Kata Kunci: OFSTED
Oleh: Iwan Qodar Himawan/PENA
Badan pengawas pendidikan di Inggris yang terus-menerus memperbaiki mutunya. Percaya bahwa kejujuran pemeriksaan yang meningkatkan kualitas pendidikan.
KEMATIAN seorang bayi menggoyang dunia pendidikan Inggris. Baby P, demikian ia diberi julukan, lahir pada 1Maret 2006. Ketika ia berusia 8 bulan, ibunya mempunyai pacar baru. Sang pacar, umurnya 32 tahun, ikut tinggal di rumah Baby P. Sejak itu, sang bayi mengalami penderitaan tak kunjung akhir.
Berkali-kali sang bayi masuk rumah sakit. Ia bahkan sempat masuk tempat penitipan bayi terlantar milik pemerintah. Masyarakat Inggris heboh ketika si bayi masuk rumah sakit lagi. Tubuhnya lebam-lebam. Wajahnya membiru. Ia langsung masuk unit gawat darurat. Ia meninggal ada 3 Agustus 2007.
Dewan Kota Haringey, di London Utara, yang dituding bertanggung jawab. Masalahnya, untuk urusan pengasuhan dan perlindungan anak, ada lembaga lain yang bertugas mengawasi, yaitu Ofsted. Si inspektur juga sudah pergi ke Hourington, malah berkali-kali. Eh, kebobolan.
Menjadi pertanyaan: bagaimana lembaga yang bertugas melindungi bayi menjalankan kerjanya?
Kematian Baby P yang tak wajar itu terungkap dalam dengar pendapat antara Chief Executive Ofsted, Christine Gilbert, dengan DPR, awal Desember lalu. Ofsted kependekan dari Office for Standards in Education, Chlidren’s Services and Skills alias Kantor untuk Standarisasi Pendidikan, Pelayanan Anak dan Keahlian. Ini merupakan lembaga independen yang ketuanya diangkat berdasar dekrit ratu. Lembaga inilah yang menilai kualitas sekolah. Pengumumannya selalu ditunggu-tunggu.
Meninggalnya Baby P dengan cara tak wajar itu dianggap sebagai tanda kecerobohan Ofsted. Dalama rapat kerja di DPR, Nyonya Christine Gilbert dituduh tidak becus dalam mengurus keselamatan anak. Selama satu jam lebih Nyonya Christine ditempur berbagai pertanyaan dari lintas partai, semuanya memojokkan.
Yang disoal, misalnya, mengapa Ofsted bisa sampai kebobolan, padahal sudah mengirimkan banyak inspektur ke Dewan Kota Haringey, yang bertanggungjawab atas perawatan si bayi. ‘’Anda seperti memimpin lembaga tambun dengan staf berlimpah, tapi tak becus bekerja,’’ kata salah seorang anggota dewan.
Debat makin memanas setelah Barry Sheerman, Ketua Komisi Anak, Sekolah dan Keluarga, ikut bicara. ‘’Sekarang saya makin khawatir terhadap kemampuan lembaga Anda dalam memantau keselamatan anak-anak,’’ katanya.
Sheerman makin jengkel setelah tahu dokumen di Ofsted dimusnahkan hanya tiga bulan setelah diterima. Tindakan itu, katanya, akan membuat siapapun kesulitan melacak terhadap siapa yang bekerja, dan apa hasil pekerjaannya. ’Sekarang kita susah mencari tahu siapa inspektur yang ketika itu mengawasi Baby P,’’ kata Sheerman.
Laporan yang masuk ke Komisi Anak di DPR menyebutkan, dari April 2007 – Agustus 2008 terdapat 210 anak yang meninggal akibat kekerasan di Wales dan Inggris. Alias setiap pekan terdapat tiga bayi jadi korban. Tapi dari 210 kematian itu, hanya dua yang laporannya diketahui petugas sosial. ‘’Anda benar-benar membuat kami cemas akan masa depan anak-anak,’’ kata Sheerman.
Nyonya Gilbert juga ditanya mengapa pada 2007, ia membuat laporan yang bagus sekali mengenai manajemen di Dewan Kota Haringey dalam hal perlindungan dan perawatan anak. Namun pada akhir 2008, ia membuat laporan yang kontradiktif.
Terhadap berbagai pertanyaan itu, Nyonya Gilbert mengatakan, pada 2007 Ofsted membuat laporan berdasar informasi yang diberikan dewan kota. Informasinya belakangan ketahuan salah. Ia juga mengakui ada keteledoran yang dilakukan stafnya, sehingga meski mereka sudah berkunjung 60 kali ke tempat perawatan anak, mereka tak tahu adanya kasus yang menimpa Baby P. ‘’Kasus Baby P ini hanya kekecualian. Kami yakinkan di sini, masalah seperti ini tidak akan terulang,’’ katanya.
