Kata Kunci: , sekolah gender
Oleh: Iwan Qodar Himawan/Pena
Penelitian di Amerika menunjukkan, murid di kelas khusus pria atau wanita lebih berprestasi ketimbang yang di kelas campuran. Sekolah-sekolah khusus makin bermunculan.
SEKOLAH khusus untuk satu jenis kelamin, pria atau wanita saja, banyak yang sudah diubah menjadi sekolah campuran di negara kita. Alasannya bermacam-macam. Di antaranya, sekolah kelamin tunggal itu tidak terbukti meningkatkan kualitas murid. Alasan lainnya, agar sekolah makin mempunyai daya tarik bagi para murid.
Di Hartford, kota di negara bagian Connecticut, Amerika Serikat, situasi yang terjadi malah sebaliknya. Dinas Pendidikan di kota itu berencana membuka sekolah uji coba untuk satu kelamin saja. Alasannya: demi mendongkrak mutu.
Dicampurnya anak laki-laki dan perempuan dalam satu kelas, kata pejabat di situ, malah membuat nilai para murid jeblok. Di tahap pertama ini, yang akan dibuka adalah sekolah khusus untuk laki-laki, dibuka tahun 2008 ini. Tahun berikutnya, baru sekolah khusus untuk perempuan. Sekolah untuk gender tertentu ini merupakan hal baru bagi Connecticut.
‘’Secara umum, murid laki-laki memiliki lebih banyak masalah ketimbang murid perempuan,’’ kata Tyrone Richardson, koordinator guru matematika di sebuah sekolah unggulan di Hartford. Pak Tyrone termasuk guru yang menonjol. Ia banyak dimintai masukan oleh Dinas Pendidikan, termasuk dalam merancang sekolah khusus murid pria ini.
Koran New York Times edisi akhir Maret menulis, yang jadi sasaran utama sekolah baru ini adalah para murid pria di sekolah biasa, yang nilainya jeblok. Bila mereka tetap sekolah di tempat lama, dikhawatirkan mereka putus sekolah. ‘’Banyak dari mereka tidak punya harapan,’’ kata Pak Tyrone.
Dari data yang ada, kinerja murid pria memang lebih jeblok ketimbang yang perempuan. Tahun 2007, sebanyak 3.500 murid laki-laki di Hartford mendapat skorsing keras dari sekolah, sementara yang perempuan ‘’hanya’’ 2.236. Dari 111 murid yang dikeluarkan, 75% adalah murid pria.
Nilai rapor mereka juga njomplang. Dalam ujian melalui Connecticut Academic Performance Test, para murid perempuan dengan gampang menyelesaikan soal. Sementara murid laki-laki tampak kesulitan mengerjakan soal, terutama di matematika dan sains. Murid perempuan juga jauh lebih unggul dalam pelajaran membaca, bahasa, dan menulis.
Hartford memang memiliki kekhasan. Ekonomi kotanya terbilang kurang makmur. Banyak anak dan remajanya yang putus sekolah. Bahkan banyak di antara mereka yang orangtuanya ditahan, karena kasus pencolengan, perampokan, atau narkoba.
‘’Kasihan mereka. Mereka tumbuh dalam lingkungan tidak sehat,’’ kata Douglas McCroy, anggota DPRD dari Partai Demokrat. Ia juga Wakil Kepala Sekolah SMA Bulkeley. Pak Douglas ini juga menjadi salah satu pentolan dalam merancang sekolah untuk murid satu gender. ‘’Yang kita hadapi menyangkut isyu keselamatan. Anda tidak bisa membiarkan begitu banyak orang di jalanan tanpa masa depan,’’ katanya.
Jumlah sekolah untuk murid satu kelamin saja, terus bertambah di Amerika Serikat. Pada 2002, jumlah sekolah seperti ini kurang dari enam. Tahun ini terdapat lebih dari 100. Dan jumlahnya akan terus bertambah.
Di Hartford sendiri, pendidikan untuk gender tunggal bukan hal baru, sebenarnya. Hanya saja selama ini tidak dipraktekkan sepenuhnya. Biasanya sekolah itu tetap menerima murid laki-laki perempuan, hanya saja mereka kemudian mereka memisahkan murid laki-laki dan perempuan ke dalam kelas yang berbeda.
‘’Harus diakui, masih banyak sekolah atau negara bagian yang belum bisa menerima murid perempuan saja, atau laki-laki saja,’’ kata Dr. Leonard Sax, Direktur Eksekutif Asosiasi Sekolah Publik Untuk Gender Tunggal.
