Kata Kunci: guru berprestasi, sri sulastri
Dua kebahagiaan diraih Dra. Sri Sulastri, MM (50 tahun) pertengahan Agustus lalu. Ia menjadi Juara I Lomba Guru Berprestasi SMP Tingkat Nasional 2008. Sebulan kemudian, tepatnya 17 September, ia dilantik menjadi Kepala SMPN 236 Jakarta Timur, sebagai hadiah atas keberhasilannya mengangkat citra Jakarta Timur dalam lomba guru berprestasi itu.
“Saya tidak pernah mimpi maupun membayangkan meraih dua kebahagiaan sekaligus,” tutur Sri Sulastri didampingi suaminya, Drs. Endang Kusnandar, ketika ditemui Majalah GURU, di rumahnya Jalan Kenanga I/18 Kompleks Perumahan Taman Duta, Cisalak, Sukmajaya, Kota Depok, Jawa Barat, awal September lalu. “Justru suami yang mempunyai firasat itu. Pada malam hari sebelum pengumuman, ia mimpi melihat sinar terang meliliti tubuh saya,” tambahnya.
Lulusan PGSLP (Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama) IKIP Yogyakarta 1977 yang langsung menjadi guru di SMPN 49 Jakarta Timur ini, memang layak menyandang predikat guru berprestasi tingkat nasional. Pasalnya, Sri Sulastri yang lahir di Klaten, Jawa Tengah, 14 April 1958 ini, sudah lama dikenal para insan pendidikan, bukan hanya di lingkungan SMPN 49 dan wilayah DKI Jakarta, melainkan di seluruh Indonesia.
Sejak 1995, Sri Sulastri sudah andil mencerdaskan anak bangsa dalam skala nasional. Di antaranya, ia terpilih jadi penulis modul SMP Terbuka untuk mata pelajaran IPA (Fisika). Pada tahun yang sama, ia juga terpilih jadi penulis Kejar Paket B mata pelajaran IPA (Fisika) Universitas Terbuka yang digunakan secara nasional. Sejak 1996 hingga sekarang, anak ketiga dari enam bersaudara pasangan Gito Martono dan Lasmina ini, juga dipercaya jadi tim penulis soal-soal Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Ebtanas) yang dikenal sebagai Ujian Nasional (UN).
Dari tangan perempuan yang memiliki nama kecil Sri Lestari ini pula, dihasilkan beberapa buku teks mata pelajaran IPA (Fisika) berikut soal-soalnya untuk SLTP/MTs, yang diterbitkan beberapa penerbit ternama seperti Erlangga, Grasindo, Yudhistira, dan penerbit lainnya.
Dari olah pikir dan kecakapannya menulis, Sri Sulastri juga menghasilkan Buku Panduan Guru SMP bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Dasar Provinsi DKI Jakarta tahun 2005. Selain itu, Sri Sulastri juga terpilih jadi penyaji materi Bedah Fisika yang ditayangkan TVRI secara nasional maupun internasional setiap Ahad pukul 07.00 WIB.
Meneliti dan Menulis
Meneliti dan menulis, bagi Sri Sulastri, bagai dua sisi mata uang yang beda permukaan tapi punya nilai sama: mencerdaskan anak didik, dan menyiapkan masa depan bangsa. Sehingga, meneliti dan menulis merupakan pekerjaan satu kesatuan yang tidak bisa dipisah dari profesinya sebagai guru. Dari meneliti dan menulis ini pula, Sri Sulastri terus menyusun beberapa karya ilmiah maupun buku-buku pelajaran.
Ihwal tulis-menulis ini, Sri Sulastri mengatakan, sudah menjadi hobinya sejak remaja. ”Pada saat masih remaja, saya terbilang pemalu, sehingga agak susah untuk menerangkan di depan umum. Untuk menuangkan gagasan atau isi hati, saya mewujudkannya dalam tulisan,” katanya. ”Termasuk ketika sedang ada masalah dengan suami atau orang lain, saya tumpahkan uneg-uneg dan marah itu dalam bentuk tulisan dan sesekali disertai dengan tetesan air mata.”
