DASAR

Perintis SD Berbasis Teknologi

Kata Kunci: , ,


  • Puji Syamsuri MPd, Kepala SD 034 Samarinda Kaltim

Oleh: Dipo Handoko/Pena

 

Dari sekolah pinggiran menjadi SD berbasis teknologi satu-satunya di Kalimantan. Siswa mengenal ilmu teknik mendasar. Berseragamlapangan bak siswa SMK teknik.  Mengedepankan senyum dan sangat menghindari marah.

 

”Oh, SD banjir itu, ya.” Kurang lebih begitu kebanyakan orang menyebut saat membincangkan SD 034 Samarinda, Kalimantan Timur. Bahkan ada label lainnya yang lebih buruk melekat pada sekolah: Sekolah Pinggiran, Sekolah Kotor, Sekolah Becek, dan SD Pulang Cepat.

 

Sekolah yang beralamat di Jalan Pramuka, Samarinda Utara ini memang langganan banjir dalam beberapa tahun terakhir. Dulu, saat didirikan pada 1978, hujan memang tak pernah menyapa lantai sekolah. Namun kini, hujan bukan lagi teman bagi para siswa dan guru. Jika pagi hari hujan menyapa sekolah dalam rentang sejam saja, alamat sekolah libur atau pulang lebih awal. Bukan hanya halaman yang digenangi air. Semua ruang kelas juga terendam. Banyak dokumen sekolah yang rusak karena sering direndam banjir.

 

”Anak-anak pasti sudah teriak-teriak: pulang, Pak Guru! Guru memang tidak bisa mengajar,” kata Drs Puji Syamsuri, MPd, Kepala SDN 034 Samarinda.

 

Jika sedang puncak musim penghujan. Hujan deras bisa mengguyur sepanjang hari. Bila sudah begitu, proses belajar mengajar selama sepekan penuh diliburkan. Tentu saja, pekerjaan tambahan menanti saat air surut. Halaman dan semua ruang becek, penuh tanah, tak ubahnya sawah. Sampah pun bertaburan di mana-mana, sehingga bau tak sedap menusuk hidung.

 

Tak heran bila sekolah berakreditasi C, waktu itu, tergolong sangat kurang peminatnya. Orangtua banyak yang enggan menyekolahkan anaknya ke sana. Karena sering melihat sekolah libur, atau setidaknya sering pulang cepat, masyarakat menilai sekolah ini tidak bermutu.

 

BERKAT REKOMENDASI DOKTER

 

Keadaan buruk SD 034 itu tak mengurangi semangat seorang Puji saat dipercaya menjadi kepala sekolah pada 31 Juli 2005. Revolusi besar memang telah ia lakukan. Strategi pembenahan Puji diawali dengan mengklasifikasikan permasalahan menjadi tiga hal: pembelajaran tidak maksimal, pola kepemimpinan kurang maksimal, dan manajemen kurang optimal.

 

Pembelajaran tidak maksimal disebabkan sejumlah hal. Para guru, menurut Puji, kurang sekali mendapat perhatian dari Dinas Pendidikan Samarinda. ”Jangankan penataran nasional, penataran kecamatan saja para guru jarang dipanggil,” kata Puji.

 

Persoalan paling mendesak saat itu, menurut Puji adalah perbaikan fisik sekolah dan pengadaan fasilitas. Ia memutar akal agar bantuan untuk rehabilitasi bangunan sekolah bisa turun. Muncul gagasan untuk meminta rekomendasi dari dokter Puskesmas tak jauh dari sekolah. Ia meminta sang dokter memberi penilaian kesehatan lingkungan sekolah. Tentu hasilnya buruk: sekolahnya dinilai sumber penyakit.

 

Berbekal rekomendasi sang dokter Puji menghadap walikota Samarinda. “Pak Walikota, sekolah saya berada di pinggiran. Meski pinggiran tapi di samping Universitas Mulawarman. Setiap hari saya hitung, tidak kurang dari 3000 orang lewat daerah situ, baik mahasiswa, dan masyarakat setempat. Apa persepsi mereka? Ya, SD banjir, SD tidak bermutu, SD yang pulangnya cepat, SD yang kalau banjir anaknya enggak ada yang sekolah,” kata Puji.

 

Dialog Walikota dan Puji pun berlangsung:

 

“Lalu apa maumu?” 

 

”Saya ingin ada penanggulangan secara fisik agar tidak banjir lagi, Pak. Lantainya harus ditinggikan, dan dikeramik supaya bersih.”

 

“Harus kapan?”

 

“Kalau bisa sekarang, Pak”

 

“Kamu itu kok ngotot betul!”

 

“Kalau nggak ngotot Pak, kapan sekolah saya akan baik?”

 

“Ya sudah, menghadap Sekda sekarang juga.”

 

Singkat cerita, sekolah pun dirombak segera. SDN 034 disulap menjadi sekolah berlantai dua yang megah. Yang terpenting, sekolah sudah bebas banjir.

 

MENJELAJAH INTERNET

 

Gebrakan awal Puji sukses. Belajar mengajar bisa tetap berjalan meski hujan deras mengguyur sekolah. Puji juga berusaha keras menjalin kedekatan dengan Dinas Pendidikan Samarinda, dan Dinas Pendidikan Kalimantan Timur. “Saya juga menjalin komunikasi efektif dengan Direktorat Pembinaan TK dan SD Depdiknas,” kata Puji.

