BUKU

Mendidik Sesuai Hak Anak

Kata Kunci: , ,

Oleh: Dipo Handoko/Pena

  • Judul : PENDIDIKAN & PSIKOLOGI ANAK
  • Judul Asli : The Principle of Education and Child Psychologi, terbitan Intisyarat al Nur, Iran, Cetakan pertama, 2002
  • Penulis : Ibnu Hasan Najafi dan Mohamed A Khalfan
  • Penerbit : Cahaya, Jakarta, Cetakan I, Juni 2006
  • Tebal : 305 halaman

Betapa banyak orangtua hanya bisa “memproduksi” anak tapi tak bisa mengelola kewajiban dan memenuhi hak-hak anak. Padahal, Rasulullah tidak pernah berbicara tidak jelas mengenai pendidikan anak.

BUKU saku ini mungkin hanya satu di antara ribuan buku tentang pendidikan dan psikologi anak. Bahkan pembahasan mengenai pendidikan dan psikologi anak banyak ditulis di buku, juga di berbagai media. Media cetak yang bergerak di lingkup pendidikan anak cukup banyak. Simak saja: majalah Ayahbunda, Anakku, Parenting, Parent’s Guide, hingga model tabloid seperti Nakita. Di layar kaca juga bertebaran pembahasan seputar anak.

Karya terjemahan ini menjadi berbeda lantaran ditulis oleh ahli pendidikan dan psikologi muslim. Bertepatan di bulan Ramadhan, sungguh pas kita meluangkan waktu membaca buku ini. Dari pembagian bab pembahasan saja, karya Ibnu Hasan Najafi dan Mohamed A Khalfan ini sudah mencerminkan apa isi buku kecil tapi berbobot.

Mereka membagi dua bahasan besar: pendidikan dan psikologi. Pada bagian pendidikan, dibuka dengan bab “Semua berasal dari sini.” Bab ini orangtua diajak memahami makna kehadiran anak. Orangtua akan merenung saat menyimak pertanyaan-pertanyaan: Apakah kita menyadari hak-hak anak? Sebagai kepala keluarga apakah kita memahami kewajiban kita? pernahkah kita meningkatkan standar intelektual anak kita? Pernahkah kita mencoba menganalisis dan mengevaluasi sikap dan tradisi yang kita wariskan pada anak-anak kita? Apakah semua syarat pembangunan karakter anak sudah terpenuhi?

Berangkat dari pertanyaan-pertanyaan itu, bab selanjutnya lebih dirinci. Dari mengenai kewajiban anak, kewajiban orangtua, mempersiapkan pendidikan, seni mendidik, akhlak dan adab, penghargaan dan penerimaan, cinta dan kasih sayang, pengetahuan dan kemampuan, ketulusan dan keadilan, dan kerja.

Mengenai kewajiban orangtua, penulis menyuguhkan ayat penggugah hati bagi orangtua, Surah Ibrahim ayat 39: Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan padaku di harituaku Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa.

Kewajiban pertama orangtua adalah memberi rasa aman pada anak, dan membentuk intelektualitas seraya memenuhi kebutuhan fisik mereka. Orangtua yang menyiakan anak, membuang, bahkan ada yang membunuhnya, sungguh tak pernah menyimak pesan Quran: Dan tidak ada satu makhluk hidup pun di bumi melainkan Allah yang memberi rezeki.

Pendidikan anak menjadi bagai terpenting dalam kewajiban orangtua. Orangtua bukan semata wajib menanggung biaya keperluan anak, biaya perawatan dan keperluan hidup, tapi yang terpenting adalah mempersiakan masa depan anak yang cemerlang.

Simak riwayat berikut. Dikisahkan di antara kaum Anshar ada orang yang cukup uang dengan beberapa anak. Ketika mendekati ajal, demi mendapat pahala, ia memberikan seluruh harta kekayaannya untuk jalan Allah. Sepeninggal ayah mereka, anak-anak itu hanya bisa bergantung pada orang lain. Rasullah pun bersabda, ”Seandainya aku tahu, aku melarangnya dikuburkan di pemakaman muslim. Orang itu telah memberikan seluruh simpanannya sembari meninggalkan anak-anaknya menjadi pengemis.”

PSIKOLOGI ANAK

Pada bagian psikologi anak, penulis merinci dalam banyak bab. Di antaranya mengajar anak berfikir, perlakukan anak secara dewasa, biarkan anak berbicara, sentuh dan peluklah anak, biarkan anak sebagaimana umumnya, jagalah anak dari kompleks rendah diri, akibat pemberi perintah berulang, pengalaman pertama shalat berjamaah, ajarkan anak tentang waktu, biasakan anak suka membaca, anak dan konsep tentang Allah, dan budaya berbicara kepada Allah.

Ibnu Hasan dan Khalfan mengingatkan mengenai bahaya memberi perintah berulang. Sejumlah indikasi menyebutkan pengulangan perintah, sebagaimana yang menimpa istri, bawahan, karyawan atawa pembantu, berakibat munculnya gangguan jiwa. Studi kasus membuktikan anak yang terbiasa dengan perintah sama yang berulang-ulang kemungkinan besar akan tumbuh dewasa dengan kelemahan lebih besar lagi. Dia kemungkinan besar baru mengabulkan permintaan seseorang hanya setelah diulang berkali-kali meskipun untuk hal kecil dan sederhana saja.

Seseorang akan menjadi pasangan yang kurang perhatian, atau menjadi anak yang tak baik pada orang tua bila terbiasa memerlukan pengulangan permintaan sebelum memenuhinya.

14 May 2008 16:01 WIB

Artikel ini menarik?
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
Loading ... Loading ...

Pena Pendidikan

ARTIKEL TERKAIT

  • None Found

ARTIKEL SEBELUMNYA (ARSIP)

Wednesday, 20 August 2008

REDAKSI


Iwan Qodar Himawan

Saiful Anam

Dipo Handoko

Eva Rohilah

Fathoni Arief

Kenny

Arien TW

RUBRIK

ANGGOTA

POLLING PEMBACA

EMAIL SUBSCRIBE

Enter your email address:

STATISTIK

KATA KUNCI