Oleh: Miranti Soetjipto/Pena
Puluhan ribu anak-anak pekerja Indonesia di Malaysia tak bisa belajar di sekolah formal. Mereka ditampung Pusat Bimbingan, sekolah nonformal yang didirikan organisasi Humana. Ruang 12×12 meter persegi untuk 285 siswa. Rekrutmen guru asal Indonesia terkesan tak serius.
Pintu masuk “sekolah“ itu terletak di balik jajaran rumah toko yang marak dengan berbagai papan reklame. Tangga yang menuju ke ruang atas pun suram, kurang sinar matahari. Dari luar, tak tampak ada tanda-tanda bahwa ada kegiatan belajar mengajar.
Ruang kelas itu terletak di lantai dua sebuah bangunan rumah toko daerah Tabanak yang terletak di tengah kota Lahad Datu pesisir timur Sabah, Malaysia. Dindingnya dipenuhi gambar-gambar khas bangunan sekolah. Jangan kaget bila ruang kelas seluas 12 x 12 meter persegi itu dipakai untuk murid-murid sebanyak 285 siswa berseragam kuning hijau itu terbagi dalam empat kelompok besar. Tiap kelompok tidak bersekat. Hanya papan tulis lawas sebagai tanda batas.
Kelompok pertama, ada sekira 40-an anak usia Taman Kanak-kanak kelas nol besar (kinder garten), duduk berdesakan pada kursi-kursi plastik dan bangku-bangku kayu. Mata mereka memancarkan semangat dan mencoba berkonsentrasi dengan apa yang disampaikan guru mereka yang berkebangsaan Filipina, Ruperto Muler. Ketika itu anak-anak menyimak pelajaran matematika penambahan dan pengurangan. Ruperto meminta anak-anak mengulang sejumlah bilangan dalam bahasa Inggris. Saat Ruperto memberikan contoh hitungan, anak anak itu mengangkat tangan dan berebut menjawabnya.
Di balik papan tulis Ruperto itu, nampak 29 kanak-kanak –setara taman bermain (playgroup) kalau di Indonesia– tengah menyimak pelajaran berhitung. Mereka belajar menghitung berapa buah apel yang digambarkan oleh guru mereka dalam bahasa Melayu.
Kelompok ketiga dan keempat, menempati separuh luas kelas. Kelompok ini adalah siswa kelas 1 dan kelas 2 setara Sekolah Dasar (primary). Mereka pun duduk berkelompok dalam meja panjang sederhana. Bahkan sangat sederhana. Fasilitas belajar alakadarnya yang nampak yaitu papan tulis lawas yang dipakai untuk empat kelompok.
Ada empat guru pengajar yang masing-masing berkebangsaan Indonesia, Filipina dan Malaysia. Mereka menangani dua kelompok kelas. Yakni kelas pagi, terdiri dari kelas kinder garten 1 (setara nol kecil), kinder garten 2 (setara nol besar), primary 1 (setara kelas 1 SD) dan primary 2 (setara kelas 2 SD). Sedangkan kelas sore, dimulai pukul 13.00 hingga 16.30, diperuntukkan buat siswa kelas lebih besar, yakni primary 3 hingga primary 6 (setara kelas 3 hingga kelas 6 SD).
Sainah, seorang murid berusia 9 tahun yang ditemui sedang belajar bahasa Inggris di kelas primary 1 mengaku senang bisa bersekolah di tempat itu. Orangtuanya berasal dari Indonesia. Dengan logat Melayu kental, ia menyebutkan mata pelajaran kegemarannya: Matematika dan bahasa Inggris. Ia bercita-cita saat besar kelak bisa jadi polisi.
ANAK PERKEBUNAN HINGGA NELAYAN
Keragaman bahasa yang terdengar dalam ruang kelas ini layaknya kegiatan belajar mengajar dalam sekolah internasional. Namun jangan salah, sekolah sederhana ini hanyalah pusat bimbingan belajar yang didirikan Humana, organisasi non pemerintah (NGO).
