FIGUR

Hj. Nibras binti Ooedin Rahmani Salim: Perjalanan Hidup Yang Menginspirasi

Kata Kunci: ,

Hj. Nibras binti Ooedin Rahmani Salim: Perjalanan Hidup Yang MenginspirasiSejak usia 2 tahun terpisah dari orangtuanya. Tergerak menggeluti pendidikan anak lantaran prihatin melihat anak SMA tak hafal kalimat syahadat. Pada 1958 ia merintis TK Islam yang mengenalkan pendekatan bermain sambil belajar, selalu bertaut dengan nafas Islam. TK Istiqlal yang dipimpinnya menjadi rujukan model PAUD tingkat nasional.

Tangan kirinya berbalut perban, baru beberapa hari yang lalu jatuh saat hendak melaksanakan tahajud. Suaranya juga sedang parau, radang tenggorokan. Tapi ingatannya masih sangat tajam. Itulah gambaran awal ketika Pena Pendidikan menyambangi Hj. Nibras OR Salim di ruang kerjanya TK Istiqlal di kompleks Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, awal Juli ini.

Di usia rentanya yang memasuki 76 tahun, Ibu Nibras masih fasih bercerita kisahnya bergelut di dunia anak-anak sejak 1958. Bagi yang berkecimpung di jagat pendidikan anak usia dini, khususnya pendidikan Islam, sosok Ibu Nibras tak asing lagi. Selama dua periode, 1995-2000 dan 2000-2005, Ibu Nibras dipercaya menjadi Ketua Umum Badan Pembina TK Islam Indonesia.

Dia pula yang mengembangkan TK dan Kelompok Bermain Masjid Istiqlal sebagai PAUD Islam percontohan. Saat konsep PAUD baru dikenalkan Bank Dunia di Indonesia pada 1996, Ibu Nibras-lah yang terbang ke Florida, Amerika Serikat melakukan studi banding. Selama tiga bulan, ia melakukan observasi penyelenggaraan pendidikan TK di sana. “Saya melihat nilai-nilai Islam dipraktikkan di sana, meskipun mereka nonmuslim,” katanya seperti dikutip dalam buku karya Saiful Anam berjudul Taman Yang Paling Indah: Jangan Remehkan Taman Kanak-kanak (2007).

Menurut pengamatannya di Florida, anak-anak usia 2-4 tahun dibiasakan menyapa orang lain, saat bertemu di mana pun seraya tersenyum. Nilai itu menurut Ibu Nibras sama dengan konsep Islam tatbiihussalam, yang maknanya memberikan salam pada orang yang dikenal dan yang tidak diketahui.

Pahitnya Masa Kecil

Berlinang air mata, Nibras menceritakan perjalanan hidupnya yang terjal kala PENA PENDIDIKAN menanyakan kisah masa lalunya. Nibras kecil lahir di Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, dengan segepok kenangan pahit. Sang ayah, Oedin Rahmani Salim, yang pejuang kemerdekaan ditangkap dan dibuang ke Digul, Papua, ketika Nibras berusia 2 tahun. Ibunya menjadi depresi lantaran kakak dan seorang anaknya meninggal dunia, selang beberapa bulan sejak tak bersanding dengan sang suami.

Nibras kecil diungsikan ke rumah neneknya di Lubuk Basung, masih di Kabupaten Agam. Di sanalah ia menghabiskan masa kecil hingga remaja bersama neneknya. Nibras remaja akrab dengan suasana sawah dan ladang. Biasa memasak dan mengerjakan aktivitas harian sebagai perempuan dewasa. Sang bunda hanya setahun sekali menengoknya.

Ia merasa asing terpisah dengan keluarga dekat. Pelukan hangat sang ibu justru membuatnya takut. Lantaran ia lebih terbiasa bersama sang nenek. Memang ketika ia dewasa, hubungannya dengan ibunda membaik. Sayangnya, ibunda Nibras tetap tinggal di Maninjau. Sementara Nibras tetap ikut neneknya di Lubuk Basung.

