INTERNASIONAL

Malaysia: Mengangkat Pendidikan Anak Migran


Oleh: Miranti Soetjipto/Pena

Puluhan ribu anak-anak pekerja Indonesia di Malaysia tak bisa belajar di sekolah formal. Mereka ditampung Pusat Bimbingan, sekolah nonformal yang didirikan organisasi Humana. Ruang 12×12 meter persegi untuk 285 siswa. Rekrutmen guru asal Indonesia terkesan tak serius.

 

Pintu masuk “sekolah“ itu terletak di balik jajaran rumah toko yang marak dengan berbagai papan reklame. Tangga yang menuju ke ruang atas pun suram, kurang sinar matahari. Dari luar, tak tampak ada tanda-tanda bahwa ada kegiatan belajar mengajar.

 

Ruang kelas itu terletak di lantai dua sebuah bangunan rumah toko daerah Tabanak yang terletak di tengah kota Lahad Datu pesisir timur Sabah, Malaysia. Dindingnya dipenuhi gambar-gambar khas bangunan sekolah. Jangan kaget bila ruang kelas seluas 12 x 12 meter persegi itu dipakai untuk murid-murid sebanyak 285 siswa berseragam kuning hijau itu terbagi dalam empat kelompok besar. Tiap kelompok tidak bersekat. Hanya papan tulis lawas sebagai tanda batas.

 

Kelompok pertama, ada sekira 40-an anak usia Taman Kanak-kanak kelas nol besar (kinder garten), duduk berdesakan pada kursi-kursi plastik dan bangku-bangku kayu. Mata mereka memancarkan semangat dan mencoba berkonsentrasi dengan apa yang disampaikan guru mereka yang berkebangsaan Filipina, Ruperto Muler. Ketika itu anak-anak menyimak pelajaran matematika penambahan dan pengurangan. Ruperto meminta anak-anak mengulang sejumlah bilangan dalam bahasa Inggris. Saat Ruperto memberikan contoh hitungan, anak anak itu mengangkat tangan dan berebut menjawabnya.

 

Di balik papan tulis Ruperto itu, nampak 29 kanak-kanak –setara taman bermain (playgroup) kalau di Indonesia– tengah menyimak pelajaran berhitung. Mereka belajar menghitung berapa buah apel yang digambarkan oleh guru mereka dalam bahasa Melayu.

 

Kelompok ketiga dan keempat, menempati separuh luas kelas. Kelompok ini adalah siswa kelas 1 dan kelas 2 setara Sekolah Dasar (primary). Mereka pun duduk berkelompok dalam meja panjang sederhana. Bahkan sangat sederhana. Fasilitas belajar alakadarnya yang nampak yaitu papan tulis lawas yang dipakai untuk empat kelompok.

 

Ada empat guru pengajar yang masing-masing berkebangsaan Indonesia, Filipina dan Malaysia. Mereka menangani dua kelompok kelas. Yakni kelas pagi, terdiri dari kelas kinder garten 1 (setara nol kecil), kinder garten 2 (setara nol besar), primary 1 (setara kelas 1 SD) dan primary 2 (setara kelas 2 SD). Sedangkan kelas sore, dimulai pukul 13.00 hingga 16.30, diperuntukkan buat siswa kelas lebih besar, yakni  primary 3 hingga primary 6 (setara kelas 3 hingga kelas 6 SD).

 

Sainah, seorang murid berusia 9 tahun yang ditemui sedang belajar bahasa Inggris di kelas primary 1 mengaku senang bisa bersekolah di tempat itu. Orangtuanya berasal dari Indonesia. Dengan logat Melayu kental, ia menyebutkan mata pelajaran kegemarannya: Matematika dan bahasa Inggris. Ia bercita-cita saat besar kelak bisa jadi polisi.

 

ANAK PERKEBUNAN HINGGA NELAYAN

 

Keragaman bahasa yang terdengar dalam ruang kelas ini layaknya kegiatan belajar mengajar dalam sekolah internasional. Namun jangan salah, sekolah sederhana ini hanyalah pusat bimbingan belajar yang didirikan Humana, organisasi non pemerintah (NGO).

 

Peserta pendidikan nonformal setara sekolah ini tercatat berkebangsaan Indonesia dan Filipina saja. Mereka adalah anak-anak para buruh dan pekerja asal Indonesia dan Filipina yang tidak mendapat akses bersekolah di sekolah milik pemerintah Malaysia. Asal tahu saja, pendidikan sekolah negeri di Malaysia hanya khusus buat warga lokal. Tak ayal, anak-anak hasil perkawinan nonpribumi ini jelas tak bisa bersekolah di sekolah negeri. Tak heran bila tak sedikit anak-anak usia belasan tak mampu baca tulis.

