Oleh: Miranti Soetjipto Hirschmann/Pena
Humana Child Aid Society adalah sebuah organisasi non pemerintah (NGO) yang awalnya berbasis di Eropa. NGO ini memulai kegiatannya sejak tahun 1991 yang terfokus pada nasib pendidikan anak-anak pekerja asing di Sabah, negara bagian Malaysia yang berbatasan dengan Indonesia, di Pulau Kalimantan.
Minimnya biaya dan ketidaktahuan mengenai pentingnya dokumen pengenal identitas membuat sebagian besar dari anak-anak itu tak memiliki surat lahir. Ditambah, peraturan pemerintah Malaysia yang membatasi sekolah negeri hanya untuk anak-anak warga negara Malaysia. Otomatis, anak-anak kaum pendatang ini tak bisa mencicipi sekolah negeri. Jumlah anak-anak yang tak memiliki akses mendapat pendidikan formal diperkirakan sekitar 30.000 anak. Mereka tersebar di perkebunan-perkebunan kelapa sawit di Sabah.
Berdasarkan Konvensi PBB tentang hak anak untuk mendapatkan pendidikan, Humana berupaya memberikan pendidikan anak-anak pekerja asing yang berasal dari Indonesia dan Filipina. Maka berdirilah pusat-pusat bimbingan pendidikan, sekaligus menyediakan guru-gurunya.
Mengingat lokasi perkebunan kelapa sawit yang luas dan sulit dicapai Humana menggandeng perusahaan-perusahaan kelapa sawit. Sekolah-sekolah pun diririkan di wilayah perkebunan. Awalnya, mereka menemui kesulitan untuk meyakinkan pihak perkebunan agar mau berperan serta memfasilitasi pusat bimbingan. Dengan semangat tak kunjung padam, akhirnya para pengusaha perkebunan pun berhasil diyakinkan untuk membiayai proyek tersebut. Satu hal yang membuat para juragan perkebunan itu mau bekerjasama: mereka dapat mempekerjakan anak-anak hasil bimbingan Humana. Selain itu, para orangtua pun betah bekerja di perkebunan.
Tahun 1998, empat pusat bimbingan disponsori perusahaan kelapa sawit Hap Seng berdiri. Hap Seng menyediakan fasilitas gedung sederhana di area perkebunan mereka. Tahun 2002, Humana berhasil menarik Kedutaan Besar Finlandia di Malaysia sebagai sponsor tetap.
Saat ini, ada 62 pusat bimbingan yang menampung sekitar 4.340 anak. Tiap bulan jumlahnya terus bertambah. Torben Venning, Ketua Humana mengatakan bahwa keinginannya adalah menyediakah fasilitas pendidikan bagi semua anak. Namun ia menyadari kemampuannnya amat terbatas. “Bila mereka dibawa orangtuanya kembali ke Indonesia atau Filipina, mereka bisa melanjutkan pendidikan yang lebih baik,” katanya dalam pembicaraan via telepon.
Venning menunjukkan fakta, pada beberapa perusahaan kelapa sawit, anak-anak hasil bimbingan Humana pada tahun-tahun awal telah bekerja di perusahaan perusahaan kelepa sawit tersebut.
Tadinya, pusat bimbingan Humana hanya didukung 11 guru yang berasal dari Filipina dan Sabah. Ketika jumlah anak yang berminat mengikuti pendidikan ini terus bertambah, Humana mulai melirik Indonesia. Tahun 2006, Humana berhasil meyakinkan pemerintah Indonesia untuk mengirimkan 51 guru untuk mengajar anak anak di berbagai lokasi pusat bimbingan Humana. Total guru-guru Humana ada 124 orang.
Humana digerakkan oleh anggota dewan lokal yang diketuai oleh Peter Mathisen asal Denmark. Organisasi ini independen, bergerak di bidang kemanusiaan tanpa pengaruh organisasi politik atau agama mana pun. Kegiatannya mendapat ijin dari Departemen Pendidikan Malaysia di Kuala Lumpur. Sekolah-sekolah Humana itu berlabel Pusat Bimbingan.
MIRANTI SOETJIPTO (Sabah, Malaysia)
9 July 2008 15:15 WIB
Wednesday, 20 August 2008
POLLING PEMBACA |