Kata Kunci: hyronimus ghodang, SMA 2 Medan
Oleh: Dipo Handoko/Pena
KAWAN-kawan sebayanya lebih senang bermain sehabis bubaran sekolah. Tidak halnya dengan Hironymus Ghodang. Bocah 13 tahun siswa kelas 1 SMP Budi Murni 1 Medan ini, sehabis pulang sekolah harus berkutat pada kayu dan pisau ukir. Bukan sedang bersenang-senang membuat prakarya atau menekuni hobi. Ia bekerja di panglong kayu. Ayahnya, Fidelis Ghodang, kebetulan mandor di sebuah panglong kayu di
Hyronimus Ghodang remaja sudah mampu mengukir stilasi dedaunan yang biasa menghiasi perabot rumah tangga seperti kursi, tempat tidur, dan lemari berbahan kayu. “
Meski jemari tangannya lama tak lagi menyentuh kayu dan pisau ukir, tapi hingga saat ini Ghodang masih piawai membuat sketsa ukiran. Jika diminta membuat pola ukiran, jemari seperti menari. Dan, dalam sekejap pola ukiran stilasi dedaunan itu jadilah.
Kegiatan mengukir saat remaja dijalani Ghodang karena terpaksa. “Saya punya skill mengukir karena dipaksa keadaan. Dengan mengukir, uang sekolah saya sudah tidak ditanggung orangtua sejak itu,” kata Ghodang.
Ayahnya meski mandor di panglong kayu, tapi tidak cukup buat menyekolahkan tujuh anak-anaknya. Ghodang sendiri anak kelima. Dia ikutan kerja ayahnya bersama dua abangnya, yakni si sulung Hendrik Ghodang dan Romulus Ghodang (abang kedua). Mereka yang membantu bekerja hanya anak laki-laki, kecuali si bungsu Daniel Ghodang. Sedangkan tiga anak perempuan, Paulina Ghodang (anak ketiga), Lidia Ghodang (anak keempat), dan Rita Ghodang (anak keenam) membantu ibunya mengurus rumah.
Namun jalan hidup yang berliku itu menjadi terasa indah bila menyimak keberhasilan Hironymus Ghodang saat ini. Tahun 2008, Ghodang yang memilih menjadi guru, sudah mengajar sejak tahun kedua masa kuliah pada 1990, kini mendapat anugerah luar biasa: Juara I Lomba Guru Berprestasi Tingkat Nasional.
KELUARGA PENDIDIK
Masa kecilnya, nomor lima dari tujuh bersaudara putra pasangan Fidelis Ghodang (almarhum) dan Adriana, dilalui dengan pas-pasan. Jauh dari kesan menguasai kecanggihan teknologi. Sebagai mandor di salah satu panglong, tempat pengolahan kayu, di Medan, ayahnya tak cukup uang untuk membiayai dan memberikan banyak fasilitas buat pendidikan.
Sehingga, sejak kelas 1 SMP, Ghodang remaja sudah bekerja sebagai tenaga ukir di panglong tempat ayahnya bekerja. Di tengah keterbatasan, ia bisa menyelesaikan studinya dengan baik. Pendidikan dasar dan menengahnya diselesaikan di SD Budi Luhur Medan (1983), SMP Budi Murni Medan (1986), dan SMA Negeri 3 Medan (1989).
Kecintaannya pada matematika sudah membuncah sejak SMP. Semakin mengkristal di SMA karena kagum dengan guru matematika, Drs Nolong Samura, yang kini menjabat Kepala SMA Negeri 4 Medan. “Beliau adalah guru yang disiplin, tegas, dan terampil menulis. Tulisannya cantik dan enak dibaca,” kata Ghodang, yang tidak begitu menyukai bacaan fiksi.
Tamat dari SMA, garis kehidupan sebagai guru semakin menguat. Ia memilih kuliah di jurusan matematika IKIP Medan. Pilihan kuliah di IKIP ini tak lepas dari saran abangnya nomor dua, Romulus Ghodang, yang kini doktor fisika inti yang mengajar di Mississippi University Amerika Serikat.
