CATATAN PENA

Gerilya

oleh : Saiful Anam

BANYAK negara di dunia, yang untuk meraih dan mempertahankan kemerdekaannya dilakukan melalui perang gerilya. Begitu juga Indonesia. Tokoh-tokoh pahlawan nasional sebelum kemerdekaan, seperti Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, dan masih banyak lagi, telah lama memperkenalkan taktik perang gerilya melawan penjajah. Setelah kemerdekaan, kita memiliki tokoh sangat fenomenal dalam perang gerilya melawan Belanda, yang hendak menjajah kembali, yaitu Jenderal Besar Sudirman.

Tetangga kita, Vietnam, juga tak sudi diinjak-injak Amerika Serikat pada tahun 1970-an. Untuk menghadapinya, pasukan Vietnam menggelar perang gerilya, membangun terowongan bawah tanah, dan menciptakan jebakan-jebakan pembantaian bagi tentara Amerika. Hutan belantara dijadikan sebagai bagian dari taktik penyerangan. Walhasil, tentara Amerika yang didukung senjata canggih waktu itu, pulang membawa rasa malu.

Tetapi, si Amrik ogah mengaku kalah. Untuk menutupi rasa malunya, dibuatlah film-film Hollywood bertema Perang Vietnam, untuk mengangkat moral tentara dan rakyat Amerika. Film-fim itu menceritakan kehebatan tentara Amrik dalam Perang Vietnam, seperti digambarkan dalam serial film Missing in Action yang dibintangi Chuck Norris, dan film Rambo yang diaktori Sylvester Stallone.

Perang gerilya menjadi simbul perlawanan menghadapi dominasi pasukan asing yang ditopang teknologi modern. Berhadap-hadapan langsung jelas tidak mungkin, karena akan dengan mudah dilumat lawan. Karena itu, taktik perang gerilya menjadi pilihan, yang mengandalkan pola penyerangan hit and run, dan mengulur-ulur waktu sampai lawan merasa frustrasi dan akhirnya bertekuk lutut.

Saat ini kita sedang penyaksikan taktik gerilya dalam perang di Irak. Amerika Serikat memang sangat berkepentingan mengangkangi Irak untuk menguasai sumber-sumber minyaknya yang konon memiliki cadangan luar biasa besar. Jika menguasai minyak Irak, bukan saja menjamin pasokan kebutuhan energi rakyat Amrik yang dikenal sangat serakah, tetapi juga menjadi intrumen penting dalam percaturan politik global. Namun rakyat Irak melawannya dengan taktik gerilya dan bom bunuh diri.

Sayang, kata gerilya yang bermakna heroisme itu kini banyak digunakan untuk menggambarkan hal-hal berbau negatif, seperti pencurian, perampokan, bahkan pemerkosaan. Misalnya, ”Rumah ketua RT digerilya oleh lima orang perampok…”, “Sulastri digerilya oleh tetangganya sendiri…”.

Lebih ironis lagi, praktik gerilya menggerilya juga merambah ke dunia pendidikan. Seperti dilaporkan media massa, Mei lalu, dalam pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tahun ini telah terjadi penggerilyaan oleh para guru. Mereka tidak ingin di sekolah atau daerahnya banyak siswa tidak lulus UN. Oleh karena itu, guru tim sukses ini menggerilya dengan cara mengirimi jawaban melalui pesan singkat alias SMS. Maka, jangan-jangan kecilnya tingkat ketidaklulusan UN tahun ini akibat aksi penggerilyaan.

Praktik penggerilyaan dalam ujian akhir ini bahkan sudah terjadi jauh sebelumnya. Pada sistem Ujian Sekolah (1970-1982) dan Evaluasi Belajar Tahap Akhir (Ebtanas, 1983-2002), penggerilyaan terjadi begitu marak. Para guru saat itu banyak melakukan manipulasi terhadap nilai rapor siswa, agar mereka lulus semua. Nilai yang tertulis di rapor atau ijazah tinggi-tinggi, namun tak mencerminkan kompetensi yang sesungguhnya.

Komponen-komponen pendidikan lain juga tak luput dari penggerilyaan. Kurikulum digerilya oleh para penguasa politik untuk menjejalkan kepentingan politik dan ideologinya. Pembangunan unit sekola baru, rehabilitasi sekolah rusak, hingga pengadaan buku pelajaran dan alat-alat pendidikan, juga menjadi ajang penggerilyaan. Kita masih ingat, proyek SD Inpres tahun 1970-an hingga 1980-an dan pengadaan buku paket sekolah, sarat dengan penggerilyaan. Praktik kotor ini menemukan lahan subur bila dilakukan secara terpusat.

Setelah pola pembangunan unit sekolah baru, rehabilitasi sekolah, pengadaan alat-alat pendidikan, hingga pengadaan buku pelajaran diserahkan ke sekolah alias di-block grant-kan, apakah lantas steril dari penggerilyaan? Tunggu dulu. Kabarnya, para kepala sekolah dan guru kini menjadi ajang penggerilyaan oleh oknum dinas pendidikan, dewan pendidikan, pengawas, anggota legislatif, preman berbaju wartawan atau wartawan merangkap jadi preman, hingga lembaga swadaya masyarakat (LSM) gadungan.

Walhasil, harus diakui, sejarah perjalanan pendidikan kita memang penuh dengan praktik penggerilyaan. Wajar jika publik mempertanyakan, setelah anggaran pendidikan nanti dinaikkan menjadi 20% dari APBN, program-program apa saja yang dilakukan untuk peningkatan mutu?

Itulah tantangan Depdiknas. Penambahan dana harus benar-benar signifikan terhadap peningkatan mutu manusia Indonesia ke depan. Jangan sampai, anggaran ditambah, tapi mutu pendidikan tetap jalan di tempat. Yang marak justru penggerilyaan. Harus ada kesadaran bahwa menggerogoti pendidikan sama saja dengan melumpuhkan masa depan bangsa. Apakah kita akan mengulangi lagi kesalahan-kesalahan pada masa lalu?

13 March 2008 15:49 WIB

Artikel ini menarik?
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
Loading ... Loading ...

Pena Pendidikan

Saturday, 22 November 2008

REDAKSI


Iwan Qodar Himawan

Saiful Anam

Dipo Handoko

Eva Rohilah

Fathoni Arief

Kenny

Arien TW

RUBRIK

ANGGOTA

POLLING PEMBACA

EMAIL SUBSCRIBE

Enter your email address:

STATISTIK

KATA KUNCI