Kata Kunci: NON FORMAL, PAUD
Kabupaten Gunungkidul
Hujan lebat yang mengguyur Dusun Brongkol, Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Gunungkidul pagi itu, pertengahan Februari lalu, tak menyurutkan niat Saminah, 33 tahun, dan putri kecilnya, Aini, 4 tahun, menuju rumah Partorejo, mantan kepala dusun setempat. Bukan karena ada pertemuan warga di
Penggagas PAUD dan SKB sederhana itu tak lain Saminah, Kepala Dusun Brongkol yang baru, pengganti Pak Partorejo. Saminah, yang aktivis PKK sejak muda, terketuk hatinya mendirikan PAUD ketika ia berkenalan dengan PAUD dari perbicangan dengan petugas di kecamatan Tepus. Ia ikut acara sosialisasi PAUD di Kantor Kecamatan Tepus.
Saminah belum mengerti benar tentang PAUD. Ia juga belum pernah mengikuti pelatihan atau pembekalan apapun tentang penyelenggaraan PAUD, sebelum ini. Ibu satu anak ini tidak patah semangat. Ia mencontoh meniru metode dan pola pelaksanaan PAUD nonformal di Balai Desa Purwodadi, yang sudah lebih dulu ada. “Saya hanya ingin anak-anak di dusun mendapatkan pendidikan sejak dini, seperti anak-anak lain di kota besar,” katanya kepada Majalah MISI.
Gagasan Saminah mendapat sambutan dari masyarakat dusun. Dari 22 balita yang ada di sana, 18 di antaranya mengikuti PAUD nonformal yang dirintis Saminah. Tenaga pendidiknya berjumlah tiga orang, warga dusun setempat. Masing-masing hanya lulusan SMA, yang seorang lagi lulusan Paket C. “Keinginan ini menguat karena ingin anak-anak di sini berkembang seperti anak-anak di tempat lain,” ujar Saminah.
PAUD, yang oleh warga biasa disebut sanggar belajar dan bermain itu, berdiri di ruang berukuran 4 x 5 meter. Hanya berlantai semen. Cat yang membalut dindingnya sudah usang. Pencahayaannya kurang, sehingga nampak remang-remang. Apalagi jika cuaca mendung dan hujan seperti saat itu.
Untuk mengurangi dingin di kaki, lantai ruangan dialasi karung, yang berfungsi sebagai tikar. Meski ala kadarnya, suasana ceria begitu merasuki para pendidik dan anak-anak. Keriaan anak-kanak tampak saat mereka bermain dan bernyanyi. Padahal, alat permainan yang ada di sana hanya balok-balok susun, bola-bola, dan gambar-gambar fauna yang ditempel di dinding.
“Mainan ini hasil sumbangan dari Bina Keluarga Balita (BKB) melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Desa. Selain itu ada juga bantuan sejumlah uang dari PAUD Desa,” tutur Saminah.
Wali murid juga menyumbang setiap bulannya. Rata-rata memberikan Rp 2.000. Total terkumpul Rp 36.000 dari sumbangan orangtua siswa. Toh, tak ada asalan PAUD yang diberi nama Al Ukhwah, ini berhenti beroperasi. PAUD Al Ukhwah buka dua kali dalam sepekan, Rabu dan Sabtu dari pukul 08.00 sampai 11.00.
BERPEDOMAN PADA BUKU
Meski belum pernah mengikuti pelatihan, penyelenggaraan PAUD Al Ukhwah tidak asal-asalan. Para tenaga pendidik menggunakan buku pedoman penyelenggaraan Pos PAUD yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah, Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, Depdiknas (2006).
“Terus terang kami menemui beberapa kesulitan, terutama dalam hal penilaian perkembangan anak. Di buku pedoman yang kami miliki tidak ada panduan penilaiannya,” ujar Umi Saroh, 21 tahun, salah seorang pendidik yang tamatan SMA. Umi Saroh berharap memperoleh kesempatan mengikuti pelatihan PAUD.
PAUD Al Ukhwah memang belum terdaftar secara resmi di Dinas Pendidikan Gunungkidul. Namun, nama-nama ketiga tenaga pendidiknya sudah masuk daftar.Sayangnya, ketika Dinas Pendidikan kabupaten mengadakan pelatihan bagi guru-guru PAUD, mereka tidak kebagian tempat. “Yang berangkat pelatihan waktu itu PAUD dari desa, jatahnya hanya satu kursi,” ujar Umi Saroh.
Kehadiran PAUD Al Ukwah di dusun yang terapit bukit-bukit kapur tersebut begitu dirasakan ibu-ibu yang memiliki anak usia dini. “Anak saya jadi lebih berani dan tidak pemalu lagi,” kata Yanti, 22 tahun, salah seorang ibu yang anaknya mengikuti kegiatan Al Ukhwah sejak awal.
Hal serupa juga di utarakan ibu-ibu lain yang menemani anak-anak mereka. “Untuk ibu-ibu kami memberikan pengarahan bagaimana cara menangani anak-anak di rumah,” ujar Umi Saroh. Ibu satu anak ini tak bosan memberi pengarahan kepada para ibu. Ketika itu, Umi Saroh menyampaikan hal-hal yang harus dihindari dalam mendidik anak di rumah, seperti hukuman dan pemaksaan terhadap anak.
