PENA AKTUAL

Peminat ke SMK Naik



Senin, 22 Juni 2009

 

Jakarta - Peminat sekolah menengah kejuruan dari tahun ke tahun terus naik. SMK dipandang memiliki lebih banyak keuntungan karena menyediakan beragam pilihan bagi peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, bekerja, atau bekerja sambil berkuliah.

 

Departemen Pendidikan Nasional juga lebih agresif meningkatkan jumlah SMK dan siswa.

Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Depdiknas Joko Sutrisno mengatakan, saat ini rasio antara sekolah menengah kejuruan (SMK) dan sekolah menengah atas (SMA) sekitar 50:50 dengan jumlah SMK 7.719 sekolah.

 

Pemerintah menargetkan rasio SMK dengan SMA menjadi 67:33 dengan jumlah SMK mencapai 9.793 pada tahun 2014.

 

Jumlah SMK baik negeri maupun swasta terus meningkat pula. ”Tahun 2009 ada kenaikan 5 persen untuk jumlah sekolah baru. Pemerintah bekerja sama dengan pemerintah daerah membangun sekolah baru tersebut mengingat investasi SMK baru termasuk mahal. Untuk bidang teknologi sekitar Rp 6 miliar hingga Rp 7 miliar. Bidang lain bisa lebih murah. Selain itu, ada pula sekolah menengah atas yang kemudian dikonversi menjadi SMK,” kata Joko.

 

Lebih banyak pilihan

Lulusan SMK, ujar Joko, mempunyai lebih banyak pilihan. Mereka dapat masuk ke perguruan tinggi yang sesuai dengan program keahliannya, bekerja sambil berkuliah, atau berwirausaha.

 

”Dulu ada pandangan bahwa bekal pengetahuan dasar seperti Matematika, Fisika, dan Bahasa Inggris kurang. Kami telah meresponsnya dengan meningkatkan jumlah jam mata pelajaran dasar tersebut. Di program keahlian tertentu, Matematika yang semula dua jam seminggu sekarang tujuh jam seminggu, Bahasa Inggris dari dua jam per minggu menjadi dua hingga empat jam,” ujarnya pekan lalu.

 

Pemerintah menargetkan 70 persen lulusan SMK bekerja di sektor formal. ”Namun, untuk penyerapan ke pasar tenaga kerja formal sangat bergantung pada pertumbuhan ekonomi,” ujarnya. Oleh karena itu, kemudian diterapkan kurikulum kewirausahaan di SMK. Harapannya, anak tidak sekadar menunggu kesempatan dari lapangan pekerjaan, tetapi mampu menciptakan lapangan pekerjaan.

 

Wakil Kepala SMKN 26 Jakarta Timur, Bidang Hubungan Kerja Sama Industri, Bambang Asmoro Hadi, mengatakan, lulusan dari sekolah itu mudah mendapatkan pekerjaan. Di sekolah itu tersebut tahun lalu sekitar 67,8 persen siswa masa tunggu hingga mendapatkan pekerjaan nol bulan, sekitar 20 persen masa tunggu tiga bulan, 10 persen melanjutkan ke perguruan tinggi, dan selebihnya ada yang membuka usaha atau beberapa kasus menganggur.

 

Di SMKN 29 DKI Jakarta, lulusannya banyak dilirik maskapai penerbangan. Tiap tahun sejumlah maskapai penerbangan ternama seperti Garuda Indonesia, Lion Air, dan Batavia Air bahkan melakukan seleksi langsung di SMK bidang penerbangan tertua yang ada di Tanah Air ini.

 

”Tahun ini, dari 144 siswa kelas III teknik penerbangan, 17 ikut tes di Garuda Maintenance Facility, 34 Lion Air, dan 48 di Batavia,” ucap H Wurdono, Kepala SMKN 29. (INE/JON)

 

Sumber: www.kompas.com

 

Senin, 22 Juni 2009

Jakarta - Peminat sekolah menengah kejuruan dari tahun ke tahun terus naik. SMK dipandang memiliki lebih banyak keuntungan karena menyediakan beragam pilihan bagi peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, bekerja, atau bekerja sambil berkuliah.

