PERISTIWA

Potensi Individu Siswa Tidak Dioptimalkan


Kamis, 2 Juli 2009

 

Depok- Pendidikan di Indonesia belum melihat siswa sebagai individu yang unik sehingga perlu pembelajaran yang tidak seragam. Kegagalan pendidikan untuk memahami kebutuhan dan potensi unik setiap siswa itu mengakibatkan kualitas pendidikan yang tidak sesuai harapan. Akibat lebih jauh, daya saing dan kualitas sumber daya manusia Indonesia rendah di dunia internasional.

 

Oleh karena itu, reformasi pendidikan di Indonesia perlu juga meneropong hal-hal yang substansial, yakni peserta didik sebagai subyek. Karakteristik pembelajar yang sangat beragam dari sisi potensi, minat, bakat, motivasi, gaya belajar, budaya, dan ekonomi harus digali lebih mendalam.

 

Demikian disampaikan Lydia Freyani Hawadi dalam pidato pengukuhan sebagai guru besar tetap Ilmu Psikologi Pendidikan pada Fakultas Psikologi Universitas Indonesia di Depok, Rabu (1/7). Lydia menyampaikan persoalan tersebut dalam pidato berjudul ”Membangun Peran Psikolog dalam Pendidikan Nasional”.

 

Indonesia disebutkan sebagai negara yang mengharuskan semua anak memiliki kemampuan intelektual yang sama. ”Padahal, ada anak-anak yang memiliki kemampuan rata-rata, ada anak yang masuk kategori slow learner atau lamban belajar, dan ada anak yang memiliki kecerdasan atau bakat istimewa,” ujarnya.

 

Kaji ulang

Menurut Lydia, pemerintah perlu mengkaji ulang sistem pendidikan formal yang ada. Untuk anak-anak yang memiliki kecerdasan rata-rata perlu diarahkan untuk masuk ke program vokasional dan menjadi spesialis di bidangnya masing-masing.

 

Adapun siswa yang bisa diproyeksikan terus belajar didorong untuk menjalani pendidikan ke jenjang setinggi-tingginya, terutama dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dibutuhkan bagi kemajuan Indonesia pada masa depan.

 

”Untuk mampu mewujudkan cita-cita di atas, perlu dilibatkan psikolog dalam sistem pendidikan nasional,” kata Lydia.

 

Menurut Lydia, psikolog pendidikan bisa membantu guru untuk mengidentifikasi kebutuhan dan potensi setiap siswa secara tepat. ”Psikolog di sekolah itu tidak hanya dibutuhkan untuk mengadakan tes IQ saja, tetapi perannya bisa lebih luas. Jika hanya untuk mengetes IQ, perannya seperti tukang tes yang bekerja sesuai pesanan,” ujarnya.

 

Menurut Lydia, psikolog mesti dijadikan sebagai tenaga kependidikan di sekolah untuk mengoptimalkan kualitas keluaran pendidikan nasional pada masa depan. Mereka bisa membantu guru dan orangtua untuk memahami kondisi keseluruhan siswa serta membantu untuk memilih intervensi pendidikan yang tepat untuk mengoptimalkan potensi siswa.

 

Lydia mengatakan, di Amerika psikolog pendidikan atau sekolah menjadi salah satu jenis pekerjaan yang paling cepat berkembang dengan pertumbuhan 26 persen. Satu dari empat psikolog di Amerika Serikat bekerja dalam bidang yang berkaitan dengan pendidikan.

 

Di Indonesia kebanyakan psikolog terserap ke dunia industri. Psikolog sekolah baru terbatas di sekolah-sekolah papan atas. (ELN)

 

Sumber: www.kompas.com

 

2 July 2009 09:12 WIB

Artikel ini menarik?
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
Loading ... Loading ...

Pena Pendidikan

Sunday, 14 March 2010

REDAKSI


Iwan Qodar Himawan

Saiful Anam

Dipo Handoko

Eva Rohilah

Fathoni Arief

Kenny

Arien TW

RUBRIK

ANGGOTA

POLLING PEMBACA

EMAIL SUBSCRIBE

Enter your email address:

STATISTIK

KATA KUNCI