Kata Kunci: lendo novo, penelisik korupsi, school of universe, sekolah alam
Sejak kecil dicap nakal. Menggauli dunia pergerakan dan bisnis. Mencetak lulusan tangguh dan tahan banting. Integrasi iman, ilmu, alam dan kehidupan.
NAMANYA sohor sebagai penelisik korupsi di Badan Usaha Milik Negara. Ia memang pernah dipercaya sebagai staf ahli Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara. Persisnya sebagai staf ahli bidang pengolahan data, informasi dan investigasi di era Pak Menteri Sugiharto. Tentu saja itu tugas yang sangat berat, sekaligus penuh risiko. Ia sering mendapat ancaman.
Dialah Lendo Novo. Pria kelahiran Jakarta, 6 November 1964, tak ciut nyali menghadapi situasi yang menyerempet bahaya itu. Di luar kesibukan menelisik skandal korupsi, Lendo punya aktivitas yang jauh dari belantara tilap menilap duit yang penuh intrik. Ia sangat akrab dengan dunia anak-anak dan pendidikan. Bukan sekadar berteman dengan anak-anak. Lendo mengelola School of Universe, atawa Sekolah Alam yang didirikannya pada 2004. Sekolah ini berada di bawah naungan Yayasan Alam Semesta. Mulai pendidikan pra-sekolah, sekolah dasar dan sekolah menengah ada di sana.
Sekolah Alam masih berusia belia namun sejatinya gagasan membikin model ide sekolah alam sudah lama di benak Lendo. Idenya muncul saat Lendo berada dalam terali besi pada 1989. Ia sempat dibui selama tujuh bulan gara-gara dituding sebagai tokoh mahasiswa penggerak unjuk rasa saat kunjungan Menteri Dalam Negeri Rudini ke Institut Teknologi Bandung. Demonstrasi Lendo dan rekan-rekannya memrotes penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4).
Saat di sel tahanan Lendo ingat betul makian tentara kepadanya. “Kamu itu baru S-2 saja sudah belagu, berani mengritik pemerintah. Para menteri itu orang-orang pinter, profesor, doktor,” hardik sang petugas. Tak mau kalah gertak, Lendo menyanggah dengan pernyataan, ”Saya menghormati kepakaran mereka, tapi saya tidak menghormati mereka yang korup.”
Di balik kerangkeng besi, banyak gagasan Lendo berlompatan. Ia bermimpi mendirikan sekolah yang tak hanya mendidik orang jadi pintar dan bergelar tinggi, tapi juga berbudi luhur dan berguna bagi bangsa. Pendidikan harus menyadarkan manusia bahwa dirinya adalah khalifah Allah di muka bumi. Ia harus tahu bagaimana menyembah Allah. Walhasil, para lulusan sekolah itu tahu betul bagaimana mengelola alam semesta.
SEKOLAH BERBASIS ALAM
Tak lama, setelah keluar dari penjara, cita-cita Lendo terwujud dengan mendirikan TK Salman di Bukit Awi Ligar, Bandung. Bertempat di sebuah rumah milik salah seorang penduduk, anak-anak berusia 4-6 tahun dididik Lendo dan rekan-rekannya dengan metode baru. Berbasis alam dan tidak ada pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum. “Ini cikal bakal TK SD Islam terpadu,” jelas Lendo.
Selanjutnya Lendo menyerahkan pengelolaan TK Salman kepada kawan-kawannya. Ia sendiri aktif di LSM PUPUK (Perkumpulan Untuk Peningkatan Usaha Kecil). Tapi, obsesinya mendirikan sekolah ideal tak pupus. Akhirnya, pada 1998, ia mendirikan Sekolah Alam Ciganjur, yang saat ini berganti nama jadi Citra Alam. Tiga tahun kemudian, ia mendirikan model serupa, juga di Ciganjur. Perkembangannya pesat. Ada playgrup, TK dan SD, yang menempati lahan seluas sekitar 7.800 meter persegi.
Tempat belajarnya unik. Murid-murid berada di ruangan yang disebut “saung kelas” –yaitu unit rumah panggung tanpa dinding. Di situ anak-anak belajar dalam suasana santai: duduk bersila, bisa selonjoran di mana saja. Murid dibebaskan berpakaian apa adanya. Tak perlu pakaian seragam segala. Setiap anak memakai sepatu bot saat berkunjung ke alam sekitar. Saban hari, mereka juga selalu siap dengan pakaian ganti. Karena, salah satu aktivitasnya berkebun atau beternak.