Peserta pendidikan nonformal setara sekolah ini tercatat berkebangsaan Indonesia dan Filipina saja. Mereka adalah anak-anak para buruh dan pekerja asal Indonesia dan Filipina yang tidak mendapat akses bersekolah di sekolah milik pemerintah Malaysia. Asal tahu saja, pendidikan sekolah negeri di Malaysia hanya khusus buat warga lokal. Tak ayal, anak-anak hasil perkawinan nonpribumi ini jelas tak bisa bersekolah di sekolah negeri. Tak heran bila tak sedikit anak-anak usia belasan tak mampu baca tulis.
Humana, yang bergerak di bidang kemanusiaan menawarkan beberapa solusi. Tentu setelah mendapat restu dari pemerintah kerajaan Malaysia. Di wilayah perkotaan seperti kota Lahad Datu, mereka menyewa ruangan untuk kegiatan belajar mengajar bagi anak-anak pekerja asing. Kebanyakan berasal dari pekerja konstruksi atau layanan publik. Saat ini, cuma ada tiga pusat bimbingan di Lahad Datu. Tiap bimbingan hanya menempati satu ruangan sederhana. Maklum, biaya sewa ruang di Tabanak, dikenakan tarif 800 Ringgit Malaysia tiap bulan, lebih dari Rp 2 juta. (kurs 1 Ringgit Malaysia= Rp 2.600)
Lain halnya cerita mengenai pusat pendidikan di ladang-ladang perkebunan kelapa sawit yang banyak terdapat di Sabah. Saat ini Malaysia adalah penghasil crude palm oil terbesar di dunia. Pekerja perkebunan di sana banyak didominasi buruh dan pekerja Indonesia. Di sini, Humana menggandeng perusahaan-perusahaan perkebunan untuk memfasilitasi pusat-pusat pendidikan buat anak-anak buruh dan karyawan mereka. Dengan berbagai keterbatasan, sampai saat ini Humana hanya mampu menyediakan pendidikan dari kinder garten 1 hingga primary 6.
Kepedulian Humana dalam menggalang pendidikan buat “warga kelas dua” di Malaysia itu bahkan menjangkau pulau terpencil di perairan Malaysia. Pulai kecil dan terasing itu bernama Pulau Timbun Mata. Pusat pendidikan Humana itu baru dibuka Maret 2006. Sebagian besar muridnya dari keluarga nelayan setempat.
KAJIAN TEMPATAN
Pengajaran di pusat bimbingan Humana awalnya berpedoman pada kurikulum Malaysia. Namun sejak menjalin kerjasama dengan Departemen Pendidikan Nasional, kurikulum dan materi pelajaran bernuansa Indonesia mulai masuk. Guru-guru dari Indonesia juga dikirim. Saat ini ada 51 guru yang mengajar di sana.
Materi yang masuk adalah pelajaran Kajian Tempatan, yang bermaterikan pengetahuan dasar tentang kebangsaan Indonesia. Misalnya mengenai letak geografis, lambang negara, lagu kebangsaan, bendera dan pengetahuan umum mengenai kebudayaan Indonesia. Tentu saja, pelajaran ini sangat penting karena minimnya pengetahuan anak-anak mengenai Indonesia. Mereka memang memiliki orangtua asal Indonesia, namun lantaran lahir di Sabah, yang mereka ketahui hanyalah bahasa Melayu dan banyak hal tentang Malaysia. Apalagi mereka belum pernah sekalipun menginjakkan kakinya di Indonesia.
Mata pelajaran lain yang diajarkan di pusat bimbingan itu adalah Matematika, bahasa Melayu, bahasa Inggris dan Ilmu Pengetahuan alam. Bahasa yang digunakan dalam proses belajar mengajar ala Humana ini pun bahasa Melayu dan Bahasa Inggris. Olahraga dan Kesenian merupakan mata pelajaran pilihan. Dengan keterbatasan lokasi, pusat bimbingan yang berada di kota memusatkan pada pelajaran kesenian. Sebaliknya di perkebunan, mereka menyediakan setengah hari ekstra tiap Sabtu untuk bermain bola, atau badminton.