Bu Christine juga membantah bahwa jumlah stafnya terlalu tambun. Ia memang memperpanjang tugas anak buahnya di bagian pengawasan sekolah, anak, dan universitas. ‘’Tapi itu kami lakukan karena mulai 2009 kami menerapkan metode pengawasan yang baru,’’ katanya.
*****
METODE pengawasan baru, itulah yang kini digembor-gemborkan Ofsted. Cara ini ditempuh setelah empat petugas yang bertanggung jawab dalam pengawasan Baby P sama-sama menyatakan mereka telah bekerja sesuai standar perlindungan anak yang ditetapkan pemerintah. Komisi Perawatan Kesehatan di DPR pun kemudian meluncurkan investigasi mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
Dalam metode yang baru, Ofsted akan memperkenalkan cara ‘’whistle blower’’ alias peniup peluit. Ini merupakan cara yang sudah biasa diterapkan dalam pemberantasan korupsi. Si peniup peluit ini orang yang berani mengungkapkan adanya penyelewengan, dan mereka mendapat perlindungan. Dalam hal perawatan anak, yang dimaksud peniup peluit ini adalah petugas sosial yang berani mengungkapkan adanya penyimpangan atau kejanggalan di dalam perlakuan anak.
Metode pengawasan terhadap sekolah juga dirombak total. Nama laporan pun diubah. Bila dulu laporan Ofsted diberi nama ‘’Annual Performance Assesment’’, mulai Januari 2009 ini diberi nama ‘’Comprehensive Area Assesment’’.
CAA, demikian singkatannya, akan memfokuskan pada praktek di garis depan. Di dalamnya juga akan dicantumkan hasil inspeksi yang mungkin belum diumumkan dalam laporan tahunan. Pokoknya, dijanjikan CAA akan memuat laporan yang lebih komplet plet mengenai kesejahteraan dan keselamatan anak.
Departemen Urusan Anak, Sekolah dan Pendidikan –ini pecahan dari Departemen Pendidikan dan baru dibentuk di era kabinet ini– menyambut baik rencana pembentukan CAA. ‘’Saya menyambut baik segala upaya yang diperlukan, demi keselamatan anak Inggris di seluruh negeri,’’ kata Menteri Anak, Ed Balls.
Ed Balls mengatakan, dewasa ini terdapat sembilan lembaga yang bertanggungjawab terhadap urusan anak. ‘’Mereka semua nilainya jelek,’’ katanya. Meski tak menyebutkan nama, namun salah satu yang dituding mendapat nilai merah adalah Ofsted. ‘’Saya akan menggunakan segala kekuasaan yang ada, demi anak kita,’’ katanya.
*****
Koran terkemuka, The Guardian, terbitan London, edisi akhir November lalu memuat laporan tahunan Ofsted yang memprihatinkan keselamatan ribuan murid di sekolah swasta, karena si sekolah mengabaikan aturan perlindungan anak dari gangguan. Sekitar sepertiga dari mereka tidak bisa menyediakan standar keselamatan. Mutu pendidikannya juga kurang bagus. Sekolah negeri umumnya berkualitas lebih baik.
Sekolah-sekolah swasta selama ini mendominasi papan atas hasil Ebtanas di Inggris. Mereka pula yang mendominasi penerimaan mahasiswa di universitas terkemuka. Namun, banyak dari mereka yang tidak menyediakan guru atau staf khusus yang menangani urusan keselamatan anak. Mereka tidak memiliki staf yang cukup serta prosedur memadai untuk memantau adanya gangguan terhadap anak.
Penilaian itu dilakukan Ofsted setelah menginspeksi 433 sekolah swasta. Mereka adalah anggota Dewan Sekolah Independen (ISC), yang merupakan 60% dari sekolah swasta, dan jumlah muridnya mencakup 80% dari total pelajar sekolah partikelir. Anggotanya mencakup sekolah agama, sekolah berasrama, sekolah Montessori, dan sekolah bagi anak dengan kebutuhan khusus.
Di sekolah swasta yang diinspeksinya, sebanyak 6% dinilai jelek, 37% cukup, 52% memuaskan, dan hanya 5% yang istimewa. Sementara untuk sekolah negeri, 5% hasilnya jelek, 32% cukup, 49% memuaskan, dan 15% istimewa. Empat dari 10 sekolah gagal membuat langkah perbaikan. ‘’Meski banyak dari proses pengajarannya kompeten dan efektif, namun hanya sedikit yang bisa menimbulkan inspirasi,’’ tulis laporan tahunan itu.