Terkait hobi menulisnya pula, membuat perencanaan dan detil kegiatan sebelum mengajar sudah jadi kebiasaan rutin Sri Sulastri. Alam lingkungan dan benda-benda di sekitar rumahnya juga sering dijadikan media belajar mengajar Sulastri, setelah sebelumnya melakukan penelitian lebih dulu.
Mengajar dengan alat peraga merupakan kebiasaan Sri Sulastri. Karenanya, ia tidak merasa risih dan canggung membawa baskom saat memaparkan hasil penelitiannya pada ajang ”Pemilihan Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2008,” Agustus lalu. Dari karya tulisnya “Meningkatkan Kreativitas Berpikir Siswa dalam Mata Pelajaran IPA pada Konsep
Terinspirasi Penjual Buah
Sri Sulastri menuturkan, kalau karya ilmiahnya itu terinspirasi pembicaraan dengan pedagang buah langganannya. Untuk meyakinkan pembeli, si pedagang buah biasa bercerita panjang lebar mengenai beragam buah yang dijualnya. ”Untuk membuktikan buah masih segar atau tidak, cukup mudah. Kalau buah dimasukkan dalam air kondisinya melayang, berarti masih segar. Sebaliknya, kalau tenggelam, berarti buah sudah tidak bagus,” kata si penjual buah ditirukan Sulastri. ”Mungkin busuk, karena kemasukan udara dari luar,” tambahnya.
Singkat cerita, Sulastri kemudian bereksperimen dengan objek jeruk
Penelitian dilakukan terhadap 3 macam jeruk
Menurut Sulastri, jeruk mengapung karena
Sukses ini memantapkan Sri Sulastri melengkapi penelitiannya untuk “Lomba Guru Berprestasi SMP Tingkat Nasional Tahun 2008.” Ia mengulang eksperimen jeruk
Sulastri juga menjelaskan mengenai kapal kayu yang bisa mengapung di air. Kapal kayu dan manusia didalamnya mengapung di air. Tetapi, manusia tenggelam di air. Artinya,
Prihatin LKS Resep
Menurut Sri Sulastri, sejatinya eksperimen itu lebih ia tekankan pada pentingnya guru memberi tugas atau soal-soal pada siswanya dengan pola divergen. Tugas berpola divergen adalah, berupa pertanyaan yang merangsang siswa bisa bebas berpendapat atau memberikan gagasan. Sehingga siswa berusaha mencari banyak jawaban, karena pertanyaan divergen mempunyai banyak alternatif jawaban. “Pembelajaran dengan pola divergen dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa menjadi kritis, kreatif, logis, luas dan mendalam,” kata Sulastri.
Sebaliknya, pola pembelajaran konvergen (logika tertutup), menurut Sulastri, bisa membodohkan siswa. Pertanyaan konvergen berisi langkah yang mengarah pada satu jawaban atau kesimpulan. Hal ini menuntut siswa fokus pada kegiatan dengan tujuan mencapai satu jawaban tepat dan benar. Sehingga, pertanyaan konvergen cenderung membuat siswa kurang aktif, sebab jawaban hanya ada satu yang pasti.
Pertanyaan konvergen mengandung instruksi seperti: cocokkanlah, berapa, ukurlah, catat, dan hitunglah. Model konvergen ini banyak dijumpai pada lembar kerja siswa (LKS) mata pelajaran fisika. “LKS seperti ini hanya berperan sebagai resep yang sedikit sekali memberikan peluang kepada siswa untuk kreatif atau mencari alternatif jawaban lain dari permasalahan yang ada,” tandasnya.
Dalam pola pembelajaran divergen, kata Sulastri, pada tahap awal — pertemuan kesatu dan kedua — guru masih harus menuntun siswa. “Namun, pada tahap berikutnya siswa sudah bisa jalan sendiri. Karena siswa memang dirangsang kreativitasnya,” katanya.
