Kata Kunci: Buta Aksara
Jumat, 25 Juli 2008 | 00:59 WIB
Sulitnya pemberantasan buta huruf yang dilaksanakan melalui pendidikan keaksaraan tak lepas dari kemiskinan.
Ketua Forum Komunikasi Tutor Pendidikan Keaksaraan (FKTPK), Subur Saryuki, mengatakan, Kamis (24/7), peserta mayoritas masyarakat ekonomi bawah yang masih bergulat keras dengan persoalan kebutuhan hidup sehari-hari.
”Mereka tidak sempat untuk belajar karena harus mencari uang. Buat apa belajar, mencari uang saja sudah susah,” tuturnya.
Hal senada diungkapkan Jayadi, pengurus Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Pesantren Kota di Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Warga yang belajar di PKBM tersebut umumnya anak-anak jalanan.
”Persoalannya, sejauh ini pendidikan belum menjadi kebutuhan anak, tetapi kewajiban kami memajukan mereka,” ujarnya.
Jayadi mengatakan, sistem pembelajaran untuk pemberantasan buta huruf tidak bisa model konvensional. Pola pembelajaran reguler, seperti waktu yang teratur dan kurikulum, sulit diterapkan.
Jumlah tutor pendidikan keaksaraan sekitar 50.000 orang. Mereka berstatus honorer dengan honor Rp 175.000 per bulan dari pemerintah. Sebagian besar merupakan guru sekolah dasar yang membantu di pendidikan keaksaraan. (INE)
Sumber: Harian Umum Kompas
25 July 2008 05:40 WIB
Wednesday, 20 August 2008
POLLING PEMBACA |