INDUSTRI kreatif diyakini mempunyai kontribusi yang signifikan untuk meningkatkan perekonomian bangsa. Saat ini, semua negara berusaha mengembangkan industri berbasis ekonomi kreatif. Bangsa
Direktur Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dir.P2M Ditjen Dikti) Depdiknas, Muhammad Munir, mengatakan, kreativitas akan semakin ditantang ke depan dengan adanya suatu perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Negara-negara maju, kata dia, menjadikan industri kreatif sebagai industri andalan. “Marilah kita mulai sekarang mencari titik-titik industri kreatif yang bisa kita jadikan sebagai andalan bangsa ini,” katanya saat memberikan sambutan pada Stadium General di Universitas Multimedia Nusantara, Tangerang, Banten, Jumat (5/09/2008).
Hadir sebagai pembicara Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Presiden Komisaris Kompas Gramedia Group Jakob Oetama, Country Manager Intel Indonesia Budi Wahyu Jati, dan Managing Director PT. In Touch Integra Solusindo Kendro Hendra.
Munir mengatakan, kreativitas bukanlah sesuatu yang dimiliki oleh kalangan tertentu, tetapi kreativitas adalah sesuatu yang harus dipelajari dan dicari oleh semua orang. Kuncinya, kata dia, adalah melalui kegiatan riset dan kunjungan penelitian kepada masyarakat. “Kita tidak boleh puas akan apa yang sudah ada sekarang. Kita dituntut untuk senantiasa lebih dari yang ada sekarang,” katanya.
Pada pendidikan tinggi, jelas Munir, terdapat fasilitas INHERENT sebagai sarana pembelajaran jarak jauh berbasis multimedia yang melayani interkoneksi antar perguruan tinggi satu dengan perguruan tinggi lain baik dalam maupun luar negeri. “Oleh karena itu, nantinya universitas kita tidak hanya dikenal di
Mari mengatakan, industri kreatif mampu memberi sentuhan yang lebih kontekstual dengan kehidupan di era modern. Menurut dia, tinggal bagaimana caranya agar industri yang berbasis tradisional dan sosio kultural bisa menjadi basis ekonomi kreatif. “Di pasar internasional sebanyak 50 persen dari belanja masyarakat di negara maju adalah produk industri kreatif,” katanya.
Lebih lanjut Mari mengatakan, peranan pola pikir kreatif adalah bahwa tuntutan atas intensifikasi imajinasi dan kreativitas pada kegiatan ekonomi, bisnis, dan pendidikan di masa depan akan semakin besar. Bukan saja produk kreatif yang menjadi bagian dari ekonomi kreatif, lanjut dia, tetapi bagaimana di bidang usaha-usaha yang lain. “Ekonomi kreatif sebetulnya harus menjadi bagian dari cara pandang kita untuk mengembangkan bisnis,” ujarnya.
Mari menyebutkan, ada 14 sektor industri kreatif yang dianggap bagian dari ekonomi kreatif yakni, periklanan, arsitektur, pasar seni dan barang antik, kerajinan, desain, fashion, film/video dan fotografi, permainan interaktif, musik, seni, pertunjukan, penerbitan dan percetakan, layanan komputer dan piranti lunak, radio dan televisi, serta riset dan pengembangan.
Lebih lanjut Mari menyebutkan, kontribusi dari 14 sektor ini sampai dengan 2006 adalah sebesar 6,3 persen terhadap perekonomian atau sebanyak Rp.104,6 triliun. Selanjutnya, sebanyak 5,8 persen terhadap penyerapan tenaga kerja, 10,6 persen terhadap ekspor, dan 6,1 persen dari jumlah perusahaan. “Jadi cukup signifikan,” katanya.
Mari menyebutkan, persentase paling besar adalah dari sektor fashion sebanyak 44 persen, kerajinan (27,7 persen), desain (7,03 persen), dan periklanan (6,8 persen). “Jadi itu empat besar yang menyumbang kepada ekonomi kreatif di
Adapun tantangan industri kreatif di
Sumber: MediaCenterDiknas
6 September 2008 20:40 WIB
Monday, 15 March 2010
POLLING PEMBACA |