Sulastri mengaku prihatin melihat evaluasi akhir siswa, sejak era Nilai Ebtanas Murni (NEM) hingga Ujian Nasional (UN). Data delapan tahun terakhir, tahun pelajaran 1994/1995 - 2002/2003, tak ada satu pun siswa
Ia membandingkan dengan penilaian lembaga internasional. Di antaranya laporan The International Association for the Evaluation of Educational Achievement (IEA) dalam Trend in International Mathematics and Science Study (TIMSS) pada 1999. Survei TIMSS terhadap kemampuan matematika dan sains siswa kelas 2 SMP di 38 negara — dari negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang hingga negara berkembang seperti Indonesia dan Filipina – menunjukkan kemampuan IPA siswa Indonesia berada di urutan ke-32. Hasil TIMSS 2003 (dikutip Kompas, 22 Desember 2004), kemampuan IPA siswa
Jadi Guru Cilik
Bakat guru tampaknya sudah terlihat pada Sulastri cilik di tahun 1967 silam, saat usianya masih 9 tahun. Ketika itu Sri Sulastri duduk di kelas 3. Di rumah orangtuanya, Gito Martono dan Lamsina, di kawasan Prambanan, setiap sore selalu ramai anak-anak belajar di atas hamparan tikar. Mereka itu adalah, murid-murid kelas 3 SDN Gunung Pegat yang hendak belajar dengan Sri Sulastri.
“Teman-teman sekelas menjuluki saya guru sore. Kalau pagi hari, gurunya ada di SDN Gunung Pegat, Prambanan,” kenang Sulastri. Ia “mengajar” sore sejak kelas 3 SD sampai lulus SMAN 5 Yogyakarta pada 1976. Di SMA, Sulastri mengambil jurusan Ilmu Pasti atau Eksakta (IPA).
Sulastri mengaku sempat jenuh dengan pelajaran IPA. Tepatnya, saat di SMP Muhammadiyah Prambanan, Klaten (1970-1973). “Setiapkali pelajaran IPA, saya selalu tegang karena tidak nyambung-nyambung,” katanya. Namun, tak sampai putus asa. Ia belajar IPA dengan bimbingan kakaknya, Sukamto, yang kini guru matematika. ”Mas Sukamto pandai dan sangat sayang dengan adik-adiknya. Dari belajar dengan kakak inilah, saya bisa belajar IPA di sekolah sampai kuliah di PGSLP-IPA IKIP Yogyakarta 1977,” tuturnya.
Pilihan kuliah di PGSLP, kata Sulastri, karena ia tidak ingin merepotkan orangtuanya yang hidup pas-pasan. Dengan beban enam anak, Gito Martono yang bekerja di pegadaian, tak bisa menyekolahkan semua anaknya ke jenjang pendidikan tinggi. ”Saya sebetulnya ingin seperti bapak. Ia pekerja keras dan tidak pernah marah pada anak-anaknya. Beliau pandai mengaji, menulis arab, dan pintar main gamelan,” katanya.
Setamat PGSLP, Sri Sulastri minta ditempatkan di
Berjodoh dengan Guru
Jalan hidup Sri Sulastri sebagai guru serasa klop saat bersuamikan Drs. Endang Kusnandar, pria asal Kuningan, Jawa Barat, yang juga berprofesi guru Biologi di SMPN 43 Jakarta. Soal pertemuannya, Sulastri menjelaskan, bermula dari kegiatan Penataran Guru Fisika di Balai Pelatihan Guru (BPG)
“Pada acara penataran itu, saya sempat digosipkan pacaran dengan seseorang. Padahal, mungkin ada orang lain yang mirip saya. Suasananya sempat gempar. Disitulah, ada sosok pemuda tinggi besar menawarkan jasa yang bersedia membela saya dengan catatan kalau berhasil menyelesaikan, saya harus bersedia untuk dinikahi. Tapi, saat itu bercanda,” ungkap Sulastri.
Tak dinyana, perkenalan dengan pemuda lulusan S-1 Jurusan Biologi IKIP Jakarta, yang tidak lain Endang Kusnandar, berlanjut ke pelaminan. “Perkenalan di antara kami tidak sampai enam bulan. Pada 11 Januari 1985 kami melangsungkan pernikahan,” kata Sri Sulastri.
