Kata Kunci: jumlah siswa, michael bloomberg
Oleh: Iwan Qodar Himawan/Pena
Seorang walikota diprotes karena dinilai gagal mengurangi jumlah murid di tiap kelas. Murid yang sedikit bisa meningkatkan prestasi. Banyak yang menilai, korelasinya kecil.
WALIKOTA New York, Michael Bloomberg, dikenal sebagai pengusaha sukses. Jaringan berita Bloombergnya bisa kita monitor terus-menerus sepanjang tahun, menyiarkan perkembangan berita energi, saham, ekonomi makro, dan peristiwa eksekutif yang kadang menghebohkan. Berbekal kepiawaiannya mengendalikan jaringan usahanya itu, Bloomberg sukses merengkuh kursi walikota New York, salah satu kota utama di Amerika Serikat.
Namun untuk urusan pendidikan, Bloomberg belum teruji. Bahkan akhir-akhir ini ia mendapat sorotan tajam. Ia digugat karena tidak sigap menunaikan janjinya untuk mengurangi jumlah murid di tiap kelas. Dalam dengar pendapat di DPRD Kota New York, akhir Februari lalu, Bloomberg banyak dikritik karena dinilai tidak becus menangani pendidikan. Salah satu indikasinya, ia belum bisa meningkatkan rasio guru terhadap murid, seperti ia janjikan.
Pada pekan sebelumnya, Departemen Pendidikan New York mengeluarkan data ihwal pencapaian pendidikan kota metropolitan itu. Disebutkan di situ jumlah murid di tiap tingkat kelas di New York bertambah.
Namun, Pak Bloomberg tenang saja mendapat gempuran. Ia bilang, perdebatan jumlah murid yang ideal di tiap kelas memang merupakan hal menarik. “Tapi, kalau Anda punya duit berlebih, saya lebih suka memberikannya untuk mereka yang bergerak di bidang pelayanan,” katanya. Yang ia maksud adalah guru.
Ia lalu memberi contoh. Di kelas, ada guru dan murid. Para guru dapat melihat banyak murid di depan matanya. Kalau disuruh memilih antara guru yang baik dan kelas yang kecil, Pak Bloomberg lebih suka memilih guru yang baik. “Mereka adalah penentu kualitas hasil pendidikan,” katanya.
KELAS BERJEJAL
Kualitas guru jelas penting. Tapi sebagus apapun mutu seorang guru, kalau murid yang diajar terlalu banyak, ia akan sulit mendapat hasil bagus.
Itulah alasan Catherine Nolan, Ketua Komisi Pendidikan DPRD New York, menyesalkan ucapan Pak Walikota. Ia bilang, dewasa ini terjadi situasi memprihatinkan. Banyak warga New York kelas menengah yang memindahkan anaknya ke kota lain, untuk mencari pendidikan yang dinilai lebih berkualitas. Mereka keberatan karena jumlah murid tiap kelas di New York umumnya berlebihan.
Menurut hitungan organisasi guru kota New York, tiap kelas rata-rata punya jumlah murid 10-60% lebih besar dari kelas di kota tetangga. “Dibandingkan dengan kota metropolitan lain di Amerika, kelas kita paling berjejal,” kata Catherine Nolan.
Sebagai ibu seorang putera yang masih sekolah, Bu Catherine sangat kecewa dengan walikota. Kontrol anggaran dan pendidikan sepenuhnya ada pada walikota. Tapi ia tidak menggunakan kekuasaannya itu dengan baik. “Saya selalu berpikir, warga New York akan memiliki kelas dengan murid sedikit. Ternyata tidak,” kata Bu Catherine.
Anne Lipke, guru sejarah sebuah SMA di Brooklyn, juga keberatan terhadap pernyataan Bloomberg. Ia mengirim
Sebagai guru, Anne merasa bebannya sangat berat.. Sebelum mengajar, harus menulis dengan rinci rencana pelajaran yang harus diberikan. Ia juga harus membuat laporan kemajuan siswa, di samping terus-menerus menjalin kontak dengan orangtua murid. Tugas lainnya, ia harus mengikuti pertemuan untuk tutoring, dan pertemuan para guru. “Prakteknya, kami harus bekerja 60-80 jam seminggu,” kata Anne.
