Drs. Ramlyd, Pengawas SMP Berprestasi Sulawesi Tenggara
“Hai saudara-saudaraku guru eks Timor-Timur bekerjalah dengan tulus dan tanpa pamrih. Semoga apa yang kita lakukan ini akan menjadi bekal di akhirat nanti. Mulailah berkarier, ternyata guru eks Timor-Timur tidak kalah dengan guru-guru yang lain. Aku rindu dengan kalian, maju terus jangan kalah bersaing,” itulah kata hati Drs Ramlyd pengawas berprestasi asal Sulawesi Tenggara saat ditemui usai pengumuman juara pengawas berprestasi.
Timor-Timur memang meninggalkan bekas yang mendalam di lubuk hatinya.
Lewat sebuah proses seleksi yang sangat ketat mulai dari tingkat kota Kendari, provinsi hingga pusat akhirnya ia menjadi juara pengawas berprestasi. “Setelah dapat peringkat pertama, kami ikut lagi di provinsi dengan peserta dari 10 kabupaten atau kota. Seleksinya tak jauh berbeda, tapi saya merasa yang paling berat waktu di tingkat kota,” kata Ramlyd.
Ramlyd mengakui bahwa para pengawas yang hadir di Jakarta berprestasi. “Cuma kemujuran masih berpihak pada saya. Persoalan kepintaran bukanlah yang utama tapi keberpihakan,” katanya dengan nada merendah.
Ia membawakan sebuah karya tulis berjudul: “Strategi Bimbingan Profesional sebagai Tindak Lanjut Kemitraan Pengawas dengan Kepala Sekolah dalam Melaksanakan Supervisi Akademik terhadap Guru Bahasa Inggris SMP Negeri di Kota Kendari.”
Materi karya tulis yang Ramlyd sampaikan berasal dari setiap pengalaman setiap kali turun ke lapangan. Seringkali ia mendapatkan fakta, bahwa masih banyak guru yang administrasinya belum lengkap. Tak jarang pula dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar belum memuaskan. Segala fakta yang didapatkannya itu akhirnya diolah sebagai bahan karya tulisnya.
Pada awalnya, Ramlyd berkarir sebagai guru di Timor-Timur tahun 1992. Waktu itu, ia ditempatkan di SMAN 2 Dili. Kemudian dipindahkan ke SMPN 1 Dili. Akhirnya ia diminta mengajar di Madrasah Aliyah An Nurdin Timor-Timur. Bahkan di sana ia juga ikut mengelola yayasan tersebut. Menurut Ramlyd dirinya tak pernah mengeluh ditempatkan dimanapun.
“Artinya dimanapun kita berada disitulah kita hidup. Saya pikir dimanapun yang penting ada manusia. Yang namanya manusia kan punya nurani. Saya pikir tak ada masalah, tinggal bagaimana mengkondisikan diri di tempat kita berada,” katanya. Sewaktu dinas di Timor-Timur tantangan utama yang dihadapi Ramlyd waktu itu adalah keamanan.
Setiap waktu mau pergi mengajar harus siap menghadapi berbagai resiko. “Artinya nyawa kami pun terancam tapi semuanya kembali lagi ke masing-masing individu,” kenangnya. Tapi menurut Ramlyd meski keadaannya genting pada prinsipnya selama bertugas dirinya tak pernah mengalami intimidasi dan gangguan keamanan.
Menurutnya yang penting mengajar dengan baik didasari niat yang baik. Ramlyd termasuk guru terakhir yang meninggalkan kota Dili. Ia baru keluar dari Ibu kota Timor Leste itu pada tanggal 19 Desember 1999. Ia benar-benar tahu dan ikut merasakan bagaimana kacaunya Dili, saat itu.
Ramlyd lahir pada 31 Desember 1965 di Tampo, Kabupaten Muna. Istrinya juga guru di MAN 1 Kendari, namanya Dra Jumrah, berasal dari Bima. Keluarga Ramlyd dikaruniai tiga anak. Pertama Inggrid Nurmaliza lahir di Bima 1995, kedua Jimly Odoliza kelahiran Dili 1998, ketiga Dae Artu Monaliza lahir di Kendari 10 Desember 2005.
Tentang adanya stigma negatif pada sosok pengawas menurut Ramlyd juga dirasakan rekan-rekannya. Hal itu, disebabkan oleh adanya pengawas yang tak profesional dan sekedar pelarian saja. Menyikapi hal itu, menurut Ramlyd yang penting adalah setiap pengawas menguasai tugas pokoknya. “Kita harus lakukan apa yang harus kita lakukan. Kepsek dan guru, pada dasarnya sangat senang dengan kehadiran kita,” jelasnya.
Ternyata, sudah sejak anak-anak, Ramlyd memendam cita-cita ingin menjadi guru. Namun bukan guru sekolah melainkani dosen.Tapi sekarang meskipun tak menjadi dosen, ia tetap bersyukur. Karena baginya pengawas itu tak ubahnya seorang dosen bagi guru-guru yang lain.
25 March 2008 13:28 WIB
Saturday, 22 November 2008
POLLING PEMBACA |