FIGUR

Menjadi Teladan Bagi Semua

  • Sri Setya Prihatin, S.Pd

Oleh: MF Arief/Pena

 

”Menjadi guru itu ternyata indah dan luar biasa.” Itulah yang selalu merasuk di benak Sri Setya Prihatin, S.Pd. Pengabdian sebagai guru dengan dilandasi kecintaan pada profesi itu membuahkan hasil membanggakan. Tahun 2008 ini, Tin, sapaan Ibu guru cantik ini, berhasil meraih predikat guru berprestasi tingkat nasional.

 

Saat pengumuman bertepatan peringatan Hari Kemerdekaan RI 17 Agustus lalu, air mata bahagia mengalir di pipinya. Tin terharu dan tak percaya atas pencapaiannya. Meski ia yang terbaik di Jawa Tengah, namun kedatangannya di Jakarta, di level nasional, tanpa beban dan target.

 

Apalagi bila mengingat bahwa Tin termasuk tipe guru yang sangat sulit disuruh mengikuti berbagai lomba guru. Hanya segelintir lomba yang pernah ia ikuti. Itupun tak semuanya menjadi juara satu. ”Saya selalu merasa minder dan kurang percaya diri,” katanya. 

 

ANAK KELUARGA BESAR TENTARA

 

Sri Setya Prihatin lahir di Kebumen pada 9 Januari 1964. Ia  putri pasangan Tukirah dan R Suparto Martosudiro, seorang purnawirawan ABRI. Ayah-ibunya memiliki 11 orang putra-putri, dengan 4 laki-laki dan 5 perempuan. Dari 11 bersaudara tersebut  2 di antaranya meninggal dalam kandungan. Mereka yang masih hidup adalah Suwignyo, Surahminingsih, Sumarmini,S.Pd, Kusniati, Tejo Kuswanto, Satriyo Gumawang, Muji Rahmiwati, Tri Suyani, Sri Setya Prihatin,S.Pd. Tin merupakan anak nomor 10.

 

Tin lahir di desa Indrasari, kecamatan Bulus Pesantren, kabupaten Kebumen. Desa ini sebenarnya cukup dikenal orang. Di desa ini lahir Jenderal Sarbini, tokoh yang namanya diabadikan sebagai sebuah gedung pertemuan di  Jakarta. ”Kalau diurut-urutkan bapak saya ke Sarbini itu manggilnya paman. Bahkan setelah bapak pensiun karena butuh banyak biaya untuk menyekolahkan anak, Bapak ikut Pak Sarbini ke Jakarta. Termasuk waktu membangun gedung veteran,” kenangnya.

 

Tinggal dan dibesarkan di desa, menurut Tin, membuatnya memiliki masa kecil yang sangat menyenangkan. Semua aktivitas kehidupan anak-anak desa, dari mencari ikan di sawah, menuai padi, sampai mengggembala kambing pernah ia rasakan. Apalagi sebagai anak bungsu ia sangat disayang kedua orang tua, terutama ibu. Sampai sekarang ia sangat mengidolakan ibunya.

 

Menurutnya, sang Ibu merupakan wanita hebat yang mampu melahirkan dan mendidik kesembilan anaknya. Meski demikian Tin juga sangat kagum pada sosok ayahnya yang dengan gigih mencari nafkah untuk membiayai semua anaknya hingga dapat menamatkan pendidikan setingkat SMA. Ia menyadari bukan hal mudah untuk menyekolahkan sembilan anak dengan mengandalkan uang pensiunan tentara.

 

Sebagai anggota ABRI, sang ayah bertugas di Srondol, Semarang. ’’Pada waktu itu kan ada prinsip kalau anaknya banyak dapat jatahnya juga banyak. Jatah beras serta gaji dari kantor kan juga banyak. Mungkin itu yang mendorong bapak hingga anaknya sampai 11. Setiap dua tahun orangtua punya momongan,” katanya.

 

Setelah pensiun, sang Ayah kembali ke desa Indrasari, kecamatan Bulus Pesantren. Namun karena semua anak masih duduk di bangku sekolah,  akhirnya ia ikut Jenderal Sarbini tinggal di Jakarta. Anak-anak ditinggal di Kebumen agar sekolahnya tidak terganggu.