Miriam Rosen, kepala bidang pendidikan Ofsted mngatakan, beberapa sekolah terus-menerus gagal mengikuti standar keselamatan murid. Mereka emoh menyediakan staf yang cukup, serta dilatih untuk menangani keselamatan murid. ‘’Sekilas, murid tampak tidak terancam. Tapi ketika ditanya, sekolah tidak bisa menunjukkan siapa guru yang bertanggungjawab bila ada gangguan terhadap para murid. Ini tidak bagus,’’ kata Miriam.
****
Bagi sebagian kalangan pendidikan, Ofsted acap dinilai sebagai lembaga super. Lembaga ini merupakan gabungan dari empat badan pemeriksa yang terpisah. Mereka menjadi satu sejak 1 April 2007. Dasar hukum pembentukannya adalah ‘’Education and Inspection Act’’. Di situ diatur, tugas Ofsted adalah membuat aturan perlindungan dan pengasuhan anak serta remaja, dan mengawasi pelaksanaannya. Tugas lainnya adalah mengawasi pelaksanaan pendidikan dan pelatihan bagi warga di segala usia.
Kepada koran The Guardian, Nyonya Christine Gilbert mengatakan, ia sangat ingin meningkatkan standar kualitas pendidikan Inggris. Membaiknya kualitas pendidikan serta ekonomi mereka pada akhirnya akan membuat kejayaan negeri. Oleh karena itu, setiap laporan dijanjikan dibuat dengan jujur dengan prosedur memadai. Laporan mengenai pendidikan disampaikan kepada parlemen, sedang laporan tentang anak-anak disampaikan kepada Lord Chancellor.
Untuk membuat berbagai laporan itu, setiap pekan, Ofsted mengadakan ratusan inspeksi dan kunjungan rutin.
Ofsted merupakan badan non-kementerian. Kepalanya ditunjuk berdasar surat keputusan dari Ratu Inggris. Lembaga ini merupakan hasil gabungan Badan Standar Pendidikan dengan Inspektorat Pendidikan untuk Dewasa. Tugasnya adalah mengawasi pendidikan di 16 lembaga yang dibiayai dengan APBN, namun tidak termasuk perguruan tinggi yang sudah punya lembaga pengawas, yakni Quality Assurance Agency alias Lembaga Penjamin Kualitas.
Empat lembaga yang membentuk Ofsted adalah Her Mayesty’s Chief Inspectorate, yang bertanggung jawab terhadap pengawasan sekolah swasta, sekolah negeri, dinas pendidikan, lembaga pengasuhan serta pendidikan anak di Inggris. HMCI juga memantau inspektorat sekolah swasta.
Lembaga lainnya adalah Her Majesty’s Inspectorate, yang diniatkan untuk memberi nasihat independen kepada pemerintah Inggris dan parlemen dalam hal kebijakan, dan untuk menerbitkan laporan tahunan kepada parlemen mengenai kualitas pendidikan di Inggris. Lembaga lainnya adalah Education and Training Inspectorate di Irlandia Utara, serta Estyn di Skotlandia. Dua lembaga terakhir memiliki fungsi sama dengan Her Mayesty’s Inspectorate.
*****
Di tengah gencarnya gempuran terhadap Ofsted, lembaga penyiaran terkemuka, BBC, membuat berita yang memujinya. Berita pada 17 Desember 2008 itu mengungkapkan, dewasa ini sebagian besar warga, termasuk yang tak punya anak, tahu bagaimana pengawasan terhadap sekolah dilakukan. Orang tua mengandalkan laporan Ofsted untuk mengintip kualitas sekolah.
BBC melaporkan, betapa para guru sangat stress tiap kali inspektur dari Ofsted datang. Mereka hanya memberi tahu kedatangannya dua hari sebelum inspeksi, sehingga sekolah kurang punya waktu cukup untuk persiapan. Mereka makin ‘berkeringat’ karena para inspektur ikut masuk ke dalam kelas, duduk di meja paling belakang, mencatat setiap kekurangan guru. Kepala sekolah juga harus bekerja keras, karena hanya dalam waktu dua hari harus mengisi data menggunung.
Dalam waktu dua hari inspeksi itu, petugas Ofsted juga menanyai staf pengajar, staf administrasi, serta para murid. Mereka juga diberi akses untuk melihat data, seperti hasil ulangan dan ujian. Dari situ, inspektur tahu di mana nilai lebih dan titik lemah sekolah.
Bukan hanya nilai mata pelajaran yang dilihat. Mereka juga memelototi data kehadiran murid, jumlah perkelahian, serta catatan bagaimana sekolah merampungkan masalah antar-murid. Jumlah murid yang hamil, serta bagaimana sekolah menyelesaikannya, juga dicatat.
