Kata Kunci: otonomi pendidikan, prooper lodge, suyanto
Oleh: Dipo Handoko/Pena
PROFESOR Proopert Lodge pernah mengatakan, life is education, and education is life. Nukilan kalimat itu mengawali buku karya Profesor Suyanto, yang juga Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional.
Suyanto tampak menggiring pembaca sedari awal, untuk memahami kerangka filosofis bahwa proses dalam pendidikan tidak lain adalah proses manusia dalam mengarungi samudera kehidupan. Begitu juga sebaliknya. Pendidikan dan kehidupan hampir-hampir tidak bisa dipisahkan.
Buku ini kian meneguhkan Suyanto sebagai sosok yang berpemikiran serius pada masa depan pendidikan. Begitu ia duduk di jajaran birokrat, Suyanto sadar betapa konstruksi dasar-dasar filosofi pendidikan nasional masih sangat jauh dari harapan. Menurutnya, sistem pendidikan nasional masih dalam tahap perubahan dari kerangka filosofis pendidikan kolonial Belanda. Ia pun sadar proses perubahan itu tak mudah lantaran pendidikan bersinggungan dengan pergumulan ideologi dan politik. Sehingga dalam perkembangannya, pendidikan nasional menuai banyak kendala cukup serius, apalagi yang berbenturan dengan kebijakan-kebijakan politis.
Problem dan tantangan pendidikan nasional, dalam memasuki globalisasi, harus hadapi dengan pendekatan dan metode yang pas untuk kondisi sekarang dan tuntutan perubahan di masa depan. Susahnya, fenomena dunia pendidikan di era global ini adalah selalu tertinggal jika dibanding perkembangan teknologi, informasi dan dunia bisnis. “Sebab dunia pendidikan tidak selalu dapat mengembangkan dirinya atas dasar rugi-laba dan prinsip efisiensi semata. Pendidikan juga mengemban visi kemanusiaan,” kata Suyanto.
Di era otonomi pendidikan, menurut catatan Suyanto, masih banyak pihak terutama sekolah dan pemerintah daerah, belum memahami apa yang seharusnya mereka lakukan. Padahal, menurut UU Pemerintahan Daerah, banyak hal yang seharusnya menjadi tugas daerah dalam mengelola pendidikan dasar dan menengah. Yakni yang berkaitan dengan manajemen, anggaran, kurikulum, pengawasan, evaluasi, pembinaan karier guru, pengendalian kualitas, dan pendirian sekolah.
Ada baiknya para petinggi berkaca pada negara-negara maju yang telah menerapkan otonomi pendidikan. Setidaknya ada delapan tujuan yang saling berkaitan yang mampu mendorong pembaruan. Yakni: akselerasi pembangunan ekonomi melalui modernisasi institusi, peningkatan efisiensi manajemen, realokasi tanggung jawab keuangan, penumbuhkembangan demokrasi, peningkatan pengawasan oleh daerah melalui deregulasi, pengenalan sistem pendidikan berdasarkan kekuatan pasar, netralisasi kompetesi antarpusat kekuatan yang berpengaruh pada pendidikan, dan peningkatan kualitas pendidikan.
Suyanto mencontohkan sejumlah pilihan bentuk pengelolaan otonomi pendidikan. Misalnya manajemen berbasis sekolah, yang jelas lebih memperhatikan kepentingan sekolah itu sendiri.
Satu hal yang juga penting, menurut Suyanto adalah adanya jembatan antara dunia akademis dan profesional. Konsep link and match dunia pendidikan dan dunia kerja selama ini karena adanya sejumlah kendala. Yakni belum bisa melakukan standarisasi outcome perguruan tinggi, sulitnya memprediksi jenis pekerjaan yang akan hilang dan muncul dalam kurun waktu lima tahunan, adanya perbedaan misi dan visi antara perguruan tinggi dan pasar kerja.
Di bagian akhir bahasannya, Suyanto menyisipkan pentingnya transformasi nilai-nilai agama dalam pendidikan. Pengembangan pendidikan yang berorientasi pada penegakkan moralitas dapat dilakukan dengan mengembangkan tujuan, materi, metode, dan evaluasi. Ia juga berharap pendidikan nasional ke depan lebih mengembangkan kecerdasan multidimensional. Paradigma baru mengenai kecerdasan perlu dikembangkan. Yakni menyangkut kecerdasan visual, verbal, logika, kinestetik, musikal, interpersonal, dan intrapersonal.
Ahmad Syafii Maarif, guru besar Universitas Negeri Yogyakarta, menilai buku Suyanto ini sebagai pemberi inspirasi dan dorongan kepada para pendidik dan pemimpin yang punya keprihatinan terhadap nasib generasi masa depan bangsa, untuk berpikir lebih serius dalam menangani masalah pendidikan.
DIPO HANDOKO
24 June 2008 06:37 WIB
Wednesday, 20 August 2008
POLLING PEMBACA |