DASAR

Pendidikan Unik-Kreatif dari Daerah Pedalaman

 

Pulau Kalimantan tersohor dengan kekayaan alamnya yang melimpah. Namun, tidak demikian dengan penduduknya. Masih sangat banyak penduduk Kalimantan yang tingkat kesejahteraannya sangat rendah. Begitu pun infrastruktur yang tersedia, masih sangat terbatas jika dibandingkan dengan daerah lain.

 

Di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, misalnya, infrastruktur jalan raya masih banyak yang berupa jalan tanah. Akses menuju kabupaten yang berjarak sekitar 280 kilometer dari Kota Pontianak tersebut juga tidak mudah karena banyaknya jalan yang rusak.

 

Fasilitas pendidikan di kabupaten berpenduduk 377.199 jiwa itu juga masih jauh dari memadai. Jumlah guru terbatas, sedangkan angka putus sekolah siswa sekolah dasar masih sangat tinggi.

 

Kondisi inilah yang mendorong World Vision Indonesia, lembaga kemanusiaan Kristen yang sejak tahun 1960 berpengalaman melayani anak-anak, keluarga, dan masyarakat miskin, terjun langsung ke Kabupaten Sanggau. Lembaga nirlaba ini berupaya membenahi kondisi pendidikan Kabupaten Sanggau yang masih tertinggal dibandingkan dengan daerah lain.

 

”Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, merupakan salah satu dari 10 provinsi yang mendapat bantuan dan pelayanan dari World Vision Indonesia,” kata Marketing Public Relation Manager World Vision Indonesia John Nelwan, pekan lalu.

 

Ada 40 program integrasi masyarakat jangka panjang yang disebut Area Development Program (ADP) yang tersebar di 34 kabupaten, 123 kecamatan, dan 722 desa di 10 provinsi di Indonesia.

 

Dari enam proyek World Vision Indonesia di ADP Sanggau, salah satunya di bidang pendidikan, yaitu child’s study performance.

 

Berdasarkan evaluasi, ada beberapa kerentanan utama dalam masyarakat, salah satunya pendidikan rendah, di mana 3,5 persen anak usia wajib belajar tidak bersekolah, sedangkan 41,8 persen hanya menempuh sekolah dasar. ”Di wilayah program ADB Sanggau, sebanyak 12,05 persen kepala keluarga hidup di bawah garis kemiskinan,” katanya.

 

Pembelajaran aktif-kreatif

 

Berawal dari keprihatinan melihat kondisi pendidikan, World Vision Indonesia pada tahun 2005 mengembangkan satu proyek percontohan yang diberi nama metode PAKEM, singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan melalui Kalimantan Education Enhancement Program di SD Negeri Nomor 20, Kecamatan Balai Batangtarang, Kabupaten Sanggau.

 

Tujuan program ini adalah untuk meningkatkan kreativitas guru SD dalam mengembangkan metode belajar mengajar yang menyenangkan bagi murid-murid SD dan mengurangi angka putus sekolah murid SD di wilayah dampingan. ”Selain itu, program ini juga untuk meningkatkan prestasi belajar anak dan meningkatkan jumlah murid SD yang melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP,” kata Manager of ADP Sanggar I Made Sukariata.

 

Untuk itu, semua guru SDN 20 Balai Batangtarang diberikan pelatihan PAKEM. Usai pelatihan, aplikasi di lapangan pun dilakukan. Makanya, jangan heran jika berkunjung ke SDN 20 Balai Batangtarang, di dinding sekolah terpajang kalimat ”Pelaksanaan PAKEM perpusat kepada anak. Guru membuat persiapan matang”.

 

Hasilnya? Sebelum bicara hasil, mari kita cermati apa yang terjadi di SDN 20 Balai Batangtarang. Berkunjung ke sekolah yang berada 115 km sebelah timur Kota Pontianak ini, mungkin kekaguman yang bakal muncul. Mengapa tidak, walau jauh di pelosok desa, sebelum jam pelajaran dimulai mereka sudah terbiasa dengan kegiatan ”Baca Senyap”, sebuah kegiatan positif yang barangkali jarang dilakukan di SD mana pun di Indonesia.

 

Dalam ”Baca Senyap” sebelum lonceng masuk pelajaran dimulai, semua murid sibuk membaca buku-buku kesukaannya. Sebuah kesadaran yang terus dipupuk dalam metode PAKEM. Buku-buku untuk bacaan murid-murid bertumpuk di bagian tengah ruangan, tergeletak di atas empat meja yang dirapatkan.