 

Anak-anak, termasuk Tin, ditugaskan ikut membantu ibunya. Tin kebagian tugas menggembala kambing.

 

MENGIKUTI JEJAK KAKAK

 

Di lingkungan keluarga Tin, guru merupakan profesi yang paling banyak digeluti. Dari delapan saudaranya, dua saudara laki-laki menjadi anggota TNI dan lima saudara perempuan semua mengabdi di bidang pendidikan sebagai guru, kepala sekolah, atau pengawas sekolah. Satu orang menjadi petani.

 

Tin memilih profesi sebagai guru karena terpengaruh saudara-saudaranya yang sudah lebih dulu menjalani profesi itu. Saran dari ayahnya juga turut berpengaruh. Meski ia sebenarnya bercita-cita menjadi pegawai bank atau pekerja kantoran. Bahkan untuk mewujudkan cita-citanya ia sudah mendaftar ke sebuah SMA.

 

Tin merasa, ketika  itu guru belum jadi idola. Tapi ayahnya punya pandangan berbeda. Ia menganut filosofi  guru seperti wit genjah atau pohon kelapa masih kecil tapi sudah berbuah. Cepat bekerja dan cepat menghasilkan uang. ’’Artinya kalau sekolah di SPG (Sekolah Pendidikan Guru) saya cepat jadi guru dan diangkat jadi pegawai,” katanya.

 

Tin sangat bersyukur arahan orangtuanya tidak membuat ia menyesal. Karena  menjadi guru itu indah dan luar biasa. Melalui pilihan ini ada banyak hal indah yang ia rasakan dan alami, termasuk ketika akhirnya terpilih menjadi guru SD berprestasi tingkat nasional. ”Kalau dulu masuk SMA, saya tidak tahu apakah sekarang dapat pekerjaan atau tidak,” katanya.

 

Sri Setya Prihatin menempuh pendidikan dari SD hingga sarjana di Kebumen. Tin menamatkan bangku SD tahun 1977 di SD Indrosari, SMP tahun 1981 di SMP Buluspesantren. Ia masuk SPG Kebumen, lulus tahun 1984. Setelah menjalani profesi guru, pada 1998 Tin melanjutkan ke jenjang sarjana.

 

Ia mengambil S1 di FKIP Universitas Negeri Sebelas Maret, Kampus Kebumen dan lulus pada tahun 2004. ”Alhamdulillah karena semangat tinggi hasilnya cumlaude,” katanya.

 

Tahun 2008 ini ia melanjutkan ke jenjang S2, mengikuti kuliah pascasarjana di UNS Kampus Kebumen. ”Saya baru masuk semester ini,” katanya. Tin mengambil jurusan bahasa Indonesia. Jurusan ini memang menjadi favoritnya.

 

MEMULAI DARI GURU HONORER

 

Setelah lulus SPG pada tahun 1984, Tin memulai karirnya sebagai seorang guru. Awalnya ia jadi  guru honorer di SD Ampih kecamatan Buluspesantren. Meski hanya sebagai guru wiyatabhakti ia merasakan kesenangan dan semangat luar biasa. ” Karena baru saja mempraktekkan ilmu yang baru diperoleh,” katanya.

 

Gaji guru honorer  waktu itu  hanya bergantung kebijakan dari sekolah tempat bertugas saja. Waktu itu Tin mendapat honor Rp 5.000/bulan. Jumlah itu menurutnya sudah besar sekali.

 

Setelah menjalani masa 2 tahun sebagai guru honorer akhirnya tahun 1986 Tin menjadi calon pegawai negeri sipil. Tin mengajar SD di  kecamatan Ambal, sebelah Timur kecamatan Bulus Pesantren. Setahun setelah menjadi calon pegawai, tahun 2007 resmi menjadi PNS.

 

Lokasi sekolah tempat pertama kali Tin mengajar cukup jauh dari tempat dia tinggal, sekitar satu jam perjalanan dari rumahnya di Indrasari. Jalannya becek dan belum diaspal. Tiap kali musim hujan tak bisa ditempuh dengan sepeda dan harus berjalan kaki.

