Konser Karawitan Muda Indonesia (KMI) III kembali digelar. KMI III diselenggarakan di Auditorium RRI Pusat, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, tanggal 15-16 Maret 2008. KMI III yang merupakan lanjutan dari KMI I 2006 dan KMI II 2007 diikuti sejumlah siswa sekolah dan sanggar seni tradisonal dari daerah-daerah di Indonesia.
Menurut Prof. Dr. Edi Sedyawati, Ketua Umum KMI, konser digelar untuk membangun gerakan dan kekuatan artistik di kalangan pemuda Indonesia. “Kami berharap konser ini bisa diterima kalangan generasi muda yang sudah luntur terhadap budaya bangsa. Musik tradisional memang harus terus berinovasi mengikuti perkembangan jaman, agar generasi muda juga bisa tertarik,” kata Guru Besar Universitas Indonesia ini, kepada PENA PENDIDIKAN.
Konsep KMI III yang melibatkan RRI Banjarmasin, RRI Bali dan RRI Jayapura, melibatkan seni musik khas di tiga daerah tersebut. Banjarmasin menyajikan musik tradisional Madihin dan Pating, Bali dengan permainan Gong Kebyar dari sanggar Buruansari, sementara musik tradisonal Tifa dan Kelabut disuguhkan dari Jayapura.
“Konsernya berbarengan di masing-masing auditorium RRI Banjarmasin, Bali dan Jayapura. Termasuk Bandung dan Jakarta juga menyajikan seni tradisonal di auditorium RRI Jakarta” tutur Edi Sedyawati.
Istilah karawitan sendiri menurut Edi, adalah bentuk dari kesepakatan dan kesepahaman Indonesia, dalam melihat keanekaragaman musik dan budaya. Sehingga munculah nama karawitan untuk mewakili keanekaragaman musik. Edi berharap pemerintah mau membangun sekolah-sekolah menengah kesenian, agar bisa mencangkup seluruh musik tradisional bangsa. “Seperti di Padang Panjang sudah ada Akademi Seni Karawitan, dan di Makassar ada sekolah menengah karawitan,” Edi Sedyawati menambahkan.
Untuk itu, harus ada semacam pengembangan inovasi bagi musik tradisional. Sebab, keragaman seni musik tradisional harus dikembangkan dan dimodifikasi menyesuaikan perkembangan jaman. “Mau tidak mau jaman terus berubah, untuk bisa diterima khalayak banyak khususnya generasi muda, kita harus berinovasi lewat musik tradisonal,” kata Edi Sedyawati.
Salah satunya, masih kata Edi Sedyawati, dengan cara menciptakan lapangan kerja untuk orang yang bergerak di bidang seni musik. Tujuannya, agar orientasi estetik musik bagi kalangan muda, tidak hanya terbatas pada apa yang sudah biasa disiarkan di media massa. “Dengan menciptakan lapangan kerja bagi pekerja musik otomatis ada pasar, dengan begini perkembangan musik tradisional akan lebih dikenal luas,” katanya.
SHANTY/pena.com
18 March 2008 12:14 WIB
Saturday, 22 November 2008
POLLING PEMBACA |