PERISTIWA

Membuat Siswa Betah Di Kelas

Kata Kunci: , , , ,

Oleh: Dipo Handoko, Jatmiko, M Fathoni Arief

Beragam model pembelajaran dikembangkan dengan kontrol waktu yang ketat. Jadwal belajar kelas super satu hari menyelesaikan satu materi. Kelas akselerasi menyingkat tiga semester cukup diselesaikan dalam satu tahun. Siswa senang waktunya habis untuk belajar.

PROBLEMATIKA kenakalan siswa rasanya tak pernah surut dari tahun ke tahun. Dari yang sekadar siswa suka kelayapan di mal dan pusat perbelanjaan pada waktu jam belajar hingga tawuran antarpelajar. Sekolah pun dengan berbagai cara mempersempit ruang gerak siswa mencuri waktu bisa mangkir dari sekolah.

Di sejumlah sekolah banyak menerapkan aturan disiplin ketat saat bel masuk sekolah. Mereka yang telat, atawa yang belum nongol di kelas, langsung dilaporkan ke orangtua. Pihak pusat perbelanjaan pun diwanti-wanti untuk tak mengizinkan siswa berseragam masuk mal. Kegiatan ekstra kurikuler usai jam sekolah, menjadi salah satu cara membuat siswa menghabiskan waktu lebih lama di sekolah.

Bahkan kemudian muncul model sekolah sehari penuh alias full day school. Selain membuat siswa betah di sekolah, model sekolah begini juga berupaya mendongkrak mutu siswa dengan memperpanjang jam pelajaran. Namun, hasilnya belum menggembirakan. Lulusan dari full day school belum bisa dibanggakan sebagai model belajar yang jitu meningkatkan mutu siswa.

Model pembelajaran yang lebih “ekstrim” kemudian muncul. Salah satunya adalah Kelas Super. Inilah kelas yang digagas hanya dihuni siswa berintelektual super: minimal IQ 150 dan punya nilai rata-rata di SMP 9,5. Pencetusnya Profesor Dr Yohanes Surya, Ketua Lembaga Pengembangan Fisika Indonesia, yang juga populer disebut sebagai pencetak siswa berprestasi di ajang olmpiade fisika.

Program ambisius berlabel Kelas Super Cinta Negeri itu baru bergulir tahun ajaran 2006/2007. Sebagai kelas super rintisan, Yohanes Surya menggandeng BMW Indonesia membuka satu kelas di SMAN 3 Jakarta. Satu kelas super “hanya” diisi 20 siswa super cerdas. Model pembelajaran kelas super sedikit berbeda dengan kelas reguler. Penekannya lebih pada pelajaran matematika, fisika, kimia, biologi, dan komputer. Sedangkan sebagai pelajaran tambahan bahasa Inggris, agama, olahraga, seni dan etika. Perbedaan yang menyolok, materi di kelas super jauh lebih sulit. “Pelajaran sains kelas I setara dengan tingkat pertama universitas,” kata Ade Cristian Aritonang, staf operasional kelas super.

Siswa kelas super benar-benar tak punya waktu kelayapan di saat jam belajar. Pasalnya, dalam satu hari itu, mereka mesti melahap satu bab pelajaran. Sebagai perbandingan, materi yang sama diselesaikan dalam satu minggu di kelas reguler. Sementara di kelas super, cukup satu hari. Di akhir jam pelajaran langsung diujikan. Tak heran bila, para pengajarnya pun harus jempolan: 60 orang doktor berbagai disiplin ilmu.

Toh, anak-anak jenius ini merasa senang dengan pola belajar itu. “Kalau tesnya tiap hari, belajarnya malah enak,” kata Febrigia Ghana Reynaldi, siswa kelas super. “Di sini mata pelajarannya lebih sedikit, tetapi lebih fokus,” kata Friska Amalia, teman Febrigia menimpali.

Dr Terry Mart, gusu fisika kelas super mengakui anak didiknya memang punya kecerdasan di atas rata-rata. “Beberapa di antaranya sangat cepat berhitung,” kata dosen Departemen Fisika Fakultas MIPA Universitas Indonesia Jakarta ini. Ia tak ragu mengajar murid-muridnya dengan acuan buku-buku perguruan tinggi.

PERCEPATAN 1 TAHUN

Jauh sebelum keberadaan kelas super, lebih dulu berkembang kelas akselerasi. Yakni model pembelajaran khusus SMA, yang mempersingkat waktu belajar siswa dari 3 tahun, menjadi dua tahun saja. Artinya, satu semester di kelas reguler lamanya enam bulan, di kelas percepatan cuma 4 bulan.

