DASAR

Drs Agus Triyanto, MMPd, Kepala SMP Negeri 1 Purbalingga: Melejitkan Prestasi Sekolah dan Purbalingga

Kata Kunci: , ,

img_4921.jpg

Oleh : Dipo Handoko/Pena

Berhasil menjalin mitra dengan kepala sekolah di Singapura, Korea dan Australia. Membagi program studi menjadi kelas reguler, intensif, immersi, dan sekolah bertaraf internasional (SBI). Merangkul alumni, pejabat pemerintah, legislatif, dan pers. Program luar sekolah mengasah jiwa sosial siswa.

TAK pernah terbayangkan oleh Farahditya Putri Purwandini, bisa bersekolah di Bukit Panjang Government High School di Singapura. Gadis belia berparas ayu asal Purbalingga itu bertolak ke Singapura, 29 Maret lalu. Dalam satu pesawat Boeing MI213 milik maskapai SilkAir, Farah terbang bersama Aji Bagus Panuntun, Arina Pramudita Triasti, Dinar Ajeng Pratiwi, Taufik Widi Nugroho dan Zuhry Abdi Rahmani, yang juga asal Purbalingga, dan sama-sama akan menuju ke Bukit Panjang Government High School.

Hari pertama bersekolah, mereka jalani pada 31 Maret. “Rasa takut, deg-degan, cemas, khawatir, tapi bercampur senang,” kata Arina, kala pertama menginjakkan kaki di sekolah yang jumlah siswanya sebanyak 1.500 siswa itu.

Bukit Panjang Government High School (BPGHS) adalah salah satu dari 20 sekolah terbaik di Singapura. Sekolah ini mempunyai 39 kelas, yang didukung 71 guru dan 19 pegawai nonpengajar. Sekolah yang berdiri pada 1960 ini, sejak 1994 berstatus sekolah otonomi.

Meski senang bersekolah di sana, Farah dan lima temannya itu, akhirnya pulkam alias pulang kampung ke Purbalingga, 5 April lalu. Lho? Farah dan teman-temannya memang tidak sekolah beneran di Bukit Panjang. Mereka merasakan bersekolah di sana selama sepekan dalam rangka program Kunjungan Belajar.

Belum banyak sekolah yang telah menjalin kerjasama dengan sekolah di luar negeri seperti yang dilakukan SMP Negeri 1 Purbalingga, Jawa Tengah, tempat Farah dkk bersekolah. Selain mengirim 6 siswa, terbang bersama mereka adalah Wasis Andri Wibowo (ketua program studi Sekolah Bertaraf Internasional, guru bahasa Inggris), Yohana Kristianti, SSi (ketua program studi Immersi, guru biologi) dan Nurhadi Santoso, SPd (ketua research and development, ketua program studi intensif, guru matematika).

Kegiatan kunjungan sekolah ke Singapura itu tak lepas dari upaya sang kepala sekolah, Drs Agus Triyanto, MMPd, yang selalu melakukan berbagai terobosan peningkatan mutu sekolah. “Saya tidak hanya ingin melejitkan prestasi sekolah, tapi juga melejitkan Purbalingga,” kata Agus Triyanto yang diangkat menjadi kepala SMP Negeri 1 Purbalingga pada 12 Januari 2006.

Kunjungan siswa dan guru ke Bukit Panjang berawal dari pertemuan Agus dengan Lee Seng Hai, Kepala Bukit Panjang Government High School di Singapura. Ia memanfaatkan kunjungan ke Singapura bersama para kepala sekolah mengikuti program Direktorat Tenaga Kependidikan Ditjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Depdiknas, akhir 2007 lalu. Bahasa Inggrisnya yang fasih menjadi nilai tambah tersendiri bagi Agus. “Saya biasa chatting untuk menjalin komunikasi. Ini tadi baru saja ngobrol dengan kepala sekolah di Jurong, Singapura,” kata Agus, ketika ditemui awal April lalu.