Tahun lalu Anne punya 160 siswa. Ia kewalahan mengoreksi pekerjaan murid. Bila tiap pekerjaan butuh tiga menit, untuk mengoreksinya saja butuh 40 jam sepekan. Itu di luar jam mengajar, pertemuan profesi, dan tutorial.
Bila murid lebih sedikit, perhatian terhadap para murid akan bertambah. Manfaat lain, guru masih punya waktu luang untuk berkumpul dengan keluarga.
Emily Horowitz, ahli sosiologi pendidikan lulusan Yale University, juga keberatan terhadap kebijakan Bloomberg. Tahun 2007, ia melakukan riset terhadap sekolah-sekolah di New York, untuk mengetahui mengapa banyak sekolah yang kurang berkualitas. Ia menemukan jawab: terlalu banyak murid di tiap kelas.
Emily juga melongok negara bagian California, yang menerapkan insentif agar sekolah mau mengurangi jumlah muridnya di tiap kelas. Hasilnya positif. Kalau semula banyak guru yang tidak kerasan mengajar, setelah jumlah murid dikurangi, mereka lebih betah. Angka guru yang mundur jauh berkurang. “Tak bisa dibantah, memangkas jumlah murid di tiap kelas adalah jalan paling mudah untuk meningkatkan kualitas pendidikan,” tulis Emily.
MEMANGKAS JUMLAH MURID
Jumlah murid tiap kelas di New York memang terus membengkak, meski APBN telah menambah US$150 juta tahun lalu, untuk meningkatkan rasio guru terhadap siswa. Namun niat itu tidak tercapai.
Menurut data yang dikeluarkan pemerintah kota New York pada 22 Desember 2008, jumlah murid di kelas tiga (K-3) rata-rata 21,4 siswa per kelas. Padahal, saat mengajukan anggaran, pemerintah menargetkan 20,3. Sementara di kelas 6-8 angkanya 26,3. Padahal janjinya 24,3.
Kata seorang pejabat pendidikan kota New York, peningkatan jumlah murid itu terjadi karena kepala sekolah tidak memanfaatkan dana secara semestinya. Misalnya, uang yang dianggarkan untuk menambah guru atau kelas, malah digunakan membeli fasilitas sekolah yang lain. “Rencana pemangkasan jumlah murid pun terganjal,”’ kata si pejabat.
Garth Harris, pejabat New York yang mengurusi ukuran kelas di New York mengatakan, pengurangan jumlah murid di tiap kelas bukan masalah simpel. Tiap sekolah memiliki kualitas berbeda-beda. Orangtua cenderung membawa anaknya ke sekolah yang bermutu bagus. Tak jarang di sekolah favorit kelasnya sampai berjubel, demi menampung keinginan orangtua.
“Apakah kita harus membatasi keinginan orangtua yang ingin anaknya mendapat pendidikan di sekolah bermutu?” tanya Gerth.
KELAS KECIL TOP 10
Sebaiknya tidak terlalu banyak murid dalam satu kelas. Idenya sederhana, biar guru bisa mengontrol muridnya dengan baik. Inilah yang disampaikan Profesor Dan Goldhaber, guru besar ilmu pendidikan di University of Washington, Amerika Serikat. “Begitu masuk kelas, guru langsung tahu siapa saja yang hadir di kelas, dan siapa yang tidak masuk,” kata Profesor Goldhaber.
Ia tidak membantah bahwa kualitas guru merupakan hal penting. Tapi, katanya, kualitas guru tidak datang begitu saja. Mereka harus dilatih. Selain itu, kemampuan guru menguasai para murid juga ada batasnya.