Di pusat bimbingan Humana di Sabah, PENA PENDIDIKAN menjumpai Mr. Chee Yun Fah, manager regional perkebunan Melangking . “Upaya Humana patut dihargai,” kata Mr Chee. Dengan memfasilitasi pendidikan bagi anak anak karyawan, diharapakan orangtua merekapun merasa betah dan akan bertahan lebih lama bekerja di perkebunan. Perusahaan pun merasa beruntung dengan keberadaan pusat-pusat bimbingan Humana itu.
RANGER & MEMBANTU MEMASAK
Proyek sekolah kerjasama Humana-perusahaan perkebunan dimulai pada 1998. Saat ini terdapat 3 sekolah di tiga wilayah perkebunan Melangking. Perkebunan ini dicapai dalam 2 jam perjalanan dari kota Lahad Datu dan harus menggunakan kendaraan four-wheel drive. Perkebunan ini mampu menampung 200 siswa dari berbagai kelas. Ada tiga guru berasal dari Indonesia.
Setelah 9 tahun berlangsung, alumni pusat bimbingan Humana di Melangking banyak yang direkrut sebagai karyawan, atau staf oleh perusahaan setempat. Ada sebagian yang melanjutkan studi di Indonesia. Asma Bahar, 15 tahun misalnya. Orangtuanya asal Indonesia dan ia pun lahir di Sabah. Ia hanya memegang surat lahir. Sedangkan kedua orangtuanya memiliki paspor dan ijin kerja.
Asma diperbantukan untuk pekerjaan ringan seperti memasak. Ia tahu betul mengapa ia tak dapat mengikuti pendidikan formal di Malaysia. “Karena surat tak bagus,” katanya dengan logat Melayu kental. Asma jelas sedih. Namun, hanya itulah yang bisa ia lakukan: orangtuanya memasukkannya pada program pendidikan Humana.
Sebetulnya Asma punya cita-cita tinggi. Ia ingin melanjutkan ke sekolah formal milik pemerintah. Namun ia pasrah. “Cukuplah!” katanya setengah memekik. Rekan rekannya sesama alumni Humana pun mendapat posisi yang terbilang lumayan pada perkebunan itu. Ada yang jadi ranger (penjaga perkebunan) atau buruh pabrik CPO.
Guru-guru asal Indonesia yang ditempatkan di Malaysia ini merupakan guru-guru kontrak. Penugasan mereka berdasarkan pada kesepakatan (MoU) antara Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Perdana Menteri Malaysia Ahmad Badawi pada 2006 lalu.
Sahrizal, guru asal Kalimantan Barat, adalah satu di antara guru-guru baru yang ditempatkan pada akhir tahun 2006. Lulusan Jurusan Bahasa Inggris Pendidikan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan ini ditemui di pusat bimbingan tempat ia mengajar. Bangunan itu terbuat dari kayu yang sederhana. Sahrizal mengungkapkan bahwa proses rekrutmen mereka hingga penempatan hanya makan waktu satu bulan. Ia menyayangkan proses dengan waktu yang amat pendek itu, mengingat orientasi dari Depdiknas dan kenyataan di lapangan jauh berbeda.
Pada pelatihan, Sahrizal dibekali buku-buku pelajaran kelas 3, 4, 5 sekolah dasar. Namun di sana, ia diminta mengajar kelas-kelas setara 1, 2 dan 3. Ia berharap program yang bertujuan mulia ini dapat diperbaiki sehingga mendapat hasil maksimal.