Ketika sang ayah kembali dari pembuangan pada 1946, Nibras tak kenal lagi ayahandanya. Maklum, di usia dua tahun ingatan tentang sang ayah tak begitu banyak. Selang 3 tahun kemudian, Ibu Nibras baru bisa menjalani kehidupan bersama ayahnya. “Ketika ada anak berpisah dengan ibunya, saya benar-benar sedih,” Nibras berkaca-kaca.

Ibu Nibras kembali ke Maninjau. Namun tak lama berkumpul kembali dengan ayah dan ibunya, Ibu Nibras memilih sekolah ke Sekolah Guru Hakim Agama, setingkat Sekolah Pendidikan Guru (SPG) di Purworejo. Ia baru mengantongi SK PNS sebagai guru agama di Purworejo pada 1958. Di sanalah Ibu Nibras merintis TK.

Pada 1960 Ibu Nibras hijrah ke Jakarta. Ia sempat berpindah karier menjadi guru agama di SMA 4 Jakarta hingga 1966. Selang lima tahun kemudian, di usia 40 tahun, Nibras menikah dengan seorang pedagang asal Jawa Timur bernama Salim Abdul Manaf.

Kariernya berpindah ke Departemen Agama. Ia menjabat Kepala Seksi Pembinaan Dai Depag selama kurun 1975-1980. Tahun 1980-1984 Nibras berpindah bagian menjadi Kepala Seksi Urusan Bimbingan Perkawinan Depag. Di posisi itulah ia pensiun, di usia 53 tahun.

Integrasi Nilai-Nilai Agama

Integrasi Nilai-Nilai Agama Sejak Dini

Kala mengajar di SMA ada satu pengalaman yang tak terlupakan, yang pada akahirnya mendorong untuk terjun di pendidikan anak. Ia prihatin saat dua orang muridnya mengaku tidak hafal syadahat dan materi tentang khilafiyah. Ia sadar betapa susah membentuk anak usia belasan tahun.

Ia pun mengalihkan perhatiannya pada pendidikan anak usia dini. “Bayi lahir tidak dibekali apa-apa,” katanya, “Tapi bayi dibekali kemampuan melihat, mendengar dan merasa.” Alasan itulah yang membuat PAUD begitu penting di matanya.

Ia meyakini semua pendidikan harus didasari sentuhan agama. Sejak usia 0 tahun, saat sang jabang bayi lahir, cairan-cairan dari telinganya mulai dibersihkan, sang ayah melafalkan kalimat azan, kata Allah yang didengar pertama yang orok. “Itu sudah bentuk pendidikan anak usia dini,” kata Ibu Nibras.

Ibu Nibras menjumput salah satu ayat Al Quran, yang berbunyi, “Allah berfirman, ”Kenalkan Aku pada bayi yang baru lahir.” “Ruh sendiri berjanji kepada Allah untuk mengakui Allah sebagai satu-satunya Tuhan. Kalimat azan adalah kalimat yang paling bisa dipahami anak karena ketika baru lahir telinga bayi yang paling berfungsi, sementara kemampuan hati dan matanya belum stabil. Kalimat itu meluncur ke seluruh organ tubuh bayi melalui otaknya,” kata Ibu Nibras panjang lebar.

Artinya, kata Nibras, PAUD menjadi begitu penting karena sejalan dengan perintah Allah. Mestinya setiap orang memahami akan pentingnya PAUD. Perkembangan otak bayi yang sudah mencapai 40%, sudah mampu bagi bayi untuk meniru orangtuanya. Dari cara bersikap, bahasa, dan perbuatan. “Jadi ketika masa keemasan tidak direbut, perkembangan anak menjadi tidak optimal,” katanya.

