KESEHATAN

Kejang

Kata Kunci:


Oleh: Dr Sigit Widyatmoko, SpPD

 

Jangan masukkan sendok ke mulut anak yang kejang. Salah-salah bisa rontok giginya. Lebih baik dikompres dengan air hangat.


Kalau ingin tahu paras asli seorang ibu, lihatlah wajahnya ketika anaknya kejang, demikian pernah dilontarkan seorang dosen senior kepada saya. Alasannya waktu anak kejang si ibu tidak akan sempat untuk mematut-matut wajahnya di muka cermin. Dengan baju dan wajah seadanya, si anak akan langsung dibawanya ke dokter atau rumah sakit.

 

Saya sudah agak lupa dengan perkataan dosen ini. Tiba-tiba saja saya kedatangan pasien anak kejang. Pagi itu saya baru memeriksa seorang ibu yang sedang mempunyai masalah dengan perutnya. Di luar juga menunggu beberapa pasien yang antri untuk dipanggil. 

 

Tiba-tiba, ”Dok, tolong anak saya dok …!” Bu Wati, tetangga sebelah rumah, nyelonong masuk membawa Didin , anaknya yang berusia tiga tahun. Didin tampak tidak sadar, tangan dan kaki melonjak-lonjak. Mulutnya mengancing, sambil menggigit sendok yang dijulurkan ibunya. Badannya demam, sekitar 40oC. Tubuhnya kaku, bola matanya berbalik ke atas, suaranya merintih, dan dari mulut sedikit keluar air liur.

 

Bu Wati tampak gugup. Muka dan tangannya berkeringat membasahi daster kembang-kembangnya. Sesekali dia menyeka keringat yang berkerumun di dahinya. Tidak tampak lagi kesegaran wajah yang biasanya muncul dari roman mukanya. Saya jadi ingat perkataan isteri saya, “ Bu Wati itu usianya sudah 42 tahun lho.” Dugaan saya usianya baru 30-an tahun, ya maksimal 35 tahun.

 

Didin segera saya baringkan. Baju dan jaket yang menempel di tubuhnya saya longgarkan. Saya ambil air dari termos, saya campur dengan air kamar mandi, kemudian saya pakai untuk mengompres dahi, leher, dan perutnya. Pada pemeriksaan dengan stetoskop terdengar suara dari kedua lapang parunya, mengesankan pneumonia. Mungkin ini adalah suatu kejang demam yang ditimbulkan oleh infeksi saluran napas, pikir saya.

 

Saya ambil obat stesolid® suppositoria dari kulkas, segera saya masukkan dalam dubur Didin. Alhamdulillah beberapa saat kemudian dia menjadi tenang, tidak kejang lagi, terus tertidur. Napasnya juga menjadi teratur, tidak sesak lagi. Saya lihat bu Wati sudah tidak gelisah lagi.

 

Ternyata kejangnya sudah kedua kali ini. Yang pertama dua tahun lalu ketika Didin masih berusia 1/2 tahun. Lama kejangnya sekarang hanya sebentar sekitar 5 menit, dua tahun lalu 3 menit. Saya anjurkan untuk periksa lebih intensif ke dokter spesialis anak untuk menangani kejang anaknya ini.

 

Kejang adalah kontraksi otot yang berlebihan di luar kehendak. Kejang disebabkan oleh pelepasan hantaran listrik yang abnormal di otak. Gejala-gejala yang timbul dapat bermacam-macam tergantung pada bagian otak yang terpengaruh. Tetapi umumnya kejang berkaitan dengan suatu sensasi “aneh”, kekakuan otot yang tidak terkendali, dan hilangnya kesadaran.

 

Kejang dapat disebabkan beberapa hal, misal rendahnya kadar gula darah, infeksi, cedera kepala, keracunan, overdosis obat-obatan, tumor otak, kelainan saraf lain, dan kurangnya suplai oksigen ke otak. Pada beberapa kasus, penyebab kejang mungkin tidak diketahui. Kejang yang terjadi berulang mungkin merupakan suatu indikasi akan adanya suatu kondisi kronik yang dikenal sebagai epilepsi.

 

Step atau kejang demam masih umum terjadi pada anak anak. Menurut IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) kejadian kejang demam pada anak usia 6 bulan sampai 5 tahun hampir 2 - 5%. Sumber lain menyebutkan jumlah penderita kejang demam diperkirakan mencapai 2 - 4% dari jumlah penduduk di AS, Amerika Selatan, dan Eropa Barat. Di Asia dilaporkan penderitanya lebih tinggi.

 

Apa yang dimaksud dengan kejang demam? Kejang demam merupakan kejang yang terjadi pada saat seorang bayi atau anak mengalami demam tanpa infeksi sistem saraf pusat. Kejang demam biasanya terjadi pada awal demam. Dalam keadaan demam, kenaikan suhu tubuh sebesar 1 oC menyebabkan kenaikan metabolisme basal sebanyak 10 - 15%, sementara kebutuhan oksigen pada otak naik sebesar 20%.

