Amerika Serikat: Emoh Jadi Kelas Dua
Oleh: IWAN QODAR HIMAWAN/Pena
Pendidikan kejuruan semakin digalakkan. Selama ini metodenya kurang pas. Keterkaitan antara sekolah dan industri jadi kunci.
JANGAN menjadi warga kelas dua. Tekad itu tertanam erat di dada para murid Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian, Chicago, Amerika Serikat. Tekad agar dirinya bisa berdiri sejajar dengan murid-murid sekolah umum itu diwujudkan dengan perubahan pada mata pelajaran. Bila sepuluh tahun lalu para murid hanya belajar mesin, mengelas, cara memasak, serta ilmu pertukangan, kini mereka pun belajar ilmu-ilmu dasar.
Bila Anda suatu saat mampir ke SMK Pertanian di Chicago itu, Anda akan melihat 600-an remaja yang tengah asyik belajar fisiologi binatang, atau tekun di depan komputer membuat simulasi gambar bangunan atau mesin tiga dimensi. Lainnya barangkali tengah tekun di laboratorium, memelototi berbagai percobaan kimia.
Perubahan itu terjadi sejak Pemerintah Amerika Serikat memutuskan, pertumbuhan ekonomi akan dihela oleh ekonomi berbasis teknologi tinggi. Untuk melaksanakannya, dibutuhkan lebih banyak tenaga terampil yang juga mengerti ilmu dasar. Dan kini, pelajaran bagi murid sekolah kejuruan malah adalah sama dengan murid sekolah umum yang ditambah keterampilan.
Sekolah kejuruan telah menjadi bagian dari sistem pendidikan di Amerika, sejak 1917. Saat itu, pemerintah federal menerbitkan “Akta Pendidikan Kejuruan,” dan menggelontorkan US$ 1,7 juta dana, untuk seluruh negara bagian.
BERUBAH ERA KOMPUTER
Selama beberapa dekade, pendidikan kejuruan hanya bagi siswa yang ekonominya pas-pasan, serta ingin langsung bekerja di pabrik atau perdagangan. Lulus dari sekolah kejuruan, para murid bisa mendapatkan penghasilan, yang bisa membantu orangtuanya. Situasi ini berubah sejak 1980, tatkala era komputer masuk ke bidang industri secara besar-besaran. Industri Amerika memasuki era teknologi tinggi.
Pekerjaan yang membutuhkann keterampilan rendah, seperti membuat sepatu, menjahit, mengelas, atau sekadar memasang kancing baju, pindah ke luar negeri. Orientasi pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan pun harus diubah.
Meski sudah dilakukan berbagai perbaikan, toh kualitas murid tidak juga membaik seperti yang diharapkan. Sebuah studi yang dilakukan Komisi Pendidikan Kongres pada 2000 menemukan, para murid sekolah kejuruan banyak yang hasil ujiannya jeblok. Keadaan ini menjadi amunisi bagi Presiden George Bush untuk mengurangi bantuan program bagi pendidikan kejuruan, sebesar US$ 1,3 miliar.
Namun, tahun ini program pendidikan untuk sekolah kejuruan digenjot lagi. Kongres mensyaratkan: pemerintah harus dengan seksama memantau kinerja para siswa, apakah mereka sudah memenuhi standar akademis sesuai yang diharapkan.
PELATIHAN SEPI PEMINAT
Geliat untuk memperbaiki sekolah kejuruan itu juga terasa di Rhode Islands. Di pusat kota, didirikan Sekolah Pusat Karier dan Teknik Metropolitan, di Providence, ibukota negara bagian itu. Sekolah ini didirikan sebagai reaksi atas hasil studi selama enam tahun, yang menyatakan bahwa pendidikan kejuruan di Rhode Island harus dirombak total. Pembukaan sekolah ini dipandang sebagai langkah besar untuk menata sekolah kejuruan.