Kedutaan Besar Indonesia di Kuala Lumpur bukannya berdiam diri. Setidaknya melalui pendekatan diplomatik, Kedutaan Besar meminta pemerintah Malaysia memberikan ijin pada anak anak yang pernah bersekolah di sekolah milik pemerintah untuk kembali mencecap pendidikan formal. Mereka ini dikeluarkan dari sekolah karena tidak bisa memenuhi syarat akta imigrasi, perburuhan, pendidikan yang diterapkan pemerintah Malaysia.
Pemerintah Malaysia baru sebatas memberi ijin dan memfasilitasi kedatangan guru- guru Indonesia. Namun, soal anak-anak pekerja Indonesia bisa kembali ke sekolah, masih dalam pembicaraan antarpemerintahan. “Bila yang dibutuhkan status, maka pemerintah Indonesia akan memfasilitasi. Daripada mereka tidak bersekolah dan menimbulkan masalah di Sabah,” kata A.M. Fachir, Wakil Kepala Perwakilan KBRI di Kuala Lumpur.
Solusi alternatifnya, KBRI Kuala Lumpur pernah merekomendasikan untuk mendirikan sekolah berasrama pada wilayah Indonesia di daerah perbatasan. Lokasi yang berdekatan dengan wilayah kerja orangtua, memudahkan anak-anak Indonesia bisa menuntut ilmu di sekolah formal. Sayangnya, sekolah formal di perbatasan Kalimantan itu masih berupa wacana.
Asma dan puluhan ribu teman-temannya masih menunggu perhatian pemerintah. Sayang, bila generasi Asma kehilangan identitasnya sebagai warga negara Indonesia…
MIRANTI SOETJIPTO (Sabah, Malaysia)
9 July 2008 15:16 WIB
Tuesday, 16 March 2010
POLLING PEMBACA |
August 7th, 2008 at 2:40 pm
pendidikan ……>>>> adalah utama
October 8th, 2008 at 8:29 am
(Dikutip dari: materi Strategic Forum – QPlus Management Strategies 2008)
Strategi Filsafat Penelitian Milenium III
(Butanya Dasar Belajar Mengajar: Theory of Everything)
Oleh: Qinimain Zain
FEELING IS BELIEVING. MEREKA (para peneliti – QZ) seakan-akan pelukis yang mengumpulkan tangan, kaki, kepala dan anggota-anggota lain bagi lukisannya dari macam-macam model. Masing-masing bagian dilukis dengan sangat bagus, tetapi tidak dihubungkan dengan satu tubuh sendiri, dan karena sama sekali tidak akan cocok satu sama lain, hasilnya akan lebih merupakan monster daripada manusia (Nicolas Copernicus).
APAKAH (ilmu) pengetahuan yang terkumpul, dipelajari, dimiliki dan diajarkan selama ini masih berupa monster? Bayangkan sosok gambaran seluruh (ilmu) pengetahuan semesta yang berserakan. Lebih kecil lagi, seluruhnya di satu pustaka. Lebih kecil lagi, di satu cabang ilmu. Lebih kecil lagi, di satu bidang ilmu. Lebih kecil lagi, satu hal sosok gambaran tentang semut, puisi, manajemen atau jembatan saja, terdiri atas potongan kacau banyak sekali. Potongan-potongan tulisan sangat bagus sampai buruk, jelas sampai kabur, dan benar sampai salah besar, yang tak menyatu, tumpang tindih dan bahkan saling bertentangan meski hal yang sama sekalipun. Ini membuat sulit siapa pun meneliti, belajar dan mengajarkan, ditandai dengan polemik panjang.
