
”Kemampuan berfikir siswa bukan dipengaruhi oleh kemampuan berfikir kreatif itu sendiri melainkan oleh kemampuan skolastik umum siswa yang berbeda- beda. Potensi aktual yang tercermin dalam dokumen prestasi belajar yang berbeda-beda juga mempengaruhi performasi kemampuan berfikir kreatif siswa,” kata Deetje menambahkan.
Pola pembelajaran yang mengedepankan metode praktikal, menurut Deetje, tidak hanya berorientasi pada instructional effect (pengetahuan dasar) tetapi juga naturance effect (efek pengiring). ”Karena itu dalam pembelajaran yang harus diperhatikan adalah proses, bukan semata-mata hasil akhir,” kata Dr Marthen Pali, MPsi, Pembimbing I disertasi Deetje, menambahkan.
Menurut penilaian asisten Direktur l Program, Pascasarjana Universitas Negeri Malang itu, hasil penelitian Deetje sesuai apa yang dikehendaki kurikulum 2004 dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). ”Dalam kurikulum tersebut yang ditekankan adalah kompetensi siswa. Bagaimana itu bisa berhasil jika dalam mengajar guru selalu menggunakan metode ceramah,” kata Marthen Pali yang juga Ketua Umum Ikatan Instrumentasi Bimbingan dan Konseling Indonesia ini.
MUKTI ALI (Malang)
*) Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Pena Pendidikan Edisi 7 Tahun 2006
13 June 2008 08:19 WIB
Tuesday, 16 March 2010
POLLING PEMBACA |
October 26th, 2008 at 10:04 am
[…] public links >> praktik Praktik Memacu Pikir Saved by HSMtoHSM2 on Fri 24-10-2008 e-learning Saved by cyrilsouben on Wed 22-10-2008 […]