Di luar negara bagian Connecticut, para pejabat sekolah memandang sekolah untuk pria saja, atau perempuan saja, sebagai salah satu alternatif yang harus dipertimbangkan. ‘’Sistem ini akan berhasil kalau dikerjakan dengan baik,’’ kata Ben Wright, konsultan yang merancang sekolah gender tunggal di Seattle dan Philadelphia. Ben kini menjadi Kepala Bagian Administrasi Dinas Pendidikan Nashville, sebuah kota metropolitan yang menjadi ibukota negara bagian Tennesee.
‘’Sistem co-ed juga bisa berjalan baik. Tapi Anda juga harus punya alternatif untuk menjamin pendidikan lebih berhasil bagi anak-anak,’’ kata Pak Ben. Yang dimaksud co-ed di sini adalah pendidikan untuk gender campur, laki-laki dan perempuan.
‘’Kami ingin menunjukkan pada para murid itu banyak jalan menuju sukses. Hidup tidak hanya bermain basket, berkaraoke, atau menjual narkoba,’’ kata Pak Tyrone.
Pendidikan di sekolah umum untuk gender tunggal memang bukan hal yang biasa. Kata Cornelius Riordan, profesor sosiologi di Providence College, selama ini masih terdapat perbedaan pendapat cukup tajam antara pihak pendukung dan yang membantah akan efektivitas sekolah bagi kelamin khusus. Profesor Riordan selama tiga tahun ini melakukan riset terhadap bermanfaat tidaknya sekolah untuk kelamin tertentu.
Dari 40 riset terhadap bermanfaat tidaknya sekolah untuk gender tunggal, belum ada yang berani menyatakan bahwa sekolah untuk jenis kelamin khusus punya pengaruh signifikan terhadap prestasi siswa. ‘’Bisa dikatakan, yang mendukung maupun yang meragukan mempunyai kekuatan sama,’’ kata Profesor Riordan.
Meski demikian, pejabat kota Hartford memutuskan akan menguji coba sekolah untuk gender tunggal ini, karena beratnya masalah pendidikan yang mereka hadapi. Dewasa ini, dari tiap tiga remaja, kurang dari satu orang yang bisa menamatkan SMA-nya. Steven J. Adamowski, pengawas sekolah di Dinas Pendidikan setempat mengatakan, ‘’Sebagai sebuah metode, bagus juga kalau ini dicoba. Dari survei nasional yang saya baca, murid di sekolah gender tunggal akan berprestasi lebih bagus,’’ kata Pak Steven.
Rencananya, sekolah khusus ini mulai beroperasi tahun ajaran 2008-2009 ini, dibuka untuk kelas 7-12. Jumlah murid untuk enam tingkatan itu diperkirakan 300-600 orang. Di tahap awal, pemerintah akan menyewa ruangan kosong di perkantoran atau ruko di tengah kota. Diperkirakan, setahun kemudian sudah punya kampus sendiri.
Orangtua murid, kini sudah banyak yang menanyakan kapan sekolah itu mulai menerima pendaftaran murid. Memang, sebagai sebuah alternatif sistem pendidikan, cara seperti ini tak ada salahnya dicoba.
IWAN QODAR HIMAWAN
Sumber: New York Times
RISET TIGA TAHUN
Dr. Leonard Sax, Direktur Eksekutif Asosiasi Sekolah Gender Tunggal, pada Mei 2007 memimpin dua hari pertemuan di Stetson Unversity, DeLand, Florida. Di situ dipaparkan hasil riset selama tiga tahun para ahli Stetson University, yang membandingkan kinerja kelas untuk murid satu jenis kelamin, dengan yang campuran. Penelitian dilakukan di Sekolah Dasar Woodwand Avenue, tak jauh dari kampus.
Murid pria dan wanita dibagi ke dalam kelas berbeda. Selain itu, juga ada kelas campuran. Suasana dan tugas yang diberikan untuk murid dibuat sama. Misalnya: jumlah murid di tiap kelas sama, komposisi demografisnya, serta tingkat kecerdasannya. Pelajarannya sama. Para guru diberi pelatihan yang sama, demikian pula cara mengajarnya.
Para murid itu kemudian diikutkan tes kecakapan nasional yang diselenggarakan negara bagian (Florida Comprehensive Assesment Test). Hasil tesnya sebagai berikut:
Untuk mengetahui perkembangan murid, pada Januari 2008 diadakan tes berikutnya. Profesor Kathy Piechura Couture dari Stetson University melaporkan, 55% murid pria di kelas campuran dinyatakan cakap, sementara yang di kelas khusus jauh lebih banyak, 85%.
19 April 2008 19:51 WIB
Wednesday, 7 January 2009
POLLING PEMBACA |