oleh : MF. ARIEF /Pena
Mengalami masa kecil yang suram. Tekanan psikologis akibat orang tuanya memutuskan untuk bercerai akhirnya menggembleng sosok Sunarto menjadi manusia tahan banting hingga akhirnya mampu berprestasi di ajang pemilihan kepala sekolah berprestasi tingkat nasional.
Setelah melalui berbagai tahap seleksi mulai dari tingkat Kabupaten hingga pusat, Sunarto terpilih sebagai Kepala SMP Berprestasi Tingkat Nasional. Selepas menjalani beragam tes yang meliputi wawasan pendidikan, psikotes, presentasi dan penilaian berkas-berkas administrasi ia mampu mengungguli wakil dari provinsi lain dan tampil sebagai yang terbaik.
Dalam makalahnya Sunarto menyampaikan pengalamannya menerapkan inovasi moving class. Moving class atau kelas berjalan, yang diterapkannya di SMPN 2 Boyolali, maksudnya kelas berpindah dari mata pelajaran satu ke matapelajarn lainnya. “Ada penerapan langsung dari mata pelajaran yang ada ke lingkungan. Hampir semua lingkungan yang kita miliki kita manfaatkan sebagai sumber-sumber pembelajaran,” katanya.
Di SMP 2 Boyolali kelas tidak hanya memakai ruangan yang konvensional tetapi juga memanfaatkan lingkungan-lingkungan yang ada. Kelas-kelas dibuat sesuai dengan mapel. Siswa setiap ganti jam pelajaran akan pindah sesuai dengan mata pelajarannya. Misalnya ketika jam pelajaran Fisika mereka harus bergerak ke kelas fisika, begitu juga saat mengikuti pelajaran yang lainnya. Di kelas-kelas itu ruangan sudah disetting sedemikian rupa sehingga mewakili masing-masing mata pelajaran.
Moving class termasuk salah satu inovasi yang dilakukannya. Metode ini sudah dijalankan selama hampir 2 tahun. Menurutnya hingga saat ini sudah kelihatan hasilnya meskipun sekolah belum melakukan penelitian secara kuantitatif. “Kami baru mengambil dari sisi kualitas. Kami mengumpulkan pendapat dari anak-anak, guru dan tata usaha apakah efektif atau tidak? Hampir 95% anak-anak setuju dengan sistem moving class,” paparnya.
Selain kelas berpindah seperti ini Sunarto juga menyelenggarakan apa yang disebutnya sebagai e mercy. E mercy merupakan kelas dimana kegiatan pembelajaran dengan menggunakan bahasa Inggris. “Selama dua tahun terakhir, saya memimpin dua sekolah yang berbeda. Tahun pertama saya di SMPN 1, tahun berikutnya di SMPN 2,” ujar Sunarto.
Selain inovasi bagi kegiatan belajar mengajar terhadap kinerja guru di sekolahnya Sunarto juga mempunyai strategi khusus. Strategi tersebut ternyata mampu meningkatkan kinerja dan kualitas mereka.
Di SMPN 2 Boyolali para guru dikelompokkan dan menempati ruangan sesuai dengan mata pelajarannya. Hal ini tentu saja ada maksudnya. Menurut Narto dengan cara pengelompokan tersebut para guru mau melaksanakan kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) tingkat sekolah walaupun bukan hari MGMP. Jika ada permasalahan dan kendala yang berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar dibicarakan di sana. Hal yang dulunya jarang terjadi biasanya ketika berkumpul mereka lebih disibukkan dengan pembicaraan yang tidak ada sangkut pautnya dengan peningkatan mutu kegiatan pembelajaran.
MASA KECIL YANG SERBA SULIT
Sunarto dilahirkan 25 Februari 1963 di Pati. Pendidikan sekolah dasar ditempuhnya di SDN Tluwuk Juwana Pati dan lulus tahun 1974. Setelah itu melanjutkan ke Sekolah Teknik dan lulus tahun 1977. Selepas dari ST ia melanjutkan ke STM dan lulus pada tahun 1980.
Sebenarnya selepas lulus STM Sunarto bercita-cita ingin menjadi insinyur. Rencananya ia akan melanjutkan ke Institut Teknologi Bandung. Namun ternyata cita-citanya itu kandas. Perceraian orangtuanya, membuat Sunarto tak mau tingal bersama ayah atau ibunya. Ia memilih hidup sendiri. Tentu saja, tanpa bekal uang sama sekali, sangat sulit ia bisa kuliah di Bandung, jika ia memilih ITB sebagai tempat merajut mimpinya.
Sebenarnya ia memang gandrung pada ilmu-ilmu yang berkaitan dengan keteknikan sejak SD. Sehingga ia sengaja memilih sekolah teknik, saat lulus SD. Tak mampu meneruskan cita-citanya ke ITB, ia melanjutkan ke IKIP Semarang. program diploma 1. Untuk membiayai kuliahnya ia banting tulang ngenger pada orang. Akhirnya D1 berhasil ia tuntaskan dan ia langsung ditempatkan sebagai seorang guru. “Dulu sebenarnya saya tidak ingin menjadi guru tapi setelah jadi menjalaninya akhirnya senang juga dengan profesi ini,” katanya.