Mengapa bisa demikian? Ada analogi menarik cerita lima orang buta ingin mengetahui tentang seekor gajah, yang belum pernah tahu gambaran binatang itu. Selain buta, tubuh mereka berbeda-beda tinggi badannya. Mereka pun berbaris berjajar, menghadap seekor gajah besar yang di keluarkan pemiliknya dari kandang. Orang yang pertama agak tinggi badannya, maju meraba bagian depan memegang belalai dan mengatakan gajah itu seperti ular. Yang kedua sedang badannya, meraba mendapati bagian kaki dan mengatakan gajah seperti pohon kelapa. Yang ketiga tinggi badannya, memegang bagian kuping dan mengatakan gajah seperti daun talas. Yang keempat paling pendek badannya, maju di bawah perut gajah tidak memegang apa-apa dan mengatakan gajah seperti udara. Yang kelima pendek tubuhnya, maju meraba bagian belakang memegang ekor dan mengatakan gajah itu seperti pecut. Tentu, pemahaman gajah sesungguhnya dari kelima orang buta ini akan berbeda bila disodorkan gambar ukiran timbul atau patung kecil seekor gajah sebelumnya.
Seperti itulah, siapa pun yang hanya memahami satu sudut pandang cabang (ilmu) pengetahuan sebagai gambaran pemecahan suatu masalah, tanpa luasan pandang menyeluruh (ilmu) pengetahuan. Memang, merupakan hukum alam segala sesuatu yang seragam (besar sedikit jumlahnya) makin lama makin beragam (kecil banyak jumlahnya), dan pada tingkat kekacauan dibutuhkan sistem keteraturan untuk memahaminya sebagai satu kesatuan. Tetapi, nampak (hampir) mustahil (karena tenaga, waktu dan biaya terbatas) mempelajari seluruh cabang (ilmu) pengetahuan mendapatkan pemahaman luas dan dalam semesta untuk suatu masalah. Betapa beruntung dunia andai sosok kecil gambaran satu kesatuan the body of science itu ada. Gambaran rangkuman prinsip-prinsip satu kesamaaan semua hal dari sekian banyak perbedaan dalam semesta, sebuah Theory of Everything (TOE).
JIKA Anda tahu bagaimana alam semesta ini bekerja, Anda dapat mengaturnya (Stephen William Hawking).
Kemudian, bagaimanakah mengetahui seseorang (dan juga diri sendiri) sebenarnya tergolong buta (karena tanpa TOE) terhadap sosok (ilmu) pengetahuan dimiliki sekarang?
Dengan sopan dan rendah hati, semua peneliti, pengajar atau siapa pun bidang apa pun harus menanyakan: Apa prinsip dasar asumsi penelitian, belajar dan mengajar (ilmu) pengetahuan yang diteliti, dimiliki atau diberikan? Jika jawaban berupa kalimat retorika atau basa-basi, mungkin ia (dan kita) tergolong masih buta tentang the body of science hal bidang ilmu pengetahuan itu.
Lalu, apa rangkuman (kecil) prinsip dasar asumsi TOE dalam meneliti, belajar, mengajar dan mengelola ilmu pengetahuan hal apa pun?
KETIDAKMAMPUAN seseorang untuk menjelaskan idenya secara singkat, barangkali dapat merupakan tanda bahwa dia tidak mengetahui pokok persoalan secara jelas (C. Ray Johnson).
Ilmu pengetahuan (obyek empiris) dinyatakan benar ilmu pengetahuan selama asumsi dasar diakui, yaitu ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang teratur (systematic knowledge) (pernyataan yang diterima setelah abad XVII) (The Liang Gie, 1997:380). Tanpa asumsi dasar keyakinan adanya keteraturan ini, proses meneliti, belajar mengajar apa pun yang di bangun di atasnya hanyalah potongan-potongan pengetahuan yang tidak efektif, efesien dan produktif. Seperti pernyataan jernih ilmuwan Carl Sagan, bahwa jika kita hidup di atas sebuah planet di mana segala sesuatu tidak pernah berubah, sedikit sekali yang bisa dikerjakan. Tidak ada yang harus dibayangkan, dan tidak akan ada dorongan untuk bergerak menuju ilmu pengetahuan. Namun jika kita hidup di dalam dunia yang tidak bisa diramalkan di mana semua hal berubah secara acak atau dengan cara sangat rumit, kita juga tidak akan bisa menggambarkan semua keadaan. Di sini juga tidak ada ilmu pengetahuan. Tetapi kita hidup di dalam semesta yang berada di kedua keadaan ini. Di alam ini semua keadaan berubah, tetapi mengikuti pola, aturan, atau mengikuti yang kita katakan sebagai hukum-hukum alam.