 

Mengajar di SD tersebut tak lama setelah akhirnya Tin dipindahkan ke sekolah yang lebih dekat yaitu di SD Indrasari. Kebetulan waktu itu ia tengah hamil tua, selain itu akibat sakit kuning yang ia derita membuatnya mendapat priotitas untuk dipindahkan ke tempat yang dekat. Tahun 1987, Ia mendapat kebijakan untuk pindah ke tempat yang dekat yaitu di desa Indrasari.

 

BERTEMU DENGAN PUJAAN HATI

 

Sri Setya Prihatin menikah pada tahun 1986. Ia menikah dengan Khudori, SE,   pegawai kantor Sistem Administrasi Satu Atap (Samsat). Ia mengenal suaminya sejak masih sekolah di SPG Kebumen. Kebetulan gedung sekolah berseberangan dengan kantor Samsat tempat Khudori bekerja. Gedung SPG terletak di selatan Jalan Tanimbar, sedangkan Samsat di sebelah Utara.

 

Ketika itu Khudori sudah kerja di Samsat di bagian Jasa Raharja. Dari kedekatan tempat itu seringkali mereka bertemu. Dari situlah benih-benih cinta muncul di antara mereka. ”Akhirnya memutuskan menikah,” kenang Tin.

 

Dari pernikahan dengan lelaki asli Purwokerto itu Tin dianugerahi 3 putra. Mereka adalah Eka Priyando anak pertama, yang sedang menyelesaikan tahap akhir kuliahnya di Universitas Negeri Yogyakarta. Saat ini semester 7, sudah selesai KKN dan tengah menyusun skripsi. Putra keduanya adalah Ridho Nur Tamtomo masih duduk di bangku kelas 1 SMA 2 Kebumen. Terakhir Hangga Tri Aditya siswa kelas 3 di SMP N 1 Kebumen.

 

Tin dan keluarga tinggal di sebuah rumah sederhana seluas kurang lebih seratus meter persegi di pinggiran kota Kebumen. Alamat tempat tinggalnya Tamanwinangun RT 03 RW 10 Kebumen, Jawa Tengah.

 

Pada 2005, Khudori, suaminya, dimutasi ke Magelang, ke kantor Samsat yang lebih besar. Setahun kemudian, sang suami mengikuti pendidikan dan latihan di Jakarta, lulus peringkat dua. Setelah itu, Khudori dipromosikan ke Palu. Praktis sejak 2006 Tin tak ubahnya orangtua tunggal bagi anak-anaknya.

 

Tahun 2008 merupakan tahun penuh berkah bagi Tin. Ia berhasil meraih predikat “Juara 1 Guru Berprestasi Tingkat Provinsi”. Pada tahun itu juga, dalam rangka memperingati Hari Perempuan, Bupati Kebumen menganugerahinya sebagai “Perempuan Berprestasi dalam Bidang Pendidikan”.

 

Di tengah suasana bahagia karena mendapat anugerah menjadi guru berprestasi tingkat nasional Tin memiliki satu harapan besar. Ia berharap suami segera bertugas kembali ke pulau Jawa. ”Kebahagiaan saya lebih lengkap kalau saya  bisa berkumpul dengan keluarga,” katanya.

 

PANDAI MENGATUR WAKTU

 

Tin merupakan sosok aktif yang disiplin dalam membagi waktu bagi keluarga, tugas, masyarakat, dan Tuhan. ”Ia selalu megingatkan dan memantau putranya dalam berbagai hal termasuk dalam urusan ibadah dan pendidikan,” kata Ridho Nur Tamtomo, putra keduanya.

 

Setiap hari aktivitas Tin dimulai sejak sebelum subuh. Sekitar jam 03.30 biasanya ia sudah bangun untuk salat subuh berjamaah di masjid yang letaknya sekitar 100 meter dari rumah. Kalau kondisi fisiknya sedang sehat dan fit, jam 01.30 ia sudah bangun untuk salat malam.