 

Humana, yang bergerak di bidang kemanusiaan menawarkan beberapa solusi. Tentu setelah mendapat restu dari pemerintah kerajaan Malaysia. Di wilayah perkotaan seperti kota Lahad Datu, mereka menyewa ruangan untuk kegiatan belajar mengajar bagi anak-anak pekerja asing. Kebanyakan berasal dari pekerja konstruksi atau layanan publik. Saat ini, cuma ada tiga pusat bimbingan di Lahad Datu. Tiap bimbingan hanya menempati satu ruangan sederhana. Maklum, biaya sewa ruang di Tabanak, dikenakan tarif 800 Ringgit Malaysia tiap bulan, lebih dari Rp 2 juta. (kurs 1 Ringgit Malaysia= Rp 2.600)

 

Lain halnya cerita mengenai pusat pendidikan di ladang-ladang perkebunan kelapa sawit yang banyak terdapat di Sabah. Saat ini Malaysia adalah penghasil crude palm oil terbesar di dunia. Pekerja perkebunan di sana banyak didominasi buruh dan pekerja Indonesia. Di sini, Humana menggandeng perusahaan-perusahaan perkebunan untuk memfasilitasi pusat-pusat pendidikan buat anak-anak buruh dan karyawan mereka. Dengan berbagai keterbatasan, sampai saat ini Humana hanya mampu menyediakan pendidikan dari kinder garten 1 hingga primary 6.

 

Kepedulian Humana dalam menggalang pendidikan buat “warga kelas dua” di Malaysia itu bahkan menjangkau pulau terpencil di perairan Malaysia. Pulai kecil dan terasing itu bernama Pulau Timbun Mata. Pusat pendidikan Humana itu baru dibuka Maret 2006. Sebagian besar muridnya dari keluarga nelayan setempat.

 

KAJIAN TEMPATAN

 

Pengajaran di pusat bimbingan Humana awalnya berpedoman pada kurikulum Malaysia. Namun sejak menjalin kerjasama dengan Departemen Pendidikan Nasional, kurikulum dan materi pelajaran bernuansa Indonesia mulai masuk. Guru-guru dari Indonesia juga dikirim. Saat ini ada 51 guru yang mengajar di sana.

 

Materi yang masuk adalah pelajaran Kajian Tempatan, yang bermaterikan pengetahuan dasar tentang kebangsaan Indonesia. Misalnya mengenai letak geografis, lambang negara, lagu kebangsaan, bendera dan pengetahuan umum mengenai kebudayaan Indonesia. Tentu saja, pelajaran ini sangat penting karena minimnya pengetahuan anak-anak mengenai Indonesia. Mereka memang memiliki orangtua asal Indonesia, namun lantaran lahir di Sabah, yang mereka ketahui hanyalah bahasa Melayu dan banyak hal tentang Malaysia. Apalagi mereka belum pernah sekalipun menginjakkan kakinya  di Indonesia.

 

Mata pelajaran lain yang diajarkan di pusat bimbingan itu adalah Matematika, bahasa Melayu, bahasa Inggris dan Ilmu Pengetahuan alam. Bahasa yang digunakan dalam proses belajar mengajar ala Humana ini pun bahasa Melayu dan Bahasa Inggris. Olahraga dan Kesenian merupakan mata pelajaran pilihan. Dengan keterbatasan lokasi, pusat bimbingan yang berada di kota memusatkan pada pelajaran kesenian. Sebaliknya di perkebunan, mereka menyediakan setengah hari ekstra tiap Sabtu untuk bermain bola, atau badminton.

 

Di pusat bimbingan Humana di Sabah, PENA PENDIDIKAN menjumpai Mr. Chee Yun Fah, manager regional perkebunan Melangking . “Upaya Humana patut dihargai,” kata Mr Chee. Dengan memfasilitasi pendidikan bagi anak anak karyawan, diharapakan orangtua merekapun merasa betah dan akan bertahan lebih lama  bekerja di perkebunan. Perusahaan pun merasa beruntung dengan keberadaan pusat-pusat bimbingan Humana itu.

 

RANGER & MEMBANTU MEMASAK

 

Proyek sekolah kerjasama Humana-perusahaan perkebunan dimulai pada 1998. Saat ini terdapat 3 sekolah di tiga wilayah perkebunan Melangking. Perkebunan ini dicapai dalam 2 jam perjalanan dari kota Lahad Datu dan harus menggunakan kendaraan four-wheel drive. Perkebunan ini mampu menampung 200 siswa dari berbagai kelas. Ada tiga guru berasal dari Indonesia.