PAUD yang kali pertama didengungkan pada 2000, kata Ibu Nibras, dirasa mampu membawa nuansa pencerahan bagi pendidikan anak-anak usia dini. Nibras menggambarkan betapa dahulu tidak pernah didengar istilah PAUD. Tapi perkembangannya saat ini memang luar biasa. Nibras menjadi orang yang turut berkiprah langsung “kelahiran” PAUD di Tanah Air. Sejak seminar PAUD pertama digelar, Nibras sudah mengikuti. Dari seminar ke seminar itu Nibras mencatat poin-poin yang harus dikembangkan dalam penyelenggaraan PAUD.

Sayangnya, kata Nibras, masyarakat menganggap usia ideal anak mengenyam pendidikan dimulai pada usia minimal 3-4 tahun. “Padahal itu terlambat. Karena pendidikan anak dimulai sejak usia 0 tahun,” kata Ibu Nibras menegaskan.

Kala merintis TK di Purworejo, sejatinya Ibu Nibras sudah mengenalkan pentingnya pendidikan spiritual dalam konteks kehidupan beragama sejak anak usia 0 tahun. Secara metode, Ibu Nibras juga sudah mengembangkan metode bermain sambil belajar, secara sederhana di TK yang didirikannya itu.

Di masa pensiunnya Ibu Nibras total mengabdikan hidupnya untuk pendidikan anak. Wawasannya berkembang saat ia dikirim Yayasan Al Falah, Cibubur melakukan studi banding mengenai metode Beyond Center and Circle Time (BCCT) ke Florida, Amerika Serikat, pada 1996.

Banyak hal dipelajarinya. Misalnya, ia belajar cara mengenalkan sesuatu pada anak usia dini. Ia melihat guru mengenalkan pensil pada bayi umur setahun. Bukan dengan mengatakan, “Ini pensil.” Melainkan guru memberikan pensil kepada si mungil. Bayi dibiarkan menggunakannya untuk menulis atau sekadar dimainkan di tembok atau lantai. Cara itu yang paling pas untuk mengenalkan bentuk dan fungsi pensil kepada anak usia dini. Ketika orang dewasa memakainya, sang bayi dengan sendiri meniru bagaimana menggunakan pensil.

Metode BCCT sendiri lahir dari konferensi internasional, bukan hasil pemikiran perorangan saja. Metode ini menggabungkan sejumlah model pembelajaran yang dipakai sebelumnya, misalnya Montesori. Konsep BCCT ini kemudian diadaptasi di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Pelaksanaannya disesuaikan dengan kultur dan kemampuan masing-masing negara.

Di Indonesia, BCCT kali pertama diadaptasi oleh lembaga PAUD berlatar belakang Islam. Konsepnya secara tidak langsung mengadopsi materi-materi keislaman, seperti mengucap salam dan berdoa. “Semua harus berbalut agama. Sudah saatnya berpikir tentang kecerdasan spiritual anak,” kata Nibras. Pun ketika mengenalkan sesuatu, pendidik wajib mengenalkan anak pada ciptaan Allah.

Meski kesejahteraan pendidik PAUD jauh dari layak, Nibras tidak menjadikan itu sebagai alasan PAUD tak berkembang. “Ikhlas, itu kuncinya.” Di usianya genap 76 tahun, ia tetap ikhlas dan selalu bersyukur menjalani profesi sebagai guru. Sakit berulang kali yang mendera tubuh ringkihnya, justru membuat Ibu Nibras menerimanya sebagai lahan menjaga keimanan dan ketakwaan.

3 February 2008 13:23 WIB

Artikel ini menarik?
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
Loading ... Loading ...

Pena Pendidikan

Sunday, 14 March 2010

REDAKSI


Iwan Qodar Himawan

Saiful Anam

Dipo Handoko

Eva Rohilah

Fathoni Arief

Kenny

Arien TW

RUBRIK

ANGGOTA

POLLING PEMBACA

EMAIL SUBSCRIBE

Enter your email address:

STATISTIK

KATA KUNCI