 

Departemen Pendidikan Nasional juga lebih agresif meningkatkan jumlah SMK dan siswa.

Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Depdiknas Joko Sutrisno mengatakan, saat ini rasio antara sekolah menengah kejuruan (SMK) dan sekolah menengah atas (SMA) sekitar 50:50 dengan jumlah SMK 7.719 sekolah.

 

Pemerintah menargetkan rasio SMK dengan SMA menjadi 67:33 dengan jumlah SMK mencapai 9.793 pada tahun 2014.

 

Jumlah SMK baik negeri maupun swasta terus meningkat pula. ”Tahun 2009 ada kenaikan 5 persen untuk jumlah sekolah baru. Pemerintah bekerja sama dengan pemerintah daerah membangun sekolah baru tersebut mengingat investasi SMK baru termasuk mahal. Untuk bidang teknologi sekitar Rp 6 miliar hingga Rp 7 miliar. Bidang lain bisa lebih murah. Selain itu, ada pula sekolah menengah atas yang kemudian dikonversi menjadi SMK,” kata Joko.

 

Lebih banyak pilihan

Lulusan SMK, ujar Joko, mempunyai lebih banyak pilihan. Mereka dapat masuk ke perguruan tinggi yang sesuai dengan program keahliannya, bekerja sambil berkuliah, atau berwirausaha.

 

”Dulu ada pandangan bahwa bekal pengetahuan dasar seperti Matematika, Fisika, dan Bahasa Inggris kurang. Kami telah meresponsnya dengan meningkatkan jumlah jam mata pelajaran dasar tersebut. Di program keahlian tertentu, Matematika yang semula dua jam seminggu sekarang tujuh jam seminggu, Bahasa Inggris dari dua jam per minggu menjadi dua hingga empat jam,” ujarnya pekan lalu.

 

Pemerintah menargetkan 70 persen lulusan SMK bekerja di sektor formal. ”Namun, untuk penyerapan ke pasar tenaga kerja formal sangat bergantung pada pertumbuhan ekonomi,” ujarnya. Oleh karena itu, kemudian diterapkan kurikulum kewirausahaan di SMK. Harapannya, anak tidak sekadar menunggu kesempatan dari lapangan pekerjaan, tetapi mampu menciptakan lapangan pekerjaan.

 

Wakil Kepala SMKN 26 Jakarta Timur, Bidang Hubungan Kerja Sama Industri, Bambang Asmoro Hadi, mengatakan, lulusan dari sekolah itu mudah mendapatkan pekerjaan. Di sekolah itu tersebut tahun lalu sekitar 67,8 persen siswa masa tunggu hingga mendapatkan pekerjaan nol bulan, sekitar 20 persen masa tunggu tiga bulan, 10 persen melanjutkan ke perguruan tinggi, dan selebihnya ada yang membuka usaha atau beberapa kasus menganggur.

 

Di SMKN 29 DKI Jakarta, lulusannya banyak dilirik maskapai penerbangan. Tiap tahun sejumlah maskapai penerbangan ternama seperti Garuda Indonesia, Lion Air, dan Batavia Air bahkan melakukan seleksi langsung di SMK bidang penerbangan tertua yang ada di Tanah Air ini.

 

”Tahun ini, dari 144 siswa kelas III teknik penerbangan, 17 ikut tes di Garuda Maintenance Facility, 34 Lion Air, dan 48 di Batavia,” ucap H Wurdono, Kepala SMKN 29. (INE/JON)

 

Sumber: www.kompas.com

 

22 June 2009 12:09 WIB

Artikel ini menarik?
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
Loading ... Loading ...

Pena Pendidikan

Tuesday, 16 March 2010

REDAKSI


Iwan Qodar Himawan

Saiful Anam

Dipo Handoko

Eva Rohilah

Fathoni Arief

Kenny

Arien TW

RUBRIK

ANGGOTA

POLLING PEMBACA

EMAIL SUBSCRIBE

Enter your email address:

STATISTIK

KATA KUNCI