Lebih jelas, prinsip dasar asumsi keteraturan ini diurai Jujun S. Suriasumantri (1977:7-9) dengan baik, yaitu obyek empiris (tertentu) itu serupa dengan lainnya seperti bentuk, struktur, sifat dan lain-lain, lalu (sifat) obyek tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu (meski pasti berubah dalam waktu lama yang berbeda-beda), serta tiap gejala obyek bukan bersifat kebetulan (namun memiliki pola tetap urutan sama atau sebab akibat). Akhirnya, saya memastikan rincian prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan ini dalam TOTAL QINIMAIN ZAIN (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Science, bahwa definisi ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang memiliki susunan kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang teratur. (Teratur pada TQZ Scientific System of Science adalah teratur sama dalam fungsi, jumlah, urutan, kaitan, dan paduan menyeluruh di semesta meski hal berbeda apa pun). Sebuah TOE, jawaban masalah dasar dan besar yang menghantui pikiran manusia selama dua ribu tahun atau dua millennium.
TEORI adalah sekelompok asumsi masuk akal dikemukakan untuk menjelaskan hubungan dua atau lebih fakta yang dapat diamati, menyediakan dasar mantap memperkirakan peristiwa masa depan (JAF Stoner).
TOE penting sekali dalam meneliti, belajar mengajar dan mengelola bidang apa pun. Memecahkan suatu masalah sulit, tetapi mengenali (fenomena) masalah lebih sulit lagi. Dengan mengetahui dan memahami TOE, sangat membantu mengenali bila berhadapan atau merasakannya. Misal, seseorang telah disodorkan gambaran prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan akan lebih mudah untuk mengambil kesimpulan jika suatu saat menghadapi (fenomena) satu atau banyak masalah, meski belum pernah dikenalnya. Jadi, fungsi TOE – pada TQZ Scientific System of Science tak lain sebuah paradigma scientific imagination benchmarking sistematis, berupa metode synectic kreatif menggunakan metafora dan analogi rinci menuntun suatu usaha memilih jalur proaktif terhadap suatu hal dengan memperhatikan fakta dan kemungkinan yang telah diidentifikasi dan dileluasakan, dengan lima dasar (posisi), fase (kualitas) dan level (sempurna). Suatu mental image atau model ilmiah analogi fenomena semesta dalam bentuk keteraturan yang dapat dipahami.
Contoh sederhana (meski sebagai TOE belum cukup teratur), jika gambaran prinsip dasar asumsi keteraturan tubuh mahluk hidup sempurna memiliki kepala, dada, perut, tangan dan kaki, sedang lainnya berupa bagian tambahan tubuh. Maka, seseorang yang meyakini dan memahami keteraturan ini akan melihat persamaan fungsi tubuh pada ikan gabus, kupu-kupu, monyet, ular dan burung pipit, selain perbedaan bagian itu. Dengan prinsip dasar asumsi keteraturan itu, tubuh mahluk hidup akan lebih mudah diteliti, pelajari dan diajarkan dengan benar, bahkan terhadap mahluk hidup unik lain yang baru dilihat.
KARYA seorang ilmuwan berlandaskan keyakinan bahwa alam pada pokoknya teratur. Bukti yang menunjang keyakinan itu dapat dilihat dengan mata telanjang bukan hanya pada pola sarang lebah atau pola kulit kerang, tetapi ilmuwan juga menemukan keteraturan pada setiap tingkat kehidupan (Henry Margenau).