Profesor Goldhaber mengutip studi di Tennesee, Amerika Serikat, pada 1985-1989, yang dilanjutkan pada 1999, yang dipandang sebagai salah satu penelitian paling berpengaruh mengenai jumlah murid dalam kelas.
Penelitian yang dilakukan di
Ditemukan, mereka yang berasal dari kelas lebih kecil prestasinya jauh lebih bagus ketimbang yang di kelas besar, baik untuk kulit putih, minoritas, dan yang tinggal di manapun. Di kelas kecil jumlah murid yang kesulitan menerima pelajaran lebih sedikit dibanding yang di kelas besar.
Pada 1989 akhir, dilakukan penelitian ulang untuk mengecek pengaruh ukuran kelas terhadap prestasi. Hasilnya tak berubah. Di kelas 4, murid dari kelas lebih kecil tetap berprestasi lebih bagus ketimbang yang dari kelas besar.
Setelah itu dilakukan penelitian lanjutan pada 1990. Berdasar temuan sebelumnya, Tennessee memberlakukan kelas kecil di wilayah yang selama ini dikenal prestasinya jelek. Dalam waktu singkat, prestasi sekolah itu meningkat, dari hampir mencapai dasar ke menengah, untuk pelajaran matematika dan membaca.
Pada 1999, peneliti membuat riset lebih jauh, kali ini untuk tingkat SMA. Murid dari kelas kecil hampir semuanya lulus tepat waktu, dan angka drop out-nya jauh lebih sedikit ketimbang yang dari kelas besar. Mereka jauh lebih banyak yang masuk top 10% jajaran atas ketimbang yang dari kelas besar. Nilai di ujian negara juga jauh lebih bagus daripada yang dari kelas besar. Penelitian di tempat lain menunjukkan hasil serupa.
KELAS KECIL PRESTASI BESAR
Para penyokong kelas kecil terus berkampanye agar ide “kelas kecil prestasi besar” diterima pemerintah. Di antaranya Federasi Guru Amerika. Menurut organisasi ini, pengurangan jumlah murid di dalam kelas akan memacu peningkatan prestasi siswa. Di samping itu, ada sejumlah manfaat lain.
Suasana kelas membaik, karena guru bisa memberi perhatian personal kepada para murid. Kegaduhan di dalam kelas berkurang. Guru mempunyai waktu lebih banyak untuk mengetahui para murid, sehingga bisa memberi pertolongan ekstra. Masalah disiplin juga jauh lebih sedikit. Sedikitnya pelanggaran disiplin membuat guru punya waktu lebih banyak untuk mengerjakan hal lain yang lebih produktif.
Kelas terlalu kecil, misalnya di bawah 10 orang, juga dinilai kurang bagus. Idealnya menurut organisasi ini, antara 15-19 murid per kelas. Penerapan kelas kecil disarankan terutama di wilayah masyarakat miskin dengan kinerja sekolah yang jelek. Di samping itu, pasokan guru yang berkualitas juga mencukupi.
****
Dalam prakteknya, pemberlakuan kelas kecil tidak otomatis meningkatkan kinerja. Ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi. Paling penting adalah kualitas guru plus pengalamannya dalam mengajar.
Sejak penelitian Tennesee itu, sejumlah negara bagian di Amerika menerapkan kelas kecil, sekitar 20-an murid, demi meningkatkan prestasi. Hasilnya ternyata tidak seragam.
Pada 1996, negara bagian California menerapkan sekolah anggaran ekstra $1.000 untuk tiap murid, diberikan bagi sekolah yang membuat kelas maksimal 20 orang. Untuk itu, negara bagian langsung merekrut 28.000 guru baru, demi meningkatkan rasio guru dengan siswa.
Kebijakan itu diteliti pada 2002 oleh Public Policy Institute of California. Guru-guru yang baik ternyata meninggalkan kawasan miskin, mereka lebih suka mengajar di wilayah lebih makmur. Duit insentif yang dikucurkan pemerintah lebih banyak mengalir ke wilayah ini. Prestasi para murid di kelas kecil juga tidak lebih baik dibanding yang dari kelas besar.