 

Kembali dari masjid ia harus mempersiapkan sarapan buat putra-putranya. Ia kemudian berangkat ke sekolah tempatnya bertugas.  SD Tambakrejo, tempat Tin mengajar, untungnya tak begitu jauh. Hanya sekitar 6 km ke arah selatan. Jalannya bagus. Dengan sepeda motor ia menuju tempat tugas. ” Dari rumah, saya berangkat sekitar jam 06.45. Dari rumah ke sekolah cuma sekitar 10 menit,” katanya.

 

Tin mengajar di kelas 5. Aktivitas mengajar tersebut ia jalani sampai jam 13.00. Jika tak ada pekerjaan lain ia langsung pulang. Biasanya jam 13.15 sudah sampai rumah.

 

Sepulang dari tugas mengajar ia memanfaatkan waktu untuk istirahat siang. Ia juga menyiapkan makan siang buat putra-putranya. Sore hari jika tak ada jadwal kuliah sore ia biasanya menghabiskan waktu untuk membaca-baca buku sambil persiapan besok pagi untuk mengajar hari berikutnya.

 

Malam harinya Tin tak lupa menyisihkan waktunya untuk memantau pendidikan putra-putranya. Bahkan ia menemani putranya untuk mengaji dan belajar. Untuk urusan pengetahuan agama ini, bahkan ia memanggil guru mengaji ke rumah untuk membimbing anak. Putra-putranya mendapat pengetahuan lewat mengaji kitab kuning dan Al Quran.

 

Ia memanggil guru mengaji buat anaknya sejak lima tahun lalu, ketika anaknya masih di sekolah dasar. Guru mengaji yang dia undang mengajar pengetahuan agama mulai dari hal dasar seperti membaca Al Quran hingga hal-hal pengetahuan agama yang lain. ”Soalnya di sini kan tak seperti di desa. Kalau di desa masjidnya kan untuk kumpulan anak, sekalian buat mengaji. Di sini kan tidak,” katanya.

 

Di mata koleganya, Tin memang dikenal sebagai seorang sosok yang agamis.  Ia aktif dalam kegiatan-kegiatan keagamaan. Seperti pada kegiatan salat tarawih di sekolah, meski harus ditemani putranya. ’’Ia muslimah sejati,” kata Bambang Sudibyo, rekan mengajar di SD Tambakrejo.

 

Bagi Tin bekal pengetahuan agama itu penting. Sewaktu masih kecil, ia rajin membaca Al Quran di masjid dekat rumahnya. Dengan cepat ia khatam. ’’Mengajinya masih pakai oncor daun kelapa yang sudah kering, karena belum ada lampu,” kenangnya.

 

Pentingnya dasar agama yang kuat itu kini ia tekankan pada anaknya. Menurutnya dasar agama itu nomor satu dalam kehidupan sehari-hari. Ia berkeyakinan kalau anak punya dasar agama kuat, banyak hal kurang baik yang bisa dihindari. Dengan agama kuat, anak akan banyak berdoa. Belajar jadi lebih mudah.

 

HOBI BACA DAN OLAHRAGA

 

Di sela-sela kesibukannya Tin  masih sempat menyalurkan hobinya berolahraga, terutama tenis meja. Saat duduk di bangku SD, SMP, dan SPG, Tin  menjuarai lomba tenis meja tingkat kabupaten. Pada Porseni SPG se-Karesidenan Kedu di SPG Van Lith, Muntilan, tahun 1984, ia juara tunggal puteri.

 

”Kemarin terbaru di peringatan Hari PGRI, saya masih juara satu tingkat kabupaten. Tapi kalah di tingkat karesidenan,’’ katanya.

 

Tin juga gemar membaca, apa saja. Ia berlangganan koran. Kalau ada majalah, seperti PGRI, GURU, pasti dilahap habis. Tin gemar membaca dan menulis karya-karya sastra. Ia sempat mengirimkan hasil karyanya untuk ikut lomba, tapi ternyata belum beruntung.

 

Menurut guru yang mengidolakan penulis Gita Cinta dari SMA, Edi D Iskandar, ini ia ingin mencoba lagi bikin cerita pendek dan puisi. ”Saya pernah kirim naskah ke koran Bahari, untuk surat cinta. Dimuat dua kali. Pernah juga dimuat di Kridha. Hadiahnya kaos dan sedikit uang,’’ katanya.

