Kata Kunci: coaching, Kepala sekolah, leadership
oleh: MF. ARIEF/ Pena
Program coaching semakin banyak diterapkan di sekolah-sekolah. Pendengar yang aktif tidak sekadar mendengar namun juga mengarahkan orang untuk bisa menemukan jawaban atas persoalan yang dihadapi.
John Barr dan Hillary Eade terlibat dalam percakapan serius. Hillary memiliki beberapa permasalahan. Satu demi satu ia sampaikan kepada John. John dengan sabar mendengar, juga mengajukan pertanyaan satu demi satu. Secara tak sadar Hillary mampu menjawab, sekaligus memecahkan permasalahan yang dia hadapi.
Adegan tersebut adalah proses coaching yang diperagakan John Barr, Kepala Sekolah Meadowbrook Primary School dan Hillary Eade dari Manor C of E Primary School, Inggris. John dan Hillary adalah bagian dari tim pelatihan school leadership program yang ditujukan kepada para kepala sekolah di Indonesia. Sebanyak 90 kepala sekolah dan calon kepala sekolah dari berbagai daerah di Indonesia, yang mewakili sekolah-sekolah bertaraf internasional, sekolah kejuruan dan sekolah luar biasa, menghadiri School Leadership Symposium di Hotel Atlet Century Park, Jakarta, awal April lalu.
Kegiatan ilmiah itu merupakan kelanjutan dari pelatihan school leadership program yang telah diadakan pada kurun Agustus 2007-Maret 2008. Pelatihan kepala sekolah di Jakarta itu merupakan kali keempat, setelah digelar di Makassar, Surabaya, dan Bandung.
Melalui pelatihan, para kepala sekolah diharapkan mampu menyusun program tindak lanjut school leadership dan juga sebagai forum evaluasi mengenai hasil dari pelatihan. Bertindak sebagai fasilitator adalah Tom Whittingham dan Liz Townend dari South Gloucestershire Council. Mereka merancang peranan pemimpin di sekolah melalui tiga area, meliputi peningkatan keterampilan kepemimpinan, pengembangan teknik pengajaran secara kreatif (seperti penggunaan berbagai media dan teknologi dalam proses belajar mengajar) dan menyediakan kerangka kerja untuk memperkenalkan dimensi internasional dalam dunia sekolah.
Program tersebut terlaksana atas inisiatif British Council, bekerjasama dengan Direktorat Jendral Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Unit Pelaksana Teknis Depdiknas dan South Gloucestershire Council. Simposium dibuka Margaret Jack, Director British Council, bersama Dirjen PMPTK Dr Baedhowi. Sebagai keynote speaker adalah Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Suyanto, yang menyampaikan materi mengenai manajemen sekolah yang efektif. Presentasi lainnya disampaikan Surya Dharma, MPA, PhD (Direktur Tenaga Kependidikan) dan Sumarna Surapranata, Ph.D. (Direktur Pembinaan, Pendidikan dan Pelatihan)
School leadership merupakan komponen inti dari kegiatan British Council dalam mendukung pendidikan di Indonesia. Para kepala sekolah sebagai kelompok yang memiliki pengaruh dalam membentuk strategi serta peraturan di sekolah, para guru, sebagai kelompok yang dapat melakukan perubahan dalam pengembangan kurikulum dan materi pengajaran.
“School leadership program memiliki keunikan karena melibatkan seluruh aspek sekolah dan menawarkan kesempatan yang berharga bagi para kepala sekolah, guru dan siswa dari Indonesia dan Inggris untuk saling belajar dan bertukar pengalaman,” kata Christopher Palmer, Director Learning and Creativity.
COACHING ADALAH SEBUAH PROSES
John Barr berbagai pengalamannya sebagai kepala kepala sekolah setelah mengikuti coaching program. “Pada saat pertama kali memulainya pasti merasa aneh, karena Anda harus menggali pertanyaan. Itu sebenarnya juga terjadi pada saya dulu,” kata John.