Di sekolah alam, kegiatan di alam menjadi favorit para murid. Anak-anak dididik tumbuh jadi manusia berkarakter. Yaitu manusia yang tidak saja memanfaatkan apa yang tersedia di alam, juga mampu mencintai dan memelihara alam lingkungan. Benar-benar suasana belajar yang amat menyenangkan, jauh dari kebosanan.
Sekolah alam ini menganut slogan “Pendidikan untuk Semua”. Pendidikan benar-benar menjadi tanggungjawab bersama antara Yayasan, Syuro Guru dan orangtua. Peluang belajar terbuka untuk umum, tanpa ada test IQ (Inteligent Quotient) segala. Bagi murid kurang mampu, tetap diberi peluang belajar di sekolah alam. Tak lain karena pola pembiayaan sekolah melalui sistem subsidi silang proporsional.
Namun, lagi-lagi Lendo tak melulu mengelola sekolah ini. Ia menyerahkan pengelolaannya kepada Dewan Sekolah, yang anggotanya antara lain para orangtua murid. Ia kemudian mendirikan School of Universe di Parung, Bogor. School of Universe merupakan pengembangan konsep sekolah yang dirintisnya pada TK Salman dan Sekolah Alam. Selain mengintegrasikan iman, ilmu dan alam, juga kehidupan. “Targetnya anak-anak sudah siap membangun peradaban yang lebih baik,” jelas Lendo.
Hal penting yang disiapkan Lendo adalah guru, metode pembelajaran dan buku-buku. Menurut hitungan Lendo, ongkos investasi terbesar membangun sekolah berkualitas bukan pada infrastruktur, seperti gedung sekolah dan menyiapkan lahan. Biaya infrastruktur menurut Lendo hanya menyedot 5 persen anggaran. “Yang tak boleh kompromi adalah urusan kualitas guru,” ujarnya.
KURIKULUM KARAKTER
Di sekolah itu murid-murid dididik mandiri dan memiliki life skill. Sejak kecil mereka dilatih menjadi entrepreneur. Lendo berpegang pada prinsip saat anak telah mencapai masa akil-balig –yakni ditandai haid bagi perempuan dan mimpi basah pada laki-laki– semestinya sudah mampu menghidupi diri sendiri.
Agaknya di sinilah perbedaan mencolok dengan sekolah bisnis yang banyak dikembangkan di kota-kota besar. Sekolah entrepreneur semata menghasilkan manajer. Persoalannya, pendidikan bisnis di sekolah entrepreneur hanya terpaku teori-teori bisnis di kelas. Padahal, untuk sukses bisnis harus didukung lingkungan. Lalu butuh teladan sebagai proses pemagangan. “Itulah yang saya terapkan di school of universe,” kata Lendo.
Di sekolah Lendo itu anak-anak diajarkan bagaimana meraup untung dengan berjualan. Misalnya, dengan membuka lapak di dekat sejumlah pabrik, tak jauh dari sekolah. Ada juga yang magang jadi karyawan di perusahaan retail besar, seperti Makro.
Itulah satu dari tiga prinsip kurikulum yang dikembangkan School of Universe. Materi kurikulum lainnya, adalah bioteknologi yang membahas keragaman hayati Indonesia serta informasi dan teknologi. Secara garis besar kurikulum sekolah Lendo memadu kurikulum nasional, internasional dan lokal. “Saya menyebutnya Green Education. Formulasinya belajar matematika, sosial dan biologi, langsung dari alam,” katanya.
Kurikulum School of Universe memacu murid-murid menjadi tangguh dan pantang menyerah serta belajar mencari nafkah sejak dini. Untuk itu, menurut Lendo, perlu ditanamkan lebih dulu karakter-karakter unggul, seperti jujur, amanah, suka menolong dan tidak sombong. Materi pembentukan karakter mendapat porsi lebih besar, sekitar 80 persen. Sisanya, sains dan teknologi untuk mengembangkan kemampuan bisnis. Tak semua anak didik diarahkan jadi pengusaha, tergantung bakat dan kecenderungan mereka.
Obsesi Lendo berikutnya mendirikan perguruan tinggi. Model kuliah dan kurikulumnya dirancang lebih praktis dan efektif. Sebagian besar materi pelajarannya bersifat magang kerja di tempat sesuai jurusan. Misalnya, bagi calon arsitek, sebelum lulus diwajibkan magang sekitar 2 tahun di perusahaan konsultan arsitek. Jika lulus baru berhak mengantungi ijazah. Pendalaman materi secara teoritis cukup dilakukan seminggu sekali pertemuan dengan dosen.
