Kata Kunci: Buta Aksara, KKN, PBA, UGM
Universitas Gadjah Mada sukses menyelenggarakan Kuliah Kerja Nyata bertema pemberatasan buta aksara. Telah dikembangkan metode belajar baca-tulis singkat. 51 perguruan tinggi melaksanakannya.
BUTA aksara masih mengepung 12 juta penduduk Indonesia. Jumlah itu sebenarnya sudah turun sekitar 3 jutaan dalam tiga tahun terakhir. Tapi, keberhasilan itu masih perlu di genjot. Karena itu, Departemen Pendidikan Nasional menggelar seminar penuntasan buta aksara di Yogyakarta, akhir Mei lalu.
Menteri Pendidikan Nasional, Profesor Dr Bambang Sudibyo, menyebutkan, pada 2009, ia menargetkan angka buta huruf tinggal tersisa 7,5 juta. Masalahnya, selama ini pengajaran baca tulis itu membutuhkan waktu 6 bulan. Akibatnya, penurunan angka buta huruf jauh dari target.
Untunglah, sebagai universitas riset, Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (PPM) UGM telah mengembangkan metoda pengajaran baca-tulis dalam dua bulan. Metoda tersebut dikembangkan seiring program Kuliah Kerja Nyata (KKN).
KKN Pemberantasan Buta Aksara (PBA) yang dikampanyekan UGM sejak tahun lalu, kini diikuti 51 universitas di Indonesia. “KKN memang menjadi karakteristik UGM yang tidak bisa dipisahkan,” ujar penanggung jawab KKN Pemberantasan Buta Aksara, Prof. Retno Sunarminingsih, yang tak lain istri Mendiknas Bambang Sudibyo.
Pada tahap orientasi, program berbasis pola pemberdayaan itu, UGM memberangkatkan 450 mahasiswa. Program itu, menurut Koordinator Program KKN PBA, Dra. Wiwin Widyawati, M.Hum, berhasil mengentaskan 2.500 orang buta aksara.
Program tersebut akan diteruskan dengan memberangkatkan 825 mahasiswa. Targetnya, 12.000 orang buta aksara di puluhan daerah berbagai pelosok Jawa dan Madura.
Pelaksanaan KKN-PPM UGM meliputi tiga tahap. Paket tersebut dimulai dengan pengenalan baca tulis (ca-lis) dengan bahasa ibu. Lalu, pengenalan ca-lis dengan Bahasa Indonesia. Selanjutnya, pengenalan aspek berhitung. Pelaksanaan dan pendataan warga ajar buta aksara diakhiri dengan ujian keaksaraan. Nanti, para peserta akan mendapat sertifikat dari Depdiknas.
Tingkat keberhasilan paket tersebut, menurut Wiwin, mencapai 86%. Keberhasilan itu, menurut dia, ditunjang oleh modul yang inovatif, yakni yang disusun menggunakan bahasa ibu yang ditunjang peran tutor lokal.
Selain itu, ujar Wiwin, mereka juga menghilangkan gambar pada modul ajar karena dianggap sering menyesatkan. Contoh yang diberikan berupa suku kata yang tidak punya arti. Dengan demikian, tutor bisa mengetahui apakah peserta bisa membaca atau tidak.
Karena melibatkan penggunaan bahasa ibu, mahasiswa KKN diusahakan putra daerah yang benar-benar memahami bahasa ibu di daerah pemberantasan buta aksara. Syarat itu itu juga berlaku bagi dosen pembimbingnya. Maksudnya, untuk menghindari kesalahan dan pelanggaran budaya lokal.
Sekalipun sudah dipilih putra daerah, kata Wiwin, tetap saja mahasiswa masih terkejut dengan kondisi yang ditemuinya di lapangan. Sebab, acapkali lokasi KKN berbeda dengan informasi yang berkembang tentang daerah tersebut. Padahal, menurut Wiwin, kekeliruan informasi tersebut sering membuat mahasiswa kuatir secara berlebihan.
Wiwin memberi contoh Pulau Madura, yang dikenal masyarakat sebagai daerah carok. Buktinya, setelah mahasiswa melewati KKN beberapa pekan, mereka justru mendapat tanggapan di luar dugaan. “Mereka begitu antusias menyambut kegiatan para mahasiswa,” ujar Herli, mantan Koordinator Mahasiswa Tingkat Unit KKN PBA di Kabupaten Sumenep.
Kenyataannya, kata Wiwin, pendekatan yang baik justru dilakukan oleh mahasiswa yang agamanya berbeda dengan mayoritas penduduk. “Ia bisa mengajar di surau,” ujarnya. Saking luwesnya, menurut dia, bahkan ada mahasiswa yang akan mengajar menunggui muridnya mencari pasir.
Pengalaman itu, kata Wiwin, terjadi karena para mahasiswa menggunakan cara jemput bola “Warga belajar yang menentukan waktu dan tempatnya,” kata Wiwin. Hal itu berbeda dengan metoda para tutor yang dibentuk oleh Dinas. Di sini, warga justru menyesuaikan waktu dengan para tutornya.
Untuk memaksimalkan pengabdiannya, UGM sengaja memilih daerah-daerah terpencil yang sulit dijangkau. “Karena selama ini angka tinggi buta aksara justru terdapat di wilayah seperti itu,” katanya.
MURNITA DIAN KARTINI DAN MOCH FATHONI ARIEF (Yogyakarta)
3 February 2008 13:55 WIB
Saturday, 22 November 2008
POLLING PEMBACA |