 

Melalui internet, Puji mengetahui ada program pengembangan sekolah dasar berbasis teknologi. “Saya beranikan diri mengajukan proposal ke Direktorat TK SD Depdiknas. Bulan Maret 2007 proposal kami mendapat tanggapan, dan sekolah dikunjungi konsultan di direktorat,” katanya.

 

Ia mendapat informasi bahwa dari 2828 sekolah dasar di Kalimantan Timur, yang mengajukan proposal hanya SDN 034 Samarinda. Puji bersyukur sekolahnya termasuk yang dipanggil ke Bandung bersama 67 SD lainnya untuk mendapat pembinaan.

 

Hingga akhirnya ia pulang ke Samarinda dengan kepala tegak. “Saya gaungkan lewat koran, TVRI, bahwa di Samarinda, ada sekolah yang kurang diperhitungkan, tapi lolos menjadi SD teknologi, satu-satunya di Kalimantan Timur,” katanya.

 

Kabar di media massa itu tentu saja diketahui banyak kalangan, tak terkecuali walikota, DPRD, dan dinas pendidikan kota dan provinsi. Para petinggi daerah pada berdatangan ke sekolah yang dulunya dikenal tak bermutu itu. Semua berlomba menawarkan bantuan.

 

Tahun 2007 itu, sekolah mendapat bantuan dari dinas pendidikan provinsi dan kota, dan pemerintah kota hampir Rp 350 juta. Dana bantuan dipakai untuk mengembangkan area teknologi, misalnya teknologi produksi, energi, kontruksi, transportasi, informasi, dan komunikasi. “Sekolah kami pun punya motto: aku membuat, aku menguji, aku jadi teknokrat,” kata Puji bangga.

 

MANAJEMEN DAN KEPEMIMPINAN

 

Kemajuan yang dicapai sekolah memang bukan semata kerja keras Puji seorang. Puji juga membenahi manajemen sekolah. Misalnya, melibatkan semua warga sekolah dalam mewujudkan Rencana Pengembangan Sekolah (RPS), disiplin dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

 

Puji mulai membagi tugas dan melimpahkan tanggung jawab dan kepercayaan kepada para guru dan staf sekolah. ”Kami mulai berbagai tugas, sehingga ada job description yang jelas pada setiap guru dan karyawan lain,” katanya. Guru juga mulai didorong untuk meningkatkan profesionalitas mereka. Sejumlah guru mengikuti Diklat di P4TK IPA Bandung yang dibiayai anggaran sekolah.

 

Pembenahan dari sisi kepemimpinan Puji wujudkan melalui sejumlah langkah, yakn keteladanan, kedekatan dengan diskusi dan kerjasama, terbuka dalam menyusun program dan RAPBS, mengedepankan “senyum” dan sangat menghindari “marah,” menghargai kritik, saran dan ide, serta selalu membuka komunikasi efektif terutama mengenai berbagai kendala, setiap hari.

 

Kini sudah biasa menyaksikan guru mengajar di ruang media pembelajaran atau biasa juga disebut “ruang bioskop”. Di situ guru mengajar dengan media film. Film diputar di ruang pembelajaran yang dindingnya diselimuti kain hitam sederhana bak bioskop.

 

Perangkat multimedia itu hadiah dari kepala dinas pendidikan provinsi Kalimantan Timur. Bukan sekadar hadiah, namun karena siswa SDN 034 menjadi Juara I Festival Kompetensi Membuat Teknologi Sederhana Kalimantan Timur dan masuk 10 besar di tingkat nasional. Festival Kompetensi dan Kreativitas TK dan SD Tingkat Nasional diselenggarakan Depdiknas di Jakarta pada 26-30 November 2007.

 

Putri Angel Anggraini, siswa kelas VI SDN 034 Samarinda mengusung alat deteksi banjir. Perangkat sederhana Putri terbuat dari paralon panjang yang ujungnya diberi sebuah tombol yang terhubungkan dengan baterai dan sirene. Di dalam paralon itu terdapat bola plastik. Begitu air meninggi, air dalam paralon mengapungkan bola ke atas dan menekan tombol sehingga sirene meraung-raung.

 

Sudah biasa pula menyaksikan siswa SD menggunakan baju kerja warna biru tua, bak siswa sekolah kejuruan teknik. Tahun 2008 ini, Puji mengganggarkan biaya peningkatan mutu pendidikan tak kurang dari Rp 400 juta. SD banjir itu kini meningkat menjadi rintisan sekolah nasional.

 

“Pada pendaftaran siswa baru tahun ini, kursi siswa sudah full hanya satu setengah hari penerimaan siswa baru. Dulu, saat masih berlabel SD banjir, hingga Agustus saja masih dibuka pendaftaran,” kata Puji.  

 

SD teknologi juga telah mengantarkan Puji meraih penghargaan sebagai kepala sekolah berprestasi tingkat provinsi Kalimantan Timur pada Agustus 2007.

 

 

DIPO HANDOKO

 

 

 

 

17 April 2009 07:47 WIB

Artikel ini menarik?
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
Loading ... Loading ...

Pena Pendidikan

Tuesday, 16 March 2010

REDAKSI


Iwan Qodar Himawan

Saiful Anam

Dipo Handoko

Eva Rohilah

Fathoni Arief

Kenny

Arien TW

RUBRIK

ANGGOTA

POLLING PEMBACA

EMAIL SUBSCRIBE

Enter your email address:

STATISTIK

KATA KUNCI