 

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

 

Di Jakarta, sewaktu ikut proses pemilihan guru berprestasi tingkat nasional, Tin mengangkat tema pembelajaran bahasa Indonesia sebagai karya tulisnya. Karya tulisnya berjudul ”Peningkatan Keterampilan Menulis Prosa Deskriptif Melalui Penggunaan Gambar Seri Bagi Siswa Kelas V SD Negeri Tambakrejo”.

 

Karya tulis tersebut berawal dari pengalaman Tin mengajar. Dalam pengamatan sehari-hari sebagai seorang guru, Tin melihat hasil belajar bahasa Indonesia siswa kelas V SDN Tambakrejo masih sangat rendah. Dari tiga kali ulangan, rata-rata nilai kelas masih di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM), yaitu 70.

 

Melihat kondisi tersebut Tin melakukan sebuah penelitian. Penelitian yang bertujuan meningkatkan keterampilan menulis prosa deskriptif dalam pembelajaran bahasa Indonesia bagi siswa kelas V SDN Tambakrejo. Tin mencoba melakukan strategi pembelajaran  melalui penggunaan gambar seri.

 

Gambar seri yang dimaksud adalah lukisan atau tiruan barang, manusia, tumbuhan, dan bentuk lainnya, menggunakan pensil atau alat lain secara bersambungan dan bernomor urut. Gambar seri digunakan untuk membantu menuntun jalan fikiran siswa. ”Dengan gambar seri siswa akan lebih mudah menulis dengan menggambarkan apa yang dilihat pada gambar tersebut,” katanya.

 

Penelitian dilakukan dari Februari hingga Juni 2008. Bentuk penelitian ini berupa classroom action research (penelitian tindakan kelas). Tindakan yang dilakukan terdiri dari dua tindakan dalam dua siklus. Tiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu planning, acting, observing, dan reflecting. Jumlah siswa yang diteliti 32 orang.

 

Setelah dilaksanakan siklus pertama yaitu guru melaksanakan praktik pembelajaran langsung diperoleh hasil pada siklus 1 nilai-rata-rata kelas meningkat menjadi 63. Pada siklus 2 nilai rata-rata menjadi 66. Dari kondisi awal terjadi peningkatan hasil belajar dari 61 menjadi 66.

 

MENJADI SOSOK GURU TELADAN

 

Menjadi guru disadari oleh Tin tak sekadar mengajar ilmu pengetahuan, namun juga dalam hal pendidikan budi pekerti. Karenanya Tin di antara rekan dan muridnya dikenal sebagai guru yang termasuk rewel dalam masalah-masalah tersebut. ”Saya punya keyakinan, sopan santun itu masih merupakan hal yang utama. Kalau saya menjumpai siswa berbicara dengan guru kurang sopan selalu saya tegur, saya berikan contoh yang benar,” katanya.

 

Karena sekolah berada di lingkungan kultur Jawa, di sekolah ia masih sering memakai bahasa Jawa. Ia menekankan para murid memakai kromo inggil, tingkatan tertinggi dalam bahasa Jawa yang dipakai berkomunikasi dengan orang yang dihormati. Tujuannya agar anak masih bisa menghormati guru, minimal dengan berbahasa yang sopan.

 

Siswa yang melanggar sopan santun tidak dihukum, namun hanya sebatas diingatkan.  Ia mencontohkan misalnya ada yang belum potong rambut, ia hanya mengingatkan, ”Besok hari Minggu, siapa yang belum potong rambut”. Dengan cara seperti itu siswa sudah merasa sendiri. ’’Wong anak disuruh maju memperlihatkan kuku yang hitam-hitam saja sudah merupakan hukuman,” katanya.

 


12 March 2009 13:14 WIB

Artikel ini menarik?
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
Loading ... Loading ...

Pena Pendidikan

Tuesday, 16 March 2010

REDAKSI


Iwan Qodar Himawan

Saiful Anam

Dipo Handoko

Eva Rohilah

Fathoni Arief

Kenny

Arien TW

RUBRIK

ANGGOTA

POLLING PEMBACA

EMAIL SUBSCRIBE

Enter your email address:

STATISTIK

KATA KUNCI