 

Dalam desain leter U anak-anak duduk mengelompok, satu kelompok terdiri atas empat atau lima orang. Dalam membaca senyap, yang ada hanya keheningan. Karena membaca dalam hati, kegiatan ini mereka namakan membaca senyap.

 

Pada kegiatan berikutnya, ”Sarapan Pagi”, anak-anak mengerjakan soal-soal, setelah itu baru mereka mendiskusikan jawabannya. Hasil pekerjaan mereka diperiksa oleh teman satu kelompok, sedangkan guru memantau bagaimana diskusi antarkelompok. Kegiatan ”Baca Senyap” dan ”Sarapan Pagi” ini berlangsung 10-15 menit sebelum jam pelajaran dimulai.

 

Unik dan kreatif

 

Mengamati ruang kelas, di dalam jepitan yang terpasang di dinding tertera hasil-hasil bacaan masing-masing murid di rumah, dalam bahasa mereka sendiri, tentang apa saja. Yang suka mengarang, menuliskan hasil karangannya. Yang suka matematika, menuliskan pengerjaan soal-soal. Yang suka ilmu pengetahuan alam, menuliskan hasil bacaan atau pengamatannya, antara lain tentang jenis satwa yang mereka temukan di ladang orangtuanya. Unik dan kreatif.

 

”Di sini kreativitas anak ditumbuhkembangkan. Dan, apa yang mereka lakukan, bukan paksaan, melainkan kesadaran dan kemauan mereka sendiri,” kata Teguh Karyadi, Kepala SDN 20 Balai Batangtarang. ”Pengetahuan anak-anak menjadi luas dan mental anak menjadi bagus,” tambahnya.

 

Pada dinding samping pintu masuk tertera puluhan jenis pelanggaran yang disertai dengan sanksinya. Semuanya dirumuskan oleh murid-murid SD masing-masing kelas.

 

Budaya bersih mereka wujudkan setiap pagi dengan memungut sampah yang ditemui di halaman sekolah. ”Dengan metode PAKEM yang digalakkan dengan pendampingan World Vision Indonesia, kesadaran anak-anak begitu tinggi,” kata orangtua murid dari Bella Safira, siswa kelas VI.

 

Ketua Komite Sekolah Philipus mengakui, metode PAKEM yang dikembangkan sejak tahun 2005 di SDN 20 Balai Batangtarang banyak membawa perubahan. ”Mental dan prestasi anak menjadi bagus. Kreativitas anak meningkat. Walau mereka lulusan SD di desa, mereka bisa bersaing dengan lulusan SD di kota sehingga bisa masuk SMP terbaik di Pontianak,” katanya.

 

Metode PAKEM meluas

 

Jika disimpulkan, dalam metode PAKEM itu murid terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat. Murid aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan.

 

Guru menggunakan berbagai alat bantu dan cara membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi murid.

 

Dari satu SD yang jadi proyek percontohan metode PAKEM, kini sudah berkembang ke 12 SD lain dari 31 SD yang ada di Kecamatan Batangtarang dan Kecamatan Nanga Mahap, Kabupaten Sanggau. Kepala Cabang Dinas Pendidikan Nasional di Kecamatan Batangtarang Leonardus Ius mengatakan, hasil metode PAKEM begitu nyata dan diakui orangtua.

 

”Anak-anak lulus 100 persen, nilai tertinggi matematika 9,25. Bahkan, SDN 20 Balai Batangtarang menjadi satu-satunya SD yang telah berstandar nasional di Kecamatan Batangtarang, Kabupaten Sanggau,” ujarnya.

 

Menurut John Nelwan, keberhasilan implementasi metode PAKEM pada program ADP Sanggau juga karena didukung program lainnya, seperti membantu subsidi SPP, perbaikan atap/rehab sekolah, hingga bantuan paket buku dan alat peraga.

Keberhasilan metode PAKEM dengan pendampingan dari ADP ini perlu ditularkan ke sekolah-sekolah dasar lain. SD terpencil ternyata bisa jadi contoh!

 

Sumber: Yurnaldi/Harian Umum Kompas

 

23 December 2008 16:48 WIB

Artikel ini menarik?
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
Loading ... Loading ...

Pena Pendidikan

Tuesday, 16 March 2010

REDAKSI


Iwan Qodar Himawan

Saiful Anam

Dipo Handoko

Eva Rohilah

Fathoni Arief

Kenny

Arien TW

RUBRIK

ANGGOTA

POLLING PEMBACA

EMAIL SUBSCRIBE

Enter your email address:

STATISTIK

KATA KUNCI