Kelas percepatan ini awalnya diujicobakan pada Tahun Ajaran 1998/1999. Kelas akselerasi baru resmi diakui dengan keluarnya beleid Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah pada 2000. Saat itu Depdiknas menetapkan 11 sekolah sebagai penyelenggara kelas akselerasi. Namun pada 2004 saja, tercatat ada 56 kelas akselerasi tersebar di berbagai sekolah di daerah.

Di Jawa Timur, misalnya. SMPN 1 Surabaya adalah sekolah pertama yang menyelenggarakan kelas percepatan. Tahun ini, dari seratusan siswa yang terdaftar, setelah melalui tahap seleksi administratif tinggal puluhan. Akhirnya tinggal tersisa 20an siswa. Hingga kini sudah empat angkatan yang lulus dari kelas akselerasi. Hasilnya pun sesuai target. Nilai Ujian Akhir Nasional (UAN) selalu memuaskan.

Kelas akselerasi di SMPN 1 Surabaya dilaksanakan sejak kelas satu. “Awalnya banyak siswa mengeluh merasa berat,” kata Drs. Dwi Projo Setiawan, pengajar kelas akselerasi SMP N 1 Surabaya. Sebab, materi di kelas akselerasi hanya berupa pembelajaran intinya saja. Siswa dituntut mandiri, sehingga bisa mengembangkan sendiri. Projo Setiawan pun kini tengah melanjutkan studi S-2 di Jurusan Matematika, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Alasannya sederhana, “Supaya tidak kalah dengan siswanya,” kata Setiawan.

Selain model pembelajaran yang lebih menuntut siswa banyak belajar mandiri, kelas akselerasi juga dilengkapi fasilitas penunjang belajar. Misalnya, ruang kelas yang dilengkapi perangkat multimedia. Untuk menjelaskan satu materi, guru bisa saja cuma menyetel DVD player. Di akhir “tontotan film” itu, guru meminta siswanya menjelaskan ulang inti pelajaran.

Di Yogyakarta ada SMA Muhamadiyah 1 dan sekolah unggulan macam SMAn 3 serta SMAN 1 yang telah melaksanakannya. Di beberapa kabupaten di Yogyakarta, juga telah menyelenggarakan kelas akselerasi. Misalnya SMA Negeri 1 Wonosari yang mulai membukanya tahun ajaran ini.

Sementara di Jakarta, kelas akselerasi dibuka di antaranya di SMA 70. Kelas ini dibuka sejak Tahun Ajaran 2000/2001. selain mutlak memiliki kecerdasan IQ minimal 125, siswa kelas akselerasi di sana juga mesti lulus tes task commitment. Yakni motivasi dan tingkat penyelesaian terhadap tugas. “Mereka harus kreatif dan memiliki komitmen tinggi,” kata Dra My Sri Wuryaningsih, koordinator kelas akselerasi SMA 70 Jakarta.

Namun motivasi siswa masuk kelas akselerasi beragam. Misalnya, Riza Putri Aulia Hernowo, siswa kelas XI-Alam-9 SMA 70 Jakarta. Ia hanya ingin cepat lulus, agar bisa segera kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta. “Kuliah di kedokteran kan lama. Jadi di SMA harus cepat selesai,” kata Riza.

Ada pula yang sengaja ingin mengisi waktu dengan sebaik-baiknya. “Kalau terlalu banyak waktu luang, takutnya saya malah goyah,” kata Rachmadani Firmansyah.

Wah, senangnya para guru dan orangtua, bila para siswa seperti Rachmadani. Tak perlu susah payah mendorong murid belajar, atawa memperketat jadwal pelajaran agar siswa tak kelayapan mengisi waktu senggang.

DIPO HANDOKO, JATMIKO (Surabaya), dan M FATHONI ARIEF (Yogyakarta)

*) Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Pena Pendidikan Edisi 10/Tahun 2007

18 June 2008 07:11 WIB

Artikel ini menarik?
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
Loading ... Loading ...

Pena Pendidikan

Saturday, 22 November 2008

REDAKSI


Iwan Qodar Himawan

Saiful Anam

Dipo Handoko

Eva Rohilah

Fathoni Arief

Kenny

Arien TW

RUBRIK

ANGGOTA

POLLING PEMBACA

EMAIL SUBSCRIBE

Enter your email address:

STATISTIK

KATA KUNCI