Kata Kunci: GURU, Penulis, SMA 8 Yogyakarta
Oleh: MF Arief
Mengemas Bahasa Indonesia dalam beragam model pembelajaran. Dari perangko menjadi puisi dan cerpen. Sejumlah novel teenlit lahir.
PERANGKO, terutama bagi penggemar filateli, menjadi barang berharga. Namun, banyak orang kini semakin sedikit berurusan dengan perangko. Maklum, fungsi perangko sebagai alat penunjang komunikasi via
Meski perangko semakin berkurang penggunanya, bagi siswa-siswa SMA Negeri 8 Yogyakarta, justru menjadi ilham lahirnya sejumlah karya tulis. Tak lain berkat sang guru bahasa Indonesia, Drs Moch. Nurrachmat Wiryosutedjo, MHum. “Saya memang berharap banyak, siswa bisa menolong dirinya sendiri dengan menulis,” kata Nurrachmat, lulusan S-2 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada,
Tengok saja pembelajaran di kelas Pak Guru Nurrachmat di SMA Negeri 8 Yogyakarta. Suatu ketika, masing-masing siswa diminta membawa
Pembelajaran dengan perangko itu pula yang mengantarkan Nurrachmat menjadi Juara Harapan II Lomba Guru Kreatif di Yogyakarta, 2000 lalu. Penghargaan lain, sebagai Juara III Lomba Guru Kreatif Tingkat Nasional tahun 2000. Kala itu, ia mengusung metode pembelajaran puisi dikaitkan dengan keimanan dan karakter. Terakhir, dialah jawara Guru Kreatif Tingkat Nasional Tahun 2005.
IMPROMPTU HINGGA FOIS
Nurrachmat yang juga Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan ini juga pernah menggulirkan metode bertajuk impromptu (tanpa persiapan). Model belajar yang satu ini meminta siswa keluar kelas dalam waktu satu menit. Dalam tempo singkat itu, masing-masing murid diwajibkan mengambil satu benda yang bisa dibawa masuk ke dalam kelas. Nah, setelah diberi waktu sekira 2 menitan, para siswa diminta menulis bertema benda itu tadi. Boleh cerpen, naskah drama, puisi atau karya ilmiah atawa esay.
Pembelajaran made ini Nurrachmad lainnya adalah metode FOIS alias Fakta, Opini, Imajinasi, dan Sinopsis. Metode ini spesial untuk mendorong siswa membikin cerpen. Gambaran sederhananya begini. Mulanya siswa diminta menulis mengenai fakta dalam satu paragraf. Setelah itu diminta membuat opini berdasarkan imajinasi. Kemudian, masing-masing murid diminta berimajinasi berdasarkan fakta dan opini yang mereka tulis sebelumnya. Baru di bagian akhir siswa diminta membuat sinopsis, dilengkapi penokohan, setting, dan konflik. Jadilah cerpen. Metode FOIS ini yang mengantar Nurrachmat menjadi kampiunnya guru kreatif nasional tahun 2005 lalu.
Dari belajar membuat cerpen dengan FOIS, dan ramuan pembelajaran menarik itulah murid-murid Nurrachmat terbiasa menulis. Jangan heran bila belakangan ini tercatat sejumlah nama siswa SMA 8 Yogyakarta yang sudah meluncurkan karya novel. Di antaranya adalah Tanalyna Haena dan Hilya dengan novel bergenre teen literature yang populer dengan sebutan teenlit.
Jika melihat sejumlah novel karya siswa itu, bolehlah dibilang Nurrachmat berhasil mendorong siswanya mampu menulis. Hal yang jarang terjadi dalam pembelajarn bahasa
M FATHONI ARIEF (
13 June 2008 13:14 WIB
Wednesday, 20 August 2008
POLLING PEMBACA |