 

Pada anak balita aliran darah ke otak mencapai 65% dari aliran seluruh tubuh, sedangkan pada orang dewasa hanya 15%. Karena itu kenaikan suhu tubuh lebih mudah menimbulkan gangguan pada metabolisme otak. Selanjutnya terjadi gangguan keseimbangan sel otak yang menimbulkan terjadinya pelepasan muatan listrik yang menyebar ke seluruh jaringan otak. Akibatnya terjadi kekakuan otot yang menyebabkan kejang.

 

Kejang demam dibedakan atas dua macam. Pertama, kejang demam sederhana, yaitu berlangsung kurang dari 15 menit dan sama sekali tidak menimbulkan kerusakan otak ataupun membahayakan jiwa si anak. Setelah kejang, biasanya anak akan menangis atau sedikit mengantuk.

 

Yang kedua, kejang demam komplek, yaitu berlangsung lebih dari 15 menit dan bisa terjadi lebih dari satu kali dalam 24 jam. Tipe ini lebih serius, karena dapat mengakibatkan komplikasi pada otak berupa keterbelakangan mental dan epilepsi. Kasus anak Didin di atas termasuk kejang demam sederhana.

 

Setelah kejang demam pertama kira-kira 33% anak akan mengalami satu kali rekurensi (kekambuhan). Sekitar 9% anak mengalami rekurensi tiga kali atau lebih. Risiko rekurensi meningkat dengan terjadinya kejang pada usia dini, cepatnya anak mendapat kejang setelah demam timbul, temperatur yang rendah saat kejang, riwayat keluarga kejang demam, dan riwayat keluarga epilepsi. Pada kasus anak Didin, kekambuhan terjadi dalam selang waktu dua tahun. Faktor risikonya adalah terjadinya kejang pertama saat berusia 6 bulan.

 

Epilepsi diartikan sebagai kejang berulang dan multipel. Kejang epilepsi tidak disebabkan oleh demam, inilah yang membedakan dengan kejang demam. Tetapi, anak dengan riwayat kejang demam mempunyai risiko sedikit lebih tinggi menderita epilepsi pada usia 7 tahun dibandingkan dengan anak yang tidak pernah mengalami kejang demam.

 

Jika anak Anda mengalami kejang demam, beberapa hal berikut perlu dilakukan.

  • Pertama, jika demamnya tinggi berikan parasetamol dan ibuprofen. Mengenai dosis dan cara pemberian silakan berkonsultasi dengan dokter.
  • Anak jangan diselimuti dengan selimut tebal, karena akan menambah demamnya, akibat pembebasan panas dari dalam tubuh terhambat. Pakaian yang kencang hendaknya dilonggarkan.
  • Mengoleskan alkohol juga bisa menurunkan demam, tetapi kurang dianjurkan karena dikhawatirkan bisa mengenai mata. Sebagai gantinya, anak cukup dikompres air hangat suam-suam kuku dengan harapan saat air hangat menguap, panas dari tubuh si anak ikut menguap.
  • Letakkanlah anak di lantai atau di tempat tidur, dan jauhkan dari benda yang keras atau tajam.
  • Palingkan kepala ke salah satu sisi sehingga saliva (ludah) atau muntah dapat mengalir keluar dari mulut.
  • Jangan menaruh apapun di mulut pasien. Anak tidak akan menelan lidahnya sendiri. Jadi tindakan bu Wati di atas keliru karena memasukkan sendok ke dalam mulut. Tindakan ini bisa merontokkan gigi dan melukai rahang.
  • Hubungi dokter anak Anda setelah anak mengalami kejang demam untuk pertama kali, walaupun kejang hanya berlangsung selama beberapa detik. Jika kejang berlangsung lebih dari 5 menit atau disertai dengan muntah, kesulitan bernafas, atau terlihat sangat mengantuk, segera bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan tindakan darurat.
  • Bagaimana dengan pemberian obat-obatan antikejang saat anak demam? Dahulu hal ini sering diresepkan oleh dokter dengan tujuan mencegah terjadinya kejang. Tetapi sekarang sudah tidak dianjurkan karena dapat menimbulkan efek ketergantungan dan efek samping serius.
  • Kalaupun terjadi kejang, toh juga tidak akan menimbulkan komplikasi yang berat. Kejang demam sederhana tidak akan menimbulkan kerusakan otak, keterbelakangan mental, kerusakan otak, ataupun epilepsi.

Karena itu tetap waspada, tetapi jangan panik. Anak boleh kejang, tetapi penampilan tetap harus dijaga …. ¡

17 July 2008 06:04 WIB

Artikel ini menarik?
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
Loading ... Loading ...

Pena Pendidikan

Wednesday, 20 August 2008

REDAKSI


Iwan Qodar Himawan

Saiful Anam

Dipo Handoko

Eva Rohilah

Fathoni Arief

Kenny

Arien TW

RUBRIK

ANGGOTA

POLLING PEMBACA

EMAIL SUBSCRIBE

Enter your email address:

STATISTIK

KATA KUNCI