Agus dan Lee sepakat saling mengunjungi sekolah masing-masing. Bukit Panjang ke Purbalingga, awal Februari lalu. Kehadiran rombongan Bukit Panjang bahkan disambut Bupati Purbalingga Drs H Triyono Budi Sasongko, M.Si. Acara penyambutan yang meriah dipusatkan di Pendopo Kantor Bupati Purbalingga.

Pertemuan Agus dan Lee Seng Hai menghasilkan kesepakatan Right of Discuscusion, yang berisi 4 klausul. Intinya, masing-masing sekolah akan saling mempermudah koordinasi di bidang pendidikan, budaya, seni, sains, bahasa, agar siswa dan guru bisa mengembangkan pengetahuan.

Selain dengan Bukit Panjang, Agus juga menjalin hubungan dengan Anglican High School, Greendale Secondary School, Bukit Merah Government High School, Jurong Secondary School, dan Educational Assessment Australia, The University Of New South Wales. Rencananya, bulan Juli-Agustus nanti, kepala tata usaha, selain guru dan siswa, yang akan mengunjungi kembali Buki Panjang di Singapura.

PENDEKATAN BERAGAM KALANGAN

Agus Triyanto dipercaya memimpin SMP Negeri 1 Purbalingga, dengan bekal pengalaman sebagai kepala sekolah di SMP Negeri 2 Karanganyar (1999-2003) dan SMP Negeri 1 Kaligondang (2003-2006). Memimpin sekolah terbaik di Kabupaten Purbalingga, bukan berarti pekerjaan Agus ringan. “Dulu, boleh dibilang dari sepuluh artikel di koran tentang SMP Negeri 1 Purbalingga, tujuh sampai delapan isinya kasus,” kata Agus.

Kasus yang dimaksud Agus bukan perkara hukum atau kriminalitas. Biasanya hanya masalah seputar siswa atau guru. Misalnya, berita yang menilai sekolah tidak berpihak pada siswa miskin, gara-gara sekolah menolak permohonan orangtua siswa yang meminta keringanan biaya. Anggota DPRD bersuara keras mengecam sekolah.

Padahal, keputusan menolak permohonan keringanan biaya itu dengan alasan orangtua siswa adalah guru SMA berstatus pegawai negeri sipil. “Di mata masyarakat, pegawai negeri dinilai cukup,” kata Agus menjelaskan. Agus membandingkan dengan seorang siswa yang orangtuanya pemulung, yang tidak mau digratiskan. Sang orangtua tetap berkeras membayar sesuai kemampuan, agar anaknya tidak malu.

Agus mengawali kepemimpinannya dengan merombak citra sekolah di mata dunia luar. Ia melakukan pendekatan kepada pejabat kabupaten, anggota dewan, orangtua siswa, tokoh masyarakat dan media massa. Kerjasama yang baik juga terbina dengan komite sekolah. Komite sekolah beranggotakan 9 orang, terdiri dari unsur pejabat legislatif, pejabat kabupaten, organisasi profesi, pengusaha dan lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Komite sekolah berjalan beriringan dengan kebijakan sekolah. “Empat pilar kebijakan pemerintah Purbalingga itu pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan kesehatan. Kami berusaha menjadikan pendidikan menjadi pahlawannya anak bangsa Purbalingga,” kata Sidik Purwanto, Kepala Dinas Catatan Sipil Kabupaten Purbalingga, salah seorang anggota Komite Sekolah.

Pertemuan anggota komite sekolah rutin dilakukan. Mereka membahas program dan aspirasi sekolah. Misalnya, keinginan sekolah menambah lahan dan bangunan. Komite sekolah melobi bupati Purbalingga. Hasilnya, pemerintah kabupaten memberikan lahan yang dulunya ditempati kantor Badan Kepegawaian Daerah –kebetulan berdampingan letaknya dengan sekolah. “Kerja komite sekolah yang paling rutin adalah pemeriksaan sekolah sehari-hari. Anggota komite biasa datang setiap hari ke sekolah melihat rencana kegiatan sekolah sampai administrasi keuangan,” kata Sidik.