Meski sudah berupaya menerapkan penilaian menyeluruh, tapi kritik tajam terhadap metode yang dilakukan Ofsted tetap muncul. Lembaga pengamat pendidikan Civitas dalam laporannya pertengahan Desember lalu menyesalkan mengapa Ofsted terlalu memberi bobot pada hasil ujian. ‘’Kasihan orangtua murid yang mengandalkan data Ofsted, karena laporan lembaga ini sebetulnya masih jauh dari lengkap,’’ tulis Civitas.
Sebagai contoh adalah yang disampaikan reporter koran Times. Dalam edisi suplemen, reporternya menulis, selama 2006-7, Ofsted melakukan 6.331 kunjungan. Semuanya menggunakan metode sama: mengandalkan tes tertulis. Kurangnya staf menjadi alasan utama mengapa Ofsted tidak bisa melakukan pengawasan menyeluruh.
Ketua Komisi Anak, Pendidikan dan Keluarga di DPR, Barry Sheerman, mengungkapkan, sekarang banyak yang berpendapat, bagaimana cara Ofsted memberi nilai harus diwaspadai. ‘’Banyak praktisi pendidikan yang merasa, inspektur Ofsted sudah membuat nilai, sebelum mereka melakukan inspeksi,’’ kata Barry.
Di tengah pro kontra yang tak kunjung henti, Christine Gilbert, sang ketua Ofsted, maju terus. Ia tetap yakin, hanya melalui metode penetapan standar yang modern, serta penerapan yang jujur, dapat meningkatkan kualitas pendidikan.
IWAN QODAR HIMAWAN
Tak Ragu Menaikkan Standar
Christine mengawali kariernya sebagai guru sejarah. Dari situ ia mengetahui betapa parahnya pendidikan di Inggris. ‘’Ada anak umur 14 dan 15 tahun di depan saya. Mereka tidak bias membaca,’’ kata Christine. Untuk memecahkan masalah ini, ia kemudian belajar di Universitas Terbuka, mengambil diploma ilmu membaca. Di sinilah ia belajar bagaimana mengajar murid melek membaca.
Christine kemudian pindah ke Sekolah Tower Hamlets. Ini merupakan sekolah yang jadi pilot proyek pendidikan membaca. ‘’Dalam tiga bulan, saya langsung jatuh cinta. Anak-anak menyukai pelajarannya. Guru menyukai pekerjaannya,’’ katanya.
Tower Hamlets merupakan sekolah dengan ciri tertentu. Sekitar 60% warganya berasal dari Asia. Di rumah mereka bercakap dengan bahasa aslinya. Keunikan lain, nafsu makan mereka begitu besar, sehingga jumlah makanan gratis yang disediakan sekolah dua kali rata-rata nasional.
Beberapa bulan setelah Christine tiba di Tower Hamlets, inspektur dari Ofsted datang memeriksa kualitas sekolah. Mereka member peringkat enam, nomor dua dari bawah. Sebetulnya pihak sekolah mengajukan protes atas hasil penilaian itu. Tapi Christine tidak sependapat. Ia menyarankan, jauh lebih bagus memperbaiki mutu ketimbang mengajukan protes.
Hasilnya menakjubkan. Kurang dari dua tahun setelah penilaian yang hasilnya memalukan itu, Ofsted kembali. Tower Hamlets langsung melompat ke tingkat dua, hanya satu tingkat di bawah ‘’istimewa’’. Chris Woodhead, kepala Ofsted waktu itu, menilai hasil istimewa ini terjadi karena kinerja Christine yang istimewa.
Jumlah murid yang mendapat minimal lima nilai A dalam ujian nasional meningkat, dari 26% menjadi 56%. ‘’Christine telah menunjukkan kepemimpinan yang efektif,’’ kata Woodhead. Christine menjawab pujian itu dengan singkat, ‘’Kita harus fokus pada hal-hal penting,’’ katanya.
Pendahulu Christine di Tower Hamlet menilainya sebagai sosok yang berani tidak popular. Ia siap untuk berbeda pendapat, bahkan ia tak segan menolak intervensi para politisi. ‘’Ia adalah kombinasi antara politisi dengan operator yang baik,’’ kata Anne Sofer, kepala Tower Hamlet sebelum Christine.
Sikap Christine yang berani tidak popular sudah tampak dengan tekadnya untuk meningkatkan standar peringkat. Dulu, sekolah yang mendapat bintang tiga mendapat nilai ‘’good’’. Kini harus mendapat empat untuk meraih predikat itu. ‘’Saya tidak ragu untuk menaikkan standar,’’ katanya.
4 February 2009 08:36 WIB
Monday, 15 March 2010
POLLING PEMBACA |