PAUD UNTUK 19 DUSUN
Bagaimana dengan PAUD yang dikembangkan Desa Purwodadi, satu-satunya lembaga PAUD di sana? PAUD Desa Purwodadi terletak sekitar tujuh kilometer dari PAUD Al Ukhwah. Jalanan menuju ke sana berbukit-bukit. Karena dikelola oleh desa, dan telah terdaftar oleh Dinas Pendidikan Gunung Kidul, keadaannya jauh lebih baik dari PAUD AL Ukhwah.
PAUD Melati namanya. Berdiri pada 6 Desember 2006 lalu. Di sana ada 40 anak usia dini yang datang dari enam dusun di sekitar Balai Desa Desa Purwodadi. Pengajarnya sudah ada yang mengikuti pelatihan PAUD yang diadakan Dinas Pendidikan Gunung Kidul tahun lalu.
Alat Permainan Edukatif (APE) yang dimiliki PAUD Melati cukup beragam. “Semuanya bantuan dari dinas pendidikan kabupaten. Waktu itu mereka mengucurkan dana Rp 5 juta untuk pengadaan APE,” kata Suprihatin, 47 tahun, Kepala Desa Purwodadi yang juga pengurus PAUD Melati.
Suprihatin merencanakan membangun Gedung PAUD yang lebih luas. Desa Purwodadi yang terbagi ke dalam 19 dusun, hanya memiliki satu lembaga PAUD. “Kendalanya adalah kurangnya tenaga didik,” katanya.
MEMBANGUN PAUD UNTUK 27.000 JIWA
Lembaga PAUD di Gunung Kidul memang tengah menggeliat. “Perkembangan PAUD di sini memang cukup pesat,” kata Sri Mulat Widiningsih, S.Sos, Kepala Seksi PAUD Dinas Pendidikan Kabupaten Gunungkidul. Kabupaten Gunungkidul saat ini memiliki 158 lembaga PAUD yang tersebar di 18 kecamatan.
Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD meningkat cukup menggembirakan. “Tahun ini APK PAUD di Gunungkidul mencapai 53,90 persen, meningkat sedikit dari tahun sebelumnya yang mencapai 50,47 persen,” kata Mulat. Jika dibandingkan tahun 2005, yang hanya 42,34%, kenaikannya signifikan.
Meingkatnya siswa PAUD, kata Mulat, karena ibu-ibu muda mulai menyadari pentingnya pendidikan anak sejak dini. Data seksi PAUD menyebutkan Gunungkidul memiliki anak usia dini rentang 0-4 tahun sebanyak 27.930 jiwa. “Mulai tahun 2008 ini Dinas Pendidikan membuat prioritas di 60 desa tertinggal untuk setidaknya memiliki dua lembaga PAUD,” ujar Mulat.
Seksi PAUD Gunungkidul juga tengah mengembangkan model lembaga percontohan PAUD. Setidaknya sudah ada lima Taman Pendidikan Anak (TPA) dan lima Kelompok Bermain. Di antaranya KB Handayani milik SKB Gunungkidul dan KB Tunas Mulia milik Yayasan Bina Umat Mulia di Kepek, Wonosari.
Kurangnya jumlah tenaga pendidik PAUD menjadi kendala. Saat ini, kabupaten Gunungkidul hanya memiliki 514 tenaga pendidik. Latar belakang pendidikannya pun beragam, 52 orang lulusan SMP, 315 orang lulusan SMA, 82 orang lulusan Diploma. Pengajar lulusan S1 hanya 64 orang. Menghadapi hal ini, Dinas Pendidikan menggandeng Forum PAUD dan HIMPAUDI DI Yogyakarta. “Melalui pelatihan dan sosialisasi yang dilakukan dua lembaga tersebut, diharapkan mampu meningkatkan kapasitas dan jumlah tenaga pendidik PAUD di Gunungkidul,” tutur Mulat.
Tahun 2008 ini, seksi PAUD membidik 20 desa tertinggal dari 60 desa yang direncanakan. Mulat berharap kucuran dana APBN senilai Rp 2.976.000.000 untuk pengembangan PAUD di wilayahnya dapat turun tepat waktu. “Tahun 2007 lalu dana APBN senilai Rp 126.240.000 terlambat dari waktu yang semestinya. Akibatnya hanya 64 persen saja yang terserap,” ujarnya.
Pendirian PAUD non formal di dusun-dusun, masih kata Mulat, selalu dalam pantauan seksi PAUD. Seksi PAUD mengadakan tinjauan terlebih dulu ke lokasi yang mengajukan ijin pendirian PAUD nonformal. Aspek yang ditinjau meliputi jumlah sasaran didik, tenaga pengajar dan tingkat keberlangsungan lembaga PAUD yang bersangkutan. “Dinas tidak ingin pendirian PAUD tersebut hanya sekedar tren-trenan. Bulan ini berdiri beberapa bulan berikutnya sudah bubar,” katanya.
AB RODHIAL FALAH (Gunungkidul)
13 September 2008 03:20 WIB
Wednesday, 7 January 2009
POLLING PEMBACA |