Di kota New York, Departemen Pendidikan membandingkan prestasi para murid berdasar jumlah ukuran kelasnya, selama dua tahun berturut-turut. Ditemukan, mereka yang nilainya bagus belum tentu dari kelas kecil. Korelasi antara jumlah murid dengan prestasi siswa sangat kecil.
Namun, sejumlah pengamat pendidikan, demikian pula Asosiasi Guru Amerika Serikat, mendesak pemerintah membatasi jumlah murid dalam kelas. Sebaiknya di bawah 20 orang, agar guru bisa mengajar dengan lebih baik. Mereka bisa mengenal para murid, satu demi satu.
Diane Whitmore, guru besar kebijakan pendidikan University of Chicago, Amerika Serikat, mengatakan, kelas kecil membuat guru lebih suka mengajar. “Tentu kita juga butuh guru yang berkualitas. Tapi untuk mendapatkannya bukan hal yang mudah,” kata Bu Diane.
Bila jumlah murid sampai berjubel, kita pun sepakat, para guru pasti kewalahan.
IWAN QODAR HIMAWAN
Sumber: The New York Times, BBC
SKOTLANDIA MENUNTUT
Desakan untuk memperkecil jumlah murid juga muncul di Skotlandia. Pada Mei 2008, organisasi guru didukung tanda tangan 80.000 penduduk, mengirim petisi ke Departemen Pendidikan. Mereka mendesak, jumlah murid tiap kelas untuk tingkat sekolah dasar kelas 1-3 maksimum 18 orang. Untuk tingkat berikutnya, hingga sekolah menengah, maksimum 20 orang.
Berbagai penelitian ditunjukkan. Termasuk yang dilakukan oleh pusat riset pendidikan Glasgow University, yang menyebutkan bahwa jumlah murid sangat berpengaruh terhadap kualitas pendidikan. Kata Wakil Presiden Persatuan Guru Skotlandia, Helen Connor, seorang murid harusnya tetap dididik di kelas kecil. “Begitu Anda memindahkannya ke kelas lebih besar, Anda rugi besar,” katanya.
Helen Connor mengakui, masih terdapat perdebatan soal berapa idealnya jumlah murid dalam satu kelas. Namun, katanya, tak bisa dibantah bila kelas yang berjubel akan membuat suasana tidak nyaman. Pemberian pelajaran juga tidak efektif.
Sumber: BBC
Box 2:
MENEBAK ANGKA AJAIB
JUMLAH murid dalam satu kelas di
Di Jepang, jumlah murid dalam satu kelas hampir sama dengan di Indonesia, sekitar 40 orang. Bahkan ada pula yang sampai 50. Namun, prestasi belajar murid Jepang di berbagai bidang studi berada di tataran atas di antara para murid di dunia. Bahkan, para guru di Jepang membanggakan, jumlah murid yang banyak merupakan suatu berkah. Murid-murid bisa dibagi dalam berbagai kelompok. Mereka bisa berlatih tanggungjawab di situ.
Ahli pendidikan Profesor Tom Loveless, guru besar kebijakan pendidikan Universitas Harvard, Amerika Serikat, di koran Seattle Post mengungkapkan, berdebat mengenai jumlah murid yang ideal dalam satu kelas seperti menebak keajaiban angka. Tak pernah ada angka mana yang paling ideal.
Ia memberi contoh. Sebelum menjadi guru besar, ia pernah menjadi pengajar di sekolah menengah selama 10 tahun. Muridnya bervariasi, 29-35 orang. “Dari sisi prestasi, tak ada bedanya,” katanya.
Tom Loveless lalu menunjuk sejumlah negara di Asia, yaitu Korea, Jepang, dan China, yang jumlah murid di tiap kelas di atas 40. “Nilai mereka jauh lebih bagus dibanding anak-anak Amerika,” katanya.
Sumber: Seattlepost.com
24 April 2009 09:03 WIB
Saturday, 13 March 2010
POLLING PEMBACA |