KENTAL NUANSA PEMBELAJARAN
Dunia mengajar memang menjadi bagian dari keluarga besar Ghodang. Dari ketujuh anak-anak Fidelis Ghodang,
Meski mencintai matematika dan mengidolakan guru matematikanya, Ghodang tidak bercita-cita menjadi guru. Bahkan tak terlintas saat tamat SMA, ia akan kuliah menjadi guru. Malam menjelang seleksi penerimaan mahasiswa baru, Ghodang lebih mempercayakan saran abangnya Romulus. “Saya tidak tahu ke mana setelah SMA, sehingga abang Romulus menyarankan memilih IKIP Medan jurusan matematika dan elektro,” katanya.
Herannya, Ghodang baru tahu bahwa IKIP adalah “sekolahnya” para guru. Artinya mau tidak mau ia harus mengajar. “Meski begitu saya tidak apatis. Saya tetap optimistik menjalani kuliah,” katanya.
Untuk membiayai kuliahnya, Ghodang akhirnya mengajar di sekolah swasta. Masih di tingkat I, persisnya pada 1990, Ghodang sudah mengajar di SD Methodist 3 Medan. Selang setahun, di usia 20 tahun, ia bahkan mengajar matematika di SMA Sutomo 2 Medan. “Untungnya badan saya gemuk, sehingga siswa-siswa saya tidak tahu bahwa yang mengajar usianya sebenarnya hampir sebaya. Badan besar saya bisa menjaga wibawa sebagai guru,” Ghodang berkisah seraya tersenyum.
Selama kuliah itu ia mengajar di lingkungan sekolah Methodist, dari SD, SMP, dan SMA. “Mengajar di swasta terasa beban saya berat. Saya sampai stroke,” kata Ghodang. Ketika itu, meski usianya masih sangat muda, Ghodang sudah dipercaya menjadi wakil pimpinan sekolah bidang kurikulum. Hari-hari Ghodang saat itu memang hanya mengajar dan mengajar. Jam pagi ia mengajar di SD, sekitar pukul 10, dia mengajar siswa SMP, siangnya ia harus mengajar di SMA.
Mengajar di tiga sekolahan itu dilakukan untuk membiayai kuliahnya dan kuliah adiknya. Tak heran bila masa kuliah Ghodang baru kelar setelah 7 tahun, atau pada tahun 1996.
Sebelum kelulusannya, hari-hari Ghodang juga terisi oleh kehadiran sang pujaan hati. “Jujur sepanjang hidup saya tidak pernah pacaran kecuali hanya dengan istri saya sekarang,” katanya berkisah masa pertemuannya dengan Djeni Suliwira, tambatan hatinya yang tetap setia menemaninya hingga sekarang.
Djeni kebetulan juga guru SD Methodist 3. Djeni adalah guru kelas, yang pernah mengajar kelas 1 dan kelas 3. Mereka dijodohkan oleh rekan-rekan guru di
“Semua punya kesibukan sendiri-sendiri. Dia juga sangat sibuk karena mengajar di tiga sekolah, sehingga kami jarang bertemu,” kata Djeni, yang kelahiran 5 Oktober 1971.
Namun meski mereka jarang bercengkerama, Ghodang tetap memantau Djeni dari jauh. “Saya tetap mengamati,” katanya. Djeni sendiri memandang Ghodang sebagai sosok yang sangat tegas. “Saya bisa melihat ketika siswa sedang ramai di kelas, Begitu Pak Ghodang datang semua murid diam. Tidak ada suara berisik sedikit pun,” Djeni bercerita tentang sosok suaminya.
Djeni Suliwira sendiri terlahir dari keluarga pedagang. Ibundanya Tan Sioe Hoa, sudah dikenal di
Begitu lulus SMA, pada 1990, Djeni mengajar di SD Methodist 3
Kini di keluarganya, suasana pembelajaran sangat kental dalam keseharian mereka. Kedua putrinya, Fiona Ghodang (kelas 6 SD Methodist 3
Jasa memberi pelajaran tambahan itu masih dijalani Djeni dan Ghodang. Kini, setidaknya ada sekitar belasan siswa SD-SMA yang pagi dan malam belajar di rumah mereka. Bahkan ada murid yang dari TK sampai kuliah masih tetap senang dibimbing Djeni dan Ghodang. Djeni mengajar siswa SD dan SMP. Sedangkan Ghodang mengajar matematika siswa SMP hingga yang sudah kuliah sekali pun.