Ada banyak hal yang mewarnai perjalanan Sunarto mulai dari ketika kanak-kanak hingga saat ini. Sunarto terlahir dari ayah yang berprofesi sebagai petani dan ibunya pedagang. Awalnya kehidupan keluarganya termasuk berkecukupan dan bahagia. Namun ternyata ada saat roda kehidupan berbalik berada di bawah. Semua itu terjadi, setelah orangtuanya bercerai. Bapaknya kemudian menikah lagi begitu juga dengan ibunya. Waktu itu ia masih duduk di kelas 5 SD.
Satu hantaman psikologis yang luar biasa bagi Sunarto kecil. Tak terbayang rasa malu yang ditanggungnya. Maklumlah dulu sebelum bapak ibunya pisah keluarganya di desanya tinggal termasuk terpandang. Dari segi kemampuan dan kekayaan bisa dibilang cukup. “Saya masih ingat sekali saat masih sukaria,” kenang Sunarto.
Sebagai pelampiasan dan menghilangkan rasa malunya Sunarto bertekad sekolah di tempat yang jauh dari kampungnya. Ketika SMP ia sekolah di Pati. Walaupun sebenarnya Pati dengan desanya jaraknya hanya 17 km ia hanya pulang 3 bulan sekali.
Sewaktu SMP ia tinggal indekos. Ia ngenger ke orang hanya sekedar mencari tambahan biaya sekolah. “Akhirnya saya harus cari cara sendiri, untuk bisa bertahan sekolah. Benar-benar saya katakanlah kasarannya saya jadi pembantu yang penting sekolah,” kenang Sunarto.
Dari kerja kerasnya itu digunakan untuk biaya sekolah dan kebutuhan sehari-hari. Walaupun sebenarnya orangtuanya juga bantu tapi bisa dibilang tak banyak. Hal tersebut ia lakukan sampai ia kuliah di IKIP Semarang. Berbagai hal ia lakukan mulai dari menjadi buruh cuci sampai mengasuh anak orang.
“Di Semarang itu saya ikut keluarga orang yang punya anak 6 saat itu. Kecil-kecil yang paling besar kelas 5 SD. Jadi saya ikut bantu momong anak, kadang-kadang cuci sampai banyak menimba air,” katanya.
BERKARIER SEBAGAI GURU
Pertama kali mengajar Sunarto ditempatkan di SMPN 1 Boyolali pada tahun 1983. Awalnya dengan gaji yang hanya sebesar 27 ribu ia harus benar-benar berhemat dan mampu mengatur keuangannya. Maklum karena tahun 1983 itu ia harus kuliah lagi dan membiayai adik-adiknya. Makanya pertama kali mengajar ia berjalan kaki. Jaraknya kira-kira 2 km dari tempat kosnya dengan kondisi jalan naik turun.
“Wong saat itu gaji pertama baru Rp 27.000 dan tempat kos saja sudah Rp 7.500,” katanya.
Melihat penghasilan sebagai guru yang begitu pas-pasan untuk hidup akhirnya Sunarto merintis usaha sampingan. Mulai dari beternak sapi hingga memberi les privat dengan berkeliling. “Saya sudah pernah bertani, beternak sapi. Prinsip saya carilah usaha sebanyak-banyaknya meskipun kecil. Kalau mati satu paling tidak yang lain masih ada,” katanya.
Semua dilakukannya mulai dari nol sampai sekarang, saat ia punya lembaga pendidikan komputer dan juga bimbingan belajar. Bimbingan belajar ini merupakan pengembangan dari usahanya memberi les privat. Lembaga kursus yang dimiliki Sunarto didirikan sejak tahun 1993. Dulu awalnya memberi les jalan kok jadi lelah akhirnya saya berani kontrak. Sudah sekarang datang ke rumah. Akhirnya cepat sekali karena saya sudah punya murid banyak. Awalnya dulu hanya bimbingan belajar terus diikuti dengan kursus komputer.
Lembaga kursus yang didirikan Sunarto terletak di depan SMAN 1 Boyolali dengan luas tanah sekitar 325 meter persegi. Luas bangunan sekitar 100 meter persegi dibagi 3 ruangan. Jumlahnya semua 200an. Peserta kursus tersebut mulai dari siswa SMP hingga SMA. Saat ini pengelolaan sudah ia serahkan pada pengelola. Jumlah pengajarnya 8 orang dari Boyolali. “Saya hanya tanda tangan kalau ada ijazah-ijazah,” kata Narto.
Sunarto menikah tahun 1994. Ia beristrikan Dra. Darmi Supriatin, yang juga sebagai seorang guru di Boyolali. Dari pernikahannya itu ia dikaruniai seorang putra yang sekarang duduk di kelas 8, Rizal Lutfi Nartadi. Dengan berbagai kesulitan yang dialaminya kini justru disyukurinya. Menurutnya nikmat yang diterimanya sekarang walaupun hanya sedikit namun luar biasa.
M FATHONI ARIEF
10 April 2008 15:02 WIB
Wednesday, 20 August 2008
POLLING PEMBACA |
May 28th, 2008 at 2:48 pm
Guruku hebat sekali