Sejak berstatus rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI), pengelolaan sekolah tidak lagi ala kadarnya. SMP Negeri 1 Purbalingga ditetapkan sebagai rintisan SBI melalui SK Direktur Pembinaan SMP, Ditjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, bertanggal 14 Maret 2007. Status rintisan SBI diraih bersama 19 SMP lainnya di Jawa Tengah, dan 99 SMP lain se-Indonesia.

Lahan sekolah yang cuma 7000-an m2, memang belum mencukupi seperti yang dikehendaki standar luas SBI, yang sekira 15.000 m2. Dengan tambahan lahan milik Badan Kepegawaian Daerah tersebut, luas sekolah nantinya mencapai lebih dari 10.000 m2.

Ketika Forum Tenaga Kependidikan berkunjung ke sekolah, kondisinya tengah dalam kesibukan berbenah. Sejumlah bangunan tengah dalam pembangunan. Master plan pembangunan sekolah sudah disusun, yang menurut Agus, bakal rampung dalam lima tahunan.

Menurut hitungan, pembiayaan pendidikan siswa berkisar Rp 150.000/anak setiap bulannya. Namun, tidak semua siswa bisa membayar sebesar itu. Besarnya SPP disesuaikan dengan kemampuan orangtua siswa. Dari 678 siswa, sekitar 60 orang termasuk dalam golongan yang mendapat keringanan, 10 orang lainnya mendapat fasilitas gratis tanpa dipungut biaya. Sekira 60% pembiayaan sekolah berasal dari kas pemerintah kabupaten. Sisanya, berasal dari Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Direktorat Pembinaan SMP sebesar Rp 400 juta, pemerintah provinsi Jawa Tengah sebesar Rp 200 juta, dan partisipasi masyarakat.

MELOMPAT DI SEPULUH BESAR

Pembenahan di dalam dilakukan Agus Triyanto dengan merombak pengelolaan kelas. Ia memilah siswa berdasarkan kemampuan akademis. Maka lahirlah empat program studi yang masing-masing dipimpin seorang guru, yakni kelas reguler, kelas intensif, kelas immersi, dan kelas SBI.

Kelas immersi hampir sama dengan kelas SBI. Kelas ini juga menggunakan pengantar dwi bahasa dalam kegiatan belajar mengajar untuk mata pelajaran bahasa Inggris dan MIPA. Kelas intensif diperuntukkan buat kelompok siswa yang perlu tambahan pembelajaran secara khusus. Dari total 21 rombongan belajar (rombel), kelas SBI sebanyak 5 rombel, yang semuanya kelas 7. Kelas immersi ada 4 rombongan belajar, satu kelas intensif, sisanya kelas reguler.

Tiap rombel rata-rata terdiri dari 33 siswa. Setiap kelas selain dibimbing seorang guru walikelas, masih mendapat bimbingan enam guru pamong. “Tugas guru pamong mengamati siswa sehari-hari, membimbing dan memberi dorongan,” kata Agus menjelaskan. Artinya satu guru pamong memberi bimbingan kepada 5-6 siswa. Soal seragam yang tidak rapi pun masuk bagian tugas guru pamong.

Bagian research and development yang diketuai Nurhadi Santoso, SPd, punya andil penting. Sejak dibentuknya R&D pada 2004, berbagai hal baru mengenai kurikulum, metode pembelajaran, atau sistem penilaian menjadi santapan mereka.Terbentuknya R&D berawal saat format nilai era Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dikenalkan pada 2004. “Agar guru tidak terbebani dengan format pengolahan nilai, dan kesulitan menyusun RPP (rencana pelaksanaan pembelajaran). Kami membuat database siswa yang bisa diakses semua guru,” kata Nurhadi, yang juga guru matematika ini.