Bukti monster (ilmu) pengetahuan demikian besar, merugikan dan banyak di sekeliling. Contoh monster-monster itu, dalam seminar dan diskusi, buku dan makalah, ulasan dan kritikan berbagai masalah di mana-mana tidak menyuguh keteraturan. Misal, bahasan mencipta puisi, cara menulis, atau mendefinisikan sesuatu saja, tanpa jelas kepala, tangan, badan, perut, dan kakinya, bahkan tanpa memastikan yang dijelaskan itu adalah bagian kaki atau kepala. Atau lebih parah lagi, tidak diketahui apakah yang disajikan itu kaki, jari, atau gigi, karena jumlahnya demikian tidak tetap dan berbeda. (Perhatikan kesimpulan utama penyebab masalah dan pemecahannya bidang ilmu hal yang sama sekali pun, bisa satu, dua, tiga, empat, lima, enam, sembilan, tujuhbelas, limapuluhdua, dan seterusnya, belum lagi bicara keteraturan urutan dan kaitan antar penyebab atau antar pemecahan yang disebutkan itu). Apalagi membahas masalah mengenai cara mengatasi krisis pangan, krisis energi atau strategi keunggulan usaha (suatu organisasi, daerah, bahkan negara), pasti monster lebih mengerikan.
Contoh nyata monster raksasa, menunjukkan belum teraturnya kelompok ilmu sebagai ilmu pengetahuan. Deobold B. Van Dalen menyatakan, dibandingkan dengan ilmu-ilmu alam yang telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, ilmu-ilmu sosial agak tertinggal di belakang. Beberapa ahli bahkan berpendapat bahwa ilmu-imu sosial takkan pernah menjadi ilmu dalam artian yang sepenuhnya. Di pihak lain terdapat pendapat bahwa secara lambat laun ilmu-ilmu sosial akan berkembang juga meskipun tak akan mencapai derajat keilmuan seperti apa yang dicapai ilmu-ilmu alam. Menurut kalangan lain adalah tak dapat disangkal bahwa dewasa ini ilmu-ilmu sosial masih berada dalam tingkat yang belum dewasa. (Ilmu dalam Persfektif, Jujun S. Suriasumantri, 1977:134). Juga C.A. Van Peursen, dalam tahap perkembangan ilmu pengetahuan kemajuan bidang ilmu alam lebih besar daripada ilmu kehidupan, dan ilmu kehidupan lebih maju dari ilmu kebudayaan (Strategi Kebudayaan: 1976:184-185). Sedang di dunia akademi, berjuta-juta hasil penelitian seluruh dunia kurang berguna dan sukar maju karena berupa monster maha raksasa, tanpa TOE yang merangkai sebagai satu kesatuan the body of science.
Akhirnya, bagaimana mungkin (manusia) siapa pun yang terlibat proses meneliti, belajar, mengajar dan menggunakan ilmu pengetahuan sepanjang hidup dapat berpikir tenang, selama prinsip dasar asumsi keteraturan (ilmu) pengetahuannya belum beres? Sebab, jika prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan yang didapat dan diberikan saja kebenarannya meragukan, maka kredibilitas kemampuan, nilai, gelar (dan status) seseorang (dan organisasi) itu pun diragukan. Karena, sebenar atau setinggi apa pun nilai memuaskan didapat dari pendidikan dengan pelajaran bahan yang buruk atau salah, tetaplah buruk atau salah, (setelah mengetahui bagaimana kebenaran suatu hal itu) sebenarnya. Dan, tanpa keteraturan TOE, penelitian dan belajar mengajar, seminar dan diskusi, buku dan makalah, ulasan dan kritikan berbagai masalah terus menghasilkan monster di mana-mana. Banyak buang tenaga, waktu dan biaya percuma. Fatal dan mengerikan.
LEBIH baik menjadi manusia Socrates kritis yang tidak puas, daripada menjadi babi tolol yang puas (Henry Schmandt).
BAGAIMANA strategi Anda?
*) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)