15 Juli 1986, Sulastri melahirkan Agny Jilly Permata. Kelahiran Agny ini, nyaris berbarengan dengan kelulusan Sri Sulastri sebagai sarjana. Bagi Sri Sulastri dan Endang Kusnandar, kehadiran Agny benar-benar diharapkan menjadi “permata rumah tangga.” “Saya sangat bahagia dikaruniai seorang putri cantik,” tutur Sulastri penuh haru.
Meski gaji guru ketika itu relatif kecil, Sulastri dan Endang Kusnandar menghadapinya dengan kesabaran. Awal rumah tangganya mereka bangun dari rumah kontrakan di kawasan Cawang, dekat Kampus UKI. Sulastri mengisi hari-harinya selain sebagai ibu rumah tangga dan mengajar, juga menulis, jadi instruktur dan
“Perjalanan hidup ini serasa mengalir bagai air. Secara kasat mata seakan jadi beban, tapi setelah dijalani kesampaian juga,” tutur Sri Sulastri yang sekarang memiliki rumah di Jalan Kenanga I/18, Perumahan Taman Duta, Cisalak, Sukmajaya, Depok. Di rumahnya yang serasa asri ini, Sri Sulastri dan Endang Kusnandar tinggal bersama putrinya semata wayang yang sekarang kuliah semester akhir di Jurusan Akuntansi STIKPI
Pengobat Rindu
Sukses Sri Sulastri meraih Juara I guru berprestasi SMP tingkat nasional 2008 ini, membuat para guru dan alumni SMPN 49 turut senang. Bahkan, insan pendidikan
Menurut Hasmi, Sri Sulastri memang pantas menyandang predikat guru berprestasi tingkat nasional. Dia guru senior dan reputasinya secara nasional tidak diragukan lagi. Aktivitas Sri Sulastri di bidang IPA sudah dikenal secara nasional.
Hasmi sendiri juga pernah dinobatkan guru berprestasi, tapi untuk tingkat DKI Jakarta. “Itu sudah cukup membanggakan,” ujarnya. Apalagi ketika Sulastri menyabet prestasi tingkat nasional. “Saya sangat bangga, karena Bu Sri Sulastri ikut mengangkat citra sekolah sampai tingkat nasional,” tambahnya.
Di mata Hasmi dan para guru di SMPN 49, Sri Sulastri dikenal memiliki komitmen tinggi dalam memajukan sekolah. Terutama dalam pemanfaatan IT di sekolah. Ia dikenal sangat memahami pemanfaatan sarana komputer sebagai media pembelajaran berbasis Information and Communication Technology (ICT).
Hadiah Jabatan Kepala Sekolah
Kepala Suku Dinas Pendidikan Dasar Jakarta Timur, Drs. Zainal Soleman, MM (48 tahun) menjelaskan, pihaknya sudah menyeleksi secara prosedural dan sangat ketat. Diawali dari pemilihan juara di tingkat kecamatan, kemudian diteruskan ke tingkat
Zainal Soleman sangat bersyukur, karena ada dua guru dari Jakarta Timur yang terpilih menjadi Juara I di tingkat DKI Jakarta, yakni Juana Mukhtar (guru SD IKIP Rawamangun) dan Sri Sulastri (SMPN 49). “Kami selalu mendorong kepada semua guru yang mengikuti lomba, agar mempersiapkan diri dengan baik,” kata Zainal Soleman ketika ditemui di kantornya, awal September lalu.
Menurut Zainal, prestasi guru di tingkat provinsi dan nasional merupakan “jalan tol” menuju jabatan kepala sekolah tanpa tes. “Begitu pula Sri Sulastri, sudah kami plot sebagai kepala SMP di wilayah Jakarta Timur. Ini sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi dan prestasinya,” katanya
IMAM BUKHORI
31 March 2009 09:48 WIB
Tuesday, 16 March 2010
POLLING PEMBACA |