 

Setelah 9 tahun berlangsung, alumni pusat bimbingan Humana di Melangking banyak yang direkrut sebagai karyawan, atau staf oleh perusahaan setempat. Ada sebagian yang melanjutkan studi di Indonesia. Asma Bahar, 15 tahun misalnya. Orangtuanya asal Indonesia dan ia pun lahir di Sabah. Ia hanya memegang surat lahir. Sedangkan kedua orangtuanya memiliki paspor dan ijin kerja.

 

Asma diperbantukan untuk pekerjaan ringan seperti memasak. Ia tahu betul mengapa ia tak dapat mengikuti pendidikan formal di Malaysia. “Karena surat tak bagus,” katanya dengan logat Melayu kental. Asma jelas sedih. Namun, hanya itulah yang bisa ia lakukan: orangtuanya memasukkannya pada program pendidikan Humana.

 

Sebetulnya Asma punya cita-cita tinggi. Ia ingin melanjutkan ke sekolah formal milik pemerintah. Namun ia pasrah. “Cukuplah!” katanya setengah memekik. Rekan rekannya sesama alumni Humana pun mendapat posisi yang terbilang lumayan pada perkebunan itu. Ada yang jadi  ranger (penjaga perkebunan) atau buruh pabrik CPO.

 

Guru-guru asal Indonesia yang ditempatkan di Malaysia ini merupakan guru-guru kontrak. Penugasan mereka berdasarkan pada kesepakatan (MoU) antara Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Perdana Menteri Malaysia Ahmad Badawi pada 2006 lalu.

 

Sahrizal, guru asal Kalimantan Barat, adalah satu di antara guru-guru baru yang ditempatkan pada akhir tahun 2006. Lulusan Jurusan Bahasa Inggris Pendidikan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan ini ditemui di pusat bimbingan tempat ia mengajar. Bangunan itu terbuat dari kayu yang sederhana. Sahrizal mengungkapkan bahwa proses rekrutmen mereka hingga penempatan hanya makan waktu satu bulan. Ia menyayangkan proses dengan waktu yang amat pendek itu, mengingat orientasi dari Depdiknas dan kenyataan di lapangan jauh berbeda.

 

Pada pelatihan, Sahrizal dibekali buku-buku pelajaran kelas 3, 4, 5 sekolah dasar. Namun di sana, ia diminta mengajar kelas-kelas setara 1, 2 dan 3. Ia berharap program yang bertujuan mulia ini dapat diperbaiki sehingga mendapat hasil maksimal.

 

Kedutaan Besar Indonesia di Kuala Lumpur bukannya berdiam diri. Setidaknya melalui pendekatan diplomatik, Kedutaan Besar meminta pemerintah Malaysia memberikan ijin pada anak anak yang pernah bersekolah di sekolah milik pemerintah untuk kembali mencecap pendidikan formal. Mereka ini dikeluarkan dari sekolah karena tidak bisa memenuhi syarat akta imigrasi, perburuhan, pendidikan yang diterapkan pemerintah Malaysia.

 

Pemerintah Malaysia baru sebatas memberi ijin dan memfasilitasi kedatangan guru- guru Indonesia. Namun, soal anak-anak pekerja Indonesia bisa kembali ke sekolah, masih dalam pembicaraan antarpemerintahan. “Bila yang dibutuhkan status, maka pemerintah Indonesia akan memfasilitasi. Daripada mereka tidak bersekolah dan menimbulkan masalah di Sabah,” kata A.M. Fachir, Wakil Kepala Perwakilan KBRI di Kuala Lumpur.

 

Solusi alternatifnya, KBRI Kuala Lumpur pernah merekomendasikan untuk mendirikan sekolah berasrama pada wilayah Indonesia di daerah perbatasan. Lokasi yang berdekatan dengan wilayah kerja orangtua, memudahkan anak-anak Indonesia bisa menuntut ilmu di sekolah formal. Sayangnya, sekolah formal di perbatasan Kalimantan itu masih berupa wacana.

 

Asma dan puluhan ribu teman-temannya masih menunggu perhatian pemerintah. Sayang, bila generasi Asma kehilangan identitasnya sebagai warga negara Indonesia…

 

MIRANTI SOETJIPTO (Sabah, Malaysia)

 

 

9 July 2008 15:16 WIB

Artikel ini menarik?
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
Loading ... Loading ...

Pena Pendidikan

Wednesday, 20 August 2008

REDAKSI


Iwan Qodar Himawan

Saiful Anam

Dipo Handoko

Eva Rohilah

Fathoni Arief

Kenny

Arien TW

RUBRIK

ANGGOTA

POLLING PEMBACA

EMAIL SUBSCRIBE

Enter your email address:

STATISTIK

KATA KUNCI