PENGABDIAN SEBAGAI GURU
Karier sebagai guru PNS dijalani pertama di SMP 1 Sosopan, Pasarmatanggor, Kabupaten Tapanuli Selatan. Itulah kali pertama ia ditempatkan sesuai SK CPNS bertanggal 30 Desember 1997. Penempatan sebagai guru PNS ini tak lama setelah kelahiran putri sulungnya, Fiona Ghodang, pada 3 Juli 1997.
Lokasi SMP 1 Sosopan terpaut sekitar 12 jam perjalanan dari tempat tinggal bersama istrinya di Jalan Biduk,
Mengajar di sekolah kecil dan jauh dari hingar bingar
Kehadiran Ghodang di SMA 2 Medan membawa perubahan besar. Kemampuannya di bidang TIK diterapkannya di sekolah. “Sejak saya memimpin sekolah ini, saya sejalan dengan Pak Ghodang, yang mempunyai penguasaan ICT, untuk membina teman guru-guru untuk menggunakan pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi,” kata Drs Muhammad Daud, Kepala SMA 2 Medan.
Ghodang memang rajin menularkan penguasaan bidang TIK kepada banyak guru untuk menggunakan pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Dari sekadar mengenal komputer hingga mampu menerapkan pembelajaran dengan multimedia. Banyak CD pembelajaran telah ia susun. Sejumlah buku penyelesaikan soal-soal matematika telah ia susun.
SMA 2 Medan juga sudah menerapkan sistem data menggunakan komputer. Ghodang pun dipercaya menjadi penanggung jawab Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sekolah.
Di sela kesibukannya mengajar di SMA 2 Medan, Ghodang mampu menyelesaikan Magister Ekonomi Pembangunan, di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh (2000-2003). Ia lulus berpredikat cumlaude, dengan indeks prestasi komulatif (IPK) mencapai 3,8.
HARI-HARI PEMBELAJARAN
Dunia pembelajaran tampaknya tak pernah lepas mengisi hari-hari Ghodang. Selain mengajar di SMA 2 Medan, ia punya kesibukan sebagai tenaga fasilitator Kurikulum, Teknologi Informasi dan Komunikasi, fasilitator Sekolah Rintisan Bertaraf Internasional (R-SBI) di SMA 1 Medan dan SMA 2 Plus Spirok. Dia juga bagian dari Tim Monitoring dan Evaluasi Teknologi dan Rintisan Sekolah Kategori Mandiri (R-SKM) Direktorat Pembinaan SMA Departemen Pendidikan Nasional. Ghodang juga menjadi instruktur Kurikulum dan Teknologi pada Dinas Pendidikan Kota Medan serta Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara.
Kegiatan organisasi profesi yang dijalani Ghodang adalah Ketua Tim Pengembang Kurikulum (TPK) SMA Dinas Pendidikan Kota Medan dan Dinas Pendidikan Propinsi Sumatera Utara. Dia juga ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) SMA se-Kota Medan, serta Ketua Balitbang pada Asosiasi Guru Matematika SMA/MA se-Sumatera Utara.
Waktunya dalam sebulan, kadang lebih banyak tersita oleh kegiatan-kegiatan di luar sekolah. Bahkan tak jarang harus meninggalkan rumah dalam beberapa pekan. Sebab sebagai fasilitator di tingkat
jalan hidup yang berliku itu menjadi terasa indah bila menyimak keberhasilan Hironymus Ghodang saat ini. Tahun 2008, Ghodang mendapat anugerah luar biasa: Juara I Lomba Guru Berprestasi tingkat Nasional. Karya tulisnya berjudul Pengoptimalan Pembelajaran Matematika Kelas X dengan Menggunakan Model Penemuan Terbimbing Berbantuan Komputer di SMA Negeri 2
DIPO HANDOKO (
17 April 2009 07:42 WIB
Tuesday, 16 March 2010
POLLING PEMBACA |
September 1st, 2009 at 1:59 pm
Selamat atas keberhasilan bapak, jalan yang panjang membuat orang menjadi tertantang.
Sekali lagi selamat
December 19th, 2009 at 10:37 am
Pa Ghodang…Guru terbaik yang pernah ngajar gw selama ini…..1 tahun yang luar biasa. congratz…
MAHESA _ SMAN2 MEDAN ALUMNI 2006
January 10th, 2010 at 8:12 am
salam hormat dan selamat untuk anda, saya sudah mengenal anda.