Pendidikan kejuruan di Rhode Islands mempunyai berbagai julukan: pendidikan kejuruan, pelatihan karir, pendidikan teknik, pendidikan siap pakai. Berbagai nama, tetapi semuanya memiliki kesamaan: antara pelatihan dengan dunia kerja terasa tidak nyambung. Sekolah tidak dilengkapi dengan perangkat yang memadai.
“Para murid akan bekerja lebih baik ketika pikiran mereka lebih fokus. Kehadiran di sekolah lebih tinggi, demikian pula tingkat kelulusannya,” kata Ketua Komisi Keuangan Kongres, Steven Constantino, yang juga berasal dari Rhode Island itu. “Secara nasional, sebanyak 70% lulusan sekolah menengah atas inginnya meneruskan ke perguruan tinggi. Tapi separuh dari mereka harus putus kuliah,” kata Constantino.
Ia yakin, jalan yang ditempuh untuk mendongkrak pendidikan kejuruan di Rhode Island ini sudah tepat. Bidang kejuruan yang diajarkan adalah yang laku di pasaran. Misalnya, perbengkelen otomotif, grafik dan percetakan, konstruksi, kosmetik, kesehatan, teknologi informasi, masakan, bisnis dan keuangan, bioteknologi, dan elektronik. Beberapa program, seperti penataan rambut, menawarkan sertifikat kelulusan sekaligus dengan ijin “buka warung.” Semuanya membuat mereka gampang memasuki dunia kerja.
Di masa lalu, murid-murid pergi ke pusat pelatihan kerja pada hari sekolah. Setelah acara usai, mereka balik lagi ke sekolahnya untuk belajar dengan tema-tema yang kurang nyambung dengan dunia kerja. Seperti Bahasa Inggris, Matematika, Sejarah, dan sebagainya. Sebuah komisi negara yang dibentuk pada 1999 untuk mempelajari pendidikan kejuruan menyimpulkan bahwa model pendidikan yang terpisah-pisah itu membuat murid kurang bisa memenuhi tuntutan dunia kerja.
“Sistem pendidikan kejuruan lalu dilihat hanya pas untuk murid miskin. Hanya untuk mereka yang tidak mau pergi ke universitas, atau untuk mereka yang bersedia dibayar murah,” kata laporan itu.
Repotnya lagi, sekolah yang mengirim muridnya itu juga harus membayar duit ke tempat pelatihan kerja. Akibatnya, sekolah tidak mendorong muridnya untuk meningkatkan keterampilannya. Kalaupun ada yang dikirim, si murid itu pastilah bermasalah. Mereka adalah murid yang dinilai tidak bisa melanjutkan ke sekolah umum. Dengan mengirim si murid ke pelatihan kerja, sekolah merasa beban untuk membina si murid, selesai.
Dengan pemikiran seperti itu wajar bila lembaga pelatihan kerja sepi peminat. Hanya satu kursi dari tiap lima tempat yang disediakan, dari total 5.000 tempat duduk, yang terisi. Lainnya melompong.
Untuk mengoptimalkan lembaga pendidikan kejuruan, salah satu yang dijadikan contoh adalah William M. Davies Jr. Career and Technical High School, di Lincoln, Rhode Island. Sekolah ini milik pemerintah, dibuka pada 1970. Davies menjadi salah satu sekolah kejuruan andalan karena sukses menempatkan muridnya ke lapangan kerja. Kuncinya: menjalin hubungan erat dengan dunia industri. Perusahaan penghasil bahan kimia, DuPont, misalnya, tak pelit untuk mensponsori kegiatan yang dilakukan Davies.
Kiat Davies ini yang akan disebarluaskan dalam pendidikan pendidikan kejuruan di seluruh Rhode Island, dan negara bagian lainnya.
IWAN QODAR HIMAWAN (iwanqh@gmail.com)
*) Tulisan ini telah dimuat di Majalah Pena Pendidikan Edisi 8 Tahun 2007