Rabu, 24 Juni 2009
Jakarta - Pengembangan sekolah menengah kejuruan hingga saat ini masih terkendala jumlah guru yang belum memadai. Penyediaan guru yang bermutu bukan perkara mudah karena guru SMK sebagian harus memiliki keahlian khusus. Kerja sama dengan industri jadi salah satu solusi.
Kerja sama dengan industri kini semakin dibutuhkan karena keterampilan guru dan murid mendesak untuk ditingkatkan seiring dengan berubahnya pasar kerja. Keterampilam murid tidak bisa ditingkatkan jika jumlah guru masih kurang, seperti yang dihadapi sejumlah SMK.
Di SMKN 57 Jakarta, misalnya, kekurangan guru masih terjadi untuk mata pelajaran adaptif seperti IPA, Bahasa Inggris, dan Matematika sehingga sekolah tersebut menggunakan tenaga guru honorer. Kepala SMKN 57 Armedi mengatakan, Selasa (23/6), untuk tenaga guru bidang adaptif terdapat 10 tenaga honorer. Kekurangan itu terjadi lantaran jumlah guru yang pensiun tidak seimbang dengan pengangkatan guru baru.
Untuk mata pelajaran produktif atau pengajar bidang kompetensi keahlian, jumlah guru yang ada telah memadai. Di sekolah tersebut total terdapat 71 guru yang terdiri atas 27 guru bidang produktif dan selebihnya guru bidang adaptif serta normatif (antara lain Agama, Olahraga, dan Bahasa Indonesia).
Harus bertahap
Pengembangan SMK dipandang oleh para pengelola tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan harus bertahap. Kurangnya tenaga guru, misalnya, akan berimbas pada jumlah siswa yang dapat diterima.
Kepala SMKN 29 DKI Jakarta H Wurdono berpendapat, demi mutu dan kualitas layanan dan juga lulusannya, daya tampung siswa SMK tiap rombongan belajar sebaiknya dikurangi. ”Jumlah siswa per rombongan belajar tiap kelas idealnya 24 siswa. Sekarang, kami masih terima 36 orang,” kata Kepala SMKN 29 DKI Jakarta.
Keinginan pengurangan kuota siswa tidak terlepas dari kondisi faktual terbatasnya tenaga guru serta sarana-prasarana di SMK bidang penerbangan ini.
”Kalau terima banyak, siapa yang mengajar?” ucapnya. Sekolah itu mendapat bantuan tenaga guru lepas dari kalangan profesional, yaitu dari Garuda Maintenance Facility (GMF), TNI
Angkatan Udara, dan maskapai penerbangan Batavia Air.
Mengingat terbatasnya dana pemerintah, sejumlah SMKN di DKI Jakarta mencari cara kreatif untuk memperoleh dana tambahan demi peningkatan kualitas guru serta pengembangan sarana-prasarana. SMKN 30 DKI Jakarta, misalnya, membuka sejumlah unit produksi, antara lain warung steak, kantin kue-kue, katering, sanggar busana, sampai tempat pencucian pakaian.
Sekolah itu termasuk dalam kelompok keahlian pariwisata.
Selain sebagai tempat praktik, unit-unit produksi tersebut menghasilkan laba yang bisa digunakan untuk menambah sarana-prasarana serta alat-alat baru sekolah. Tiap bulan rata-rata diperoleh omzet Rp 10 juta dari unit-unit produksi ini.
Strategi
Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Departemen Pendidikan Nasional Joko Sutrisno menjelaskan, ketersediaan guru serta sarana-prasarana merupakan tantangan besar bagi SMK. Tahun 2008 terdapat sekitar 105.000 guru kejuruan dengan jumlah siswa 3,3 juta orang di 7.540 sekolah.
Padahal, tahun ajaran baru ini, pemerintah ingin meningkatkan rasio SMK dan SMA 50:50. Jumlah SMK ditambah menjadi 7.719 sekolah dengan jumlah siswa diperkirakan 3,8 juta orang. ”Untuk itu, dibutuhkan 129.288 guru kejuruan. Dengan kata lain, masih kekurangan sekitar 24.000 guru secara keluruhan,” ujarnya.
Untuk pemenuhan tenaga pengajar dalam jangka waktu pendek, Joko mengatakan, pihaknya bekerja sama dengan perguruan tinggi yang relevan agar mengirimkan mahasiswa tingkat akhir guna mengajar di SMK melalui program KKN Tematik- Pendampingan SMK.
Selain itu, ada kerja sama dalam program TNI Manunggal Membantu Pendidikan. Anggota TNI ikut menjadi
pengajar produktif SMK di daerah tertentu. Pemerintah juga menerapkan program double shift dan bekerja sama dengan dunia usaha serta industri untuk membantu pengajaran produktif. Alternatif lain ialah pengalihan kompetensi mengajar guru adaptif menjadi guru kejuruan.
(INE/JON)
Sumber: www.kompas.com
24 June 2009 10:18 WIB
Monday, 15 March 2010
POLLING PEMBACA |