Menurutnya dari peragaan metode coaching tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa pendengar aktif itu tidak hanya mendengarkan saja, tapi juga mengarahkan seseorang untuk bisa menemukan jawaban atas persoalan yang tengah dihadapi.
“Dengan cara seperti ini kita memberikan kesempatan orang yang kita coach untuk memberikan jawaban atas persoalannya sendiri,” kata Mark Dee, Kepala Sekolah South Park Primary School, Inggris. Agar lebih terampil dalam melakukan coaching tambah Mark sebaiknya setiap orang perlu latihan 20 menit sehari.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan tersebut para kepala sekolah dari South Glouscestershire, Inggris juga sempat berkunjung ke beberapa sekolah. Mereka memantau dan melihat seperti apa perkembangan dan hasil dari program school leadership di lapangan. Salah satu yang sempat dikunjungi adalah SLB Al Kautsar Cilegon. Kunjungan di sekolah ini sempat memberikan kesan yang mendalam bagi John Barr salah satu dari mereka.
“Di antara sekolah yang pernah saya kunjungi yang terbaik adalah SLB Al Kautsar Cilegon,” Kata John dengan bersungguh-sungguh. SLB Al Kautsar adalah sekolah yang dipimpin Dra. Elis Aini Handayani. “Beliau merasa tertarik karena kebetulan sekolah yang saya tangani adalah sekolah berkebutuhan khusus di mana di dalamnya ada anak-anak berkebutuhan khusus mulai dari yang tuna wicara, atau tunagrahita,” kata Elis.
Apakah metode coaching itu, sehingga bisa membuat SLB AlKautsar dinilai terbaik menurut “sang pelatih” John Barr? Metode ini berupa pendekatan untuk melakukan satu perubahan. Menurut Tom Wittingham, mereka yang mengikuti program coaching harus memastikan perubahan itu akan terjadi. Caranya dengan melakukan aktivitas coaching. Metode ini memang butuh proses, yang tidak bisa berlangsung cepat. Tom juga tak menampik jika terkadang hambatannya saat peserta coaching mulai merasa turun semangatnya.
“Ketika anda melakukan perubahan pasti ada saat di mana Anda sangat jatuh dan Anda merasa tidak bersemangat, cemas, takut dan sebaginya. Tapi anda yakin bahwa setelah itu perubahan akan sedikit demi sedikit dan akan bertahan. Anda harus kuat dan harus melanjutkan kemitraan di dalam coaching sehingga Anda bisa mencapai perubahan tersebut,” penjelasan Tom panjang lebar.
Metode coaching menurut Tom, bukan pendekatan besar tetapi keterampilan seperti proses seseorang yang akan belajar sepeda. Sebuah perubahan itulah yang menyebabkan Tom sangat senang bekerja di South Gloucestershire.
MEMECAHKAN PERSOALAN SENDIRI
Mereka yang pernah mengikuti pelatihan leadership ini merasakan manfaat yang cukup besar. Seperti yang dirasakan Elis Aini, misalnya. Menurut Elis, ia dulunya selaku pemimpin dalam mengambil keputusan begitu kaku dan hanya mengikuti kata hatinya. Setelah pelatihan, ia memosisikan diri lebih banyak jadi pendengar. Dengan cara seperti itu ia tak lagi hanya mendikte para guru untuk berbuat tapi mengarahkan guru. Justru dari mereka sendiri mampu menemukan cara harus bagaimana memecahkan segala masalah yang dihadapi.
Elis mencontohkan ketika para guru mendapat kesulitan dalam kelas, menghadapi anak harus bagaimana? Ia coba pancing permasalahan. “Saya hanya mengarahkan biar mereka sendiri yang menemukan. Dengan cara seperti ini akhirnya mereka tahu harus melakukan apa supaya anak bisa tertangani dan tujuan yang kita inginkan bisa tercapai,” kata Elis.
Hal serupa juga dialami Drs. H Fatah, Kepala SMAN 1 Bekasi. Ia mengikuti pelatihan school leadership sejak masih menjabat kepala SMAN 5 Bekasi. Sebelum program coaching ia terapkan, ada berbagai permasalahan yang terjadi di sekolahnya. Permasalahan yang dihadapi itu, di antaranya, adanya hambatan komunikasi antara guru serumpun, kompetisi yang kurang sehat di antara para guru, belum berjalannya fungsi MGMP, dan fasilitas IT.
