Kata Kunci: Asean, Best practices, Kepala sekolah
Jakarta, Rabu 17 Juni 2009
Melalui kegiatan yang dihadiri oleh para kepala sekolah dari sepuluh negara anggota ASEAN, diharapkan terdesiminasinya paktek-praktek terbaik kompetensi kepemimpinan kepala sekolah dari masing-masing negara ke tingkat regional. Selain itu, untuk mempererat kerja sama dalam usaha terbentuknya masyarakat Asia Tenggara sebagai komunitas yang saling menghormati. Tema yang diangkat adalah Strengthening the South East Asian School Principals Forum Through Effective Interaction and Communication in the Context of Globalized World.
Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional (Dirjen PMPTK Depdiknas) Baedhowi mengatakan, kepala sekolah, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di negara-negara kawasan Asia Tenggara, menghadapi tantangan terkait sumber daya sekolah, guru, dan paling penting adalah siswa. “Kepala sekolah tidak hanya bertanggung jawab untuk menyelenggarakan manajemen dan praktek kependidikan terbaik, tetapi juga mewujudkan lingkungan pendidikan yang baik dan memelihara setiap potensi sekolah,” katanya saat membuka acara di Hotel Millenium,
Baedhowi mengatakan, pada dekade akhir-akhir ini, dunia mengalami perubahan pesat sebagai dampak globalisasi ekonomi. Perubahan ini, kata dia, tidak hanya berdampak pada mode komunikasi, informasi, dan mobilitas populasi, tetapi juga pada sistem pendidikan di setiap negara termasuk di kawasan Asia Tenggara. “Semakin besar dan beragamnya sebuah negara, semakin besar pula tantangan khususnya di bidang pendidikan,” katanya.
Baedhowi menyebutkan, kepala sekolah harus memiliki sedikitnya
Pembicara tamu, Mark Haddon Carter dari
Menurut Mark, diperlukan mentoring khusus untuk guru baru. Dia mengatakan, guru baru membutuhkan hubungan mentoring yang efektif yaitu melalui keberadaan seorang mentor. Diperlukan mentor yang mudah didekati, bersahabat, terbuka, dan tertarik dalam mengembangkan guru baru. “
Lebih lanjut Mark menjelaskan, mentor tersebut diharapkan dapat berempati terhadap keadaan guru baru dan memberi dukungan psikologis sosial, dekat dengan guru, mengajar di kelas yang sama, patut dicontoh oleh guru yang lain, dan segender.
Sumber: MediaCenterDiknas
17 June 2009 16:29 WIB
Monday, 15 March 2010
POLLING PEMBACA |
June 26th, 2009 at 5:23 pm
hmm… Tulsan yang sangat inspiratif, nice blog