TIDAK ADA ANAK NAKAL
Perhatian Lendo pada dunia pendidikan yang begitu besar itu tak lepas dari pengalaman hidupnya masa kanak dulu. Anehnya, masa-masa sekolah Lendo justru tak menggembirakan. “Sejak kecil saya benci sekolah,” kata Lendo mengenang.
Sejak sekolah dasar, Lendo hampir selalu jadi langganan dihukum guru. Ia dicap sebagai anak nakal. Ia juga dituding sebagai biang kisruh. Kedua orangtuanya kebingungan. Lendo pun sempat dibawa ke dokter. Dokter memvonis Lendo sebagai anak hiperaktif.
Padahal, menurut Lendo, konsep nakal pada anak hanyalah “buatan” orang dewasa. “Kenakalan” anak lebih didorong keingintahuan dan eksperimentasi. Namun orang dewasa terlalu khawatir kemudian selalu melarang anak kecil berbuat ini dan itu. Misalnya, anak dilarang memanjat pohon. “Mestinya anak cukup diberitahu bagaimana teknik memanjat pohon yang benar supaya tak celaka.”
Konsep Lendo: tidak ada anak nakal, kali pertama ia tanamkan di TK Salman Bandung. Untuk anak hiperaktif, menurut Lendo, perlu penanganan khusus. Bukan sekadar melarang dan meminta anak hiperaktif menghentikan tingkah yang sering merepotkan orangtua. “Karena saya dicap nakal, saya malahan sering bikin onar,” kata Lendo.
Kenakalan Lendo itu misalnya, sempat menjebret gurunya dengan permen karet. Ketika ia duduk di kelas II SMP, Lendo pernah meledakkan petasan di kelasnya. “Saya dihukum lari telanjang dada di jalan,” kata Lendo. Di SMA, kenakalan Lendo bahkan menjadi. Hobinya tawuran dengan siswa sekolah lain.
MENGGAULI ORGANISASI DAN BISNIS
Toh, meski hobi berkelahi, prestasi Lendo di sekolah tak jeblok. Ia sukses masuk Jurusan Teknik Perminyakan, Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia amat menonjol di angkatannya. Ia terpilih menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Perminyakan PATRA ITB selama dua periode 1986-1988. Pada 1986-1987, ia juga menjabat Sekretaris Jenderal Forum Ketua Himpunan Jurusan.
Selain aktif berorganisasi, Lendo juga menekuni bisnis semasa kuliah. Naluri usahanya tergelitik sejak masa kecilnya, saat menyaksikan ibunya berjualan. Di sela perkuliahan Lendo jualan mobil.
Selepas kuliah, Lendo bergabung dengan sejumlah LSM bidang wirausaha. Di antaranya, menjadi staf riset Penelitian Identifikasi Sentra Industri Kecil Kayu Potensial se-Jawa Barat, dan konsultan Pengembangan Industri Kecil PUPUK (1991-1993).
Bekal pengalaman sebagai aktivis membuat Lendo mahir sebagai perencana program. Ia punya andil mengembangkan jaringan retail dan distribusi milik anggota koperasi di wilayah Jatim, Jateng, Bali, Riau, Jabar, DIY dan NTB. Lendo juga turut mendirikan Indotex LaSalle Internasional College. Lendo juga mendirikan PT Cipta Pesona Dinamika Fortuna, perusahaan yang bergerak di pergudangan dan manajemen transportasi.
Bagi Lendo, bisnis yang digeluti bukan sebagai warisan untuk dikembangkan anak-anaknya. “Biarlah anak menemukan jalannya sendiri sesuai potensinya,” katanya. Itulah prinsip yang diterapkan pada empat orang anaknya. Anak sulungnya, Muhammad Khalid, 9 tahun, yang berbakat di dunia musik, diarahkan Lendo magang di studio musik milik gurunya. Hasilnya, Khalid sudah membuat rekaman soundtrack film kartun, yang tentu menghasilkan uang. “Saya bahkan tak peduli berapa nilai matematikanya,” kata Lendo.
BIODATA LENDO NOVO
Tempat tanggal lahir: Jakarta, 06 November 1964
Kantor:
Pendidikan:
Jabatan di Birokrasi:
Prestasi:
Pengalaman Profesional:
Wirausaha:
18 June 2008 14:35 WIB
Wednesday, 20 August 2008
POLLING PEMBACA |