Fatah mulai menerapkan program coaching. “Saya memberikan pemahaman melalui diskusi, apa itu tentang sebuah perubahan. Perubahan itu tidak saya diskusikan dalam sebuah seminar atau sebuah rapat bahwa kita harus berubah tapi melalui sebuah diskusi,” kata Fatah.
Ia mengajak rekan-rekan guru berbagai, dan membahas betapa pentingnya bekerjasama satu dengan yang lain. Begitu juga betapa MGMP ini menjadi satu pusat perubahan di sekolah. Juga pentingnya brand image bahwa SMAN 5 bukan sekolah yang terbaik di kota Bekasi. Raw input-nya 9 sedangkan output-nya 5. Fatah mendorong sebuah keinginan bagi para guru untuk membangun citra bahwa mereka bukan sekolah terbaik di kota Bekasi.
“Langkah lain saya mencoba untuk memfasilitasi guru-guru. Saya mengobrol bareng dengan teman-teman dan secara tidak disadari saya mengumpulkan guru-guru biologi. Ternyata di antara mereka walaupun sudah bertahun-tahun di tempat ini namun belum berkomunikasi dengan baik,” katanya.
Ia juga mencoba memfasilitasi untuk berkomunikasi ke luar. Fatah memiliki partner internal SMAN 1 Tuban. Ia biasa saling menghubungi dan saling mengunjungi untuk melihat kekurangan masing-masing. Tema hubungan dengan SMAN Tuban adalah pemberdayaan MGMP.
Untuk membangun keterbatasan IT, Fatah memberdayakan komputer yang ada. Akhirnya muncullah keterbukaan di antara guru. Mereka mencari hal-hal baru melalui internet. Ada yang mengambil dari materi dari Colorado, Mississippi. “Saya juga kaget ketika tahu temen-temen sudah punya komputer sendiri tanpa dibantu sekolah. Artinya, ada keinginan dari mereka untuk maju. Ada keinginan untuk membangun pendidikan yang lebih baik di sekolah,” kata Fatah.
Setelah program coaching ini dilaksanakan, ada satu perubahan besar: mendengar secara aktif menjadi bagian dari budaya dan kemampuan untuk menggali pertanyaan menjadi bagian dari kehidupan. Praktek coaching bisa membuat mereka lebih reflektif menilai diri sendiri. Juga membuat mereka saling mendukung untuk menghadapi tantangan yang ada.
PEMBELAJARAN DUA ARAH
Menurut Margareth Jack dari British Council Indonesia, satu hal penting ketika para kepala sekolah dari Inggris datang ke Indonesia, jangan hanya dipandang sebagai pembelajaran satu arah. Tak hanya transfer ilmu dari mereka ke guru-guru Indonesia tetapi pembelajaran dua arah.
“Karena Indonesia juga mempunyai hal yang baik yang bisa dipelajari oleh orang lain. Tentunya hal ini tidak akan terlaksana tanpa dukungan dari semua fihak yang telah memberikan dukungan terhadap terlaksananya program ini,” katanya.
Ia berharap semua mempunyai komitmen tinggi untuk melanjutkan kemitraan baik para guru dan kepala sekolah di Indonesia maupun mereka yang ada di Inggris. Tujuan utamanya adalah mengembangkan para siswa di berbagai bidang kemampuan. Dengan memberikan bekal kepada anak didik pada waktu yang akan datang. Baik anak-anak yang di Inggris atau yang ada di Indonesia akan lebih mengerti apa yang terjadi di seluruh dunia.
Dunia global, kata Margareth, telah mendekatkan satu dengan yang lain, meski terpisah jauh negaranya. Untuk itulah dibutuhkan para pemimpin yang punya komitmen tinggi, profesional dan selalu memberi inspirasi.
5 May 2008 11:33 WIB
Wednesday, 7 January 2009
POLLING PEMBACA |