Kata Kunci: AINAKI, Denny Djunaed, SMK Animasi
Oleh: Vina Firmalia/Dok Penapendidikan
Peminat jurusan animasi makin banyak. Kurikulum standar industri. Mencetak ratusan animator per tahun.
NAMA-nama seperti Doraemon, Tsubasa, Conan Edogawa, dan Hanamichi Sakuragi telah menjadi ikon Jepang dalam perbincangan jagat animasi. Doraemon yang lahir Januari 1970 bahkan hingga kini masih populer. Berkat karya animasi jempolan itulah Jepang dikenal sebagai produsen film animasi, khususnya untuk televisi, yang amat produktif.
Adalah Denny Djunaed, yang “cemburu” dengan keberhasilan animasi Jepang. Sekaligus prihatin dengan perkembangan animasi nasional. Denny, yang juga Ketua Asosiasi Industri Animasi dan Konten Indonesia (AINAKI) tergerak untuk membuat wahana pencetak animator top. Caranya? Ia menggagas berdirinya Sekolah Menengah Kejuruan jurusan animasi.
Gayung bersambut. Idenya klop dengan Gatot Hari Priowirjanto, Direktur Menengah Kejuruan Depdiknas ketika itu. “Depdiknas dan AINAKI juga menggandeng Departemen Perindustrian untuk mewujudkan SMK jurusan animasi,“ kata Gatot, yang kini menjabat Direktur Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri Depdiknas.
Di tahap awal Depdiknas memberi pelatihan kepada guru-guru seni rupa dari sejumlah sekolah yang sudah diseleksi. Instruktur pelatihannya adalah para animator anggota AINAKI. Materi pelatihan disesuaikan dengan kompetensi guru. Usai pelatihan teoritis, para guru diharuskan membuat film animasi dengan durasi sekira 5-8 menit. Biaya pembuatan satu buah film pendek animasi Rp 50 juta. “Alhamdulillah hasilnya bagus,“ kata Gatot.
Jurusan animasi pun dibuka sebagai pilihan studi di SMK begitu melihat kesiapan para guru. Pada Tahun Ajaran baru 2005 lalu, jurusan animasi dibuka di SMKN 5 Bali, SMKN 1 Malang dan SMKN 5 Yogyakarta. SMKN 5 Yogyakarta bahkan dilengkapi 39 unit komputer disain, lengkap dengan aplikasi pembuatan animasi. Peminatnya ternyata cukup banyak. Di tiga SMK tersebut tiap kelas animasi berisi 30-40 murid.
Seleksi masuknya tak sekadar berdasar nilai ujian nasional. Ada tes keterampilan dasar animasi, di antaranya menggambar dan kemampuan aplikasi komputer. “Pada dasarnya kami ingin mengembangkan bakat seni anak-anak Indonesia sekaligus memberikan kesan bahwa membuat kartun itu tidak sesulit yang dibayangkan, “ ujar Gatot.
Hingga saat ini kurikulum yang dipakai SMK animasi berdasarkan masukan dari AINAKI. Kurikulum dibikin sebagai acuan dasar yang telah disesuaikan dengan kebutuhan pasar industri animasi. Sedangkan metode pembelajaran, semuanya diserahkan kepada guru dan sekolah. Depdiknas sendiri memberi rambu acuan standar kompetensi yang disusun bersama dengan Universitas Negeri Jakarta. AINAKI juga rajin memberi materi dan pelatihan kepada guru-guru agar siap teori dan praktik.
Seperti halnya sekolah kejuruan pada umumnya, kenaikan kelas juga berdasar nilai ujian praktik. Di sana, setiap siswa yang menempuh ujian naik kelas diharuskan membuat film pendek animasi. Selain itu, karya mereka juga diadu dalam festival animasi antarSMK. “Kami beri waktu 3 bulan untuk produksi film, semua karakter dan story board dari AINAKI, mereka hanya membuat secara teknis saja,” kata Denny. Ternyata, “Hasilnya bagus untuk ukuran satu tahun belajar animasi.”
Karya siswa SMK itu juga beberapa kali dipajang di kampus-kampus anggota AINAKI. “Kami tunjukkan bahwa hasil dari SMK animasi tak sia-sia. Tentunya daerah mereka juga bangga,” kata Denny.
Rencana ke depan, Depdiknas didukung Departemen Perindustrian dan AINAKI akan membuka SMK jurusan animasi di setiap propinsi. Targetnya, setiap tahun mencetak ratusan lulusan. Semoga tak lama lagi, bermunculan film animasi Wira Sableng, Jaka Tingkir, Si Buta dari Gua Hantu, atawa Brahma Kumbara yang mampu mendepak popularitas Tsubasa dan menyamani animasi keluaran Hollywood.
9 April 2008 01:05 WIB
Saturday, 22 November 2008
POLLING PEMBACA |