Bagian R&D yang posisinya sebagai pembantu langsung wakil kepala sekolah ini juga yang mengkaji keperluan fasilitas, model pengajaran seperti moving class, atau pembagian kelas berdasar tingkat kemampuan. Yang paling mutakhir, R&D mengelompokkan siswa kelas 9 yang Mei ini mengikuti ujian nasional ke dalam rumpun bahasa dan rumpun MIPA. Tujuannya, agar siswa nilainya hanya bagus di bahasa, bisa ditingkatkan lagi rata-rata nilainya untuk matematika dan IPA. Sebaliknya siswa yang sudah bagus di matematika dan IPA, digenjot nilai bahasanya. Pemberian tambahan pelajaran diberikan tiga kali dalam sepekan, pukul 13.30-15.30. Setiap pertemuan mempelajari dua mata pelajaran, masing-masing 60 menit jam belajar.

Inovasi pengelolaan sekolah ala Agus Triyanto itu terbukti mendongkrak prestasi sekolahnya. Di awal kehadirannya, ranking nilai ujian nasional SMP Negeri 1 Purbalingga di Jawa Tengah berkisar pada posisi ke 35-an.

Pada ujian nasional 2006, ranking mereka melompat menjadi nomor 10 di Jawa Tengah. Kalau di Kabupaten Purbalingga, tetap nomor satu dibanding 46 sekolah negeri dan 17 sekolah swasta. Rata-rata nilai ujian nasional sekolah 9,04. Sebanyak 70 siswa meraih nilai 10 untuk matematika.

Tahun 2007 lalu, peringkat sekolah agak menurun, anjlok posisi ke-23. “Kami disalip sekolah-sekolah swasta berlabel internasional, yang siswanya hanya sedikit,” kata Agus. Tapi ranking ini pun jauh sekali di atas sekolah-sekolah di Purbalingga, yang rata-rata berada di posisi di atas 300-an di Jawa Tengah.

Siswa juga mampu unjuk gigi dalam kejuaraan. Di antaranya yang diraih Eprina Eksa Gutami, yang meraih medali perak International Competetitions and Assessments for Schools (ICAS) 2007.

DIPO HANDOKO (Purbalingga)

 

NALURI SANG KEPALA SEKOLAH

Jika ingat masa remajanya, Drs Agus Triyanto, MMPd, tak percaya kini ia jadi kepala sekolah. Asal tahu saja, di usia belasan, saat ia duduk di bangku Sekolah Pendidikan Guru (SPG) di Kudus, kota kelahirannya, ia termasuk siswa yang bandel. Kenakalan Agus muda karena ia sebenarnya ingin masuk SMA dan melanjutkan kuliah.

Di SPG, Agus yang belajar semaunya toh tetap menjadi yang terbaik. Hingga suatu ketika saat kelulusan, seorang gurunya berpesan kepada Agus: Kamu pintar bahasa Inggris, sebaiknya kamu teruskan kuliah. Ayahnya juga memintanya meneruskan kuliah. Karena keterbatasan uang, Agus memilih D-3 Pendidikan Bahasa Inggris IKIP Semarang.

Berkah menaunginya, meski ia sempat kesulitan membiayai kuliahnya di tahun pertama. Ia mengajar privat bahasa Inggris untuk membiayai kuliahnya. Tamat kuliah pada 1988, selang setahun Agus diterima sebagai guru PNS dan ditempatkan di SMP Negeri 1 Padamara, Kabupaten Purbalingga. Jiwa kepemimpinannya dan pemikirannya yang maju, membuatnya diangkat menjadi wakil kepala SMP Negeri Padamara, setelah mengajar 6 tahun.

Kariernya terus menanjak. Di usia muda, 33 tahun, ia diangkat sebagai Kepala SMP Negeri 2 Karanganyar. Di sinilah ia dijajal kepemimpinannya. Peringkat SMP Karanganyar berada di posisi ke-38, dari total 34 SMP negeri di Purbalingga. Guru-guru di sana boleh dibilang “guru buangan” karena kinerjanya dinilai kurang. Siswanya pun hanya pilihan terakhir setelah madrasah penuh.

Ia meminta dukungan kepala desa dan pihak terkait di kecamatan Karanganyar. Agus tak segan meminta bantuan preman terminal, tak jauh dari sekolah. Kepada para preman ia meminta agar melarang siswa SMP Karanganyar nongkrong di terminal dan mabuk-mabukan sepulang sekolah. “Kita tidak bisa sendiri. Ada naluri untuk merangkul banyak pihak. Semakin tinggi kualitas sekolah, semakin banyak kabel-kabel untuk mendukung kerja saya,” kata Agus berfilosofi.

