PERISTIWA

Kampung Percontohan Manggarai: Dari Pelanggan Banjir Ke Percontohan

Kata Kunci: , , ,

Tandatangan kesepakatan ManggaraiPKPU bersama Indosat mengajak warga Manggarai untuk membangun kawasan sadar pendidikan dan kesehatan. Masih banyak warga yang apatis. Seolah sudah terpatri di memori warga Jakarta bahwa Manggarai identik dengan pintu air. Manggarai juga dikenal sebagai salah satu kantong permukiman kumuh di Jakarta Selatan. Tiap tahun, daerah ini nyaris selalu jadi pelanggan banjir. Sebaliknya, pada musim kemarau, bahaya kebakaran pun mengintai karena letak rumah-rumah kumuh yang berjejalan. Tiap banjir datang, warga Manggarai dihadapkan dengan masalah kesehatan akibat kondisi lingkungan yang tidak sehat. Pendidikan anak-anaknya pun terganggu. Mereka tak bisa masuk sekolah karena rumahnya atau sekolahnya terendam banjir.

Kondisi itu mengundang empati Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU), sebuah lembaga swadaya masyarakat, yang peduli pada masalah-masalah sosial masyarakat. Lembaga yang berkantor di bilangan Condet, Batuampar, Jakarta Timur, itu berhasil mengajak warga Manggarai untuk bersama-sama membenahi kawasan tempat tinggal mereka. Bekerjasama dengan Indosat, PKPU kini menjadikan Manggarai sebagai kampung percontohan di Jakarta. Program-program perbaikan kawasan yang dilaksanakannya meliputi program kesehatan dan pendidikan.

Di bidang kesehatan, PKPU mengajak para kader PKK dan Posyandu di Manggarai untuk bersama-sama menyadarkan warga mewujudkan budaya sadar gizi. Sedangkan dalam bidang pendidikan, program yang digelar adalah pendidikan anak usia dini (PAUD) bagi anak-anak usia 4 – 6 tahun, pemberantasan buta aksara, serta program life skill yang meliputi kursus komputer dan menjahit. Di Manggarai, kini telah berdiri taman bacaan dan taman bermain bagi anak-anak usia dini dan anak-anak usia SD dan SMP.

“Program yang kami jalankan merupakan stimulus bagi masyarakat Manggarai untuk menjadikan permukiman mereka sebagai masyarakat pembelajar,” kata Suharyanto, aktivis sekaligus juru bicara PKPU. Kampung percontohan Manggarai merupakan bagian dari rangkaian program bina desa yang digulirkan PKPU tahun ini.

Saat ini PKPU telah mendirikan sebuah posko serbaguna bagi masyarakat Manggarai. Kelak, posko itu akan difungsikan untuk berbagai macam kegiatan, mulai dari aktivitas pembelajaran, pelayanan kesehatan, pemberdayaan ekonomi, sarana urun rembuk warga hingga posko siaga banjir yang dilengkapi dengan alat-alat evakuasi. PKPU kini tengah melakukan survey untuk mendapatkan data yang valid guna menetapkan prioritas program yang akan dilaksanakan.

Berapa dana yang dibutuhkan? “Tidak banyak, karena yang kami lakukan untuk masyarakat Manggarai ini hanyalah stimulus awal, untuk memotivasi warga agar mau membangun daerahnya sendiri,” kata Suharyanto. Menurut dia, kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan program ini adalah sifat apatis pada sebagian masyarakat, yang memang masih hidup pas-pasan. Mereka hanya berpikir bagaimana mencari makan hari ini, bukan apakah harus bersekolah atau tidak. “Karena itu kami berupaya menanamkan kepada warga bahwa belajar itu penting. Dan, belajar tidak harus di dalam sebuah ruangan dengan deretan meja dan kursi,” kata Suharyanto. Belajar bisa dilakukan di mana saja.

Sejak didirikan tahun 1999, PKPU giat melaksanakan program-program sosialnya, terutama program pendidikan. “PKPU selalu berupaya untuk memperluas dan memperbaiki keseluruhan perawatan dan pendidikan anak usia dini terutama bagi anak-anak rawan dan tidak beruntung,” kata Suharyanto. PKPU juga berusaha memulihkan sistem pendidikan di daerah yang dilanda konflik, ketidakstabilan dan bencana alam. Misalnya, di Ambon, Ternate (Maluku), Madura, Aceh, Yogyakarta, Pangandaran (Jawa Barat) dan terakhir di Padang.

Di daerah-daerah rawan itu, PKPU telah berupaya memulihkan kegiatan pendidikan, dengan cara mendirikan sekolah, laboratorium –mulai dari SD hingga SMU, sekolah terbuka, rumah baca, perpustakaan keliling, beasiswa bagi siswa yang tidak mampu, dan menggelar pelatihan berkala untuk meningkatkan profesionalime guru. Dengan pendidikan yang layak, diharapkan anak-anak korban bencana atau korban konflik pun bisa meneratas jalan ke masa depan yang lebih baik.

ESCASTRA dan FETTY SHINTA LESTARI

3 February 2008 13:01 WIB

Artikel ini menarik?
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
Loading ... Loading ...

Pena Pendidikan

Saturday, 22 November 2008

REDAKSI


Iwan Qodar Himawan

Saiful Anam

Dipo Handoko

Eva Rohilah

Fathoni Arief

Kenny

Arien TW

RUBRIK

ANGGOTA

POLLING PEMBACA

EMAIL SUBSCRIBE

Enter your email address:

STATISTIK

KATA KUNCI