Perlahan namun pasti, selama empat tahun ia memimpin Karanganyar, peringkat sekolahnya meroket tajam. Tahun-tahun berikutnya naik menjadi 36, 27, dan terakhir di posisi ke-17 dari 42 sekolah negeri, sebelum Agus dipindahtugaskan menangani SMP Negeri 1 Kaligondang, pada 2003. Lulusan terbaik di SD kecamatan, tidak pergi ke mana-mana lagi. Pilihannya hanya satu: SMP Negeri Karanganyar.

Tantangan kedua sebagai kepala sekolah dihadapi Agus di SMP Negeri 1 Kaligondang. Sekolah ini tergolong kelompok menengah di Purbalingga. Kelemahan yang mencolok adalah para gurunya kebanyakan tidak punya komitmen mengajar. Sekali lagi, Agus membuktikan mampu menyulap peringkat 17 menjadi posisi terbaik ke-3 di Purbalingga. Capaian itu diraih dua tahun berturut-turut, sebelum ia dipercaya memimpin SMP Negeri 1 Purbalingga, sekolah terbaik di sana.

Lagi-lagi, tangan dingin Agus Triyanto didukung para guru berkualitas, dan komite sekolah yang berperan besar, sekolah terbaik Purbalingga itu melompat tinggi di Jawa Tengah. Apa resepnya? “Pemberdayaan, profesional, dan komunikasi yang baik,” katanya.

Berpegang pada konsep pemberdayaan, Agus tidak campur tangan urusan metode pembelajaran guru. ”Teknik pembelajaran yang paling terbaik adalah yang paling tepat,” katanya. Jika sang guru tidak bisa berargumen ketika prestasi siswanya anjlok, barulah dibahas bersama bagaimana mencari solusinya.

Jika guru telah diberdayakan, dengan sendiri ada tuntutan guru bisa lebih profesionalis. “Guru sudah benar-benar memahami tugas utamanya, dari merencanakan, hingga melaksanakan pengajaran,” kata Agus.

Komunikasi yang baik, memang terbukti mampu mendorong pesatnya kemajuan sekolah. Cita-citanya melejitkan Purbalingga, satu persatu tercapai.

DARI SABATICAL LIFE HINGGA OUTBOND

Boleh jadi ciri khas ini membedakan SMP Negeri 1 Purbalingga dengan sekolah lain. Di sana, ada beragam kegiatan luar sekolah yang rutin dilaksanakan. Kegiatan itu adalah home stay, sabatical life, community service, life skill, conversation, outbond, hunting tourist, interview, dan journalistics.

Seperti yang dilakukan siswa kelas 7 dan 8, pada waktu luang karena ada ujian semester genap kelas 9, mereka mengikuti kegiatan bertajuk Sabatical Life dan Community Service. Pada 25 Maret lalu, siswa kelas 8 Immersi, mengikuti kegiatan community service dengan mengunjungi dan belajar langsung tentang proses pembelajaran di SLB Negeri Purbalingga. Siswa kelas intensif mengunjungi sejumlah panti asuhan di Purbalingga.

Sementara siswa reguler yang jumlahnya banyak, mendapat tugas interview dan journalistics. Semua siswa diminta mewawancarai orang dengan profesi tertentu. Setelah itu mereka diminta menulis hasil reportase.

 

 

 

 

27 May 2008 07:55 WIB

Artikel ini menarik?
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
Loading ... Loading ...

Pena Pendidikan

Wednesday, 20 August 2008

REDAKSI


Iwan Qodar Himawan

Saiful Anam

Dipo Handoko

Eva Rohilah

Fathoni Arief

Kenny

Arien TW

RUBRIK

ANGGOTA

POLLING PEMBACA

EMAIL SUBSCRIBE

Enter your email address:

STATISTIK

KATA KUNCI